Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Nafas Joseph kian memburu kesal, “Akkkhh berisik kamu, Rin!”
Brugh.
“Akkhhhh!”
Tubuh Karin terhuyung ke depan, saat tangan besar Joseph mendorongnya. Pria itu berhasil menyingkirkan Karin yang tengah memapah nya. Hingga tubuh wanita itu menabrak tiang pintu, menyisakan luka di kening Karin yang membentur tepian tiangnya.
“Uugghh sakit! Perih!” ringis Karin, melihat jejak dar4h di jemari mungilnya, sementara dar4h segar terus mengalir dari keningnya yang terluka.
Tanpa rasa bersalah, Joseph terkekeh. Ia mentertawakan kesakitan Karin di bawah pengaruh minuman. Hal yang gak akan ia lakukan saat sadar.
“Makanya jadi istri jangan bawel! Contoh Jenny, diam di saat suami lagi marah! Enak kan, di cium tiang pintu!” Joseph menoyor kepala Karin.
“Aku bukan dia, mas! Aku Karin! Wanita yang kamu cintai!” jerit Karin gak terima.
Joseph mengerang kesal, mengibaskan tangannya acuh. Sembari melenggang masuk kamar dengan sempoyongan.
“Egghhh terserah kamu saja lah! Aku pusing! Mending tidur!” racau Joseph.
Sementara Karin menatap Josep penuh dendam, “Keterlaluan kamu, mas! Lihat apa yang bisa aku lakukan pada mu nanti, mas! Aku buat kamu menyesalinya!”
Karin meninggalkan rumah saat itu juga, menuju klinik terdekat guna mendapat penanganan pada keningnya. Sementara Joseph tidur dengan nyenyak untuk beberapa saat.
Suasana berbeda begitu terasa di kediaman utama Jaya.
Jaya ke luar kamar, dengan setelan kantor menuju ruang makan. Beberapa lauk pauk sudah tersaji di atas meja. Sementara bi Sari tampak menuangkan air minum ke gelas Jenny. Usai mengisi gelas Jaya yang kosong.
“Jenny belum turun, bi?” tanya Jaya, sembari mendaratkan bobot tubuhnya pada salah satu kursi di meja makan.
“Belum, Tuan besar!” jawab bi Sari.
***
Sementara bi Yati tengah mengelap buah yang sebelumnya ia cuci dengan air mengalir. Menatanya dalam satu wadah. Lalu meletakkannya di tengah meja makan.
Jaya menatap penuh selidik bi Yati, “Apa biasanya Nona Muda mu akan turun untuk sarapan, bi Yati?”
Bi Yati menelan salivanya sulit, “Pasti turun, Tuan besar. Biasanya pukul 8 pagi Nona dan pak Joseph baru turun untuk sarapan.”
Jaya membola gak percaya, “Apa? Pukul 8 pagi? Terus Joseph akan berangkat kantor jam berapa, kalo jam 8 dia baru sarapan?”
Bi Yati menggaruk kepalanya yang gak gatal, dengan ragu, “Pukul 9 pagi bapak baru berangkat, Tu- Tuan besar!”
Jaya mengepalkan tangannya kesal, “Pantas kalo perusahaan yang di pimpinnya gak maju! Dia aja gak bisa memberi contoh karyawan untuk disiplin!”
Bi Yati meringis, ‘Aduh, kenapa Tuan besar terlihat marah? Aku kan hanya menjawab sesuai keadaan.’
Jaya mengerdik kan dagunya pada bi Yati, “Apa yang di kerjakan Nona muda mu kalo Joseph pergi ke kantor?”
“Kalo gak menghabiskan waktu di rumah buat baca novel. Biasanya Non Jen akan pergi ke mall, sekedar jalan jalan kalo gak belanja, Tuan besar!” ujar bi Yati.
Jaya memijat keningnya, “Astagaa, pantas aja putri ku gak pintar pintar jalan pikirannya. Selama ini ilmu yang ia dapat dari kuliah, gak pernah ia terapkan.
Lalu bagaimana Jenny mau mengembangkan perusahaan? Perusahaan gak punya hutang aja sudah jauh lebih baik!”
Bi Yati mengerdik kan bahu nya, tanpa saringan, “Mungkin akan mengandal kan Tuan besar.”
Bi Sari menggeleng, dengan nada berbisik, “Mbak yu!”
Jaya menarik nafasnya dalam, “Kenapa Joseph gak mengajak serta Jenny ke kantor? Mereka kan bisa bekerja sama untuk memajukan perusahaan!”
