Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. PUTRI BERUANG
Liora terbangun dengan perasaan yang ... asing.
Tidak ada suara pintu dibanting.
Tidak ada teriakan pelayan.
Tidak ada bisikan yang menyebut namanya dengan nada merendahkan.
Yang ada hanyalah cahaya pagi yang jatuh lembut melalui jendela tinggi kamar pengantin di Kastil Ravens, dan keheningan yang tidak menekan dada.
Liora membuka mata perlahan.
Langit-langit kamar itu tinggi, berornamen sederhana namun berkelas. Tidak ada kemewahan berlebihan, tidak ada ukiran yang berusaha pamer kekayaan. Segalanya tampak fungsional, seperti tuannya.
Liora duduk, menyadari sesuatu dengan pelan: tidur semalamnya nyenyak. Tanpa mimpi buruk. Tanpa tangisan tertahan.
Itu ... aneh.
Liora bangkit dari ranjang, berjalan ke jendela, dan membuka tirainya. Dari sana, tampak halaman kastil Ravens yang luas, tertata rapi, dan sunyi. Tidak seperti rumah Montclair yang selalu terasa sesak oleh tatapan dan suara.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
"Masuk," ucap Liora refleks, lalu berhenti sejenak.
Nada suaranya ... tenang.
Seorang pelayan wanita masuk dengan sikap hormat. Usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya ramah, gerakannya tenang.
"Selamat pagi, Yang Mulia Duchess," katanya sambil menunduk. "Apakah Anda sudah bangun?"
Liora tertegun sepersekian detik.
Tidak ada nada sinis.
Tidak ada ejekan terselubung.
"Hmm ... ya," jawab Liora.
"Apakah Anda ingin sarapan di kamar, atau di ruang makan kecil?" tanya pelayan itu lembut. "Kami juga menyiapkan teh herbal jika Anda menginginkannya."
Liora mengerjap.
"Kau ... tidak keberatan?" tanya Liora ragu.
Pelayan itu tampak bingung. "Keberatan ... apa, Yang Mulia?"
Liora menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Sarapan di kamar saja."
"Baik. Apakah ada makanan yang ingin Anda hindari?" tanya pelayan itu lagi dengan sopan. Nada itu serius. Menghormati.
Liora hampir tertawa kecil karena terkejut.
"Tidak ada. Terima kasih," jawab Liora.
Pelayan itu tersenyum kecil, lalu keluar dengan langkah senyap.
Liora berdiri sendirian di tengah kamar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa ... tidak sedang diadili.
Hari itu berjalan pelan.
Liora berjalan menyusuri lorong kastil Ravens, ditemani seorang pelayan pria muda yang bertugas menunjukkan area yang boleh ia kunjungi.
Tidak ada pandangan mencemooh. Tidak ada bisikan. Para pelayan menunduk hormat, menyapa singkat, lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
Seolah ... Liora memang pantas berada di sana.
Dan justru itulah yang membuat Liora gelisah.
Ini tidak sesuai bayangannya.
Liora sudah menyiapkan diri untuk hinaan, untuk tatapan jijik, untuk perlakuan kasar, seperti yang selalu ia dapatkan di Montclair. Terlebih setelah rumor tentang Duke yang meninggalkannya di hari pernikahan menyebar luas.
Namun di kastil ini ... tidak ada apa-apa.
"Yang Mulia tampak kebingungan," kata pelayan yang mungkin beberapa tahun lebih dari Liora bernama, Gideon.
"Sedikit," aku Liora jujur.
"Jika ada yang mengganggu, silakan sampaikan. Perintah Duke jelas, seluruh staf harus memperlakukan Anda dengan hormat," kata Gideon dengan senyum ramah.
Liora berhenti melangkah. "Perintah Duke?" ulangnya pelan.
"Ya, Yang Mulia," jawab Gideon.
Pelayan itu tidak berkata apa pun lagi, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
Namun di dada Liora, ada sesuatu yang bergetar kecil.
Alaric Ravens, pria yang tidak menatapnya di altar, yang pergi meninggalkannya di hari pernikahan, telah memberi perintah seperti itu?
Aneh.
Sangat aneh.
Menjelang siang, Liora meminta izin berjalan sendiri di taman samping kastil. Taman itu jarang dikunjungi, lebih kecil dibanding taman utama, dan terasa lebih sunyi. Pepohonan tinggi menaungi jalan setapak, bunga-bunga liar tumbuh tanpa banyak sentuhan tangan manusia.
Tempat yang tenang.
Liora menyukainya.
Ia berjalan perlahan, menikmati udara segar, sampai sebuah suara kecil menghentikan langkahnya.
Isak tangis.
Pelan, tertahan, seperti seseorang yang tidak ingin ketahuan menangis.
Liora menoleh.
