Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29—Misi Melindungi Idol
Jam istirahat telah berdering. Rahmat hendak pergi ke kantin sebelum sebuah pengumuman disuarakan.
“Panggilan kepada siswa atas nama Rahmat dan selanjutnya atas nama Kanaya Arcelia, kalian ditunggu di ruangan osis.”
“Saya ulangi panggilan kepada siswa atas nama Rahmat dan kanaya Arcelia, kalain ditunggu di ruangan osis.”
Suara itu adalah suara yang ia kenal, suara Anisa. Panggilan di ruang kepala sekolah atau BK udah biasa, tapi ini di ruang ketua osis? Sungguh ketos yang terlalu maksa.
Kelas langsung riuh.
“Wihhh dipanggil barengan~”
“eh, apa? Kenapa nih?”
“Rahmat makin jadi selebriti sekolah nih!”
“BAJINGAN LO RAHMAT, DULU ALYA SEKARANG IDOL NASIONAL MAU LO EMBAT.”
Rahmat hanya terkekeh kecil, bingung harus respon gimana. Ia berdiri, sementara di sampingnya Kanaya ikut bangkit dengan ekspresi tenang.
“Sepertinya… waktunya,” gumam Kanaya pelan.
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang OSIS.
Pintu ruang OSIS tertutup rapat.Begitu Rahmat membukanya, suasana langsung terasa berbeda.
Di dalam sudah ada tiga orang. Anisa — masih dengan aura tegasnya sebagai ketua OSIS. Seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi — Kayla, manajer Kanaya. Dan satu pria berpakaian formal yang berdiri di dekat jendela, kemungkinan perwakilan keamanan sekolah.
Anisa langsung angkat bicara.“Tutup pintunya, Rahmat.”
Klik.
Pintu terkunci.
Rahmat menyapu ruangan dengan tatapan datar. “Serius amat, kak.”
Anisa tidak tersenyum. “Ini memang serius.”
Kayla maju selangkah. “Sebelumnya… terima kasih lagi karena sudah menyelamatkan Kanaya semalam.”
Rahmat mengangguk kecil. “Iya, kak kayla. Aman, aku sudah menerima ucapan itu berulang kali.”
Anisa menyilangkan tangan. “Langsung ke inti saja. Waktu istirahat cuma setengah jam, habis ini mau makan soto gue.”
Suasana mendadak terasa berat. “Kanaya bukan cuma mengalami percobaan upaya penculikan oleh fans fanatik semalam.”
Rahmat menyipitkan mata. “Apa maksudnya?”
Kayla menarik napas dalam. “Sejak tiga bulan terakhir… Kanaya beberapa kali menerima insiden penguntitan. Mobil tak dikenal mengikuti. Paket misterius. Ancaman anonim. Bahkan pernah ada penyusup masuk ke apartemennya.”
Kanaya terdiam, tapi jemarinya sedikit mengepal. “Itu benar, banyak yang menguntitku akhir-akhir ini, bahkan di sekolahku dulu, penguntit sampai masuk di area sekolah.”
Rahmat meliriknya sekilas. Jadi idol itu repot juga, ya.
Anisa melanjutkan, suaranya lebih dingin. “Dan parahnya kasus-kasus ini bukan cuma terjadi pada Kanaya.”
Ia menaruh map di atas meja.
“Dalam enam bulan terakhir, ada tujuh laporan orang hilang dengan profil khusus. Berbakat sama seperti kanaya, punya nilai unik. Beberapa atlet muda. Penyanyi. Bahkan kolektor benda langka.”
Rahmat langsung teringat angka 57%. Jadi itu artinya, dia terikat oleh kejahatan dalam artian diincar oleh seseorang
“Dan apa kamu ingat mengenai fans fanatik tadi malam?”
Rahmat menganggukkan kepala.
“Pihak polisi sudah melakukan banyak introgasi dengannya dan kita menemukan satu jawaban ,,, alasan dia bisa masuk ke sana dan mempunyai senjata pistol karena dia diarahkan dan dimanfaatkan oleh seseorang. Organisasi itu adalah ….”
Anisa menyebut satu nama.
“.... Black Spider.”
Ruangan terasa semakin sunyi. Black spider? Ia jadi teringat kejadian tempo hari, di pelelangan dia bertemu seorang pria berjas hitam yang mengincarnya walau ia hajar habis-habisan.
