Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sore hari Mingyu sudah berada di kediaman Jendral Rong, dia duduk di gazebo taman sembari menikmati teh herbal buatannya sekaligus untuk menunggu Jendral Rong kembali.
Namun hingga hari sudah larut malam, Jendral Rong belum juga kembali, sedangkan Mingyu sudah merebahkan tubuhnya untuk bersiap tidur, dia tidak mau menyia nyiakan waktu istirahatnya untuk menunggu Jendral Rong kembali.
Keesokan paginya Mingyu yang sedang sarapan, tidak mendapati keberadaan Jendral rong, biasanya pria sialan itu akan menemaninya di meja makan, meskipun sudah sarapan.
''Fei, Pangeran belum kembali?'' tanya Mingyu.
''Belum Nona'' jawab Xiao Fei.
Mingyu menganggukkan kepalanya, dan memilih melanjutkan sarapannya yang sudah telat.
Usai sarapan Mingyu memilih bersantai di gazebo, sembari memberi makan ikan ikan di kolam, sedangkan Xiao Fei dia pergi ke dapur untuk mengambilkan camilan Nonanya.
''Nona''
Mingyu mendongakkan kepalanya, dan melihat Han Bing berdiri tak jauh darinya.
''Ada apa?'' tanya Mingyu sembari melanjutkan memberi makan ikan.
''Ada pesan dari Pangeran, kalau beliau belum bisa kembali untuk beberapa hari ini'' tukas Han Bing.
''Oh''
Han Bing agak kaget melihat reaksi Nonanya, yang terlihat tidak peduli dengan tidak kembalinya Pangeran, bukankah dulu Nonanya sangat menyukai Pangeran pikirnya.
Mingyu mengerutkan dahinya melihat Han Bing masih berdiri di tempatnya.
''Kenapa kamu masih di sini?'' tanyanya.
Han Bing seketika tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah kenapa saat di depan istri Tuannya, Han Bing bisa bertingkah konyol, padahal dia terkenal sebelas dua belas dengan Tuannya, sama sama dingin dan acuh.
''Itu Nona, apa anda tidak penasaran kenapa Pangeran belum bisa kembali?'' tanya Han Bing, akhirnya memberanikan diri untuk menanyakannya.
''Kenapa memangnya?, apa dia terluka?'' tanya Mingyu, tapi dari nada bicaranya tidak ada rasa kehawatiran di sana.
''Tidak Nona, Pangeran baik baik saja, hanya saja,,'' tukas Han Bing tidak melanjutkan kata katanya.
''Hanya saja apa?'' tanya Mingyu tidak sabaran.
'' Itu Nona, kemarin Su Wan Rou terluka karna melindungi Pangeran dari anak panah, jadi untuk saat ini Pangeran ingin memastikan kondisi Su Wan Rou, kalau kondisinya sudah benar benar membaik, Pangeran akan segera kembali'' jelas Han Bing panjang lebar.
''Oh, ya sudah''
Han Bing kehabisan kata kata melihat reaksi Nonanya, dia pikir Nonanya akan cemburu atau setidaknya kesal, tapi kenyataannya Nonanya terlihat biasa biasa saja.
''Kalau begitu saya izin untuk kembali ke markas'' pamit Han Bing.
''Hem, pergilah'' timpal Mingyu.
Satu minggu telah berlalu, sampai saat ini belum juga ada tanda tanda Jendral Rong akan kembali ke kediaman, tapi Mingyu terlihat biasa biasa saja, bahkan Mingyu juga tidak pernah menanyakan apapun tentang Jendral Rong.
Usai makan malam Mingyu sudah masuk ke kamar dan berbaring di atas ranjang bersiap tidur, namun sampai larut malam kedua matanya masih terjaga, entah kenapa malam ini Mingyu sulit sekali tidur, dan akhirnya dia memutuskan untuk jalan jalan sendirian di sekitar kediaman, saat melewati kamar pribadi Jendral Rong Mingyu seketika menghentikan langkahnya.
''Aku jadi penasaran, seperti apa kamar pribadi pria sialan itu'' gumam Mingyu.
Mingyu mencoba mendorong pintu kamar pribadi Jendral Rong, dan ternyata pintunya tidak di kunci.
''Tidak di kunci, kalau begitu aku masuk saja, mumpung pemiliknya tidak pulang'' gumam Mingyu.
