Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Pagi datang terlalu cepat.
Alina hampir tidak tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan pertemuan hari ini terus muncul di kepalanya Arsen duduk berhadapan dengan perwakilan keluarga Ardhana tanpa tahu bahwa wanita yang berdiri di sampingnya adalah bagian dari keluarga itu.
Ia mengenakan setelan krem yang sederhana namun tegas. Tidak mencolok, tidak terlalu lembut. Hari ini bukan hari untuk terlihat rapuh.
Di meja sarapan, Arsen sudah siap berangkat.
“Pertemuan pukul sepuluh,” katanya singkat. “Mereka datang langsung ke kantor.”
Alina mengangguk. “Siapa yang hadir?”
“Direktur utama Ardhana Capital. Dan satu penasihat senior.”
Jantungnya bergetar halus.
Direktur utama saat ini adalah pamannya.
Jika ia datang sendiri, itu berarti keluarganya sudah memutuskan untuk bergerak tanpa menunggunya lagi.
“Jika ada yang aneh,” lanjut Arsen, menatapnya, “aku ingin kau memberitahuku.”
Alina tersenyum tipis. “Aku selalu memberitahumu jika ada yang aneh.”
Ia tidak berbohong.
Hanya belum mengatakan semuanya.
Ruang rapat utama terasa lebih dingin dari biasanya.
Alina berdiri di sisi kanan Arsen ketika pintu terbuka.
Dua pria masuk dengan langkah mantap. Yang lebih tua mengenakan jas abu-abu tua, rambutnya sedikit memutih di pelipis wajah yang sangat familiar bagi Alina.
Pamannya.
Tatapan pria itu langsung menemukan Alina.
Hanya sepersekian detik.
Cukup untuk memastikan bahwa ia tahu Alina belum membuka identitasnya.
Namun ekspresinya tetap profesional.
“Tuan Wijaya,” sapa pamannya sambil menjabat tangan Arsen. “Terima kasih sudah menerima kami.”
“Senang bertemu Anda,” jawab Arsen tenang. “Silakan duduk.”
Pertemuan dimulai dengan pembicaraan formal tentang kondisi pasar, stabilitas investasi, potensi kolaborasi.
Alina duduk dengan postur tegak, wajahnya tak menunjukkan emosi. Ia mencatat poin-poin penting, seolah hanya sekretaris eksekutif biasa.
Padahal setiap kalimat yang diucapkan pamannya terasa seperti pesan tersembunyi.
“Kami percaya Wijaya Group memiliki fundamental kuat,” kata pamannya. “Namun dalam situasi seperti ini, aliansi strategis seringkali lebih efektif daripada berdiri sendiri.”
Arsen tersenyum tipis. “Aliansi atau akuisisi terselubung?”
Paman Alina tertawa kecil. “Tergantung perspektif.”
Diskusi berlanjut, lebih tajam.
Lalu tiba-tiba pamannya berkata, “Kami juga percaya kepemimpinan tidak hanya soal angka. Tapi tentang siapa yang berdiri di samping Anda.”
Tatapan itu kembali pada Alina.
Arsen mengikuti arah pandangnya.
“Istri saya,” katanya singkat, suaranya mantap.
“Ya,” balas pamannya pelan. “Wanita yang menarik.”
Alina menahan napas.
Ia tahu kalimat berikutnya bisa mengubah segalanya.
Namun pamannya hanya melanjutkan, “Kami berharap suatu hari bisa mengenalnya lebih jauh.”
Arsen melirik Alina sekilas, seolah mengukur reaksi.
Alina membalas dengan senyum profesional. “Tentu.”
Pertemuan berakhir tanpa keputusan final. Hanya janji untuk mempertimbangkan proposal kerja sama terbatas.
Begitu pintu tertutup dan tamu pergi, Arsen tetap berdiri, menatap ke arah pintu beberapa detik lebih lama.
“Kau mengenal mereka,” katanya pelan.
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Alina merasakan jantungnya berdetak di telinga.
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” tanyanya setenang mungkin.
“Cara dia melihatmu.”
Keheningan jatuh.
Arsen berbalik menghadapnya sepenuhnya. “Dan cara kau tidak terlihat terkejut.”
Alina tahu momen ini akan datang.
Ia hanya tidak tahu secepat ini.
“Aku pernah bertemu mereka,” katanya akhirnya. “Dalam sebuah acara bisnis.”
Sebagian benar.
Sebagian lagi masih terkunci.
Arsen menatapnya lama, seolah mencoba menilai apakah itu seluruh kebenaran.
“Jika ada sesuatu yang perlu kuketahui, katakan sekarang,” ucapnya lebih rendah.
Kata-kata itu membuat dada Alina terasa sesak.
Ini kesempatannya.
Mengungkap semuanya sekarang mengakhiri kebohongan sebelum berubah menjadi pengkhianatan.
Tapi jika ia berbicara tanpa persiapan, keluarganya akan kehilangan posisi tawar. Strategi yang ia bangun selama ini runtuh begitu saja.
“Aku akan memberitahumu,” katanya pelan. “Tapi belum hari ini.”
Rahang Arsen mengeras tipis.
“Aku tidak suka setengah jawaban.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku memberimu ruang,” lanjutnya. “Jangan sia-siakan.”
Kalimat itu seperti batas tak terlihat yang ia tarik di antara mereka.
Sore itu, Alina menerima panggilan dari pamannya.
Ia menjawab di dalam mobil, sendirian.
“Kau hampir membuka semuanya,” suara pamannya terdengar datar.
“Kau hampir melakukannya untukku,” balas Alina.
“Dia cerdas. Terlalu cerdas untuk terus dibohongi.”
Alina memejamkan mata sejenak. “Aku tidak membohonginya. Aku hanya belum mengatakan.”
“Itu tetap sama di mata pria seperti dia.”
Kata-kata itu menusuk tepat sasaran.
“Kapan kau akan mengungkapnya?” tanya pamannya.
“Aku ingin dia memilihku,” jawab Alina pelan. “Bukan karena namaku.”
Keheningan di ujung sana.
“Itu berbahaya.”
“Aku tahu.”
Malamnya, suasana di rumah terasa berbeda.
Tidak ada percakapan ringan. Tidak ada candaan tipis seperti beberapa hari lalu.
Arsen duduk di ruang kerja pribadi, memandangi layar laptopnya tanpa benar-benar melihatnya.
Alina berdiri di ambang pintu sebelum akhirnya masuk.
“Kau marah?” tanyanya pelan.
Arsen tidak langsung menjawab.
“Aku tidak suka merasa seperti satu-satunya yang tidak tahu sesuatu,” katanya akhirnya.
Itu bukan kemarahan.
Itu kekecewaan.
Dan bagi Alina, itu lebih sulit ditanggung.
“Aku tidak bermaksud membuatmu merasa begitu,” ucapnya jujur.
“Lalu apa maksudmu?”
Alina berjalan mendekat, berhenti di depan mejanya.
“Ada hal-hal yang lebih besar dari sekadar pernikahan kontrak ini,” katanya perlahan. “Dan aku sedang mencoba memastikan semuanya tidak meledak sekaligus.”
Arsen menatapnya dalam. “Apakah aku bagian dari hal-hal besar itu?”
Pertanyaan itu membuat napasnya tercekat.
“Ya,” jawabnya tanpa ragu.
Jawaban itu jujur sepenuhnya.
Ekspresi Arsen melunak sedikit.
“Terkadang aku merasa kau berdiri sangat dekat,” katanya pelan. “Tapi ada dinding yang tidak bisa kulihat.”
Alina merasakan matanya memanas.
Dinding itu nyata.
Dan ia sendiri yang membangunnya.
“Aku akan merobohkannya,” bisiknya. “Hanya… beri aku sedikit waktu.”
Arsen bangkit dari kursinya. Jarak mereka kini hanya sejengkal.
“Waktu bukan masalah,” katanya rendah. “Kepercayaan yang jadi taruhan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Di luar, kota tetap bergerak seperti biasa. Saham naik turun. Media menulis spekulasi baru.
Namun di dalam ruangan itu, yang dipertaruhkan bukan lagi bisnis.
Melainkan dua hati yang berdiri di tepi kebenaran.
Dan Alina tahu ia tidak bisa terus menunda.
Karena semakin lama ia menunggu, semakin besar risiko kehilangan satu-satunya hal yang mulai benar-benar ia inginkan.
(BERSAMBUNG)