NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: JEJAK DARAH DAN PELARIAN YANG SIA-SIA

Hujan badai mengguyur mansion Volkov dengan intensitas yang mengerikan, seolah alam sedang ikut menangisi nasib Alana. Di dalam kamar, Alana tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia menutup kelopak matanya, bayangan mayat-mayat di polaroid dan wajah Dante yang tertawa dingin di tengah genangan darah muncul menghantuinya.

"Aku tidak bisa di sini... aku harus pergi," bisik Alana dengan suara serak.

Ketakutannya telah melampaui rasa patuhnya pada ancaman Dante. Dengan tangan gemetar, ia mengganti piyama tipisnya dengan baju biasa yang lebih tebal. Ia tidak membawa koper; ia hanya membawa dompet kecil dan keberanian yang rapuh. Alana tahu penjagaan di mansion sangat ketat, namun ia ingat Arthur pernah menyebutkan bahwa sistem keamanan di sayap barat sedang dalam pemeliharaan singkat setiap jam tiga pagi.

Alana mengendap-endap keluar dari kamar, menghindari setiap decitan lantai kayu. Ia melewati lorong-lorong gelap dengan jantung yang berdegup kencang, seolah-olah setiap patung dan lukisan di sana adalah mata-mata Dante yang sedang mengawasinya. Ia berhasil mencapai pintu servis di bagian belakang dan berlari menembus hujan menuju gerbang kecil yang biasanya digunakan oleh para tukang kebun.

Namun, baru saja jemarinya menyentuh besi dingin gerbang itu, sebuah cahaya lampu mobil yang sangat terang menyapu tubuhnya dari arah depan.

CIIIITTT—!

Sebuah mobil hitam berhenti dengan pengereman mendadak tepat di depan gerbang. Jantung Alana seolah merosot ke perut. Pintu mobil terbuka, dan dari sana keluar sosok pria yang paling ia takuti.

Dante Volkov melangkah keluar. Ia tampak berantakan. Kemeja hitamnya tidak terkancing di bagian atas, lengan kemejanya digulung kasar, dan ada noda merah pekat yang mengering di kerahnya—darah dari operasi di pelabuhan yang belum sempat ia bersihkan. Aroma tajam tembakau, wiski, dan bau amis besi yang khas menyeruak dari tubuhnya, menembus dinginnya udara hujan.

"Mau pergi ke mana, Alana?" suara Dante rendah, namun mengandung getaran yang jauh lebih menakutkan daripada petir yang menyambar di atas mereka.

Alana mundur teratur, tubuhnya basah kuyup dan gemetar. "T-tuan... Anda sudah kembali..."

Dante melangkah maju dengan tenang namun pasti, seperti predator yang sedang menyudutkan mangsa yang kelelahan. Wajahnya yang tampan kini tampak sangat menyeramkan dengan sorot mata yang kosong dan dingin. Begitu ia berdiri di depan Alana, ia mencengkeram rahang gadis itu dengan satu tangan yang kasar, memaksanya mendongak.

"Aku pulang lebih cepat karena merindukan istriku, tapi ternyata istriku sedang mencoba bermain kucing-kucingan?" Dante mendekatkan wajahnya. Alana bisa mencium bau kematian yang melekat pada tubuh suaminya. "Kenapa kau gemetar? Apa karena hujan, atau karena kau sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat di ruang kerjaku, hmm?"

Alana membelalak. Jadi Dante tahu?

"Kau pikir aku tidak tahu siapa yang menyentuh laciku? Aku sengaja menugaskanmu disana karena ingin melihat reaksimu, dan dugaanku benar, kau akan melarikan diri" Dante menyeringai gelap. Ia menarik Alana dengan kasar menuju mansion, menyeret gadis itu tanpa peduli Alana berkali-kali tersandung.

Begitu sampai di dalam aula yang sepi, Dante menghempaskan Alana ke lantai marmer yang dingin. Ia berdiri di atasnya, tampak seperti raksasa yang siap menghancurkan apa pun. Dante mengeluarkan pisau taktis yang tadi ia gunakan untuk menyiksa pengkhianat di pelabuhan, masih ada sisa darah kering di bilahnya.

"Kau melihat foto-foto itu, bukan? Kau melihat bagaimana cara suamimu ini bekerja?" Dante berlutut, menempelkan bilah pisau yang dingin itu ke pipi Alana yang basah. "Sekarang kau tahu bahwa pria yang memelukmu semalam adalah monster yang tangannya berlumuran Ðåråh puluhan orang."

