NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

akal akalan cavin

"Apa yang Kakak lakukan?" suara Thalia melirih, tertahan di kerongkongan. Napasnya memburu, bersahutan dengan degup jantung yang kian liar saat wajah Cavin perlahan mengikis jarak.

Aroma maskulin suaminya menyeruak, mengepung indra penciumannya dalam keheningan yang menyesakkan sekaligus mendebarkan.

Cavin menyunggingkan senyum tipis—sebuah seringai jahil yang sanggup meruntuhkan pertahanan siapa pun.

"Mau aku tunjukkan bagaimana menjadi istri idaman yang sesungguhnya?"

bisiknya tepat di depan ranum bibir Thalia. Embusan napas hangat itu menyapu wajah Thalia, membuat matanya terpejam sesaat, terbuai dalam intimidasi yang manis.

Tuk!

Sebuah bola plastik menghantam bahu Cavin, memecah sihir yang sempat tercipta.

"Om! Jangan ganggu Kakak! Lepasin sekarang, atau Lylo bilang Nenek kalau Om nakal!" seru Lylo dengan suara cadelnya yang menggemaskan.

Bocah itu berdiri dengan berkacak pinggang, sementara bola-bola yang tadinya sudah tertata rapi kini berhamburan kembali di lantai, menjadi saksi bisu amukannya.

Cavin tak bergeming. Ia justru semakin gemas melihat rona merah di wajah istrinya dan wajah mungil Lylo yang memerah menahan marah, karena ia kira teman sepermainan nya di ganggu .

Bukan nya melepaskan Thalia justru cavin memeluk Thalia lebih erat lagi seraya menggoda anak kecil yang entah siapa namanya.

"Enggak mau. Om mau makan Kak Thalia sekarang juga!" goda Cavin sembari memeragakan mulut dinosaurus yang hendak menerkam mangsa, tetap mengunci Thalia dalam pelukannya di atas ranjang.

"Om jangan makan Kakak! Huaaa!" Tangis Lylo pecah seketika. Isak tangisnya yang histeris memenuhi ruangan, membuat Thalia panik.

"Kak, lepasin dulu..." Thalia meronta halus, jemarinya menyentuh dada Cavin.

"Lylo sayang, jangan nangis. Kakak tidak apa-apa ," bujuknya lembut.

"Kakak pukul Om-nya! Biar Om-nya nangis juga, hiks!" pinta Lylo di sela sedu sedan yang menyesakkan dada.

Thalia menatap Cavin, memberi kode rahasia melalui gerak bibir tanpa suara. Malah membuat Cavin salah fokus.

"Kak, pura-pura nangis ya, supaya dia berhenti nangis nya . Aku akan pura-pura pukul juga, janji tidak sakit."

Cavin hanya menanggapi dengan tatapan intens yang sulit diartikan. Sebuah seringai licik kembali terukir. "Hm," gumamnya pendek.

Puk. Thalia mendaratkan pukulan seringan kapas di lengan Cavin. "Kak, ayo nangis," bisik Thalia lagi, menuntut akting sang suami.

Namun, Cavin punya rencana lain. Bukannya mengaduh, ia justru menarik tangan Thalia hingga wanita itu kembali jatuh ke dalam dekapannya.

Dalam satu gerakan cepat, Cavin menindih tubuh mungil istrinya, mendaratkan kecupan singkat namun dalam di bibir Thalia yang sedang menganga tak percaya. Tak cukup di situ, ia menggigit gemas pipi Thalia yang kini semerah mawar musim panas.

"Huaaa!" Lylo semakin meradang. Dengan kaki kecilnya, ia merangkak naik ke ranjang dengan susah payah, lalu tanpa aba-aba, ia menggigit punggung tangan Cavin dengan segenap kekuatannya.

"Ampun! Om menyerah! Om tidak akan jahat lagi, hiks... hiks..." Cavin akhirnya berakting, pura-pura merintih dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Thalia seolah sedang menangis tersedu-sedu, padahal ia sengaja agar bisa mencari keuntungan dari istrinya.

Melihat "kemenangan nya", Lylo seketika terdiam.

Gelak tawa renyah menyusul kemudian, seolah tangis memilukan beberapa menit lalu hanyalah mimpi.

Namun, tidak bagi Thalia. Ia menangkap gurat kesakitan yang asli di balik sandiwara Cavin.

"Ada apa?" tanya Cavin saat menyadari tatapan sendu istrinya.

"Ini pasti sakit sekali..." Thalia meraih tangan Cavin, mengusap bekas gigitan Lylo yang memerah, bahkan mulai meneteskan noda darah kecil—mirip bekas patukan ular.

Thalia mendekatkan tangan itu ke bibirnya, meniupnya perlahan dengan penuh perasaan.

"Hanya perih sedikit, seperti digigit semut," bohong Cavin. Sebenarnya denyut nyeri itu menjalar hingga ke saraf, namun ia jauh lebih tidak sanggup melihat genangan air mata di pelupuk mata Thalia.

"Kakak obatin ya, biar tidak infeksi."

"Tidak perlu, kenapa masih memanggil ku kakak apa kamu tidak menghargai saran dari mama ." ucap Cavin yang membuat Thalia panik

" bukan begitu, hanya saja belum terbiasa jadi mudah lupa"

" mulai sekarang harus di ingat kalau tidak akan saya hukum. di jawab anggukan oleh Thalia menerbitkan senyum di wajahnya.

"Atau begini saja, kamu gigit balik tangan si kecil Lolo itu sebagai balas dendam," usul Cavin, suaranya melunak, berubah menjadi nada yang begitu hangat dan sopan, jauh dari kesan angkuh yang biasa ia tunjukkan.

Thalia menggeleng pelan, wajahnya tampak tulus.

"Nanti kalau dia nangis lagi, dia akan mengadu pada Nenek nya, lalu aku yang dimarahi..."

Cavin terpaku. Ia menatap lekat wajah polos di hadapannya. Astaga, gadis ini... bagaimana bisa dia lebih mengkhawatirkan omelan orang lain daripada luka suaminya? batin Cavin

pasrah, sembari merasakan kehangatan yang perlahan mulai merambat masuk ke sudut hatinya yang paling dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!