NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 15

“Dari dulu Bang Rizal itu memang banyak yang ngejar-ngejar tau, Yuk, tapi yang bener-bener deket, ya cuma Almh. Ayuk Sukma sama Yuk Hasna. Mereka ‘kan sebenernya sahabatan dari dulu.” Cerita Yessy di tengah-tengah kesibukan mereka menjemur pakaian.

Nadya menanggapinya dengan manggut-manggut.

“Ya gimana nggak banyak yang ngejar, Yuk, lawong Bang Rizal itu sultan. Hampir setengah dari perkebunan sawit yang kemarin Yuk Nadya pergi itu punya Bang Rizal, sisanya punya PT. Amara tempat Bang Rizal kerja,” lanjut Yessy.

Nadya mengernyitkan dahinya saat mendengar nama PT yang di sebut Yessy, bibirnya bergumam pelan. “Bang Rizal kerja di PT. Amara?”

“Iya, PT paling besar di Kota Kabupaten, masak Ayuk Nadya yang orang kabupaten nggak tau PT itu?” Lanjut Yessy. “PT nya besar polll, Yuk, apalagi rumahnya yang punya, kaya istana. Aku pernah sekali pas ikut Bang Rizal nganter Ibu ke dokter diajak lewat depan rumahnya yang punya PT itu.”

Nadya tersenyum samar, namun ada gurat getir di sorot matanya. “Rumah kaya istana juga dalemnya belum tentu nyaman, Yes,” celetuknya, lalu berjalan menghampiri Adam yang ia tidurkan di teras rumah.

“Ayo mandi, Ndut, kamu mau posyandu hari ini,” ucapnya sambil mencium perut gembul Adam. “Yes, tolong beresin ini sama ember bekas cucianku itu, ya?” lanjutnya.

“Ok, Yuk,” sahut Yessy.

“Adam belum mandi, Nad?” sambut Rizal saat melihat Nadya baru masuk rumah.

“Ini baru mau mandi, tumben Abang udah rapi bener jam segini,” sahut Nadya, netra hitamnya menyapu tampilan Rizal yang sudah rapi dengan kemeja dan rompi juga walkie-talkie terselip di ikat pinggangnya.

“Biasanya juga jam segini apa nggak udah rapi, Nad,” ujar Rizal sembari berjalan mengikuti langkah Nadya menuju kamar sang putra. “Buruan siap-siap, Adam hari ini posyandu ‘kan? Abang anterin sebelum berangkat ke areal.”

Nadya menoleh sekilas, sambil meletakkan Adam di kasur. “Saya jalan aja sama Adam, deket doang. Abang berangkat aja dulu ntar kesiangan.”

“Bareng Abang, pulangnya baru jalan,” tegas Rizal, “Abang tunggu sambil sarapan, Nad.”

“Baik, Bos,” sahut Nadya, satu tangannya terangkat ke pelipis—mengambil posisi hormat.

Sekumpulan Ibu-ibu kompak menoleh saat mobil yang di kendarai Rizal berhenti di depan warung Yuli, tempat pos posyandu berada. Beberapa langsung berbisik-bisik, sebagian menatap penasaran.

Di dalam mobil, Nadya menoleh sekilas ke teras warung itu, sudut bibir gadis manis yang mengenakan kemeja hitam dan celana jeans casual itu terangkat tipis.

“Pantes Papa kamu ngotot mau nganter, ternyata ada pujaan hatinya, to?” sindirnya saat melihat kehadiran Hasna di antara ibu-ibu yang sedang mengobrol.

“Rumah Hasna samping itu, Nad, mungkin dia mau bantu-bantu,” sahut Rizal.

Nadya menoleh cepat, bibir manisnya masih mengulas senyum. “Nggak tanya pula saya, Bang.”

Rizal menghela napas pelan, tatapannya fokus pada jalanan di depannya. “Udah buruan turun, gih. Abang udah di tungguin Yasir di areal.”

“Kayak mana pula saya turunnya kalo sambil gendong Adam?” Protes Nadya.

Rizal tak menjawab, ia buru-buru membuka pintu lalu berjalan ke sisi sebelah kiri. Laki-laki itu dengan sigap membukakan pintu, kemudian mengambil Adam dari pangkuan Nadya.

Melihat kehadiran Rizal dan Adam, Hasna dengan cepat menghampiri. Gadis cantik dengan hijab warna pastel itu tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.

“Anak gantengnya Tante udah dateng, sini sama Tante,” sambutnya seraya mengambil Adam dari gendongan Rizal.

“Nitip Adam sama Nadya, ya, Has. Tolong nanti pulangnya temenin,” ujar Rizal, pelan.

“Iya, Bang. Tenang aja, nanti aku anterin pulangnya anak ganteng ini,” sahut Hasna.

Mendengar ucapan Rizal, bibir mungil Nadya berdecih kecil. “Cih, dipikir saya ini bocah apa, pake acara di titipin.”

Rizal tertawa pelan, lalu mengusap lembut puncak kepala Nadya tanpa memperdulikan banyak orang yang memperhatikan mereka. “Abang tinggal, ya?”

Nadya hanya mengangguk kecil, namun rahangnya menegang sesaat—seolah menahan umpatan yang ia tahan.

“Nah, itu ada Wak Farida, ntar pulang bareng Wak Farida aja,” imbuh Rizal saat melihat tetangga depan rumahnya yang merupakan kader posyandu baru saja tiba.

“Hist, berisik betul cuma jalan sejangkah doang, teras rumah juga keliatan dari sini,” protes Nadya setengah berbisik. “Udah sana cepet berangkat, atau jangan-jangan …,” ucapan Nadya terpotong oleh suara Farida yang melengking.

“Anahhh … cak pengantin baru aja Bang Rizal sama Nadya ini bisik-bisik ngomongnya.”

“Kalo dilihat-lihat memang serasi, lo, Abang sama Yuk Nadya,” celetuk Yuli si pemilik rumah.

Rizal tertawa pelan, tatapannya melembut ke netra Nadya, lalu berpindah ke arah Yuli dan beberapa ibu-ibu yang duduk di teras warung.

“Do’a kan saja, Yul,” sahutnya kemudian. “Ya sudah saya pamit ibu-ibu, titip anak saya sama pengasuhnya, tolong jangan di omongin di belakang, orangnya ngambekan soalnya,” seloroh Rizal yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nadya.

Laki-laki yang memang terkenal ramah itu pun pergi, meninggalkan asap hitam dari mobil Double Cabin merah maroon miliknya dan juga wajah pucat Hasna yang berdiri mematung sambil menggendong Adam.

Bibir gadis berhijab itu bergumam, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya, alisnya merapat samar, sorot matanya menyimpan kecemburuan yang tertahan.

Hasna sedikit tersentak saat tangan Farida menepuk pundaknya.

“Bawa sini Adam, biar di timbang sama diukur tinggi badannya.”

Setelah melakukan pemeriksaan dan mendengarkan pengarahan dari bidan desa yang bertugas, posyandu pagi itu pun selesai. Nadya berjalan beriringan bersama Hasna yang tetap memaksa menggendong Adam dari awal datang hingga mereka pulang. Tidak ada obrolan selama mereka berjalan bersama, hanya sesekali terdengar helaan napas kasar dan wajah Hasna yang masih sedikit pucat.

Senja mengilatkan warna jingga yang hangat, semilir angin membawa aroma bunga kopi dari perkebunan warga. Mobil-mobil truk beriringan membelah jalanan di susul beberapa traktor yang mulai kembali ke garasinya.

Di bawah jendela yang dibiarkan setengah terbuka, Nadya nampak sibuk dengan ponselnya, satu tangannya menggeser kursor di laptopnya seiring bibirnya yang terus mengoceh dengan orang yang sedang di hubunginya—Rizka.

“Gue udah atur semuanya, Riz, loe tinggal cek ricek aja,” ujar Nadya setelah memberikan wejangan panjang pada sang sahabat.

Di seberang sambungan, Rizka mendengus kesal, satu tangannya meletakkan cangkir kopinya ke piring kecil yang ada di atas meja. “Perkaranya bukan tinggal cak cek, Nad. Tapi, gue keteter disini. Lagian loe ngapa pake acara minggat sih!”

“Gue cuma nenangin pikiran bukan minggat, Setan.” sahut Nadya, ada kekehan kecil ujung ucapannya.

“Cih, ya, itu sama aja, bengak. Buruan pulanglah, capek gua di sini sendiri. Belum lagi ngadepin preman utusan bapak loe yang sok serem itu, rugi bandar gua kemarin gara-gara esmosi. Ternoda pula tangan halus nan lentik ini,” oceh Rizka tanpa titik koma.

“Napa?” balas Nadya.

“Cabul, penasaran gue remes aja itu tonjolan, pikir gue besar taunya lunik cak bonggol sawit baru numbuh, setan. Mana Andreas bengak betul, tau gue di datengin itu preman bukannya cepet ke atas malah asyik nyanyi. Setan.” Omel Rizka sambil kembali mengangkat cangkir kopinya.

Alis gadis dengan rambut ikal berwarna burgundy itu mengerut saat telinganya mendengar suara tangis bayi di balik panggilan Nadya.

“Nad, loe kagak ngelakuin hal gila ‘kan? Kok ada suara bayi?”

Tidak ada jawaban dari Nadya, hanya tangis kecil Adam dan suara bibir Nadya yang mendesis—menenangkan anak susunya yang terdengar di panggilan telepon yang masih berlangsung itu.

Suara bayi yang semakin jelas di gendang telinga membuat Rizka semakin menajamkan telinga sambil memanggil-manggil sang sahabat.

“Hallo Nad, Nadya! Lawang ini bocah. Hallo … Amara Nadya!”

“Apa sih, ah! gue belum budek dodol,” sahut Nadya.

“Kok ada suara bayi, bayi siapa itu?” serbu Rizka.

“Bayinya CEO kaya raya, udah loe urus caffee dulu selama gue nggak ada, laporan kirim ke email aja, ntar gue kerjain dari sini, gue juga udah transfer uang jajan buat loe sama Andreaz. Liburan sana biar kagak pe’ak,” seloroh Nadya.

“Loe bener-bener gila, Nad. Share dimana loe sekarang!” sungut Rizka.

“Mau ngapain? Udah loe urus caffee sama Andreaz, gue mau netekin anak CEO dulu. Bye Riz.” Nadya pun memutuskan panggilan.

Sementara itu dari balik pintu Rizal mengerutkan alisnya. Bibirnya bergumam pelan. “Amara Nadya?”

Bersambung

Penting!!!!

Tolong jangan boom like, ya, pembaca ku yang baik. hargailah penulis UMKM ini, boom like bukan hanya menghancurkan retensi, tapi juga bisa menghancurkan masa depan penulis. Kalau jarak kalian ngelike 5 menit ke atas bisa di terima, tapi kalau hitungan detik itu, JAHAT.

Ngintip aja boleh, tapi jangan ninggalin jejak. ibarat di tinggal pas sayang-sayang'e ...'kan sakittttt ...

Buat pembaca setia ku, love you all ...🫶🫶🫶

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!