NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Minggu pagi di Desa Asih membawa ketenangan yang berbeda. Tidak ada deru mesin disel dari sawah, tidak ada keriuhan di balai desa. Hanya suara burung gereja yang saling bersahutan dan aroma daun jati yang terbakar dari kejauhan. Mika duduk bersandar di kursi plastik depan posko, semangkuk bubur ayam yang sudah mendingin berada di pangkuannya.

Tangannya sibuk membolak-balik lembaran proposal yang mulai penuh dengan coretan tinta merah. Ia sedang menyusun laporan akhir untuk dosen pembimbingnya.

"Hmm... oke, tinggal 30 hari lagi di desa ini," gumamnya lirih. Kalimat itu seharusnya terdengar melegakan, tapi entah kenapa, ada sedikit rasa berat yang menyelinap di dadanya saat membayangkan ia harus meninggalkan udara sejuk dan... seseorang yang selalu membuatnya naik darah sekaligus rindu.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan di pintu kayu yang lapuk itu membuyarkan lamunannya. Arga berdiri di sana dengan wajah yang jauh lebih kaku dari biasanya. Ia mengenakan kaos polo yang rapi dan menyisir rambutnya dengan sangat klimis. Tangannya bergerak gelisah, sesekali menggaruk kepalanya yang terlihat sangat bersih.

"Kenapa lo, Ga? Ketombean? Atau lo baru aja liat hantu di sumur belakang?" tanya Mika dengan nada menggoda.

Arga berdehem keras, menghindari kontak mata dengan Mika. "Gue... gue ada perlu sama Asia. Dia... dia ada di dalam?"

Mika menaikkan sebelah alisnya. "Ohh, bentar ya gue panggilin. Tumben banget lo cari Asia pake gaya rapi begini."

Mika masuk ke dalam dan memanggil Asia. Begitu Asia keluar, suasana mendadak berubah menjadi aneh. Asia yang biasanya ceriwis kini menunduk malu-malu, sementara Arga hanya bisa berdehem berkali-kali. Tanpa kata yang jelas, mereka berdua segera berjalan menjauh dari posko menuju arah lapangan desa.

Mika melongo, sendok buburnya tertahan di depan mulut. Ia segera menoleh ke arah Siti yang sedang asyik melipat baju di lantai.

"Mereka kenapa deh, Siti? Aneh banget? Kayak habis ketangkep basah maling jemuran," tanya Mika heran.

Siti menghentikan kegiatannya, menatap Mika dengan pandangan tidak percaya. "Lo pura-pura bego ya, Mik?! Mereka itu pacaran! Udah seminggu ini!"

"What the— Lo beneran??!!" Mika hampir saja menjatuhkan mangkuk buburnya. "Arga kaku yang kalau ngomong kayak robot itu sama... Asia yang mulutnya kayak mercon? Like what? Gimana ceritanya?!"

"Cinta itu buta, Mik. Kadang yang kaku butuh yang cerewet biar idupnya berwarna. Kayak lo sama Pak Kades itu," goda Siti sambil melempar kaos kaki bersih ke arah Mika.

"Dih! Jangan disamain ya!" balas Mika cepat, meski wajahnya mulai memanas lagi.

Karena hari Minggu adalah hari libur kegiatan formal KKN, Mika memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Ia ingin menikmati suasana desa tanpa harus membawa beban peralatan laboratorium. Ia mengenakan celana legging hitam dan kaos longgar berwarna peach, rambutnya dikuncir satu yang sangat simpel.

Saat ia menyusuri jalanan setapak menuju arah perbukitan, ia melihat beberapa ibu-ibu sedang berjongkok di pekarangan rumah yang luas. Di sana terdapat hamparan tanah merah yang sudah digali lubang-lubang kecil.

"Eh, Neng Mika? Sendirian aja, Neng?" sapa Bu Ratna, salah satu warga yang paling ramah.

"Iya, Bu. Lagi jalan santai aja nyari keringat," jawab Mika sambil mendekat. "Lagi apa, Bu? Mau saya bantuin?"

"Ini Neng, lagi tanam cabai rawit. Lumayan buat stok di dapur sendiri, daripada beli di pasar harganya lagi selangit," jawab Bu Ratna sambil menyeka peluh di dahinya.

"Wahh, saya jadi penasaran. Boleh lihat ya, Bu?" Mika langsung ikut berjongkok tanpa ragu, melupakan bahwa ia baru saja mandi bersih.

"Boleh dong, Neng. Tapi awas ya, nanti tangannya kotor kena tanah merah," peringat Bu Ratna.

Mika justru tertawa. "Tanah merah mah nggak ada apa-apanya dibanding lumpur sungai kemarin, Bu. Gimana caranya?"

Bu Ratna mulai mengajari Mika cara memasukkan bibit cabai yang masih kecil ke dalam lubang. Mika melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia merasa ada ketenangan tersendiri saat jemarinya menyentuh tanah yang dingin dan lembap.

"Nanam cabai itu kayak ngurus perasaan, Neng," ucap Bu Ratna tiba-tiba dengan nada filosofis. "Awalnya kecil, harus sering disiram, dijaga dari hama. Kalau sabar, nanti hasilnya pedas tapi bikin ketagihan."

Mika tersenyum tipis. "Tapi kalau kebanyakan disiram malah mati ya, Bu?"

"Iya, makanya harus pas. Nggak boleh kurang, nggak boleh lebih. Kayak Pak Kades kita itu, Neng. Galak-galak gitu sebenarnya perhatiannya luar biasa sama warga. Neng Mika sudah ngerasain kan?"

Mika terdiam, tangannya yang sedang menekan tanah mendadak kaku. "Eh... maksud Ibu?"

"Halah, Neng. Warga desa ini matanya banyak. Kita tahu Pak Kades kemarin bawain jahe ke posko. Belum pernah-pernahnya Pak Alvaro begitu sama orang kota. Biasanya dia mah bodo amat kalau ada mahasiswi pingsan juga," Bu Ratna terkekeh.

Mika merasa wajahnya sudah sewarna dengan cabai yang matang. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk dengan bibit di tangannya. "Mungkin karena saya koordinatornya aja, Bu. Takut laporannya berantakan."

"Memang laporan kamu selalu berantakan kalau tidak saya awasi, kan?"

Suara berat yang sangat familiar itu terdengar dari arah belakang. Mika tersentak dan hampir saja jatuh terjungkal ke belakang jika ia tidak segera menumpu tangannya ke tanah.

Alvaro berdiri di sana, di samping pagar hidup pekarangan Bu Ratna. Ia mengenakan kaos oblong putih—yang entah kenapa membuatnya terlihat sangat bersinar di bawah matahari pagi—dan celana pendek. Tangannya memegang sebuah botol air mineral dingin.

"Eh, Pak Kades! Tanam cabai juga, Pak?" goda Bu Ratna sambil tertawa.

"Hanya lewat, Bu," jawab Alvaro tenang. Matanya menatap Mika yang kini telapak tangannya penuh dengan tanah merah. "Kamu ini... tidak bisa ya sehari saja tidak jadi kotor?"

Mika berdiri, mencoba membersihkan tangannya dengan cara menepuk-nepukkannya, tapi malah membuat debu tanah merah beterbangan. "Namanya juga belajar, Pak. Bapak sendiri mau ke mana? Tumben nggak pake Ninja?"

"Jalan kaki itu menyehatkan jantung," jawab Alvaro singkat. Ia melangkah masuk ke pekarangan Bu Ratna, mendekati Mika. Tanpa diduga, ia membuka botol air mineralnya dan menyiramkan sedikit air ke tangan Mika. "Cuci dulu. Tanah merah kalau kering susah hilangnya."

Mika terpaku. Ia membiarkan Alvaro menyiramkan air ke tangannya, sementara ia sendiri sibuk mengatur napas yang mendadak terasa sesak karena jarak mereka yang sangat dekat. Aroma sabun mandi Alvaro yang segar bertarung dengan aroma tanah merah di sekeliling mereka.

"Makasih, Pak," bisik Mika.

"Sama-sama. Setelah ini, ikut saya ke atas bukit. Ada pemandangan yang bagus kalau hari Minggu begini. Anggap saja upah karena kamu sudah rajin membantu warga menanam cabai," ucap Alvaro dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Mika menoleh ke arah Bu Ratna yang sudah tersenyum-senyum penuh arti.

"Pergi aja Neng Mika, biar cabainya Ibu yang selesaikan. Mumpung Pak Kades lagi nggak kaku tuh!" seru Bu Ratna.

Mika akhirnya mengangguk. Ia berjalan di samping Alvaro, menyusuri jalanan menanjak menuju bukit Desa Asih. Di sela-sela langkah mereka, Mika menyadari bahwa 30 hari yang tersisa mungkin akan terasa sangat singkat jika setiap hari diisi dengan momen-momen seperti ini.

"Pak..." panggil Mika saat mereka mulai menjauh dari pemukiman.

"Hmm?"

"Bapak beneran mau ngajak saya liat pemandangan, atau mau nyuruh saya ngerjain laporan lagi?"

Alvaro menoleh, menatap Mika dengan kilatan hangat di matanya. "Tergantung. Kalau kamu berhenti memanggil saya 'Dajjal', mungkin saya akan menunjukkan sisi terbaik desa ini buat kamu."

Mika tertawa lepas, dan untuk pertama kalinya, suara tawa Mika dan Alvaro bersahutan di bawah langit biru Desa Asih yang tenang.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!