Di bawah pohon besar, di bangku batu yang dingin, duduk seorang anak kecil. Rambutnya cokelat tua, sedikit berantakan, bahunya kecil, tubuhnya mungil. Tangannya mengepal di pangkuan, wajahnya tertunduk.
Liora ragu sejenak, lalu mendekat.
"Hei," sapa Liora lembut. "Kenapa kau menangis sendirian di sini?"
Anak itu terkejut. Ia mengangkat wajahnya cepat, mata besarnya membulat saat melihat Liora. Tatapannya berhenti, bukan sekadar melihat, melainkan memerhatikan.
Terlalu lama.
Liora hampir ingin mundur, takut bocah itu akan berteriak atau memanggil pelayan.
Namun kemudian, bibir kecil itu bergerak.
"Putli Beluang," kata sang bocah dengan nada cadel.
Liora terdiam. Ia menatap anak itu, lalu ... tersenyum.
Bukan senyum yang dipaksakan. Melainkan senyum yang lahir begitu saja.
Liora berlutut agar sejajar dengan bocah itu. "Benar," katanya ringan. "Aku Putri Beruang. Rawr"
Anak itu berkedip. Lalu tertawa kecil. "Putli Beluang lucu sekali."
"Jadi," lanjut Liora, suaranya hangat, "kenapa anak tampan sepertimu menangis sendirian di sini?"
Anak itu menunduk lagi. Bahunya turun.
"Ibu sama Ayah tidak ada," kata sang bocah cadel. "Meleka pelgi, kata pelayan."
Liora menelan ludah. "Pergi ke mana?"
"Kelja," jawabnya cepat. "Kaical panggil meleka."
Ah. Liora mengerti.
Anak ini ... jelas bukan anak Duke. Alaric Ravens belum pernah menikah, dan terlalu banyak rumor yang menyebut ia menjauh dari wanita. Namun jelas, bocah ini masih bagian dari keluarga Ravens.
Mungkin keponakan.
Mungkin kerabat jauh.
Yang jelas, ia sendirian.
Liora tersenyum lagi. "Kalau begitu ... bagaimana kalau kau main denganku saja?"
Anak itu mengangkat kepala cepat. Matanya berbinar.
"Putli Beluang mau main sama Lowan?" tanya bocah itu.
"Ya," jawab Liora tanpa ragu. "Aku juga sendirian di sini."
Senyum bocah itu merekah lebar.
"Yeay!" serunya senang.
Liora tertawa kecil. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar suara tawa polos seperti itu. Hatinya yang selama ini berat terasa ringan hanya dengan melihat ekspresi dari Rowan.
"Jadi namamu Rowan?" tanyanya.
Anak itu mengangguk kuat.
"Namaku Liora," Liora memerkenalkan diri.
Rowan memiringkan kepala. "Lilola?"
Liora tertawa lagi, lebih lepas. "Hampir benar."
Mereka duduk di rumput, mengumpulkan daun kering, menghitung awan, dan berlarian kecil di antara pohon. Rowan bercerita dengan bahasa cadelnya tentang hal-hal sederhana, tentang burung, tentang paman yang besar, tentang kastil yang kadang terasa sepi.
"Lilola," kata Rowan tiba-tiba. "Kenapa Lilola ada di sini? Aku belum pelnah lihat Lilola."
"Karena aku baru pindah ke kastil ini semalam," jawab Liora.
Rowan mengangguk, tangannya terlipat di dada, wajahnya serius, seolah benar-benar mengerti, padahal jelas tidak.
Lucu sekali, batin Liora.
"Lilola sendilian? Tidak ada teman?" tanya Rowan.
Liora mengangguk.
Rowan tersenyum. "Kalau gitu jadi teman Lowan saja, ya!"
Liora menatapnya lembut. "Memang Rowan mau berteman denganku yang gendut ini?"
Rowan mengerutkan kening. "Gendut? Apa itu gendut?"
"Tubuh besar seperti aku disebur gendut," jelas Liora.
Rowan tersenyum lebar. "Oh! Maksud Lilola sepelti beluang?"
"Kurang lebih," jawab Liora sambil menahan tawa.
"Tenang," kata Rowan serius. "Lowan belani sama beluang. Kata paman, beluang itu lucu. Jadi Lilola juga lucu."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Liora mendengar tubuhnya disebut tanpa hinaan.
Liora mengulurkan tangan, mengelus kepala Rowan pelan. Dadanya terasa hangat. Matanya sedikit perih karena kehangatan ini.
Mereka bermain sampai matahari condong ke barat.
Dan di tengah tawa kecil dan langkah-langkah ringan itu, Liora menyadari satu hal dengan sangat jelas:
Kastil Ravens ... mungkin bukan tempat yang kejam.
Walau Liora tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang menatap dirinya dan Rowan sejak tadi dari sudut bayangan.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo