Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Mobil yang dikendarai kenzo berhenti tepat didepan sekolahan dira..
Namun di dalam mobil suasananya tidak terlalu tenang.
Dira masih duduk di kursi depan sambil cemberut dan melipat tangan.
Kenzo meliriknya sebentar. “Masih ngambek?”
Dira tidak menjawab. Ia bukan ngambek, hanya saja kesal dan mencoba fokus mengingat jawaban.
Kenzo mencoba lagi. “Kamu sadar kan Elvan cuma khawatir?”
Dira langsung menoleh kesal. " siapa juga yang ngambek”
Kenzo tertawa kecil. “Kalau aja ngambek. Jelek jadinya.”
Dira mendengus. “Kalau aku jelek. Abang apa , Kan satu keluarga? ”
Elvan menahan tawa. Kenzo terdiam memang pintar adeknya mencari jawaban.
“Udah turun sana.”
Dira langsung menatap Sekolah dari jendela. lalu melirik elvan sebentar.
Beberapa detik kemudian ia bergumam pelan,
“Dia Diam aja ?.Dasar Ceo dingin.”
Kenzo mendengar itu dan tersenyum tipis.
Dira membuka pintu mobil dengan sedikit kesal.
Namun sebelum keluar, Kenzo berkata santai,
“Dir.”
Dira menoleh.
“ Gak pamitan dulu sama suami kamu nih?"
Dira menyipitkan mata. “ Emang harus ya bang?”
Kenzo menepuk dahi.
" Jelas harus DIRA!"
Dira melirik lagi sebentar , lalu berbisik ke kenzo
" Tapi om el galak bang..."
Kenzo tersenyum nakal.
“Karena biasanya yang paling galak… yang paling peduli.”
Dira langsung memutar bola mata. “Gombal.” Lalu berbalik menghadap elvan.
" Om pergi dulu ya " Sambil mengulurkan telapak tangannya.
Elvan mengangguk dan memberikan uluran tangannya.
" Ya. Belajar yang bener "
Dira menyipitkan mata kemudian tersenyum lebar ." Okey. Tapi nanti pulang traktir makan ya om ."
" Gak janji. udah sana turun katanya telat" ucap elvan
Senyum dira langsung luntur." Cih dasar pelit..Awas aja gak jadi , Bakal aku geprek" Guman pelan dira , Tapi elvan mendengarnya.Ia hanya tersenyum tipis.
Dira menutup pintu mobil dengan keras dan berjalan menuju gerbang sekolah.
sampai - sampai Kenzo memegangi dadanya.
Namun beberapa langkah kemudian…
Ia berhenti sebentar. Tanpa sadar ia mengingat kejadian semalam saat Elvan menggendongnya dan memaksa dia tidur. Dan tidur bersama.
Wajahnya langsung sedikit memerah. “Aish… nyebelin.”
Ia mengacak rambutnya sendiri. Lalu kembali berjalan menuju kelas.
Jam ujian pun dimulai.
***
Bel ujian berbunyi keras. Tanda waktu sudah di mulai.
Seluruh siswa di kelas langsung duduk di tempat masing-masing. Guru pengawas berjalan membawa tumpukan kertas soal.
Di bangku dekat jendela, Dira duduk sambil memutar pulpen di tangannya. Wajahnya masih sedikit cemberut.
Melihat itu sinta berbisik pelan.
“Dir…kamu kenapa cemberut?”
Dira langsung menjawab pelan, “Gak papa Kok Tenang.”
Namun cara dia menekan pulpen di meja jelas menunjukkan yang sebaliknya.
Guru mulai berkeliling membagikan soal.
“Baik, ujian dimulai sekarang. Tidak boleh berbicara.”
Semua siswa mulai fokus. Namun baru beberapa menit berjalan—
Dari bangku belakang terdengar suara kursi digeser keras.
Vina tiba-tiba berdiri dengan wajah kesal.
" Bu, ini nggak adil!”
Guru langsung menatapnya. “Apa maksud kamu vina ?”
Vina menunjuk ke arah Dira. “Dia pasti nyontek bu!”
Seluruh kelas langsung menoleh ke arah Dira.
Dira yang sedang membaca soal langsung mengangkat kepala dengan wajah datar. “Hah?” Ia bingung
Guru mengernyit. " Vina, duduk kembali.”
Namun Vina malah semakin kesal. Melihat guru itu seperti membela dira.
“Dia dari dulu selalu dapat nilai bagus. Pasti curang!”
Beberapa siswa mulai berbisik-bisik. Dira akhirnya meletakkan pulpennya dengan pelan.
Ia menoleh ke belakang dengan tatapan tajam. Tepat ke arah vina . “Kamu kalau iri jangan berisik.”
Seluruh kelas langsung menahan napas.
Vina langsung berdiri lagi. “Apa kamu bilang?!”
Dira ikut berdiri. “Kamu gak tuli kan ?"
Guru langsung mengetuk meja keras.
“CUKUP!”
Kelas kembali hening.
Guru menatap Vina dengan tegas. “Kalau kamu tidak bisa tenang, silakan keluar dari ruangan.”
Vina mendengus kesal lalu duduk kembali.
Namun matanya masih menatap Dira penuh iri.
Dira hanya mendengus kecil. Selalu saja mengganggu nya.
" Drama.”
Lalu ia kembali fokus ke kertas soal. Ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh , bahkan harus berdebat dulu sama elvan .Malah di tuduh curang. Bahkan ia merasa mulai mengantuk sekarang.
