NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal tinggal sendirian

Indira langsung masuk kedalam rumah itu dan memperhatikan sekelilingnya apakah ada jendela yang terbuka atau tidaknya, setelah dirasa bahwa semuanya aman dirinya langsung masuk kedalam kamarnya. Tak lama kemudian ia mendengar suara seseorang yang tengah mengunci pintu rumah itu, dan ia tau bahwa itu adalah Pakdenya karena sebelumnya sudah diberitahukan.

"Ngeri banget kalo diperhatikan, kayak lorong yang ada di film film hantu biasanya seperti ini. Nggak bisa ngebayangin kalo ada hantu beneran disini," Guman nya lagi didalam kamar.

Tidak ada yang mengajaknya mengobrol walaupun hanya sebentar saja, oleh karenanya dirinya hanya bisa mengobrol sendiri tanpa tahu siapa yang akan menyahutinya nanti. Ia ingin ada sesuatu yang menyahuti ucapannya, namun ia juga takut apabila benar benar ada yang menyahuti ucapannya itu.

Sudah hampir seminggu dirinya berada didalam rumah itu belakangan ini, namun dia belum juga terbiasa dengan suasana yang ada disana. Oleh karenanya dia sangat sulit untuk bisa tidur dengan nyenyak, alhasil dia gampang sekali terbangun dan sangat sulit lagi untuk diajak tidur kembali.

Hal itu berlangsung semalaman, yang dimana membuatnya kurang tidur sehingga kepalanya terasa sangat pusing apalagi ketika digunakan untuk bekerja. Namun apalah daya dirinya yang harus menjalani kehidupannya mau tidak mau, ia juga tidak tau lagi harus tinggal dimana selain tinggal ditempat itu.

Teng teng teng...

Seketika ia mendengar adanya suara seseorang yang tengah memasak, dirinya pun langsung memeriksa kearah ponselnya untuk melihat jam yang ada disana, nampaknya saat ini masih pukul 12 malam. Entah siapa yang tengah masak di jam segini, padahal rumah rumah yang ada disana jarang sekali, dan jaraknya juga jauh jauh namun suara itu mampu terdengar dengan jelasnya.

"Kayak orang jualan nasi goreng, terus kalo malem begini siapa yang beli,"

Entah siapa yang tengah memasak saat ini, mungkin saja tetangga jauh yang tengah masak, karena suasananya yang sepi membuat suaranya mampu terdengar dengan jelas. Itulah yang ada didalam pikiran Indira, dirinya juga berusaha untuk tetap berpikir positif tentang apa yang terjadi disana.

Rasanya ia sama sekali tidak dibiarkan untuk tidur dengan nyenyak malam ini, ada saja gebrakannya yang membuatnya harus terbangun. Entah suara benda jatuh, suara seseorang menyapu halaman menggunakan sapu lidi, atau bahkan suara seseorang yang tengah merintih dimalam hari, dan masih banyak lagi yang Indira dengar malam ini.

"Kapan malam ini berakhir,"

Sebenarnya Indira sangat ketakutan malam ini, bahkan untuk berbalik badan saja rasanya dirinya seperti membeku dan otot tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan. Namun mulutnya hanya bisa diam membisu sambil mendengarkan suara suara itu menggema di telinganya, entah sampai kapan dirinya harus seperti ini.

Andai saja dirinya masih memiliki teman untuk tinggal disana, mungkin dirinya tidak akan ketakutan seperti ini. Indira tidak bisa tidur jika dengan lampu yang menyala, namun ketika dimatikan justru hal itu semakin menakutkan baginya. Sebelumnya memang dirinya sering kali mematikan lampu kamar tidurnya ketika waktu ada Ana dirumah itu, sekarang tidak pernah lagi mematikan lampu tersebut.

Rasanya satu jam saja seperti berabad abad lamanya, bahkan satu jam saja itu sangatlah lama. Berbeda lagi jika dirinya tengah bersenang senang, maka waktu satu jam tidaklah cukup baginya untuk bahagia, namun kali ini satu jam sungguh membuatnya sangat tersiksa.

Indira kembali mencoba untuk memejamkan kedua matanya agar bisa tertidur, beberapa saat kemudian Indira merasa bahwa anggota tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Hal yang selama ini tidak pernah ia rasakan lagi dan sekarang terjadi lagi kepadanya, Indira mengalami tindihan kala itu.

Tubuhnya tidak dapat digerakkan, mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara, dan ia merasa bahwa ada seseorang yang tengah berdiri didepannya memakai pakaian serba hitam dan sangat menyeramkan. Ia melihat bahwa mahluk itu tengah mendekat kearahnya, Indira ingin kabur dari sana namun tubuhnya sendiri tidak dapat digerakkan olehnya saat ini.

