NovelToon NovelToon
TENTANG KAMU DAN DIA

TENTANG KAMU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cintapertama
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: MAMI ADRIELLA20

Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu / aku yang Jahat.

Perjalanan terasa singkat, tak banyak waktu ku habiskan dijalan. Sembari berbenah diri ku mulai menelepon Abang pertama ku, ada obrolan penting apa yang inginkan disampaikan. Apakah aku melakukan kesalahan lagi? Sepertinya tidak.

"Halo bang kenapa tadi?"

Ku ambil bantal untuk segera merebahkan badan, "Lama benar kau pulang? Lagi repot." Didikan Papa memang tidak pernah salah, perhatian itu harus di kedepan kan. "Enggak ngobrol sama atasan tadi biasa lah soal pekerjaan." Dia diam, sepertinya mengambil waktu tenang dengan duduk. Suara deretan kursi terdengar oleh ku.

"Tumben Abang nelepon? Belum dijawab tadi mau ngomong apa kian?" Mata ku kian mengantuk. "Gini, tadi ku dengar Papa Mama mau belikan kamu mobil.Kalau bisa kamu tolak ya," kata Abang membuat ku aneh.

"Maksudnya?"

"Iya itu tolak aja kalau Mama Papa ada bantuan dana ke kamu, kamu hargai lah mereka sudah tua. Toh anak nya enggak cuman kamu doank."

"Iya tanpa Abang bilang juga aku tau kok." Kata ku sedikit tersulut emosi, gimana enggak emosi toh selama ini aku juga ikut andil dalam membantu ekonomi keluarga. Mereka juga tau itu kenapa baru sekarang mempersalahkan soal beginian. Jadi selama ini mereka cemburu? "Kamu cemburu bang, Mama Papa lebih perhatian sama aku?"

"Bukan masalah cemburu Mi, cuman kamu berlebihan aja buat begitu ke orang tua ku..."

Kata-kata terhenti di bibir, ada apa ini. Ini bukan seperti kata-kata yang dapat ku terima langsung. "Apaan sih bang, Mama Papa buat begitu juga kan karena aku punya tabungan di mereka."

Abang terdiam sejenak, ia sepertinya menyusun kata-kata untuk di keluarkan.

"Memang seharusnya enggak sih Mi, kau buat begitu?"

intonasi suara Abang mulai merendahkan ku, ia tidak pernah berlaku seperti ini kepada siapapun, rasa hormatnya lebih tinggi daripada rasa kebencian."Lagi enggak bagus kau bang! Pasti habis minum kau kan." Ia tertawa lepas, semakin enggak terkontrol bicara nya. Dimana sebenarnya dia, karena tidak ada obrolan video jadi tidak tau dimana Abang berada sekarang.

"Miwa-miwa. Dengar ya ! Sebenarnya aku muak kali lihat kau, langsung ku sambung kan obrolan kepada Papa Mama. Sayangnya Mama enggak ikut dalam panggilan itu, dan ya memang Abang sedang mabuk sekarang istri nya berusaha meraih handphone, terjadi perdebatan antara mereka disana.

"Kau itu sebenarnya bukan Boru Saragih, malu lah kau... Kau itu anak haram! yang diambil Papa, eh bukan ya... Kau itu anaknya Bou Melda, adiknya Papa yang kau hina suaminya banyak. Itu Mama mu, harusnya ke sana kau manja-manja bukan ke Mama Papa."

jantung ku seolah berhenti sejenak, nafas ku tidak karuan terlebih dengan diamnya Papa. "And berhenti kan mulut mu itu !" Bentak Papa membuyarkan air mata ku, aku diam seribu bahasa. Apalagi fakta setelah nya, aku amat percaya dengan kata-kata Abang tadi.

"Makanya benci kali aku nengok anak ini, terlebih waktu Papa lebih bela- belain biaya sekolah dia ketimbang biaya pengobatan adek kami! Sakit tau Pa nahan itu semua, disaat kami tau ..." Panggilan di matikan oleh Abang, air mataku tak kunjung mendapat klarifikasi dari pihak seberang, dengan penuh harap bahwa ini semua salah.

Diam nya Papa, kata-kata Abang terus menghantui pikiran ku. Tetap satu malam ini tidak ada klarifikasi oleh mereka tentang ku. Apa aku telepon bou aja ya.

Dering telepon terus berulang-ulang sampai di pukul 4 dia baru menelepon ku kembali. "Ada apa Nang," suara manja itu. Pantesan berapa kali pun aku ngatain dia suka gonta-ganti cowok tidak pernah marah kepada ku.

