NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan

Di sebuah bar, sepuluh gelas kosong berjajar di hadapan Junhwan. Pikirannya masih terpaku pada satu bayangan yang sama ciuman Haerim dan Alexey.

Seorang pelayan mendekat. "Terjadi sesuatu? Kelihatannya banyak pikiran."

"Kamu kenal perempuan?" tanya Junhwan datar tanpa menoleh.

Pelayan itu tersenyum kecil. "Ternyata masalahnya perempuan." Ia mengelap meja pelan. "Banyak yang datang ke sini dengan alasan yang sama."

Junhwan akhirnya menoleh. "Apa sebenarnya yang mereka mau?" ucapnya kesal. "Uang? Aku punya. Status? Posisi? Aku juga punya."

"Salah," jawab pelayan itu santai.

Junhwan mengernyit. "Maksudnya?"

"Tidak semua perempuan menginginkan itu, Tuan."

Junhwan menghela napas panjang. "Bagaimanapun caranya, aku akan dapatkan dia." Suaranya rendah tapi penuh tekad. "Termasuk menyingkirkan pria itu."

Pelayan itu tersenyum sinis. "Terus berusaha kalau begitu. Siapa tahu ada keajaiban."

Junhwan tidak menjawab, hanya meneguk gelasnya.

Kursi di sebelahnya tiba-tiba bergeser dan seseorang duduk di sana. "Hai, Tampan." Suara perempuan, manis dan disengaja. "Mau ditemani?"

Junhwan mengabaikannya.

Perempuan itu tidak bergerak. Ia mengulurkan tangan. "Aku Hani."

Junhwan melirik tangan itu sekilas. "Pergi."

"Bagaimana kalau aku bisa membantumu mendapatkan Nona Haerim?"

Junhwan langsung menoleh. "Kamu kenal dia?"

"Sudah kuduga kamu langsung penasaran." Hani tersenyum tipis. "Aku sering lihat Haerim di kampus. Wajar saja, dia memang ratu kampus."

Junhwan menatapnya ragu, tapi rasa putus asa mengalahkan instingnya. "Kenapa kamu mau bantu aku? Apa maumu?"

Hani mendekatkan wajahnya. "Aku mau kamu," bisiknya.

"Maksudmu?"

Hani mengelus bahunya pelan, wajahnya berubah sendu. "Aku baru diputusin... malam ini aku butuh teman." Ia menatap Junhwan. "Temani aku malam ini, dan aku akan bantu kamu memisahkan Haerim dari kekasihnya."

Junhwan terdiam mencerna ucapan itu.

"Setuju," jawab Junhwan singkat. Imbalan itu terlalu menjanjikan untuk ditolak. "Di mana?"

"Apartemenku," bisik Hani, lalu berdiri dan berjalan lebih dulu.

Junhwan mengikutinya hingga mereka masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan Junhwan diam, tapi pikirannya tidak tenang. Ia tidak punya pengalaman sama sekali, sementara Hani jelas jauh lebih dewasa darinya.

"Nggak perlu seserius itu," goda Hani sambil mengemudi, meliriknya sekilas.

Junhwan menatapnya tajam. "Cepat."

Hani tersenyum melihat gaya pemberani Junhwan yang justru terlihat lucu, lalu melajukan mobilnya hingga tiba di apartemen.

Hani turun lebih dulu, diikuti Junhwan. Begitu pintu tertutup, Hani langsung mengalungkan tangannya ke leher pria itu dan menciumnya kasar. "Bagaimana?"

"Boleh juga," jawab Junhwan, berpura-pura tenang.

"Syukurlah." Hani mundur selangkah, lalu mulai melepaskan pakaiannya satu per satu hingga tidak tersisa.

Junhwan membeku di tempat. *Ini pertama kalinya aku lihat wanita seperti ini secara langsung.*

"Junhwan," panggil Hani pelan. "Jangan tunggu lagi."

Junhwan langsung menerkamnya, ciumannya amatir tapi penuh gairah.

Yang tidak disadari Junhwan sama sekali, sebuah kamera kecil tersembunyi di balik vas bunga di sudut ruangan, merekam setiap detik malam itu.

Pagi hari, Haerim duduk di tepi ranjang dengan muka cemberut. Ia sudah terjaga sejak tadi, tapi enggan bergerak karena bagian dalam pahanya perih luar biasa.

"Sayang." Haerim memukul lengan Alexey pelan. "Bangun. Tanggung jawab."

Alexey membuka mata, bersandar santai, lalu menatapnya datar. "Tanggung jawab apa?"

"Paha aku sakit banget!" keluh Haerim kesal. "Kamu ngapain sampai jam dua pagi sih?!"

