NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Hamil?

Siang itu, Sierra melangkah masuk kantin sekolah bersama Anastasia.

Baru saja mereka meletakkan nampan di meja kosong dan duduk, bayangan seseorang menutupi cahaya matahari. Gwen berdiri di hadapan Sierra dengan wajah yang tegang dan mata yang memerah. Di belakangnya, Nora dan anggota geng lainnya diam menonton.

"Sierra," suara Gwen terdengar tajam namun bergetar. Sebenarnya Gwen sedikit takut pada Sierra. "Aku peringatkan kau. Jangan pernah mencoba mendekati pacarku, Dennis. Jangan harap kau bisa merebutnya dariku."

Sierra menghentikan gerakannya. Dia mendongak, menatap Gwen dengan tatapan yang datar.

"Siapa juga yang mau mendekati pria itu," jawab Sierra pelan namun telak. "Bajingan macam dia, meskipun kau tawarkan secara gratis padaku, aku tidak sudi mengambilnya. Menyentuhnya sedikit saja, aku harus cuci tangan seratus kali."

Wajah Gwen memerah padam. "Apa maksudmu?! Dennis itu tampan, keren, dan dia anggota tim basket nasional! Banyak wanita yang mengemis perhatiannya. Siapa yang kau maksud bajingan, hah?!"

Sierra meletakkan sendoknya, lalu bersedekap. "Apa gunanya kau memperingatkan aku? Seharusnya kau jaga dia dengan benar. Jangan biarkan dia menggonggong pada setiap wanita yang lewat di depannya. Kalau dia memang sehebat yang kau bilang, dia tidak akan mencegat wanita asing di jalan sambil menawarkan nomornya dengan cuma-cuma seperti sales."

Anastasia, yang duduk di samping Sierra, tertawa kecil sambil menyesap jusnya. "Benar sekali! Kau seharusnya mengurung dan merantai si Dennis itu. Apa kau tidak tahu di luar sana kelakuannya seperti monyet birahi? Uh... Menjijikkan."

"Kau—!!" Gwen mengangkat tangannya, hendak memaki, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Dia kehilangan kata-kata untuk membalas Sierra dan cemoohan Anastasia. Dengan perasaan malu yang membuncah, dia berbalik dan pergi meninggalkan kantin.

Sejak hari itu, obsesi Gwen untuk mempertahankan Dennis menjadi tidak sehat. Setelah menyerahkan malam pertamanya, Gwen merasa seolah dirinya adalah milik Dennis sepenuhnya, begitu pula sebaliknya, menurut Gwen, Dennis sudah menjadi miliknya. Dia terus gencar menawarkan dirinya, mengirimkan pesan-pesan manja hampir setiap jam, hingga memberikan hadiah-hadiah mahal, semuanya demi memastikan Dennis tidak berpaling.

Namun, hukum playboy selalu sama, setelah rasa penasaran terpenuhi, rasa bosan akan datang.

Sebulan berlalu, dan Dennis mulai menunjukkan wajah aslinya. Dia sering menghilang berhari-hari tanpa kabar. Pesan singkat Gwen hanya dibaca tanpa dibalas, dan telepon darinya jarang sekali diangkat. Gwen yang mulai panik sering mendatangi apartemen Dennis secara langsung. Dulu, dia bisa masuk kapan saja karena tahu kode pintunya. Namun seminggu ini, saat Gwen mencoba masuk, bunyi "pip" merah terdengar. Dennis telah mengganti kode aksesnya. Gwen hanya bisa menunggu Dennis di luar, tapi Gwen tetap jarang bisa menemuinya meski sudah menunggu berjam-jam.

Kondisi fisik Gwen mendadak berubah akhir-akhir ini. Dia sering merasa mual dan pening. Dia mengira maghnya kambuh karena stres soal hubungannya dengan Dennis. Puncaknya adalah saat pelajaran olahraga, Gwen nyaris pingsan saat melakukan pemanasan. Dia dibawa ke klinik sekolah dengan wajah pucat pasi.

Dokter sekolah yang menanganinya, seorang wanita paruh baya dengan tatapan jeli, mulai mencurigai sesuatu setelah mendengar keluhan Gwen tentang siklus bulanannya yang juga terlambat.

"Gwen, dari gejala yang kau alami, aku menyarankanmu untuk melakukan tes mandiri," ujar dokter itu sambil memberikan sebuah kotak kecil berisi test pack. "Gunakan ini untuk memastikan."

Gwen menerima benda itu dengan tangan gemetar. "Apa ini?! Bukankah ini test pack??"

Dokter itu hanya mengangguk.

"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin hamil! Aku selalu mengonsumsi morning pill setelah tidur dengan Dennis!" pikir Gwen.

Meski menyangkal, rasa takut itu nyata. Gwen tidak berani menggunakan alat itu di sekolah. Jika hasilnya positif dan ada teman sekolahnya yang tahu, berita itu akan menghancurkan reputasinya dan keluarga Preston. Dia bisa saja diusir dari rumah. Gwen akhirnya meminta izin pulang lebih awal dengan alasan sakit.

Di kamar mandinya yang mewah, Gwen menunggu dengan jantung berdegup kencang. Dua garis merah muncul dengan sangat jelas.

"Tidak..." Gwen merosot ke lantai.

Dia mencoba meyakinkan diri bahwa alat itu rusak. Dengan panik, dia membungkus seluruh tubuhnya menggunakan jaket tebal, topi, kacamata hitam, dan masker. Dia pergi ke apotek yang cukup jauh untuk membeli lima test pack dari merek yang berbeda.

Di rumah, dia mencoba semuanya. Hasilnya tetap sama, lima pasang garis merah menatapnya dengan kejam. Gwen hamil. Di usia delapan belas tahun, dia hamil. Dia tidak siap menjadi ibu, dan dia tidak tahu harus minta tolong dan bercerita pada siapa selain Dennis.

Gwen mencoba menelpon Dennis puluhan kali. Tak ada jawaban. Akhirnya, dengan sisa keberaniannya, dia pergi ke apartemen Dennis. Kali ini, dia memencet bel berkali-kali sampai telinganya sendiri sakit.

Setelah sepuluh menit menunggu, pintu akhirnya terbuka. Dennis berdiri di sana hanya mengenakan boxer hitam. "Gwen? Apa yang kau lakukan di sini? Aku sedang sibuk sekarang, pergilah."

Gwen tidak mempedulikan penolakan itu. Dia menyelonong masuk ke dalam ruang tamu yang berantakan. "Dennis, aku hamil."

Tubuh Dennis membeku di tempat. Dia menatap Gwen dengan ekspresi yang jauh dari kata khawatir, dia tampak terganggu. "Apa? Hamil? Bagaimana mungkin? Tidak! Tidak mungkin, aku tidak percaya anak itu adalah anakku."

Sebenarnya, dalam sudut pandang objektif Dennis, Gwen Preston bukanlah pilihan yang buruk untuk masa depan. Jika suatu hari nanti dia harus menanggalkan status lajangnya, menikahi Gwen adalah langkah logis yang menguntungkan secara strategis. Mereka berasal dari kelas sosial yang setara dan penyatuan dua keluarga besar mereka akan memperkuat dominasi bisnis kedua keluarga di Metropolia. Gwen cantik, penurut, dan mudah dikendalikan, kriteria istri yang ideal bagi pria dengan ego setinggi Dennis.

Namun, masalah utamanya bukan itu, melainkan konsep komitmen itu sendiri. Dennis merasa dirinya masih terlalu muda untuk dikekang oleh pernikahan. Dia masih mahasiswa, masa depannya sebagai atlet basket nasional sedang bersinar, dan yang paling penting, dia masih ingin menikmati kebebasan tanpa batas. Hasratnya untuk berpetualang cinta dengan berbagai wanita masih membara, dia belum puas mencicipi semua "hidangan" yang ditawarkan dunia padanya.

Dalam bayangan idealnya, Dennis baru akan memikirkan pernikahan saat usianya menginjak tiga puluh tahun. Baginya, sepuluh tahun ke depan adalah waktu untuk bersenang-senang, bukan untuk mengurus popok atau mendengarkan keluhan seorang istri. Selain itu, Dennis memiliki keyakinan sombong bahwa di luar sana pasti akan ada wanita yang jauh lebih berkualitas, lebih menantang, dan lebih mempesona dibanding Gwen untuk ia jadikan pendamping hidup permanen. Dia tidak mau buru-buru menjadikan Gwen sebagai pilihan terakhir.

Gwen terbelalak, air matanya mulai jatuh. "Apa maksudmu, Dennis?! Aku hanya melakukannya denganmu! Kalau ini bukan anakmu, lalu anak siapa? Kau pikir aku wanita macam apa?"

"Mana kutahu kau tidur dengan siapa lagi," ujar Dennis dingin sambil menyalakan rokok. "Yang pasti, jangan seret aku ke dalam masalahmu. Tidak mungkin itu anakku."

"Dennis!! Bilang saja kalau kau tidak mau bertanggung jawab! Jadi sejak awal yang kau inginkan memang cuma tubuhku?!" teriak Gwen histeris.

Sebelum Dennis sempat membalas, pintu kamar tidur terbuka. Seorang wanita muda yang hanya mengenakan kemeja putih milik Dennis muncul dengan wajah mengantuk. Rambutnya berantakan, dan dia menatap Gwen dengan bingung.

Gwen terpaku. Dia baru sadar Dennis hanya mengenakan celana dalamnya, dia bisa melihat di leher dan dada Dennis yang penuh dengan bekas gigitan dan cakaran baru. Pemandangan itu seperti belati yang menusuk jantungnya berulang kali.

"Jadi ini kesibukanmu selama seminggu terakhir!" suara Gwen melengking penuh amarah. "Dasar bajingan kau, Dennis!!"

Gwen kehilangan kendali. Dia menerjang Dennis, memukul dadanya dengan brutal juga menjambak rambut Dennis hingga rontok di tangannya. Wanita asing itu mencoba melerai Gwen dan Dennis, namun Gwen yang emosinya meledak malah berbalik menyerang wanita itu juga. Keadaan menjadi kacau balau.

Dennis yang kehilangan kesabaran segera memiting lengan Gwen. Dengan kasar, dia menyeret Gwen keluar dan mendorongnya hingga jatuh terduduk di lorong apartemen.

"Jangan pernah datang lagi ke sini!" teriak Dennis sebelum membanting pintu dengan keras.

Gwen menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak dan menangis. Beberapa tetangga keluar dari unit mereka bukan karena merasa terganggu. Mereka hanya menatap Gwen dengan tatapan kasihan.

"Lagi-lagi perempuan baru," bisik seorang tetangga.

"Bodoh sekali gadis itu, sudah tahu Dennis itu playboy kenapa masih saja percaya rayuannya," timpal yang lain.

"Mungkin saja dia tidak tahu. Sudah jelas Dennis pembohong ulung", bantah yang lain.

Gwen mendengar semuanya.

Tak lama kemudian, dua petugas sekuriti datang, Dennis yang memanggil mereka untuk mengusir Gwen.

"Aku bisa jalan sendiri", desis Gwen pada para sekuriti.

Gwen berdiri dengan sisa tenaganya, berjalan pergi dengan lunglai sebelum tangan kasar sekuriti menyentuhnya untuk membawanya keluar.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!