Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Risiko di Balik Pilar
Napas Ozora terasa tercekat di tenggorokan. Permintaan Sky yang rendah dan serak itu seolah melumpuhkan logikanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ozora perlahan mengangkat ujung sweater rajutnya, menyingkap rahasia yang selama ini ia jaga di balik lapisan pakaian.
Di bawah temaram lampu kamar, tato bunga peony dan lili itu tampak begitu hidup. Guratan tintanya mengikuti lekuk pinggang Ozora yang sempurna, menciptakan kontras yang sangat indah dengan kulitnya yang putih pucat.
Sky terpaku. Matanya menggelap, dipenuhi kekaguman yang tak tertahankan. Ia berlutut di depan Ozora, bukan untuk memohon, melainkan untuk memberikan penghormatan pada keindahan yang ada di depannya.
Cup.
Ozora menegang sempurna. Tubuhnya bergetar kecil saat ia merasakan sentuhan bibir Sky yang hangat dan lembut mendarat tepat di atas guratan tinta di pinggangnya. Itu bukan sekadar ciuman, tapi sebuah pengakuan—bahwa Sky memuja setiap bagian dari diri Ozora yang selama ini tersembunyi.
"Sky..." bisik Ozora, suaranya nyaris hilang.
Sky mendongak, menatap mata Ozora dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seluruh dunianya hanya terpusat pada pria ini. Tanpa memberikan waktu bagi Ozora untuk berpikir, Sky berdiri dan meraih tengkuknya.
Detik berikutnya, bibir mereka bertemu.
Ciuman itu tidak seperti ciuman formal yang Sky berikan pada Anastasia di depan publik. Ini adalah ciuman yang haus, penuh kerinduan, dan luapan perasaan yang selama ini ia tekan di bawah meja marmer kampus. Sky menciumnya seolah-olah Ozora adalah satu-satunya udara yang bisa menyelamatkannya dari tenggelam.
Dengan gerakan yang sangat halus namun penuh dominasi, Sky menuntun langkah Ozora mundur hingga bagian belakang lutut gadis itu menyentuh tepi tempat tidur. Sky tidak melepaskan tautan bibir mereka saat ia perlahan merebahkan tubuh Ozora ke atas ranjang yang empuk.
Ozora tenggelam dalam kelembutan sprei nya, dengan tubuh tegap Sky yang kini mengurungnya dari atas. Aroma sandalwood dan maskulin dari tubuh Sky memenuhi indra penciumannya, memabukkan dan terasa sangat nyata.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini, Ozora," bisik Sky di sela-sela ciumannya yang kini berpindah ke ceruk leher Ozora. "Hanya kita berdua. Tanpa siapa pun yang melihat."
Di bawah mereka, suara samar tawa tamu ibu Ozora di lantai bawah terdengar, menciptakan kontras yang gila. Di bawah sana ada kepalsuan sosialita, sementara di kamar ini, di atas ranjang ini, semuanya terasa begitu jujur dan membara.
Keesokan harinya, atmosfer di kampus terasa berbeda bagi Sky dan Ozora. Meskipun di depan publik mereka masih menjaga jarak, ada sebuah rahasia yang berdenyut di antara setiap tatapan yang tidak sengaja bertemu.
Pagi itu, koridor menuju perpustakaan sedang sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah masuk ke kelas masing-masing. Ozora berjalan terburu-buru dengan setumpuk buku di pelukannya, jantungnya berdegup kencang saat ia melihat sosok jangkung Sky sedang berdiri bersandar di sebuah pilar marmer besar, seolah sedang menunggunya.
"Sky, kamu seharusnya sudah di kelas bersama Anastasia," bisik Ozora cemas saat ia sampai di dekatnya.
Sky tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik pergelangan tangan Ozora, membawanya ke balik pilar besar yang tersembunyi dari jangkauan pandangan koridor utama. Dengan satu gerakan cepat, Sky mengurung Ozora di sana.
"Sky—"
Kalimat Ozora terputus saat Sky menunduk dan mencuri sebuah ciuman singkat namun dalam di bibirnya. Itu adalah ciuman yang mendesak, penuh dengan sisa rasa dari malam yang mereka lalui di kamar Ozora.
Ozora terkesiap, tangannya refleks mencengkeram kemeja Sky. "Seseorang bisa melihat..." bisiknya saat Sky melepaskan tautan mereka, meski napas pria itu masih terasa hangat di kulitnya.
"Aku tidak tahan melihatmu berjalan lewat begitu saja tanpa menyentuhmu," gumam Sky dengan seringai tipis yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Tiba-tiba, sebuah suara deheman pelan terdengar dari arah sudut koridor.
"Ehem. Pemandangan yang sangat....untuk pagi hari yang dingin ini, Remington."
Ozora hampir melompat karena terkejut dan segera merapikan sweater nya, sementara Sky hanya berbalik dengan tenang, sudah menduga siapa pelakunya.
Di sana, Phoenix berdiri sambil bersandar di tembok, melipat tangan di dada dengan senyum jahil yang menghiasi wajahnya.
Phoenix tidak tampak marah atau terkejut. Sebaliknya, ia melirik Ozora yang wajahnya sudah merah padam, lalu beralih ke Sky.
"Tenang saja, lovebirds. Anastasia sedang sibuk berdebat dengan Stevani soal merk tas di kafetaria. Area ini aman dalam pengawasanku," ucap Phoenix santai.
Ia kemudian mengangkat kedua tangannya dan memberikan dua jempol dengan antusias ke arah Sky. "Pilihan yang sangat bagus, Sky. Jauh lebih baik daripada boneka porselen Rusia yang sedang marah-marah di sana. Aku mendukung penuh rahasia kecil kalian."
Sky hanya mendengus kecil, namun ada kilat terima kasih di matanya. "Pastikan mereka tetap di kafetaria, Phoenix."
"Tentu saja, sobat. Aku akan menjadi benteng pertahanan kalian. Tapi ingat," Phoenix mengedipkan sebelah mata ke arah Ozora, "jangan sampai bibirmu bengkak saat masuk kelas nanti, Ozora. Stevani punya mata yang sangat jeli kalau soal lipstik yang berantakan."
Phoenix berbalik dan berjalan pergi sambil bersiul ringan, meninggalkan Sky dan Ozora yang kini hanya bisa saling pandang dengan perasaan lega sekaligus tegang.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