Kalau boleh jujur sebenarnya dia juga diincar oleh organisasi itu.
“Kak, black spider itu apa?” Tanya Rahmat.
“Untuk itu kami masih dalam penyelidikan, tapi pasti kemungkinan besar black spider berhubungan dengan kasus penculikan yang naik pesat akhir-akhir. Intinya Kanaya masih dalam bahaya.”
Kayla melanjutkan, “Karena itulah… sebulan lalu saya memutuskan memindahkan Kanaya dari kota asalnya.”
Rahmat mengernyit. “Sebulan lalu?”
“Prosesnya memang sudah kami rencanakan sebelum insiden semalam. Kami mencari tempat yang relatif aman.”
Anisa menambahkan, “Dan sekolah ini termasuk salah satu zona paling aman.”
Rahmat menatapnya. Semua jadi masuk akal Ayah Anisa — kepala komandan polisi wilayah ini.
“Setiap ancaman serius di area ini akan langsung masuk radar. Itu sebabnya sekolah ini relatif steril.”
Rahmat mengangguk pelan. Masuk akal.
“Tapi…” Anisa menatapnya lurus. “Setelah kejadian semalam, situasinya berubah.”
Kayla ikut menatap Rahmat. “Kami menyadari satu hal. Kamu bukan orang biasa.”
Rahmat tersenyum tipis. “haha kakak berlebihan, aku cuma mukul satu fans fanatik.”
Anisa menggeleng. “Kemarin bukan cuma soal pukulan. Refleks. Cara kamu membaca situasi. Cara kamu melumpuhkan tanpa panik.”
Rahmat diam.
“Kamu juga mengalahkan Ardi tanpa kesulitan,” tambah Anisa. “Aku terus melihat video itu, kamu jelas bukan orang biasa.”
Nama itu membuat Rahmat sedikit menghela napas.
“Intinya,” lanjut Anisa, “kami butuh bantuanmu. Kami ingin kamu ikut serta dalam masalah ini.”
Rahmat menyilangkan tangan. “Bantuan seperti apa?”
Kayla menjawab perlahan. “Kami ingin kamu menjaga Kanaya.”
Hening.
“Secara tidak resmi. Kamu cukup menjaganya paling tidak di area sekolah, dan kalau-kalau kalian sedang keluar saat main”
Rahmat mengangkat alis. “Aku jadi bodyguard gitu.”
Anisa tidak mengelak. “Kurang lebih seperti itu”
Kanaya akhirnya bicara, ia ikut serta. “Tunggu aku rasa ini tetap agak berlebihan! Kalau kak Anisa itu wajar yang jaga saya itu wajar, tapi bagaimanapun. Kakak di sebelah sini—”
“Rahmat.” Potongnya tidak mau disebut kakak.
““Iya, maksud saya Rahmat, bagaimanapun dia kan cuma rakyat biasa.”
Ruangan mendadak hening.
Rahmat mengangkat alis tipis.
“Rakyat biasa ya…” gumamnya santai.
“Maaf, kak. Maksudnya …” Kanaya langsung panik. “Maksudku— kamu itu cuma siswa! Kita ini ngomongin organisasi kriminal. Ini bukan urusan anak sekolah!”
Kayla menatap artisnya itu dengan lembut tapi tegas. “Justru karena dia siswa.”
Rahmat menyilangkan tangan, bersandar ke dinding.
Anisa melanjutkan, “Kita nggak butuh orang berseragam dan bersenjata di sekitar kamu setiap saat. Itu malah bikin kamu makin jadi target.”
Pria formal di dekat jendela akhirnya bicara, suaranya berat. “Perlindungan terbaik adalah yang tidak terlihat.”
Rahmat meliriknya sekilas. Anisa kembali menatap Rahmat.
“Tapi bagaimanapun Rahmat sudah masuk dalam radar mereka”
Hening.
Kanaya menoleh cepat. “Maksudnya?”
Rahmat tidak terlihat terkejut. Anisa membuka map lagi dan mengeluarkan beberapa foto buram hasil CCTV.
“Ini rekaman di belakang panggung konser semalam. Setelah kamu melumpuhkan pelaku… ada satu pria lain yang memperhatikan dari jauh.”
Foto itu menunjukkan sosok berjas hitam.
Rahmat mengenalinya.
