Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam itu, hujan tipis turun membasahi kota, memberi kesan hangat sekaligus mewah pada lampu-lampu jalan yang memantul di aspal basah.
“Untuk merayakan juara satu,” ujar Enzo singkat, nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya, lebih ringan dan lebih hidup. “Kita makan malam di luar.”
Erza langsung bersorak kecil. “Serius, Daddy?”
“Serius,” jawab Enzo sambil menepuk bahu putranya. “Kita pantas merayakannya.”
Azalea tersenyum melihat mata Erza berbinar. Ia membantu anak-anak bersiap, memilihkan pakaian yang rapi dan nyaman. Untuk dirinya sendiri, Azalea mengenakan gaun sederhana berwarna moka dengan potongan anggun. Tidak mencolok, tidak berlebihan. Rambutnya tertutup jilbab yang rapi, riasan wajahnya tipis, cukup untuk menonjolkan ketenangan yang kini menjadi ciri khasnya.
Ketika mereka turun ke ruang tamu, Mami Elsa yang sudah menunggu terperangah. Tatapan wanita itu tertahan di wajah Azalea. Bukan karena iri, melainkan karena kehabisan celah untuk menghinanya.
Azalea tampak berkelas, tenang, dan anggun. Tidak ada satu pun detail yang bisa dijadikan bahan ejekan. Bahkan Mami Elsa yang selama ini paling lihai mencari kekurangan seseorang, kini hanya bisa mengatupkan bibir.
“Kita berangkat,” kata Enzo singkat.
Mami Elsa mengangguk, sedikit kaku.
“Kamu duduk di depan,” ucap Enzo sambil membukakan pintu mobil untuk Azalea.
Sesaat Azalea terdiam menatap Enzo. “Terima kasih,” ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.
Hal mengejutkan lainnya, Enzo memasangkan sabuk pengaman untuk Azalea setelah wanita itu duduk. Hal itu tidak luput dari perhatian Mami Elsa.
Selama perjalanan di dalam mobil dipenuhi oleh celotehan Erza dan Elora. Keduanya merasa senang karena jarang diajak makan di luar rumah.
Restoran itu terletak di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Lampu kristal menggantung indah, alunan musik piano mengalir lembut, dan pelayan berseragam rapi menyambut mereka dengan senyum profesional.
Erza duduk tegap, bangga. Elora, sebaliknya, mulai mengerutkan dahi sejak menu dibuka.
“Mommy,” bisik gadis kecil itu pelan tapi cukup terdengar, “Aku enggak mau makan ini.”
Azalea menoleh. “Kenapa?”
“Aku maunya es krim,” jawab Elora jujur, bibirnya mengerucut. Dia mengira pergi makan malam ini bisa makan es krim kesukaannya. “Es krim yang warna-warni dan banyak topingnya.”
Enzo yang duduk di seberang meja langsung menegang. Ia sudah hapal tanda-tanda itu. Biasanya, setelah ini akan ada tangisan, suara meninggi, dan tatapan-tatapan tidak nyaman dari sekitar.
“Elora,” ujar Enzo mencoba tegas, “ini makan malam dulu.”
Elora menggeleng kuat sambil menutup mulutnya. “Enggak mau!”
Azalea mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat pada Enzo agar tenang. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, sejajar dengan mata putrinya.
“Elora,” ucap Azalea lembut, hampir berbisik, “kalau Elora makan sendiri sampai habis, nanti sebelum tidur Mommy bacakan dua cerita.”
Elora mengangkat kepala. “Dua?”
“Iya. Dua. Yang seru pasti ceritanya,” janji Azalea sambil tersenyum.
Elora menimbang-nimbang. Beberapa detik yang terasa lama bagi Enzo.
“Janji?” tanya Elora memastikan.
“Janji.”
Elora mengangguk, lalu mengambil sendoknya sendiri. “Kalau begitu aku akan makan ini.”
Enzo terpaku. Tanpa paksaan, tanpa nada tinggi, dan tanpa ada drama. Lalu, yang lebih mengejutkan adalah Elora benar-benar makan sendiri sampai habis.
Erza melirik Enzo sambil terkekeh kecil. “Daddy, Mommy jago, kan, kalau bujuk Elora.”
Enzo hanya bisa mengangguk, masih terpana. Di dalam dadanya, ada rasa hangat yang perlahan mengalahkan kelelahan lama.