Setelah masuk ke dalam kamar Jendral Rong, Mingyu kembali menutup pintunya, dia juga menguncinya dari dalam.
''Lumayan besar juga kamarnya'' gumamnya menatap ruangan di depannya.
Mingyu perlahan melangkahkan kakinya sembari menelisik ke seluruh sudut kamar Jendral Rong, tidak ada yang aneh di kamar pribadi Jendral Rong, menurutnya hampir sama dengan kamar laki laki di abad dua satu, bedanya hanya di pajangan saja.
Setelah puas melihat lihat setiap sudut kamar Jendral Rong, Mingyu duduk di tepi ranjang Jendral Rong, sembari meraba alas tidur Jendral Rong, untuk membedakan dengan ranjang di kamarnya.
''Sama saja'' gumamnya lagi.
Namun entah kenapa tiba tiba Mingyu ingin mengangkat bantal tidur milik Jendral Rong, dan seketika dia mengerutkan dahinya melihat gulungan kertas yang terselip di antara bantal dan sandaran ranjang, karna penasaran Mingyu mengambil gulungan kertas itu yang sudah terlihat lusuh.
''Apa ini rahasia negara?'' batin Mingyu sembari menarik pita merah untuk mengikat gulungan kertas itu.
Mata Mingyu membola saat gulung kertas itu terbuka, karna ternyata isi di dalam gulungan kertas itu lukisan seorang gadis kecil yang sedang tersenyum, walaupun lukisan itu hanya berwarna hitam dan putih tapi Mingyu yakin kalau gadis kecil di dalam lukisan itu aslinya sangat cantik.
''Siapa gadis kecil ini?''
Lalu tatapan Mingyu jatuh pada tulisan kecil di sudut kertas.
''Gu Nian'' cicitnya.
'' Apa ini nama gadis kecil ini?'' ucapnya.
Setelah sekian detik menatap lukisan di tangannya, tiba tiba Mingyu menyipitkan matanya, saat melihat aksesoris pinggang yang di pakai oleh gadis kecil di dalam lukisan.
''Kenapa liontin giok yang di pakai gadis ini rasanya tidak asing, sepertinya aku pernah melihatnya?, tapi di mana ya'' gumam Mingyu berusaha mengingat.
Karna tak kunjung ingat, akhirnya Mingyu menggulung kembali lukisan itu seperti sedia kala, dan ia letakkan di tempat semula, agar Jendral Rong tidak curiga, jika dia sudah kembali nanti.
''Ah, sudahlah, aku mau kembali ke kamar, mau tidur''
Mingyu lalu bergegas keluar dari kamar Jendral Rong, dan kembali ke kamarnya untuk tidur.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Mingyu menatap Paman Han yang berdiri tak jauh darinya.
''Paman, duduklah, ada yang ingin aku tanyakan sama Paman'' pinta Mingyu.
''Nona, maaf, saya berdiri saja'' timpal Paman Han, dia mana berani duduk sejajar dengan Nonanya, apa lagi kursi kosong di sana tempat yang biasa di duduki oleh Tuannya.
Mingyu menganggukkan kepalanya, dia tidak memaksa Paman Han.
''Nona, ingin bertanya apa?''
''Paman sudah berapa lama menjadi pelayan pribadi Pangeran?'' tanya Mingyu.
Paman Han tersenyum, dan menjawab dengan bangga. ''Sejak beliau baru lahir''
''Apa Paman tahu siapa Gu Nian?'' tanya Mingyu.
Melihat reaksi Paman Han yang tegang, Mingyu sudah bisa menebak, kalau Paman Han pasti tahu sesuatu tentang Gu Nian ini.
''Paman, jangan tegang begitu, sebaiknya sekarang Paman ceritakan saja siapa sebenarnya Gu Nian'' pinta Mingyu.
Paman Han masih diam saja, dia tidak tahu harus mengatakannya atau tidak siapa Gu Nian ini pada Nonanya, sedangkan sekarang Nonanya sudah menjadi istri sah Tuannya.
''Paman Han ceritakan saja, aku akan merahasiakannya, percayalah'' desak Mingyu.
Akhirnya Paman Han menyerah, dan mengatakannya dengan hati hat8.
''Nona Gu Nian sebenarnya kekasih masa kecil Pangeran''
Tangan Mingyu yang memegang cangkir teh langsung menggantung di udara, beberapa detik kemudian dia meletakkan kembali tehnya di atas meja.