"Kamu sendiri yang nggak mau berhenti semalam," jawab Alexey datar.

"Aku lupa!" balas Haerim. "Dan sekarang aku susah jalan, ini salah kamu!"

Alexey menghela napas panjang. Dua puluh tujuh tahun hidupnya, belum pernah ia mengurusi seorang gadis sedetail ini.

"Iya, aku minta maaf." Ia turun dari ranjang. "Ayo mandi."

Tanpa menunggu jawaban, Alexey menggendong Haerim yang masih polos dan melangkah ke kamar mandi.

"Imut," godanya datar.

Haerim membuang muka. "Kamu jahat."

Alexey menatapnya sebentar. Gadis ini benar-benar mengenaskan. Ia mendudukkan Haerim di dalam bak mandi dengan hati-hati, lalu memulai ritual pagi mereka.

Setelah mandi, Haerim duduk di depan meja rias dengan wajah yang sengaja dibuat datar. Ia penasaran sejauh mana Alexey akan membujuknya.

Alexey berdiri di belakangnya, mengeringkan rambutnya tanpa banyak bicara.

"Selesai," bisiknya tak lama kemudian.

Haerim menatap bayangannya di cermin dan hatinya hangat tanpa disadari. *Dia mau repot-repot merawatku seperti ini.*

"Aku udah cantik belum?" tanyanya.

"Sangat cantik," jawab Alexey datar.

Senyum Haerim langsung merekah tanpa bisa ditahan. "Good boy."

Alexey mengusap kepalanya sekali, santai. "Sarapan."

Haerim berdiri mengikutinya, lalu teringat sesuatu. "Hari ini kamu ada misi?"

"Tidak. Hari ini aku temani kamu istirahat."

Setelah Junhwan pergi, Hani duduk di balkon memperhatikan mobil yang menjemput pria itu hingga menghilang di tikungan.

"Tuan muda manja," gumamnya pelan. "Kasihan juga, tapi ini memang pekerjaanku."

Ia meraih ponselnya, memutar video semalam sebentar, lalu langsung menghubungi Minsook.

"Ada berita baik?" tanya Minsook dari seberang.

"Berita baiknya, aku berhasil mendapatkan yang Anda perintahkan," jawab Hani santai.

Minsook langsung tertawa. "Kirim videonya. Pembayaran sudah ditransfer semua."

"Ingat bayaran tambahanku," ucap Hani sebelum memutus sambungan.

Ia mengedit video itu sebentar, memburamkan wajahnya sendiri, lalu mengirimkannya ke Minsook.

Kampus Icheon 09:00

Lisa tiba di kawasan kampus bersama Hunter. Sebelum turun, ia menoleh dengan sedikit canggung. "Terima kasih sudah mau antar aku ke rumah ibu dan ke kampus."

Hunter hanya bergumam singkat.

Lisa tersenyum tipis lalu meraih gagang pintu, tapi tiba-tiba tangan Hunter menarik pinggangnya dan bibirnya langsung mendarat di bibir Lisa, melumatnya tanpa peringatan.

Lisa mendorong dadanya. Sia-sia.

Setelah cukup lama, Hunter melepaskannya.

"Ini area kampus!" protes Lisa.

"Tidak ada yang berani lihat," jawab Hunter santai.

Lisa menghela napas panjang. "Aku harus masuk, sebentar lagi jadwal mengajar."

Hunter tidak melepaskannya. Ia justru menarik Lisa lebih dekat. "Sudah sarapan?"

Lisa menggeleng. "Belum, tapi nanti setelah mengajar—"

Hunter membuka dasbor, mengambil sebungkus roti dan sebotol soda, lalu menyodorkannya ke tangan Lisa. "Makan. Kalau nolak, aku bawa kamu balik ke apartemen."

"Iya, iya, aku makan," ucap Lisa kesal sambil meraih rotinya.

"Sekarang," tegas Hunter.

Lisa menggigit rotinya pelan hingga habis, lalu menoleh. "Sudah habis. Aku turun ya."

Hunter menatapnya datar. "Pergelangan kakimu bagaimana?"

Lisa terkejut sebentar. Dia masih ingat itu? "Sudah mendingan, cuma belum bisa jalan cepat."

"Turun," kata Hunter. "Nanti aku jemput."

"Nggak usah, aku bisa—"

"Aku jemput."

Lisa menghela napas. "Terserah." Ia turun dan memperhatikan mobil Hunter perlahan menghilang.

*Baru tiga hari kenal... tapi sudah berkali-kali dicium.* Lisa geleng kepala tidak percaya.

Ia melangkah menuju ruang kelas, merapikan pikirannya. Tidak boleh terlalu cepat luluh. Ia harus memastikan dulu, Hunter bukan sosok kasar seperti ayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!