“Selama ini aku salah,” batinnya. “Bukan anak-anak yang sulit. Aku saja yang tidak tahu caranya.”
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Mami Elsa meletakkan sendoknya dengan bunyi pelan, lalu berkata dengan nada dingin, “Anak-anak jadi mudah rewel karena terlalu dimanjakan.”
Azalea menoleh perlahan. Senyumnya tidak hilang, suaranya tetap lembut.
“Mungkin,” jawabnya tenang. “Tapi, anak-anak juga rewel kalau tidak didengarkan.”
Mami Elsa mengernyit. “Di keluarga kami, anak-anak harus disiplin.”
Azalea mengangguk kecil. “Disiplin itu penting. Tapi rasa aman juga sama pentingnya.”
Wanita berjilbab itu berhenti sejenak, memastikan Erza dan Elora sedang fokus pada makanan mereka.
“Kalau anak merasa didengar,” lanjut Azalea dengan nada tetap rendah, “biasanya mereka tidak perlu berteriak untuk dimengerti.”
Kata-katanya sederhana, namun menampar halus. Mami Elsa terdiam. Tidak ada kemarahan yang bisa ia lontarkan tanpa terlihat berlebihan di depan orang-orang.
Enzo menatap Azalea dengan sorot mata yang berbeda, campuran kagum dan rasa terima kasih yang sulit ia ucapkan.
Malam itu, di restoran mewah dengan lampu-lampu berkilau, Enzo menyadari satu hal penting. Bukan kemewahan yang membuat keluarga terasa utuh, melainkan kehadiran seseorang yang tahu cara mendengarkan dan mencintai dengan tenang.
***
Hari itu di rumah, Erza dan Elora sedang berbaring malas di atas kasur. “Mommy bikin es kuwut, ya,” pinta Elora manja sambil memeluk bantal.
“Iya,” jawab Azalea sambil tersenyum. “Tapi kalian harus tidur siang dulu.”
Erza langsung manyun. “Pakai agar-agar yang banyak?”
“Iya. Pakai agar-agar,” sahut Azalea.
Janji kecil itu cukup membuat dua anak itu mengangguk patuh.
Siang itu matahari seperti sengaja berdiri tepat di atas kepala. Udara panas menekan dada, membuat langkah Azalea sedikit melambat ketika ia berjalan menuju minimarket kecil di dekat komplek perumahan. Keringat membasahi pelipisnya, tapi wajahnya tetap tenang.
Maka siang ini, Azalea berjalan ke minimarket hanya untuk membeli agar-agar, jeruk nipis, dan beberapa bahan tambahan. Hal sederhana, tapi baginya kebahagiaan memang sering lahir dari hal-hal kecil.
Azalea berdiri di depan etalase, memperhatikan deretan agar-agar warna-warni. Tangannya meraih satu per satu, menimbang rasa mana yang paling disukai anak-anak. Dan di saat itulah terdengar suara yang tidak asing baginya.
“Astaga … sedang apa kamu di sini?”
Azalea membeku sesaat sebelum menoleh. Reza berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja rapi, tangan satunya memegang keranjang belanja. Di sampingnya, Nadia berdiri dengan pakaian mencolok, satu tangan menggenggam seorang anak perempuan kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya.
Azalea menatap mereka dengan tenang. Saat ini waktu jam istirahat kantor. Namun, tidak menyangka mereka bisa berada di sini sekarang. “Oh,” ucapnya pelan. “Mas Reza.”
Nadia menyunggingkan senyum miring. “Dunia ini sempit, ya. Ke minimarket juga ketemu mantan istri.”
Azalea mengangguk kecil. “Iya. Allah Maha Mengatur.”
Pandangan Azalea tanpa sengaja turun ke anak kecil di samping Nadia. Gadis itu memeluk boneka, menatap sekeliling dengan mata polos. Saat itulah sesuatu menyentak pikirannya.
“Anak itu anak Nadia yang ikut lomba mewarnai tempo hari.”
Bukan anak Reza, karena wajahnya tidak mirip sama sekali. Dan tidak ada cincin di jari Nadia. Tidak juga di jari Reza. Seketika, sebuah keping kebenaran tersusun rapi di benaknya. ”Jadi selama ini, Reza belum menikah.”
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi