Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBUH DENGAN CINTA BUKAN LUKA
Langkah kaki Arsen yang hendak menjauh seketika terhenti. Salsa, yang sedari tadi berada di dalam kamar untuk membantu menjaga Arlo, melangkah keluar dengan wajah pucat dan mata yang masih basah. Ia menutup pintu rapat-rapat, memastikan Rosa tidak mendengar keributan di luar.
"Mas Arsen, cukup..." suara Salsa bergetar, namun ada ketegasan di sana.
Arsen menoleh dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus dinding. "Salsa, kamu masuk ke dalam. Ini bukan urusan kamu."
"Ini urusan saya juga, Mas! Mbak Rosa dengar suara Mas di dalam," potong Salsa berani. Ia mendekat, menatap Arsen yang sedang dikuasai emosi. "Mbak Rosa tadi bilang sama saya... Mas jangan sakiti Mbak Laras. Mbak Rosa nggak mau ada darah lagi yang tumpah, atau dendam lagi yang tumbuh di atas kesedihan ini."
Arsen mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Dia penyebab calon adik Arlo meninggal, Salsa! Kamu minta aku diam saja?"
Salsa menggeleng kuat-kuat, air matanya jatuh lagi. "Mas, tolong diingat satu hal. Seburuk-buruknya apa yang dilakukan Mbak Laras hari ini, kalau bukan karena dia yang melahirkan Arlo dan 'menitipkannya' di depan rumah kita malam itu, Arlo nggak akan pernah jadi anak Mbak Rosa. Arlo nggak akan pernah ada di tengah-tengah kita."
Kalimat itu bagai tamparan keras bagi Arsen. Ia terdiam, napasnya yang memburu perlahan mulai melambat, meski dadanya masih terasa sesak.
"Mbak Rosa bilang, Arlo adalah anugerah terbesar yang dia punya sekarang. Kalau Mas Arsen pakai cara kotor atau kekerasan untuk balas dendam ke Mbak Laras, itu sama saja Mas menyakiti bagian dari masa lalu Arlo. Mbak Rosa cuma mau Mas Arsen ada di sampingnya sekarang, bukan di kantor polisi atau di jalanan buat balas dendam," lanjut Salsa lirih.
Dana yang berdiri di samping Arsen hanya bisa menghela napas panjang, menatap sahabatnya yang kini tampak goyah. "Dia benar, Sen. Rosa butuh kamu yang utuh, bukan kamu yang penuh kebencian."
Arsen menyandarkan dahinya ke tembok lorong rumah sakit. Bayangan wajah Rosa yang tegar namun rapuh di dalam sana kembali melintas. Ia sadar, istrinya sedang berusaha menyelamatkan apa yang tersisa dari kewarasan keluarga mereka.
"Kasih saya waktu," gumam Arsen pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Mas Dana, tetap awasi Laras. Jangan biarkan dia mendekat, tapi jangan lakukan apa pun dulu. Aku... aku mau menemani Rosa."
Arsen berbalik, membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia melihat Rosa sedang memeluk Arlo sambil memejamkan mata. Pemandangan itu menyadarkannya bahwa meski ia kehilangan satu nyawa, ia masih memiliki dua nyawa lainnya yang harus ia jaga dengan cinta, bukan dengan amarah yang menghancurkan.
Malam telah larut. Ruang perawatan itu kini terasa begitu sunyi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan bunyi detak jantung dari monitor medis. Arlo sudah dibawa pulang oleh orang tua Rosa agar bisa beristirahat di rumah, meninggalkan Arsen dan Rosa dalam keheningan yang menyesakkan namun jujur.
Arsen duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang, tangannya masih setia menggenggam tangan Rosa. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang sangat sendu, penuh dengan rasa bersalah dan duka yang tak terkatakan. Matanya yang memerah menunjukkan betapa berat beban yang ia pikul di kepalanya.
Rosa perlahan menggerakkan tangannya, melepaskan genggaman Arsen sejenak hanya untuk mengelus pipi suaminya yang terasa kasar karena belum sempat bercukur. Ia menatap mata Arsen, mencoba menyelami kegelapan yang ada di sana.
"Aku sedih karena aku juga sayang anak kedua kita, Mas," ucap Rosa lirih, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Dia adalah bagian dari kita, harapan kita."
Rosa terdiam sejenak, mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimat yang membuat Arsen tersentak.
