Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Puncak Menara Aliansi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ibu Kota Aliansi memang terlihat megah dari kejauhan. Tapi bagi Haneen, kemegahan itu cuma topeng tipis yang menutupi busuknya sesuatu di dalam. Tembok putih setinggi lima puluh meter melingkari kota itu seperti penjara raksasa yang tak bisa ditembus. Menara-menara emas menjulang ke langit, memantulkan cahaya matahari pagi sampai menyilaukan mata. Namun, di balik kilau emas itu, Haneen merasakan bahaya yang mengintai di setiap sudut bayangan.
Setiap gerbang dijaga ratusan prajurit bersenjata lengkap. Alat pendeteksi aura berdiri kokoh di sana, menyinari setiap orang yang lewat dengan cahaya merah yang seolah-olah bisa menembus kulit sampai ke tulang. Rasanya seperti ada mata tak terlihat yang mengikuti setiap langkah mereka.
"Gila," gumam Haneen pelan. Dia mengintip dari balik bukit berbatu, memegang teropong sistem yang memperjelas pandangan hingga jarak satu kilometer. Debu halus menempel di bulu matanya setiap kali angin berhembus. "Mereka siap berperang. Kita tidak bisa menyusup lewat jalan biasa. Kalau nekat, kita bakal jadi sasaran tembak dalam hitungan detik."
Yan Ling duduk di sampingnya, memeriksa tajam pedangnya dengan kain kasar. Suara gesekan kain dan besi terdengar ritmis, menenangkan saraf yang tegang. "Kalau begitu, apa rencana kita? Kita tidak bisa terbang menembus pertahanan mereka. Aura kita mungkin sudah masuk daftar hitam sejak kejadian di Danau Kabut."
"Kita tidak perlu terbang," jawab Haneen sambil menyimpan teropong ke dalam saku jubahnya. Dia menunjuk ke arah jalan raya utama yang berdebu di bawah sana. "Lihat konvoi logistik itu. Mereka mengirim persediaan energi ke Menara Siaran Pusat setiap pagi. Itu satu-satunya kendaraan yang diizinkan masuk tanpa dideteksi mendalam karena dianggap barang mati."
Sebuah iring-iringan kereta kuda besi bergerak perlahan menuju gerbang utama. Roda besarnya meninggalkan jejak di tanah yang belum kering. Ada sepuluh kereta yang dilindungi oleh pasukan berkuda dengan zirah mengkilap. Suara derap kaki kuda terdengar berat dan teratur.
"Kita akan menaiki kereta terakhir," perintah Haneen singkat. Dia mengecek jam di pergelangan tangan. "Kita punya waktu dua menit sebelum konvoi itu masuk ke dalam tembok. Kalau ketinggalan, kita tunggu besok pagi dengan risiko dua kali lipat."
Mereka berlari menuruni bukit dengan cepat. Rumput basah menyentuh sepatu bot mereka, meninggalkan jejak lumpur yang akan cepat kering. Angin pagi menerpa wajah, membawa bau debu dan keringat kuda yang anyir. Haneen menghitung langkah kaki mereka dalam hati. Sinkronisasi harus sempurna. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Saat kereta terakhir melewati posisi mereka, Haneen mengeluarkan alat pengait magnetik dari sistem. Dia melemparnya ke bawah kereta besi itu dengan gerakan pergelangan tangan yang halus. ‘Klik.’ Alat itu menempel kuat pada sasis logam, menahan berat tubuh mereka.
"Ikut aku," kata Haneen. Dia menarik lengan Yan Ling. Mereka melompat ke bawah kereta, bergelantung di antara roda yang berputar dan badan kereta. Debu jalan beterbangan mengenai wajah mereka, membuat mata perih dan berair. Suara roda besi bergemuruh di atas kepala mereka, seolah-olah akan menghancurkan tengkorak kapan saja. Getarannya merambat sampai ke tulang.
"Berapa lama kita harus bergelantung di sini?" tanya Yan Ling. Suaranya hampir tenggelam oleh suara gemuruh kereta yang mengguncang tubuh mereka. Dia harus berteriak agar terdengar.
"Sampai kita masuk ke zona bongkar muat," jawab Haneen. Dia memeriksa jam tangan sistem yang bergetar pelan di pergelangan tangannya. "Satu menit lagi. Pertahankan peganganmu. Jangan sampai lepas."