Rasanya nafas ku tak mampu untuk di tarik, air mata bahkan sudah bercampur ingus sangking lamanya dibiarkan seorang diri begini. "Sudah selesai kasus mu?" Sepertinya ia sedang masak sekarang. "Jawab jujur bou, siapa aku sebenarnya." Ia juga diam.

"Siapa yang kasih tau!" Bentaknya padaku, ia seperti memukul sesuatu tapi entah apa adanya. "Aku... Aku, aku anak yang enggak diharapkan." Air mataku banjir, terlebih ia mengalihkan panggilan video. "Pantesan banyak yang bilang aku mirip bou, cuman aku enggak mau dibilang anak bou... bohong semua ini kan bou," Ia nampak kikuk dengan suasana ini, sementara disini tiada yang bertanggung jawab atas air mataku.

"Sakit kali Lo bou dibilang aku anak haram, enggak ada di dalam mimpiku begini bou. Nangiss pun aku bukan sedih lagi, kecewa aku sama kalian..." Panggilan di matikan, aku enggak tau kenapa mereka menganggap enteng masalah ini, daripada mereka menghubungi ku lebih baik ku putuskan hubungan dengan mereka. Sialan!

Baru kebahagiaan menghampiri ku, sudah ada aja masalah yang datang. Dimana kah kehadiran mu Tuhan, sembuhkan sakit hati ku ini. Amat sesak sekali Tuhan, sesak sekali rasanya.

Toh sampai pagi hari mereka tidak kunjung tiba memberi klarifikasi kepada ku, semuanya memang benar adanya. Terkadang air mata masih menetes bulir cuman aku harus profesional, mengingat kinerja ku sudah berani di rekomendasikan pasti ada kemajuan dibaliknya. Hening di antara keramaian, sesak diantara ke lepasan. Satu hari penuh fokus pada kinerja yang kian lambat namun tidak mempengaruhi satu apa pun, kian detik jam meninggal kan waktu, kian hilang fokus ku. Namun berusaha untuk tidak pulang tenggo.

Dalam hening ku pejamkan mata, berjalan seolah tidak tuntutan. Aku terjatuh begitu lah kondisi ku sekarang, hanya aku yang tau rasa sakitnya. Mereka seperti menggantung ku dengan diam nya, aku disuruh berpikir seorang diri atas apa yang tidak ku ketahui.

"Mbak kenapa lutut nya," sapa tetangga tua renta yang selalu duduk di teras rumah nya.

Aku hanya tersenyum, malas berbasa-basi dengan orang saat ini. Lebih parahnya nya mereka Abang-abang ku menghapus tentang ku di media sosial mereka, seakan mengajak ku perang tak satu pun mereka dapat mengakses ku termasuk Mama Papa.

Dalam kemarahan ku, aku membanting handphone kesayangan itu tepat ditengah jalan, bahkan hanya menyisakan kartu telepon, membuangnya anggapan buang sial selalu ku lakukan bila ada masalah datang.

Sampai detik ini tidak ada keterangan apa-apa dari mereka, sanggup banget.

dari sikap seperti ini apa yang harus ku pertimbangkan untuk memaafkan mereka,

apa yang harus di lakukan untuk sebuah kedamaian hati. Dalam pantulan kaca jendela ku ratapi diriku yang kian kacau akibat duka lara "Bodoh banget sih Mi," kata ku dengan frustasi.

Rasanya ingin mengakhiri hidup, tapi diantara lemah itu hati kecil ku berkata "Ini Lo jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hati mu, sudah dapatkan puaskan! Enggak kamu yang salah, enggak ada ucapan dan prilaku mu yang menyinggung, cara mu datang aja yang sulit untuk diterima sebagian orang."

Pedih sekali Tuhan, aku enggak sanggup. Kalau bisa ini enggak ku minta Tuhan, biarlah kiranya ini berlarut-larut. Ternyata aku anak yang tidak di inginkan, ternyata aku merusak kebahagiaan para abang-abang dan kakak ku.—Gimana nanti kalau karma orang tua ku datang kepada ku, gimana kalau kebencian itu menjadi darah daging ku, ya Tuhan bisakah kau jauhkan karma itu.

Maafkan aku Tuhan, maafkan aku terlalu jahat kepada bou selama ini. Aku tau itu murni ke kecewaan ku pada dia selaku perempuan, dimana ampun itu sekarang Tuhan.

1
Zanahhan226
aku mampir nih, Kak..
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
MAMI ADRIELLA20: woke kak, terima kasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!