‘Aku gak mungkin bilang, pak Joseph melarang keras Non Jen ke kantor kan? Aduh mati aku. Gimana menghadapi Tuan besar!’ jerit batin bi Yati.
Bi Yati men4utkan kedua tangannya, wajahnya mulai gelisah, “Ma- maaf Tuan besar. Biar Non Jen aja yang jawab.”
“Kamu panggil Jenny! Bilang, Tuan besar menunggunya untuk sarapan.” titah Jaya gak mau di bantah.
“I- iya, Tuan besar! Bibi panggil Non Jen!” beo bi Yati, sebelum lari kocar kacir.
Bi Yati meringis, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Jaya.
“Sa- saya lupa belum matiin mesin cuci, Tuan besar! Saya permisi, Tuan!”
Jaya merogoh saku kemeja putihnya, yang berada di balik jas hitam yang membalut tubuh tegapnya.
Dengan penuh pertimbangan, Jaya menghubungi seseorang dari kontak nya.
^^^“Iya, om! Ada yang bisa Alan bantu?” tanya Alan dari sambungan telepon, dengan kebisingan jalan.^^^
[ “Apa hari ini kamu punya waktu? Tanpa mengganggu jam sekolah mu?” ]
^^^“Jam 3 sore sampai malam, Alan free om.”^^^
[ “Oke, om mau kamu jemput Jenny di rumah om. Lalu kamu temani Jenny menemui om Rendra. Pastikan Jenny serius dengan rencana gugatan cerainya. Kamu bisa kan?” ]
^^^Suara Alan terdengar tambah bersemangat, “Bisa bangat, om! Alan pastikan akan terjadi!”^^^
[ “Sebelumnya maaf, om sudah merepotkan mu, Lan!” ]
^^^“Alan senang di repotin, om! Mbak cantik ada om?”^^^
[ “Ada, sedang di panggilkan bibi untuk turun sarapan.” ]
^^^“Oh gitu ya, om! Salam buat mbak Jen ya, om! Oh iya om, nanti kita sambung lagi ya! Alan masih di jalan ini!”^^^
[ “Iya, hati hati kamu! Jangan ngebut!” ] beo Jaya sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
Sementara di lantai atas.
Bi Yati mengguncang lengan Jenny, berusaha membangun kan Nona mudanya. Jenny tampak terlelap di atas tempat tidurnya.
“Non, ayo bangun! Tuan besar nunggu itu di bawah!” desak bi Yati.
Jenny balik memunggungi bi Yati, memeluk erat bantal gulingnya, dengan mata terpejam.
“Eemmmhhhh! Bilang, aku akan turun untuk sarapan nanti! Aku masih ngantuk, bi!”
Bi Yati berjalan memutar, menarik gorden yang menutupi jendela. Membiarkan cahaya matahari menerobos masuk. Pantulan cahaya matahari tepat menerpa wajah cantik Jenny.
“Gak bisa Non! Mending Non cuci muka biar seger… ilang dah tuh ngantuknya, terus turun. Tuan nunggu Non sarapan itu. Ayo, Non! Jangan buat Tuan besar ngamuk! Non!” cerocos bi Yati, gak mau kalah.
Jenny menarik selimutnya hingga batas kepala.
“Bilang aja ke papa, aku sakit! Kepala ku pening, gak terbiasa bangun subuh! Masih butuh tidur bi!” gerutu Jenny dengan suara teredam.
Bi Yati mengelu5 dada, “Astaga, Non kan baik baik aja! Nanti kalo Tuan besar beneran panggil dokter keluarga, bakal lebih kacau lagi, Non!”
Brugh.
Jenny melemp4r batal kepala sembarang arah, hingga bantal mendarat tepat di lantai.
Bi Yati menelan salivanya sulit, mendapati Jaya sudah berdiri di ambang pintu kamar Jenny. Dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Tu- Tuan besar!”
Bi Yati langsung melenggang meninggalkan kamar Jenny, setelah mendapat perintah ke luar dari Jaya. Meski hanya dengan gerakan kepala.
Jelas menggambarkan betapa marahnya pria tua itu. Marah yang gak bisa lagi di gambarkan dengan kata kata.
Jaya mengepalkan tangannya erat, ‘Dari awal papa gak setuju kamu menikah dengan Joseph, Jen! Dan sekarang lihat, kamu begitu jauh dari sang pencipta. Gak ada kebiasaan baik yang kamu bawa dari buah pernikahan mu!’
“Jenny! Mau bangun atau papa coret nama kamu dari kartu keluarga!” tegas Jaya di ujung tempat tidur Jenny.
Bersambung…