Kereta itu akhirnya melambat. Gerbang besar terbuka perlahan dengan suara engsel berkarat yang nyaring. Cahaya hijau dari alat pendeteksi menyapu bagian atas kereta, tetapi tidak mencapai bagian bawah tempat mereka bersembunyi. Mereka berhasil lolos dari pemeriksaan awal. Napas Haneen sedikit lega, tapi dia tidak boleh lengah. Ini baru awal.
Saat kereta berhenti di area gudang dalam kota, Haneen memberi isyarat dengan ketukan dua kali pada besi kereta. Mereka melepaskan pengait dan jatuh ke tanah berdebu. Mereka berguling beberapa kali untuk mengurangi dampak benturan agar tidak terlalu berbunyi. Lutut Yan Ling terasa nyeri, tapi dia menahan diri untuk tidak mengeluh.
"Aman," bisik Haneen. Dia melihat sekeliling dengan waspada. Gudang itu besar dan penuh dengan kotak-kotak kayu yang disusun rapi sampai ke langit-langit. Beberapa pekerja sibuk membongkar barang sambil berteriak satu sama lain soal upah dan jadwal pergantian. Tidak ada yang memperhatikan dua sosok hitam yang baru saja muncul dari kolong kereta.
"Mereka mengangkut kristal energi ke menara," kata Haneen sambil membaca label pada kotak terdekat. "Kita bisa ikut naik lift kotak yang membawa barang-barang itu. Itu jalur tercepat ke atas."
Mereka menyelinap di antara tumpukan kotak. Pekerja terlalu sibuk berteriak untuk memperhatikan gerakan halus mereka. Haneen memimpin jalan menuju lift besar di ujung gudang yang terbuat dari besi kasar berkarat.
Tiba-tiba, seorang pengawas berjalan mendekati mereka dari arah belakang. Dia memegang daftar barang dan terlihat curiga melihat pakaian mereka yang terlalu bersih untuk seorang kuli angkut. Wajahnya mengerut. "Hei! Kalian bukan tim bongkar muat! Siapa yang suruh kalian ke sini?"
Haneen tidak berhenti. Dia justru mempercepat langkah kakinya. "Lari!"
Pengawas itu meniup peluit dengan kencang. ‘Wiiit!’ Suara tajam itu menggema di seluruh gudang seperti tanda bahaya. Prajaga penjaga langsung menoleh serentak. Senjata mereka terarah ke arah Haneen dan Yan Ling dalam sekejap. Suara kepingan logam bergesekan terdengar saat mereka menyiapkan senjata.
"Mereka sudah tahu!" teriak Yan Ling. Dia menghunus pedangnya dari balik jubah. Logam berkilau tertimpa cahaya lampu gudang yang remang.
"Jangan buang waktu!" perintah Haneen. Dia menembak ke arah kabel derek di atas kepala mereka. ‘Tss!’ Kabel putus dengan suara tegangan yang terlepas. Ratusan kotak kayu jatuh bersamaan, menciptakan tembok penghalang antara mereka dan para penjaga yang sedang berlari. Debu kayu beterbangan di udara.
"Masuk lift!" seru Haneen. Mereka melompat ke dalam lift kotak tepat saat pintu besi mulai menutup perlahan. Panah energi menabrak pintu itu, menimbulkan percikan api yang menyilaukan, tetapi tidak menembus ketebalan besi. Lift itu bergetar hebat saat mulai naik.
"Lift ini menuju lantai empat puluh," kata Haneen sambil memeriksa panel kontrol yang penuh tombol berkarat. Napasnya masih tersengal. "Kita masih butuh sepuluh lantai lagi untuk mencapai ruang siaran. Ini bagian tersulit."
"Tangga darurat?" tanya Yan Ling. Dia mencoba merapikan napasnya yang tersengal-sengal. Tangannya masih gemetar memegang pedang.
"Ya. Tapi pasti dijaga ketat," jawab Haneen. Pintu lift terbuka dengan suara decitan logam yang menyakitkan telinga. Lorong panjang terbentang di depan mereka. Lampu merah berkedip-kedip menandakan status bahaya yang sudah aktif. Alarm mulai berbunyi pelan di kejauhan.
Mereka berlari menuju pintu tangga darurat. Saat Haneen membuka pintu, tiga penjaga elit sudah menunggu di balik pintu. Mereka memakai armor putih lengkap dengan pedang energi yang mendengung siap menebas. Mata mereka tajam di balik visor helm.
"Penyusup!" teriak salah satu penjaga. Dia mengayun pedangnya ke arah Haneen dengan kecepatan tinggi. Angin tajam terasa di pipi Haneen.
Haneen menunduk cepat. Pedang itu meleset hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya, memutus beberapa helai rambut yang jatuh melayang. Yan Ling bergerak dari samping dengan langkah ringan. Dia menebas kaki penjaga itu. ‘Sret!’ Armor putih tergores dalam. Penjaga itu jatuh berlutut sambil menahan sakit, erangan tertahan keluar dari mulutnya.
Haneen menembak dua penjaga lainnya tanpa ragu. ‘Tss! Tss!’ Dua tembakan tepat di celah armor leher mereka. Mereka roboh tanpa suara, tubuh mereka mengejang sebentar lalu diam. Bau darah mulai tercium di udara sempit itu.
"Naik!" perintah Haneen. Mereka menaiki tangga beton itu tiga anak tangga sekaligus. Napas mereka mulai berat. Paru-paru terasa terbakar. Lantai empat puluh lima. Empat puluh enam. Kaki terasa seperti diisi timah.
Saat mereka mencapai lantai empat puluh sembilan, ledakan besar terjadi di bawah mereka. Gedung itu bergoyang hebat, membuat debu jatuh dari langit-langit seperti hujan abu. Suara reruntuhan terdengar menakutkan dari bawah.
"Mereka meledakkan tangga!" teriak Yan Ling. Dia hampir kehilangan keseimbangan. Haneen menarik lengan baju Yan Ling dengan kuat, mencegahnya jatuh ke kegelapan di bawah. Cengkeraman tangan Haneen sakit, tapi itu menyelamatkannya.
"Jangan lihat ke bawah! Terus naik!" tarik Haneen. Suaranya parau karena debu. Mereka melompat ke anak tangga terakhir dan mendobrak pintu lantai lima puluh dengan bahu mereka. Kayu pintu retak saat terbuka.
Ruang siaran pusat sangat luas. Dindingnya terbuat dari kaca transparan yang memperlihatkan seluruh kota di bawah seperti peta mini. Orang-orang terlihat seperti semut dari sini. Di tengah ruangan, terdapat konsol utama berbentuk lingkaran dengan kristal besar melayang di atasnya, berputar pelan dengan suara dengungan rendah.
"Pasang kristal data!" perintah Haneen. Dia berlari menuju konsol itu, langkah kakinya menggema di lantai marmer yang dingin.
Tiba-tiba, udara di ruangan itu menjadi berat sekali. Tekanan spiritual yang luar biasa kuat memaksa mereka berlutut. Lutut Haneen terasa nyeri seolah-olah ada beban tonenan di atas pundaknya. Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria tua berjubah merah emas berjalan masuk. Aura merah gelap menyelimuti tubuhnya seperti api yang tidak pernah padam. Rambut putihnya berkibar meski tidak ada angin.
"Ketua Aliansi," gumam Haneen. Dia berusaha berdiri, tapi lututnya gemetar karena tekanan aura yang begitu dominan. Rasanya sulit untuk bernapas.
"Kalian sangat gigih," kata Ketua Aliansi. Suaranya tenang, namun menggetarkan tulang dada. "Sayang sekali, permainan ini berakhir di sini. Saya tidak suka gangguan."
Dia mengangkat tangan. Bola energi merah terbentuk di telapak tangannya, semakin besar dan panas. Udara di sekitarnya bergelombang karena panas. "Mati."
Haneen mengaktifkan perisai energi sistem sekuat tenaga. ‘Zzt!’ Bola energi itu menabrak perisai dengan suara ledakan tumpul. Haneen terlempar ke belakang, menabrak dinding kaca dengan keras. Retakan menjalar di kaca tebal itu seperti jaring laba-laba. Darah mengalir dari sudut mulutnya, terasa amis di lidah. Pandangannya sedikit kabur.
"Haneen!" Yan Ling berteriak histeris. Dia menyerang Ketua Aliansi dengan semua kekuatan yang tersisa. Pedangnya menyala biru, mencoba menembus pertahanan musuh. Cahaya biru dan merah bertabrakan di udara.
Ketua Aliansi hanya menepis serangan itu dengan satu jari telunjuk. ‘Brak!’ Yan Ling terlempar jauh, jatuh di samping Haneen dengan suara benturan yang menyakitkan. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi. Darah menetes dari hidungnya.
"Kekuatan kalian tidak berarti," ejek Ketua Aliansi sambil berjalan perlahan menuju mereka. Langkah kakinya tidak bersuara, seperti hantu. "Aliansi tidak akan jatuh karena dua tikus kecil seperti kalian. Dunia butuh ketertiban, bukan kekacauan."
Haneen menghapus darah di dagunya dengan punggung tangan. Dia melihat bar progres di sistem yang masih berjalan di sudut pandangannya. [Upload Data: 80%]. Butuh waktu dua puluh detik lagi. Waktu yang terasa seperti abadi. Setiap detik terasa seperti satu jam.
"Yan Ling," bisik Haneen. Suaranya hampir tidak terdengar di tengah dengungan energi. "Tahan dia sepuluh detik. Aku butuh waktu. Tolong."
"Gila kau!" marah Yan Ling meski matanya berkaca-kaca. Dia tahu itu berarti bunuh diri. Tapi dia melihat mata Haneen. Ada keyakinan di sana yang membuat Yan Ling tidak bisa menolak. Dia percaya pada Haneen.
Yan Ling berdiri lagi dengan susah payah. Dia menggigit lidahnya sendiri untuk memaksakan energi spiritual keluar dari tubuh yang sudah lelah. Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Aura biru meledak dari tubuhnya, membuat rambutnya terangkat statis. "Aku tidak akan biarkan kau sentuh dia! Lewati dulu mayatku!"
Yan Ling menerjang lagi. Kali ini dia menggunakan teknik terlarang yang mengorbankan umur demi kekuatan sementara. Serangannya lebih cepat. Lebih kuat. Ketua Aliansi terpaksa mundur satu langkah untuk menangkis, wajahnya sedikit berubah serius. Keringat mulai muncul di dahi pria tua itu.
"Sepuluh detik," hitung Haneen dalam hati. Dia merangkak menuju konsol. Tangannya gemetar memegang kabel data yang licin karena darah.
"Lima detik."
Ketua Aliansi menyadari tujuan Haneen. Dia mendorong Yan Ling dengan gelombang kejut yang kuat. Yan Ling jatuh pingsan, tubuhnya tergeletak diam di lantai dingin. Napasnya masih ada, tapi lemah.
"Berhenti!" teriak Ketua Aliansi. Dia mengarahkan tangan ke Haneen, energi merah sudah siap diluncurkan. Wajahnya penuh kemarahan yang tidak terbendung.
"Seratus persen!" Haneen menekan tombol enter terakhir dengan jari yang berlumuran darah. Tombol itu terasa dingin di bawah sentuhannya.
Lampu di konsol berubah hijau terang. Sirine berbunyi di seluruh kota, terdengar sampai ke pelosok kampung. Layar-layar raksasa di luar menara menyala serentak. Wajah Ketua Aliansi muncul di setiap layar, diikuti oleh dokumen rahasia yang tersebar satu per satu. Suara kertas bergesek terdengar dari speaker.
["Warga Aliansi. Ini bukti pengkhianatan pemimpin kalian,"]
Suara rekaman Haneen bergema dari langit, terdengar jelas di setiap sudut kota. Suara itu tenang tapi penuh tuduhan.
Ketua Aliansi membeku. Tangannya turun perlahan. Energi di tangannya padam. Dia melihat ke luar jendela. Di bawah, ribuan warga mulai berteriak marah. Api mulai membakar bangunan pemerintah. Asap hitam membubung tinggi menutupi langit biru. Teriakan kemarahan terdengar samar bahkan dari lantai lima puluh ini.
"Kalian... kalian sudah hancurkan segalanya," desis Ketua Aliansi. Wajahnya berubah buruk karena marah yang tidak tersalurkan. Energi merah di tubuhnya meledak tidak terkendali, membuat kaca jendela retak lebih parah. Pecahan kaca jatuh ke lantai. "Kalau aku harus mati, kalian juga harus ikut!"
Dia mengumpulkan semua energi untuk serangan terakhir. Lantai ruangan mulai retak, debu beterbangan membuat sulit melihat. Suara gemuruh energi semakin keras.
"Haneen, lari!" teriak Yan Ling yang baru sadar dari pingsan. Suaranya lemah, hampir seperti bisikan.
"Tidak," jawab Haneen. Dia mengambil granat gravitasi dari sistem. Benda kecil itu dingin di telapak tangannya, kontras dengan udara panas di ruangan itu. "Kita bawa dia bersama kita. Atau setidaknya, kita hentikan dia di sini."
Haneen melempar granat itu ke kaki Ketua Aliansi. ‘Klik.’ Suara aktivasi terdengar tipis, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan.
"Kau tidak berani!" ancam Ketua Aliansi. Matanya melotot ketakutan untuk pertama kalinya. Topeng tenangnya pecah.
"Aku berani," jawab Haneen dingin. Dia menarik Yan Ling dengan sisa tenaga. Lengan Yan Ling terasa berat. "Lompat!"
Mereka berlari menuju jendela kaca besar yang sudah retak. Haneen menendang kaca itu dengan tumit sepatu botnya. ‘Prang!’ Kaca pecah berhamburan seperti hujan berlian. Angin kencang menyedot mereka keluar, tubuh mereka melayang di udara kosong. Perut terasa mulas karena jatuh bebas.
Di belakang mereka, granat gravitasi aktif. Ruangan itu runtuh ke dalam diri sendiri, menciptakan lubang hitam kecil. Ketua Aliansi terjebak di tengah singularitas itu. Teriakan marah nya hilang tertelan suara ledakan yang tidak bersuara. Hanya getaran yang terasa di udara.
Haneen dan Yan Ling jatuh bebas dari ketinggian lima puluh lantai. Kota berputar di sekitar mereka, lampu-lampu menjadi blur karena kecepatan. Angin menderu di telinga.
"Parasut!" teriak Yan Ling di tengah angin yang menderu. Dia menutup mata, pasrah.
Haneen mengaktifkan parasut energi. ‘Wush!’ Sayap cahaya biru terbuka di punggung mereka dengan suara energi yang mendengung. Mereka melambat tepat sebelum menghantam atap bangunan rendah di bawah. Benturan masih terasa keras di tubuh yang lelah.
Mereka mendarat keras. Gulungan beberapa kali untuk menghilangkan gaya jatuh. Napas mereka tersengal-sengal, paru-paru terasa terbakar. Di atas mereka, Menara Siaran Pusat miring dan mulai roboh perlahan, mengirimkan awan debu raksasa ke udara. Cahaya matahari tertutup debu abu-abu.
"Kita berhasil," kata Yan Ling. Dia tertawa lepas meski tubuhnya sakit semua. Air mata mengalir di pipinya yang kotor, bercampur dengan debu. Suaranya serak.
Haneen berdiri dengan susah payah, memegangi rusuknya yang retak. Setiap napas terasa sakit. Dia melihat kekacauan di kota. Rakyat bangkit melawan penjaga. Era Aliansi sudah berakhir malam ini. Asap membubung dari berbagai sudut kota.
"Belum selesai," kata Haneen. Dia membantu Yan Ling berdiri, menopang berat badan wanita itu. Bahu Yan Ling lemah. "Kita harus hilang sebelum mereka sadar kita masih hidup. Kalau tertangkap sekarang, semua sia-sia. Perjuangan kita jadi percuma."
Mereka berlari melintasi atap bangunan, menjauh dari pusat kerusuhan. Bayangan mereka hilang di antara gedung-gedung gelap yang masih tersisa. Suara sirine dan teriakan semakin jauh di belakang.
Malam itu, Ibu Kota Aliansi berubah selamanya. Dan dua sosok yang memulai perubahan itu menghilang seperti hantu, meninggalkan legenda yang akan diceritakan selama seratus tahun oleh para pedagang di kedai kopi saat malam panjang.
Haneen memeriksa sistem sekali lagi saat mereka berhenti di atap yang aman.
[Misi Selesai. Hadiah Diterima.]
Notifikasi itu muncul singkat lalu hilang.
Dia mematikan notifikasi itu. Dia tidak butuh pujian sistem. Dia hanya butuh Yan Ling tetap hidup di sampingnya. Itu sudah cukup bagi dia. Melihat dada Yan Ling naik turun tanda bernapas adalah hadiah terbesar.
"Ayo," kata Haneen. Suaranya lebih lembut dari biasanya. Ada kelelahan yang dalam di sana. "Kita punya dunia baru untuk dibangun. Pelan-pelan. Tidak perlu buru-buru."
Mereka melompat ke kegelapan malam, meninggalkan masa lalu yang terbakar di belakang mereka. Angin malam membawa aroma asap dan kebebasan. Bau kemenangan yang pahit tapi nyata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Author terharu nulisnya🥲
Jangan lupa like, komen dan share🥹🥹