''Bukannya Su Wan Rou kekasih masa kecilnya?'' tanya Mingyu yang terlihat tenang, wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun, membuat Paman Han heran.
''Bukan, memang Nona Su dan Nona Gu mereka sama sama berada di sisi Pangeran sejak kecil, tapi yang selalu menjadi fokus Pangeran hanya Nona Gu saja'' jelas Paman Han.
''Apakah Nona Gu itu, yang sampai saat ini tertangkap oleh kerajaan timur itu?'' tanya Mingyu yang di angguki oleh Paman Han.
''Mungkinkah, Pangeran masuk militer tujuan utamanya ingin bisa membebaskan Nona Gu?'' tebak Mingyu, dan lagi lagi Paman Han menganggukkan kepalanya.
''Romantis sekali'' pujinya tersenyum getir, entah kenapa rasanya hati kecilnya sangat sakit mendengarnya, apa mungkin ini perasaan dari pemilik tubuh asli.
''Bagaimana jika Nona Gu berhasil kembali ke kekaisaran?, apakah Pangeran akan menikahinya?'' tanya Mingyu.
''Sepertinya begitu, karna menikah dengan Nona Gu salah satu keinginan terbesar Pangeran'' jawab Paman Han dengan jujur, menurutnya lebih baik Nonanya tahu semuanya, agar bisa mempersiapkan diri dari sekarang jika suatu saat Nona Gu kembali, dan Pangeran benar benar menikahi Nona Gu.
''Apa yang sedang kalian obrolkan?''
Sontak Mingyu dan Paman Han menoleh, mereka berdua sama sama kaget, melihat Jendral Rong berdiri di ambang pintu, antara ruang makan dan ruang tengah
Paman Han buru buru menyambut kedatangan Jendral Rong, sedangkan Mingyu masih duduk di tempatnya, dia takut kalau Jendral Rong mendengar obrolannya dengan Paman Han barusan.
Melihat Mingyu masih diam saja di tempatnya, akhirnya Jendral Rong yang berjalan menghampirinya.
''Mingyu, kenapa kamu tidak menyambut kedatanganku?, apa kamu sudah lupa dengan wajah suamimu?'' tanya Jendral Rong kesal.
Mingyu tidak perduli dengan yang di ucapkan oleh Jendral Rong, karna saat ini pandangannya fokus pada liontin giok yang di pakai oleh Jendral Rong, kini dia ingat liontin di dalam lukisan itu sama persis dengan liontin milik Jendral Rong.
"Aku ingin tahu, seperti apa reaksinya kalau aku mengambil paksa liontin itu darinya?" batin Mingyu.
Mingyu berdiri menghampiri Jendral Rong, lalu dengan secepat kilat dia menarik liontin giok yang ada di pinggang Jendral Rong, membuat Jendral Rong kaget.
Srettt
''Mingyu, apa yang kamu lakukan?'' bentak Jendral Rong melihat Mingyu mengambil liontin giok miliknya.
''Aku cuma ingin lihat saja'' sahut Mingyu acuh.
''Kembalikan'' pinta Jendral Rong dingin.
''Sebentar, aku masih ingin lihat'' sahut Mingyu lagi, dia tidak perduli dengan expresi dingin Jendral Rong.
Jendral Rong yang kesal, dia langsung merebut kembali liontinnya dari Mingyu, tapi tanpa di duga liontin giok itu malah jatuh ke lantai dan pecah.
Krak
Wajah Jendral Rong langsung merah padam, melihat liontin giok miliknya pecah dan berserakan di lantai.
''Pangeran maaf, lagian aku cuma mau lihat, nanti juga aku kembalikan, tapi pangeran malah merebutnya, jadi jatuhkan'' ucap Mingyu.
''Diam!!'' bentak Jendral Rong.
Mingyu agak terkejut Jendral Rong membentaknya, tapi ini yang dia mau, dia memamang ingin melihat reaksi Jendral Rong, sepenting apakah barang barang pemberian dari Gu Nian bagi Jendral Rong, dan melihat reaksi Jendral Rong, Mingyu sudah bisa menilainya.
''Pangeran maaf'' ucap Mingyu lagi menyentuh lengan Jendral Rong, tapi tanpa di duga Jendral Rong malah menghempaskannya dengan kasar, membuat Mingyu terhuyung menabrak meja makan, dan tangannya tidak sengaja menyenggol sup panas dan tumpah di tangannya.
Ishhhhh