Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Perubahan yang Tak Terduga
Beberapa hari setelah operasi besar itu, suasana rumah sakit perlahan kembali normal.
Meski ICU masih menjadi pusat perhatian, aktivitas akademik dan praktik klinis kembali berjalan seperti biasa.
Alexander akhirnya diizinkan pulang. Kondisinya jauh membaik, walau ia masih harus kontrol rutin. Saat melangkah keluar dari rumah sakit, ia menoleh sekilas ke arah gedung ICU.
Ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Valeria.
“Aku akan kembali besok,” gumamnya pelan.
---
Di sisi lain, Daniel mulai aktif kembali praktik klinisnya. Kali ini ia sering satu jadwal dengan Camille.
Mereka berdiskusi kasus bersama, tertawa kecil di sela kelelahan, saling bertukar pendapat dengan penuh hormat.
Kedekatan itu terlihat jelas.
Beberapa mahasiswa bahkan mulai berbisik-bisik.
“Mereka cocok ya.”
“Iya, kelihatan banget chemistry-nya.”
“Udah kayak pasangan.”
Camille hanya tersenyum tipis setiap kali mendengar itu. Daniel pun tidak pernah membantah, tapi juga tidak pernah mengiyakan.
Hubungan mereka terasa hangat… nyaman.
Namun hati Daniel masih tertinggal di balik kaca ICU.
---
Siang itu, kantin rumah sakit tidak terlalu ramai.
Camille duduk di sudut meja, menyeruput kopi hangat. Ia menunggu Daniel yang masih menyelesaikan laporan pasien.
Pikirannya sedikit lebih ringan hari ini. Kondisi Valeria mulai stabil, walau belum sepenuhnya sadar.
Tiba-tiba seseorang berdiri di depannya.
“Boleh saya duduk di sini?”
Camille mendongak.
Seorang wanita elegan dengan tatapan lembut berdiri di hadapannya.
Camille langsung mengenali wajah itu.
“Ah… Anda ibu Daniel, bukan?”
Isabella Conti De Luca tersenyum hangat.
“Dan kamu Camille.”
Camille terkejut.
“Anda tahu nama saya?”
Isabella tertawa kecil.
“Daniel sering menyebut namamu.”
Ada nada bangga sekaligus lembut dalam suaranya.
Camille sedikit tersipu, tapi ia tetap sopan.
“Silakan duduk, Tante.”
Isabella duduk dengan anggun. Hari ini ia datang untuk menjenguk Valeria lagi. Namun sebelum naik ke ICU, ia ingin membeli minuman.
“Aku bertemu ibunya Valeria beberapa hari lalu,” ujar Isabella pelan.
Camille terdiam sejenak. Ia tahu isu yang beredar diam-diam tentang kemungkinan hubungan darah Valeria dengan keluarga De Luca.
“Dia wanita yang kuat,” lanjut Isabella. “Aku mengaguminya.”
Percakapan mereka mengalir ringan. Tentang praktik di rumah sakit, tentang dunia pendidikan kedokteran, tentang kehidupan mahasiswa.
Camille mulai menyadari sesuatu.
Isabella bukan wanita yang dingin seperti yang pernah ia dengar.
Selama ini, istri-istri pemegang saham rumah sakit sering berkumpul dalam acara sosial eksklusif. Namun Isabella hampir tak pernah terlihat.
Ia dikenal tertutup. Tidak aktif dalam pertemuan sosial. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Tapi sekarang…
Ia duduk santai di kantin, berbincang hangat dengan seorang mahasiswi.
Perubahan itu nyata.
Tanpa mereka sadari, Daniel berdiri beberapa meter dari sana.
Ia membeku.
Ibunya… tertawa.
Bercakap-cakap santai dengan Camille.
Sejak kapan mereka saling mengenal?
Daniel berjalan mendekat dengan ekspresi bingung.
“Mommy?”
Isabella menoleh, wajahnya berbinar.
“Oh, Daniel. Kami sedang berbincang.”
Daniel menatap Camille.
“Kalian… sudah kenal?”
Camille tersenyum canggung. “Kami baru saja mengobrol dan ini kali ke 2 kami bertemu di RS ini.”
Isabella menepuk tangan anaknya pelan.
“Ibumu ini tidak seburuk yang kau kira dalam bersosialisasi.”
Daniel terkekeh kecil, masih tak percaya.
Selama bertahun-tahun, ibunya memilih hidup tertutup setelah kehilangan Valentinanya. Ia jarang menghadiri acara, tidak bergabung dengan komunitas sosial, bahkan menolak undangan dari para istri pemegang saham lainnya.
Namun sejak kemunculan Valeria…
Sesuatu berubah.
Ia lebih sering keluar rumah. Lebih sering berbicara. Lebih sering tersenyum.
Daniel memandang ibunya dengan hati hangat.
“Mommy terlihat berbeda, aku menyukai perubahanmu, Momm,” ucapnya pelan.
Isabella menatap ke arah tangga menuju ICU.
“Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun… Mommy merasa hidup lagi.”
Camille menunduk. Ia bisa merasakan kedalaman luka di balik kalimat itu.
Daniel duduk di samping Camille.
Dan untuk sesaat, ketiganya terlihat seperti keluarga kecil yang utuh.
Namun jauh di atas sana, di balik dinding kaca ICU—
Valeria masih menjadi pusat dari semua perubahan ini.
Perubahan hati.
Perubahan hubungan.
Dan mungkin…
Perubahan takdir yang tak lagi bisa dihindari.