Sekitar satu jam kemudian…
Suasana kelas sangat hening.Semua siswa sibuk mengerjakan soal masing-masing. Namun di sudut kelas…
Kepala Dira perlahan mulai turun. Semakin lama semakin turun.
Matanya berkedip pelan. Kurang tidur semalam akhirnya mulai terasa.
Beberapa detik kemudian—
Tok.
Kepalanya jatuh ke meja.
Ia tertidur.
Sinta di sampingnya langsung panik. “Dir… Dir!”
Namun Dira hanya bergumam kecil.
Guru akhirnya mendekat. “Dira?”
Dira langsung bangun kaget. “Hah?!”
Seluruh kelas menahan tawa. Sedangkan vina mencibir
" Dasar sok cari perhatian "
Guru menghela napas.
“Kalau kamu mau tidur, bukan di ruang ujian.”
Dira menggaruk kepalanya dengan malu. “Iya Bu…”
Ia melirik jam. Masih ada waktu.
“Untung masih ada waktu.” Ia menghela napas pelan
Ia kembali mengerjakan soal dengan serius.
Hingga waktu ujian selesai. Saat dira ingin mengumpulkan kertas soalnya , dengan sengaja vina menghalangi langkah dira dengan kakinya.
Hingga..
BRUKK..
Dira terjatuh karna kakinya tersandung kaki vina. Tangannya terluka sedikit karna tergores ujung meja.
" Aw.. kamu sengaja?" ia menatap tajam vina.
Vina tersenyum mengejek " Kamu salah sendiri , gak usah salahin orang lain."
" Ada apa ini " Tanya sang guru tiba.
" Ini bu dia jatuh sendiri , malah salahin saya" ucap vina
Dira berdecih " Pintar juga kamu akting " guman dira
" Sudah jangan ribut disini. Segera kumpulkan kertas ujian" tegas sang guru. Yang memang tidak melihat kejadiannya.
Dira langsung pergi mengumpulkan kertasnya. Kemudian pergi keluar kelas.
" Dasar monyet. Gampang banget dia akting gitu" gerutu dira saat berjalan di lorong sekolah dengan sinta.
" Kan emang dari dulu dia gitu dir. Orang iri" balas sinta
Mobil
" Cih.. Gak bosan apa ganggu mulu , pengen ku sobek tuh mulut" ia masih kesal dengan vina . Kalau aja tidak ada guru disana pasti sudah ia tarik tuh rambut vina.
" Mulut siapa?" tanya Bayu tiba-tiba datang.
" Tau. Mulut cewek kamu tuh " Kesal dira langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Bayu yang kebingungan. Ia baru saja datang.
" Lah.... Napa tuh anak "
" Dia lagi kesal bay" jawab sinta .
" Kesal kenapa ?" tanya Bayu penasaran. Karna ia tak satu ruangan dengan dira , jadi ketinggalan moment.
" Biasa si vina ganggu dia lagi "
" Cihh... dia lagi , tuh anak selalu aja ganggu " Bayu ikut kesal. Sambil mengejar langkah dira yang sudah berada ujung lorong.
***
Di luar sekolah.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Beberapa siswa langsung berbisik saat melihatnya.
Dari mobil itu turun Elvan dengan jas rapi seperti biasa.
Penjaga sekolah sampai terlihat sedikit kaku.
“Selamat siang, Pak…”
Elvan hanya mengangguk pelan. Ia berdiri di dekat gerbang menunggu.
Beberapa siswi langsung berbisik kagum. “Gila… ganteng banget…”
Namun Elvan sama sekali tidak peduli. Matanya hanya melihat ke arah gedung sekolah.
Menunggu seseorang.
Dira
Dira yang berjalan keluar sambil meregangkan badan.
“Finally…”
Namun saat ia keluar gerbang—
Ia langsung berhenti. Di sana berdiri Elvan.
Dira langsung mengerutkan kening. Bahkan banyak siswi yang memperhatikan elvan , Saat ia mendekat ke tempat elvan. Siswi disana pada berbisik- bisik.
“Ngapain Om di sini?” Ia berjalan lebih dulu menuju mobil .Diikuti elvan di belakangnya.
Elvan membuka pintu mobil. “Menjemput kamu.”
Dira menyilangkan tangan. “ Bang Kenzo mana om ?”
“Rapat.”
Dira mendengus. Namun akhirnya ia tetap masuk mobil.
Begitu mobil berjalan, suasana langsung canggung.
Beberapa menit tidak ada yang bicara.
Akhirnya Dira berkata “ Om jadi traktir aku kan?.”
Elvan menjawab santai. “Kamu masih ingat ternyata ”
“Jelas harus”
“Kamu pasti sangat lapar.”
Dira langsung terdiam sebentar.
Lalu mendengus. “GR banget.”
Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
" Aku memang lapar sih…”
Elvan hampir tersenyum.
Ia mengarahkan mobil ke restoran kecil di pinggir jalan.
Dira langsung kaget. “Om serius?”
Elvan menjawab tenang. “Ya. Kamu harus makan.”
Dira mencoba menahan senyum.Namun tetap berkata dengan nada bar-bar,
“Kalau makanannya nggak enak, aku marah lagi ya om .”
Elvan akhirnya benar-benar tersenyum tipis. Ia selalu senang melihat dira bahagia walaupun karna hal kecil.
“Silakan.”
Dan untuk pertama kalinya hari itu… Dira tidak terlihat semarah tadi pagi.
.
.
.
.
.
Bersambung..........