Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Runtuhnya kekaisaran Kebohongan
Suasana ruangan yang semula tegang mendadak pecah oleh derap langkah sepatu bot yang berat. Dua petugas polisi berseragam lengkap melangkah masuk dengan wajah kaku, diikuti oleh pengacara pribadi Sean yang berjalan tenang sambil mendekap sebuah map dokumen tebal di dadanya.
"Tuan Sean Elgar," lapor pengacara itu dengan nada profesional yang dingin. "Semua bukti mengenai penggelapan dana perusahaan yang dilakukan Nona Celia untuk menutupi hutang judi ibunya, serta seluruh berkas konspirasi penipuan identitas sudah lengkap dan terverifikasi."
Sean mengangguk kecil, tatapannya setajam belati yang menghujam ke arah Diana dan Celia. "Bawa mereka," perintahnya singkat namun penuh otoritas. "Amankan Diana atas tuduhan penipuan identitas, penculikan, dan pemberian zat terlarang tiga puluh tahun lalu. Dan Celia... bawa dia atas pencurian dana perusahaan serta percobaan pencemaran nama baik istriku."
"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Celia histeris saat seorang petugas mencengkeram lengannya. Wajahnya yang biasa dipoles riasan mahal kini pucat pasi. "Papa, tolong aku! Papa!"
Gunawan memalingkan wajah dengan bahu yang gemetar. Ia tidak sanggup lagi menatap wanita yang selama ini ia sayangi dengan buta—sebuah kasih sayang yang ternyata dibangun di atas fondasi busuk. "Aku tidak punya putri bernama Celia," ucap Gunawan, suaranya parau namun tegas. "Putriku hanya satu, dan dia sedang berdiri di samping Sean Elgar."
Celia meraung dan meronta saat diseret paksa keluar dari ruangan yang dulu ia anggap sebagai istananya. Di belakangnya, Diana pun tak jauh berbeda; ia hanya bisa terdiam pasrah, wajahnya kosong menatap lantai saat bunyi klik borgol besi mengunci pergelangan tangannya.
Setelah polisi menyeret mereka keluar, keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan. Gunawan, pria yang dulu selalu berdiri tegak dengan keangkuhan seorang pengusaha besar, kini tampak hancur. Ia berbalik perlahan, menatap Lyra dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan.
"Lyra..." suara Gunawan pecah. Ia berjalan tertatih, lalu tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan putri kandung Hana itu. "Aku tahu kata maaf adalah hal yang paling tidak berguna saat ini. Aku telah membiarkan ibumu menderita di neraka dunia sementara aku hidup dalam kebohongan yang nyaman."
Lyra terdiam membatu, tangannya masih digenggam erat oleh Sean. Ia bisa merasakan getaran hebat dari tubuh pria tua di hadapannya.
"Semua ini berawal dari cintaku yang egois pada ibumu," lanjut Gunawan dengan isak tangis yang tertahan. "Ibu kandungku... Nenekmu... dia begitu membenci Hana karena Hana hanya seorang suster. Dia mengancamnya, menekannya, dan akhirnya menggunakan Diana untuk menjebakku. Jika saja aku tidak selemah itu, jika saja aku lebih kuat melindungi Hana dari ibuku sendiri, kita tidak akan berakhir seperti ini."
Gunawan meraih sebuah amplop hitam dari laci mejanya yang sudah ia siapkan. Dengan tangan gemetar, ia menyodorkannya pada Lyra. "Ini adalah seluruh aset Wijaya Group. Saham, properti, hingga harta pribadiku atas nama ibuku dulu. Aku sudah menandatangani surat pengalihannya padamu dan Hana. Aku tidak menginginkan kekayaan ini lagi. Harta ini adalah darah dan air mata ibumu."
Lyra menatap amplop itu tanpa minat sedikit pun. "Harta tidak bisa mengembalikan kewarasan ibuku, Tuan Gunawan."
"Aku tahu! Aku tahu itu!" Gunawan memukul dadanya sendiri dengan keras. "Maka dari itu, ambillah semuanya. Jika kau menginginkan nyawaku sebagai bayaran atas setiap tetes air mata Hana, ambillah! Aku bersedia mati detik ini juga jika itu bisa meringankan beban di hatimu. Tapi aku memohon padamu, Lyra... Sean..."
Gunawan mendongak, menatap mereka dengan tatapan memohon yang memilukan. "Izinkan aku menemui Hana. Sekali saja. Aku ingin bersujud di kakinya. Aku ingin dia tahu bahwa pria yang menghancurkannya sudah tahu kebenarannya. Aku ingin merawatnya di sisa hidupku, meski ia tidak akan pernah mengenalku lagi."
Sean menyipitkan mata, menilai ketulusan di mata pria tua itu. Ia merasakan jemari Lyra yang sedikit melonggar. Lyra menatap Gunawan lama, mencari sisa-sisa kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah seorang pria yang sudah kehilangan segalanya.
"Ibu Hana selalu meracau tentang harimau dan matahari," suara Lyra bergetar. "Mungkin... mungkin di dalam kegelapan pikirannya, dia masih menunggumu untuk menjelaskan semuanya. Tapi jangan berharap aku akan memanggilmu Ayah dalam waktu dekat."
Gunawan menangis tersedu-sedu, mencium lantai di depan kaki Lyra. "Terima kasih... terima kasih, Lyra. Aku akan menyerahkan seluruh sisa hidupku untuk menebus dosa ini."
Sean menarik Lyra mendekat ke pelukannya. "Notaris akan mengurus pengalihan aset besok pagi. Dan mengenai kunjungan ke klinik... aku akan mengaturnya. Tapi ingat, Gunawan, jika kehadiranmu justru membuat kondisi Hana memburuk, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar."
"Lakukan apa pun padaku, Sean," bisik Gunawan pasrah.
Kini ruangan itu menyisakan kehampaan. Lyra berdiri diam, menatap punggung Gunawan yang tampak begitu rapuh di lantai. Dendamnya mungkin belum sepenuhnya hilang, namun melihat keadilan ditegakkan, ada sesuatu yang hangat mulai mengalir di hatinya.
Sean menggenggam tangan Lyra dengan erat. "Sudah selesai, Matahariku. Tidak akan ada lagi yang berani menyebutmu rendahan."
Lyra menatap Sean, lalu beralih ke jendela tempat langit malam mulai diterangi lampu kota. "Ini bukan akhir, kan, Sean? Ini adalah awal dari perjalananku menyembuhkan Ibu Hana."
"Dan aku akan menjadi harimau yang memastikan tidak ada seorang pun yang berani mengganggu tidurmu dan ibumu lagi," janji Sean, lalu ia mengecup kening Lyra dengan lembut di depan mata Gunawan yang hanya bisa meratapi segala kebodohannya. Di pelukan Sean, Lyra akhirnya menangis—bukan karena sedih, tapi karena beban yang selama ini menghimpit bahunya akhirnya terangkat.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...