Suara suara menyeramkan pun terasa sangat memekik telinganya, bahkan suara itu saja mampu membuatnya merasa sangat kesakitan, suara yang sangat keras baginya namun tidak terdengar sama sekali oleh orang lain. Mulutnya berusaha untuk mengeluarkan sebuah kalimat, namun tenggorokannya terasa seperti menghalangi suaranya untuk keluar meminta pertolongan.

"Aaa...."

Indira tidak mau menyerah begitu saja, ia sendiri merasakan bahwa ada seseorang yang tengah memegangi tangannya menggunakan sebuah energi yang sangat kuat. Indira lalu berusaha menggenggam erat energi yang mengikatnya itu, ia sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang terasa seperti tersengat sesuatu.

"Allahuakbar!" Teriak Indira ketika berhasil untuk menggerakkan tangannya.

Indira langsung terbangun dari tidurnya, dan ternyata hal itu hanyalah sebuah mimpi namun terasa seperti sangat nyata. Ia lalu memegangi tangannya sendiri yang sebelumnya tersengat seperti tersengat aliran listrik yang sangat kuat, tangan itu pun mengeluarkan keringat dingin yang langsung membasahi seluruh permukaan tangannya.

Indira pernah tersengat aliran listrik ketika sedang menyetrika pakaiannya, dan hal itu berlangsung kurang lebih 1 menit untuk bisa terlepas dari sengatan itu, oleh karena itu dirinya tau bagaimana rasanya tersengat oleh aliran listrik. Indira pun menangis sesenggukan, gadis itu benar benar merasa ketakutan untuk saat ini.

"Untung selamat," Ucapnya.

Indira pernah mendengar sebuah berita ketika dirinya masih anak anak, bahwa orang yang mengalami tindihan tidak akan pernah selamat dan nyawa mereka akan menjadi taruhannya apabila tidak dapat terlepas. Hanya sedikit orang saja yang bisa melepaskannya sendiri, namun kebanyakan dari mereka harus dibangunkan untuk dibantu keluar dari tindihan.

Sudah sering kali dirinya mengalami hal tersebut, apalagi dirumah lamanya mungkin tiap hari dirinya mengalami hal itu. Panca pernah berkata bawa ada sosok mahluk halus yang tengah mengikutinya selama ini, sosok itu adalah sosok genderuwo yang sangat menyeramkan dan menakutkan tengah mengikutinya.

Kabar tersebut telah diketahui oleh banyak orang yang mendengar ucapan dari Panca, dan banyak yang mempercayai apa yang dikatakan oleh Panca itu. Namun soal kebenarannya, hanya beberapa orang yang mengetahuinya apakah itu benar atau hanya ucapan dari Panca saja untuk menakut nakuti dirinya atau orang lain yang ada didekatnya.

Mereka mengatakan seolah olah sosok itu sangat menyukai Indira, namun Indira sendiri tidak pernah merasa bahwa ia tengah diikuti oleh siapapun, dan bahkan ia sendiri saja tidak pernah kesurupan atau yang lainnya. Kalau melamun dirinya memang sering, karena memikirkan bagaimana caranya untuk bisa tetap bertahan hidup dalam situasi dan kondisi seperti ini.

Semenjak banyak orang yang mempercayai bahwa Indira tengah diikuti oleh sosok mahluk halus, hal itu membuat sebagian dari mereka merasa takut apabila adanya Indira diantara mereka. Padahal Indira sendiri juga tidak melakukan hal apapun yang membuat orang lain ketakutan, atau bahkan wajahnya sendiri juga tidak menyeramkan seperti yang apa mereka dengar.

Namun entah kenapa beberapa kali dirinya sering mengalami tindihan, seakan akan hal itu tengah memperingatkan dirinya bahwa harus berhati hati terhadap siapapun. Terkadang Indira seperti takut akan tidur, meskipun suasananya tenang namun kadang kala dirinya tidak bisa tidur karena takut jika mengalami tindihan lagi.

******

Indira tidak bisa tidur lagi setelah kejadian malam itu, pagi harinya dirinya langsung bersiap siap untuk hendak berangkat kerja. Pagi hari itu ia nampak begitu sangat malas ketika waktunya sudah mendekati waktu masuk kerja, ditambah lagi semalaman dirinya tidak bisa tidur karena ketakutan didalam rumah sendirian.

*Nia, berangkatnya agak telat ya, soalnya lagi mager* Indira lalu mengirim pesan kepada Nia.

Setiap berangkat kerja keduanya selalu bersama sama, sehingga Nia biasanya menunggu Indira didepan rumahnya sebelum berangkat ketempat kerja. Karena jalanan rumah Nia lebih dekat dengan pabrik itu dan searah dengan rumah Indira, jadi Indira mampir terlebih dahulu kerumah Nia sebelum berangkat menuju ke pabrik.