Alana terisak, air matanya bercampur dengan air hujan. "Lepaskan aku... kumohon... kau iblis, Dante! Kau membunuh mereka tanpa ampun!"

"Iblis?" Dante tertawa rendah, sebuah tawa yang kering dan hampa. "Duniaku adalah neraka, Alana. Dan kau sudah menjadi permaisuri di neraka ini sejak kau menandatangani surat nikah itu. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada pelarian."

Dante tiba-tiba menarik tubuh Alana masuk ke dalam dekapannya, meskipun mereka berdua basah kuyup. Ia memeluk Alana dengan kekuatan yang nyaris mematahkan tulang rusuk gadis itu, menciumi rambut Alana yang basah dengan cara yang posesif sekaligus gila.

"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi," desis Dante di telinga Alana. "Jika kau berani melangkah keluar dari gerbang itu sekali lagi, aku akan memastikan pamanmu, Arthur, dan setiap pelayan yang kau ajak bicara hari ini akan mati dengan cara yang jauh lebih mengerikan dari foto yang kau lihat di laci itu."

Alana hanya bisa menangis pasrah di dada Dante. Ia mencium aroma Ðåråh dari kemeja Dante, menyadari bahwa ia kini benar-benar terperangkap dalam pelukan seorang þêmßµñµh yang mencintainya dengan cara yang sangat kelam.

Dante mengangkat tubuh Alana ke dalam gendongannya, membawanya kembali ke kamar utama. "Malam ini, kau akan tidur dalam pelukan monster ini, Alana. Dan kau akan membiasakan dirimu dengan bau Ðåråh ini, karena ini adalah aroma masa depanmu."

***

Sisa badai semalam menyisakan pagi yang abu-abu dan suram. Di dalam kamar utama, tirai beludru yang berat masih tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba masuk. Dante terbangun saat merasakan ritme napas di dadanya tidak teratur. Alana, yang semalam ia kurung dalam pelukannya setelah insiden pelarian yang gagal, tampak tidak tenang dalam tidurnya.

Dante mengernyit saat tangannya yang besar meraba dahi Alana. Sontak, ia menarik napas tajam. Kulit gadis itu tidak lagi lembut dan sejuk seperti biasanya; permukaan kulitnya terasa seperti bara api yang membakar. Alana menggigil hebat, namun tubuhnya memancarkan panas yang ekstrem. Wajahnya yang mungil kini merah padam karena demam tinggi, dan bibirnya yang biasanya ranum tampak pecah-pecah, mengeluarkan gumaman-gumaman kecil yang tidak jelas.

"Alana?" Dante memanggil, suaranya yang serak di pagi hari terdengar lebih berat.

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala dalam igauan, air mata kering membekas di sudut matanya. "Jangan... jangan ßµñµh... dingin..." rintih Alana lirih.

Rasa bersalah sempat menyambar hati Dante seperti kilat—sebuah perasaan asing yang sangat ia benci. Ia tahu demam ini adalah akibat dari aksi pengejaran di bawah hujan deras semalam, ditambah tekanan mental setelah Alana melihat sisi gelap dunianya di ruang kerja. Namun, ego sang mafia tetap lebih tinggi; ia tidak akan menunjukkan kelemahan.

Dante segera menekan tombol interkom di samping tempat tidur dengan kasar. "Arthur! Panggil dokter pribadi keluarga sekarang juga. Dan bawakan air hangat serta handuk ke kamar. Sekarang!"

Tak butuh waktu lama, Arthur tiba di depan pintu dengan peralatan yang diminta. Namun, saat Arthur hendak melangkah masuk untuk membantu mengompres Alana, Dante berdiri di ambang pintu dengan tatapan mematikan. Pria itu sudah bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain hitam, memperlihatkan tato-tato yang melilit tubuh atletisnya.

"Berikan padaku," perintah Dante dingin, merebut baskom dan handuk dari tangan Arthur.

"Tuan, biarkan para maid yang mengurus Nyonya, Anda harus bersiap untuk pertemuan—"

"Tidak ada yang boleh menyentuhnya!" gertak Dante, membuat Arthur terdiam seketika. "Dia adalah urusanku. Batalkan semua pertemuan hari ini. Aku tidak akan keluar dari kamar ini sampai suhunya turun."

Dante membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Posesivitasnya telah mencapai tingkat yang gila; ia tidak sudi ada tangan lain, bahkan tangan pelayan wanita sekalipun, menyentuh kulit istrinya yang sedang rapuh.

Dengan gerakan yang mengejutkan lembut bagi pria yang baru saja menghancurkan nyawa orang semalam, Dante memeras handuk hangat dan meletakkannya dengan hati-hati di dahi Alana. Ia duduk di tepi ranjang, matanya tidak lepas dari wajah gadis itu.

"Kau sangat merepotkan, little girl," bisiknya, meskipun tangannya dengan telaten menyeka leher dan lengan Alana untuk membantu menurunkan panas.

Dokter pribadi Dante, seorang pria paruh baya yang sudah terbiasa melihat luka tembak, datang dengan wajah pucat karena intimidasi Dante. "T-tuan, saya perlu memeriksa detak jantung Nyonya..."

"Lakukan dari sini. Jangan buka kancing bajunya lebih dari yang diperlukan," ancam Dante, berdiri tepat di samping dokter itu dengan tangan bersedekap, mengawasi setiap inci gerakan tangan sang dokter seolah siap mematahkannya jika terjadi kesalahan.

Setelah pemeriksaan singkat, dokter itu memberikan suntikan penurun panas dan beberapa obat. "Nyonya mengalami syok berat dan hipotermia ringan. Beliau butuh istirahat total dan kontak fisik yang hangat untuk menstabilkan suhu tubuhnya."

Setelah dokter pergi, Dante kembali naik ke atas ranjang. Ia menarik tubuh Alana yang lunglai ke dalam dekapannya, menyelimuti mereka berdua dengan selimut down feather yang tebal. Ia membiarkan kulitnya yang panas bersentuhan langsung dengan kulit Alana yang sedang menggigil, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri untuk melawan demam gadis itu.

Alana, dalam ketidaksadarannya, merapat ke arah sumber panas tersebut. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Dante, mencari perlindungan pada pria yang justru paling ia takuti. Dante membelai rambut panjang Alana yang berantakan dengan gerakan posesif.

"Kau tidak akan pergi kemana-mana, Alana. Bahkan maut pun tidak akan kuizinkan mengambilmu dariku," gumam Dante gelap.

Sepanjang hari itu, sang predator berubah menjadi penjaga yang setia. Dante menyuapi Alana air putih sedikit demi sedikit saat gadis itu terbangun sebentar, dan ia sendiri yang mengganti kompres setiap satu jam sekali. Ia mengabaikan puluhan panggilan telepon penting dari organisasinya. Di dalam kamar itu, waktu seolah berhenti. Hanya ada detak jantung Dante dan napas berat Alana.

Sore harinya, saat panas Alana mulai sedikit menurun, gadis itu membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Dante yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Ia melihat mata biru es itu tampak lelah dan sedikit merah, seolah pria itu tidak berkedip sedetik pun menjaganya.

"T-tuan..." bisik Alana lemah.

Dante menatapnya, tidak ada seringai kejam kali ini, hanya tatapan tajam yang menuntut. "Jangan bicara. Jika kau mencoba lari lagi, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi, mengerti?"

Meskipun kata-katanya tetap kejam, Alana merasakan tangan Dante yang besar mengusap kepalanya dengan sangat lembut, sebuah kontras yang membuatnya bingung. Di tengah rasa sakitnya, Alana menyadari satu hal: ia terjebak dalam sangkar emas milik seorang monster yang tidak akan pernah melepaskannya, seorang monster yang kini justru menjadi satu-satunya tempatnya bersandar.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas
Fitria Syafei
hadeh kejam juga yaa si Dante 🙄 KK cantik semangat 😍😍
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😍😍
Mia Camelia
sadis😂😂😂😂
Mia Camelia
sweet banget pasangan inii🥰🥰🥰
lanjut thor👍😄
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😘😘
Rani Saraswaty
knp gk cara instan dg jebakan2 spt yg laim😄😄😄😄
Rani Saraswaty
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak berjamaah🤣🤣🤣
Rani Saraswaty
gpp mbk, kmu sah dinikahi drpd dicoba dl sblm dipake
Rani Saraswaty
sage grèen kn td?
Mia Camelia
dante lapaaar terus🤣🤣🤣
Fitria Syafei
KK cantik terimakasih 😘😘 kereeeen😍
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
resmi sudah Alana menjadi Nyonya Dante 😊 KK cantik kereen 😍😍
Bedjho
Counternya Dante cuman ada satu istrinya sendiri🤧
+39 🔕
JANGAN ADA PELAKOR YA 🦖
+39 🔕
merinding 🖕😭
Mia Camelia
akhir nya dante dapet jatah🤣🤣🤣🤣
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
Mia Camelia
dunia gelap dante😂
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!