Pria yang dulu pernah ia hajar di pelelangan, jad dia ada di sana.
“Dia bukan fans fanatik,” lanjut Anisa. “Dia pengamat.”
Kayla menggenggam tasnya lebih erat. “Kami curiga mereka sedang mengincar kamu juga karena sudah menggagalkan rencana mereka.”
Kanaya terlihat semakin gelisah. “Jadi… karena aku, kamu ikut terlibat?”
Rahmat akhirnya bicara santai, “Salah. Aku sudah terlibat bahkan sebelum kamu.”
Semua mata tertuju padanya.
Anisa mengernyit. “Maksudmu?”
Rahmat menatap map di tangan Anisa. “Kalau mereka memang mengincar ‘nilai’, berarti targetnya bukan cuma idol. Bisa siapa saja yang dianggap punya nilai tinggi.”
Tatapannya sedikit menajam.
“Dan kebetulan… aku juga punya sesuatu yang mungkin menarik perhatian mereka.”
Ia tentu tidak menjelaskan tentang sistem, tentang kejadian pelelangan, dan lain-lain.
Hening beberapa detik. Tentu tidak ada yang paham maksud rahmat.
Kayla akhirnya menarik napas panjang.
“Karena itulah kami ingin kerja sama. Bukan cuma untuk Kanaya.”
Pria formal itu menambahkan, “Kalau kamu bersedia membantu, pihak kepolisian akan mencatat ini sebagai kerja sama khusus. Ada kompensasi resmi.”
Anisa menyenggol meja pelan. “Dan dari pihak sekolah, aku bisa pastikan kamu nggak akan diganggu Ardi atau siapa pun.”
Rahmat terkekeh kecil. “Ardi sudah bukan masalah lagi bagiku.”
Kanaya masih terlihat ragu. “Tapi. Aku nggak mau orang lain kena bahaya gara-gara aku.”
Rahmat menoleh padanya. “Bahaya itu nggak pilih-pilih. Mau kamu idol atau rakyat biasa, kalau masuk radar ya masuk.”
Tatapan mereka bertemu.
Rahmat melanjutkan dengan nada ringan, “Lagipula… kamu pikir aku selemah itu?”
Kanaya terdiam. Ia teringat bagaimana Rahmat bergerak semalam. Cepat. Tenang. Tanpa ragu.
Anisa akhirnya menyimpulkan. “Ini bukan soal bodyguard. Ini soal kerja sama. Kamu tetap siswa. Tetap sekolah. Tapi kalau ada sesuatu yang janggal, kamu jadi orang pertama yang bertindak.”
Kayla mengangguk. “Dan tentu saja ada bayaran.”
Rahmat tersenyum tipis. Sejujurnya tidak terlalu perlu hadiah juga, ada orang yang membutuhkan lagipula.
Pria formal itu melanjutkan ,“Kontrak awal 7 hari. Evaluasi setelah itu. Dan kamu akan dapat hadiah.”
Sistem langsung menyala.
━━━━━━━━━━━━━━━
[MISI BARU TERBUKA]
Lindungi Target: Kanaya Arcelia
Durasi: 7 Hari
Tingkat Ancaman: sangat Tinggi
Reward: ???
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menutup notifikasi itu perlahan. Empat hari lagi saham. Tujuh hari kontrak perlindungan. Seolah semuanya bergerak menuju titik yang sama.
Ia mendorong tubuhnya dari dinding. “Oke.”
Semua menoleh. “Aku terima.”
Kanaya terkejut. “kamu Serius?”
Rahmat mengangkat bahu santai. “Anggap saja… kerja sampinganku tambah, dari kasir sekarang jadi bodyguard gadis cantik”
Anisa tersenyum puas.
Kayla terlihat lega.
Sementara Kanaya sedikit tersipu malu. Seperti yang dia duga pria ini rada-rada aneh.
Saat semua sudah selesai, tiba-tiba ponsel Rahmat bergetar. Ini dari Tommy. Ada pesan masuk
[Seperti yang kamu suruh]
[Aku sudah mendapatkan informasi dari black spider]
[Mari bertemu setelah ini]
Rahmat tersenyum, ia selalu bergerak selangkah lebih dulu. Sebagai debt kolektor yang hidup di dunia bawah, Tomy adalah mata-mata yang sangat berguna.
Rahmat kau ni benar benar polos apa gimana weh 🤣🤣