Indira melihat kearah ponselnya dan melihat waktu masih menunjukkan pukul 5.15 artinya masih lama untuk masuk pabrik, apalagi pintu rumah itu belum dibuka oleh Ana sehingga Indira tidak bisa keluar rumah kecuali lewat pintu belakang. Sambil menunggu pintu itu dibuka, Indira duduk santai didalam rumah sebelum tenaganya dikuras habis untuk bekerja.

Indira tidak sengaja melihat kearah sebuah profil seseorang, dan disana terlihat bahwa Wisma tengah memakai foto seseorang sebagai profilnya. Entah mengapa hati Indira tiba tiba merasa sakit, mereka lost contact hanya beberapa hari saja namun Wisma sudah memakai foto profil wanita lain.

Selama berhubungan dengan Indira, Wisma sama sekali tidak pernah menggunakan foto Indira sebagai foto profilnya, dan bahkan profilnya selalu kosongan. Setiap kali Indira bertanya kepadanya, Wisma selalu menjawab tidak enak apabila diumbar sebelum nikahan, namun foto wanita itu justru ia pakai sebagai profilnya.

Wisma dulu selalu meyakinkan dirinya bahwa dia sangat berbeda dari lelaki lainnya, ia selalu menepati ucapannya bahwa akan menjadikan Indira sebagai wanitanya satu satunya miliknya. Namun ucapan itu belum juga terlaksana tapi dirinya sudah bersama dengan wanita lain, dan bahkan baru saja lost contact dengannya beberapa saat saja.

"Murah sekali cintamu itu," Ucap Indira dan terus mengutuk Wisma didalam hatinya, namun air matanya juga ikut terjatuh.

Tiada ucapan lelaki yang bisa dipercaya rasanya, semua lelaki sama saja dan hanya bisa menyakitinya saja, bukan hanya Wisma namun cinta pertamanya juga membawa luka mendalam baginya. Sosok seorang Ayah yang selalu dikagumi oleh Anaknya, sosok itulah yang menjadi penyebab luka pertama bagi Indira.

*Nia, baru saja lost contact dia udah pake profil cewek lain* Indira lalu mengirim pesan lagi kepada Nia.

*Siapa? Wisma?* Balasan dari pesan itu.

*Iya siapa lagi cobak, emang ya lelaki tidak bisa dipercaya. Udah diberi hati malah mintak jantung*

*Udah nggak papa, nanti cari lagi yang lebih sempurna dari dia*

Ceklek...

Terdengar suara seseorang yang tengah membuka pintu rumah tersebut, hal itu langsung membuat Indira dengan cepat mengusap air matanya. Karena ia tidak mau bahwa orang lain tau bahwa dirinya habis menangis hanya karena seorang lelaki saja, dan itulah sebabnya Indira langsung mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan bekas air mata yang menetes.

Indira langsung bergegas untuk melihat seseorang yang tengah membuka pintu tersebut, ia pun melihat bayangan dari Ana yang tengah melangkah pergi. Setelah membuka pintu tersebut, Ana langsung kembali pulang kerumahnya karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan tanpa menunggu Indira keluar rumah terlebih dahulu.

Setelahnya Indira langsung bergegas untuk berangkat kerja setelah pintu rumah itu dibuka, dan dirinya langsung mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Ia langsung melajukan motornya melesat menuju tempat kerjanya, dan tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya sampai juga di pabrik bersama dengan Nia.

"Coba mana aku mau lihat," Ucap Nia setelah keduanya sampai diparkiran pabrik.

"Eh iya bentar," Indira langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

"Penasaran jadinya,"

"Nih," Indira lalu menyerahkan ponselnya kepada Nia.

Nia langsung menerima uluran ponsel tersebut dan melihat kearah layar ponsel itu, Nia melihatnya dengan seksama sosok wanita yang dipakai sebagai profil oleh Wisma. Wanita itu terlihat sangat centil, mungkin hal itulah yang disukai oleh lelaki pada umumnya, dan mungkin itu sebabnya Wisma mudah mendapatkan yang baru.

"Lelaki kalo udah diberi yang tulus pasti menyepelekan, mangkanya jangan tulus tulus sama lelaki Dira, lelaki kayak gitu nggak pantes dapat yang tulus. Udah biarkan jangan dikejar," Ucap Nia sambil mengomel.

"Bukan maksud aku mau ngejar dia, aku aja merasa jijik dengan tingkah lelaki itu. Kok bisa gitu langsung dapat yang baru? Padahal baru putus dariku, dan aku juga belum menyetujui itu."

"Lah iya, udah item, jelek, dekil lagi. Tapi sok sok an selingkuh selingkuh, kalo spek ren jialun gitu baru. Ren jialun sendiri aja setia sama pasangannya nggak kayak baj*ngan itu."

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!