"Tapi aku lebih sedih kalau di hatimu ada kebencian ke Mbak Laras. Aku takut, Mas... kalau kebencian itu terus muncul dan tumbuh, suatu saat kamu bisa benci Arlo juga. Karena bagaimanapun, di dalam darah Arlo, ada darah wanita itu."
Arsen tertegun. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi, namun lidahnya terasa kelu.
"Arlo adalah segalanya buat kita sekarang," lanjut Rosa sambil terus mengelus pipi Arsen dengan lembut. "Kalau kita memelihara dendam pada ibu biologisnya, kita sedang menanam bom waktu di dalam keluarga ini. Aku nggak mau Arlo tumbuh besar dengan melihat papanya membenci wanita yang memberinya kehidupan. Aku mau kita sembuh dengan cinta, bukan dengan membalas luka."
Air mata Arsen jatuh ke punggung tangan Rosa. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di tepi ranjang. "Aku cuma nggak kuat melihat kamu menderita, Sayang, Aku merasa gagal menjaga kalian semua. Bayi kita... dia pergi karena kekacauan yang dia buat."
"Dia pergi karena memang sudah waktunya," bisik Rosa sambil menarik kepala Arsen agar mendekat ke pelukannya. "Bukan karena kamu gagal. Dan bukan karena Laras punya kuasa atas nyawa. Ini ujian kita. Jangan biarkan Laras mengambil lebih banyak lagi dari kita. Dia sudah mengambil calon bayi kita, jangan biarkan dia mengambil kedamaian di hatimu juga."
Arsen terisak pelan dalam pelukan Rosa. Di malam yang dingin itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, Arsen perlahan mencoba melepaskan kepalan tangannya yang keras. Ia menyadari bahwa untuk melindungi Arlo dan Rosa, ia tidak butuh menjadi pedang yang tajam, melainkan menjadi perisai yang penuh pengampunan.
Suasana ruangan itu semakin terasa intim dan penuh haru. Arsen masih menyembunyikan wajahnya di sisi tempat tidur, bahunya sedikit berguncang. Kalimat Rosa barusan seolah menjadi oase di tengah padang pasir kemarahan yang sejak tadi membakar hatinya.
Rosa mengusap punggung suaminya dengan gerakan memutar yang menenangkan, mencoba menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Ia tahu Arsen merasa gagal sebagai kepala keluarga, dan ia tahu Arsen sedang mencari sasaran untuk disalahkan agar rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Aku tahu kamu sedih, Sayang. Aku pun hancur," bisik Rosa lembut, suaranya sangat tenang meski air matanya ikut menetes. "Tapi mungkin ini cara Tuhan bilang kalau kita dikasih kesempatan dulu buat fokus sama Arlo. Arlo baru saja melewati trauma besar hari ini, dia butuh kita berdua sepenuhnya. Dia butuh Papa-nya yang penyayang, bukan Papa yang dipenuhi amarah."
Arsen perlahan mendongak, menatap mata Rosa yang meskipun sembab, memancarkan kejernihan hati yang luar biasa. Ia meraih tangan Rosa dari punggungnya, lalu mengecup telapak tangan itu lama.
"Kamu benar-benar wanita paling luar biasa yang pernah aku kenal, Sayang" gumam Arsen parau. "Di saat kamu yang paling menderita, kamu justru yang menguatkan aku. Maafkan aku... aku hampir saja membiarkan kegelapan menguasai aku."
Rosa tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang sangat melegakan bagi Arsen. "Kita kuat karena kita bareng-bareng, Mas. Fokus kita sekarang cuma satu: pulang, peluk Arlo, dan sembuh sama-sama. Calon anak kita sudah di surga, dia pasti nggak mau lihat Papa dan Mama-nya hancur karena benci."
Arsen mengangguk pelan. Beban berat yang tadi menumpuk di pundaknya seolah sedikit terangkat. Ia menyadari bahwa membalas dendam pada Laras tidak akan mengembalikan bayi mereka, justru hanya akan menjauhkan dirinya dari kedamaian yang Rosa dambakan.
Malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang sunyi, Arsen berjanji dalam hati. Ia akan melepaskan dendamnya, bukan karena Laras layak dimaafkan, tetapi karena Rosa dan Arlo layak mendapatkan versi terbaik dari dirinya.