"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGORBANAN
Aurora tampak menangis, memanggil namanya tanpa suara, setiap kali Leo memukul kaca itu, jiwanya sendiri yang retak.
"Aku tidak bisa... Ayah... ini terlalu berat..." batin Leo merintih.
Rasa sakit itu seolah menghapus ingatannya tentang siapa dirinya.
"Leo, dengar! Kamu bukan hanya seorang Alistair, dan kamu bukan hanya seorang penjaga, tapi kamu adalah bagian dari dirinya sekarang! Jika kamu menyerah, dia akan sendirian di sana! Kamu adalah jembatannya untuk pulang!" ucap Lucas memejamkan mata, mengirimkan sisa energi batinnya melalui ikatan darah Serigala nya.
Mendengar kata-kata ayahnya, sesuatu di dalam dada Leo berdenyut, bukan lagi kemarahan, tapi sebuah kerinduan yang sangat dalam, dia teringat bagaimana Aurora menatapnya dengan rasa ingin tahu di balik sikap galaknya, dia teringat janji yang belum terucap untuk melindunginya, bukan karena kontrak, tapi karena dia merasa jauh lebih damai saat berada di dekat gadis itu.
Tiba-tiba, energi di ruangan itu berubah, aura perak Leo yang liar mulai meredup, berganti dengan cahaya putih yang lembut namun sangat pekat.
"Dia mulai melakukannya, dia tidak menghancurkan dimensi itu, dia sedang menyelaraskan dirinya dengan Aurora," bisik Raja Revan, matanya melebar takjub.
Di dimensi cermin, suhu ruangan turun drastis, Maxime melihat tangan Aurora yang tadinya terkulai, mulai bercahaya, serta luka goresan yang berhenti mengeluarkan darah.
Leo tidak lagi memukul kaca dimensi itu, tapi melalui rasa sakit yang luar biasa, dia mulai menempelkan telapak tangan jiwanya ke permukaan kaca, menutup matanya, dan membiarkan setiap kepingan ingatannya tentang Aurora menjadi perekat.
"Aurora... dengar suaraku..." bisik jiwa Leo yang kini mulai memudar.
"Ikuti cahayaku, jangan biarkan dia membawamu lebih jauh..." bisik Leo, dalam hati nya.
Air mata Leo di dunia nyata berubah menjadi cahaya perak yang terang benderang, menyinari seluruh ruangan bawah tanah. Lucas, Arion, dan Serena hanya bisa terpaku melihat perjuangan emosional seorang pemuda yang sedang mempertaruhkan seluruh eksistensinya demi satu nyawa.
KRAKKKK
Kaca dimensi itu belum retak, tapi permukaannya mulai bergetar hebat mengikuti detak jantung Leo yang kini melambat, bersatu dengan detak jantung Aurora di sisi sana.
Di balik tabir abu-abu yang memisahkan dunia nyata dan Dimensi Cermin, kesadaran Aurora berada dalam lautan kegelapan, tubuhnya terikat di kursi besi yang dingin di dunia dimensi, namun jiwanya terjebak dalam sebuah mimpi buruk yang terasa sangat nyata.
Dalam kegelapan itu, Aurora melihat potongan-potongan bayangan yang berputar di sekelilingnya.
Aurora melihat Leo.
Bukan Leo yang sedang tersenyum sombong saat latihan, melainkan Leo yang sedang kacau.
Aurora melihat pemuda itu berlutut di sebuah ruangan yang penuh dengan cahaya perak yang menyakitkan, dia juga melihat darah yang mengalir dari mata Leo, melihat bagaimana tubuh pemuda itu bergetar hebat seolah sedang dicabik-cabik oleh tangan yang tak terlihat.
"Leo...?" bisik Aurora dalam benaknya.
Suaranya tidak keluar, tenggelam dalam pengaruh sihir pembius Maxime yang menyerang sarafnya seperti racun hitam.
Bayangan itu semakin jelas, Aurora melihat Lucas Alistair yang berteriak putus asa, melihat ayahnya dan ibunya yang menangis, namun fokusnya terkunci pada Leo, dia bisa merasakan setiap inci rasa sakit yang dirasakan Leo.
Rasa panas yang membakar kulitnya, rasa sesak yang menghimpit dadanya, semuanya tersalurkan melalui sisa-sika ikatan batin mereka yang mulai menyambung kembali secara paksa.
"Berhenti... Leo, hentikan! Kamu akan hancur!" Aurora berteriak dalam diam, mencoba menggapai bayangan Leo di depannya.
Tiba-tiba, pemandangan berubah, Aurora kini berdiri di depan sebuah dinding kaca raksasa yang sangat tebal, di balik kaca itu, dia melihat jiwa Leo, bayangan cahaya putih yang mulai memudar menjadi abu-abu.
Leo menempelkan telapak tangannya pada kaca itu, wajahnya menunjukkan penderitaan yang luar biasa, namun matanya tetap menatap lurus ke arah Aurora.
"Ikuti cahayaku... Aurora... pulanglah..." suara Leo bergema di dalam jiwa Aurora, lembut namun penuh dengan getaran tekad yang tidak tergoyahkan.
Aurora tertegun, di sekelilingnya, akar-akar hitam sihir Maxime mulai melilit kakinya, mencoba menariknya lebih dalam ke dalam tidur abadi.
Akar-akar itu membisikkan janji ketenangan, sebuah dunia tanpa beban kerajaan, tanpa perang, tanpa rasa sakit.
"Tidak," bisik Aurora, matanya mulai berkilat perak di alam bawah sadarnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendirian, Serigala Bodoh," bisik Aurora penuh tekad.
Kemarahan mulai membakar di dalam nadinya, Aurora teringat bagaimana Leo mempertaruhkan segalanya di jembatan tempo hari, dan kini pria itu mempertaruhkan eksistensinya hanya agar Aurora bisa bangun.
Di dimensi cermin yang nyata, tubuh fisik Aurora yang tadinya lunglai perlahan mulai bergerak, jarinya berkedut, meskipun matanya masih tertutup, air mata mengalir melewati pipinya.
Maxime, yang sedang asyik merapal kan mantra terakhirnya, mendadak berhenti, dia menoleh ke arah Aurora dengan kening berkerut.
"Mustahil, sihir itu seharusnya bisa menidurkan naga sekalipun," gumam Maxime, tidak percaya.
"Kamu, meremehkannya..." suara Aurora terdengar sangat lemah, nyaris seperti bisikan, namun penuh dengan aura dingin yang mematikan.
Tubuh Aurora terlalu lemah, karena beberapa luka sayatan di tubuh nya, yang Maxime ambil darahnya, walapun ritual pengambilan darah Abadi milik Aurora belum mencapai puncaknya, tapi kondisi Aurora cukup mengkhawatirkan.
"Bawa dia kembali, Leo! Jangan lepaskan!" teriak Raja Revan dari dunia nyata, suaranya menggelegar saat dia melihat cahaya putih di sekitar tubuh Leo, menandakan jiwa Leo sudah berada di titik persimpangan.
Di dalam Dimensi Cermin, Maxime menyadari rencananya terancam, bangkit dengan murka.
"Kau berani masuk ke wilayahku, Serigala Hina?!" raung Maxime, mengayunkan belati sihirnya ke arah bayangan Leo, namun belati itu hanya menembus cahaya, tidak bisa melukai jiwa yang murni digerakkan oleh kasih dan tekad.
Di alam bawah sadarnya, Aurora berlari menuju dinding kaca tempat jiwa Leo berada, Aurora tidak lagi peduli pada akar-akar hitam yang menyayat kakinya, dia mengangkat tangannya dan menempelkannya tepat di posisi tangan Leo yang berada di balik kaca.
BLASSSS
Saat kedua telapak tangan mereka bertemu secara spiritual, sebuah ledakan emosi meledak.
Yang terjadi saat ini, bukan hanya karena kontrak darah, tapi karena sebuah ikatan baru yang lahir dari pengorbanan murni.
Cahaya perak dari Leo dan cahaya biru dari Aurora menyatu, menciptakan resonansi yang membuat seluruh Dimensi Cermin mulai retak.
"Ayo, Leo... mari kita hancurkan ini bersama!"
Suara Aurora bergema di dalam jiwa Leo, menjadi semangat yang menahan kesadarannya agar tidak hanyut ke ketiadaan.
Di dunia nyata, tubuh Leo yang bersimbah darah tiba-tiba tegak lurus, cahaya perak meledak dari tubuhnya, menciptakan badai energi yang membuat seluruh ruang bawah tanah bergetar hebat.
BUMMMMM