NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Labirin Kaca dan Menara Gading

Gedung Wiratama Tower berdiri angkuh di pusat distrik bisnis Jakarta, sebuah menara kaca dan baja yang seolah hendak menusuk langit. Bagi Hana, melangkah masuk ke lobi gedung ini terasa seperti memasuki dimensi lain. Lantai marmernya begitu mengkilap hingga Hana bisa melihat pantulan wajahnya yang lelah namun penuh tekad. Bau kopi mahal dan aroma parfum kelas atas memenuhi udara, sangat kontras dengan bau asap dapur atau sisa cucian piring yang selama lima tahun ini menjadi "parfum" setianya.

Hana merapikan blazer hitamnya—satu-satunya pakaian formal yang ia beli dengan sisa bonus dari Pak Baskoro. Ia tahu, di tempat seperti ini, penampilan adalah perisai sekaligus senjata.

"Nona Hana Anindita? Silakan, Mr. Adrian sudah menunggu di lantai tiga puluh lima," ucap resepsionis dengan senyum yang dipoles sempurna namun matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.

Saat lift bergerak naik dengan kecepatan yang membuat telinga berdenging, Hana menggenggam tali tasnya erat-alih. Ia teringat kejadian semalam. Gilang sempat mengigau dalam tidurnya, memanggil nama ayahnya dengan ketakutan. Kejadian penjemputan paksa itu meninggalkan trauma yang dalam. Hana bersumpah, ia harus sukses di sini. Bukan hanya untuk uang, tapi untuk membangun benteng yang cukup tinggi agar Aris tidak bisa lagi menyentuh kehidupan mereka.

Pintu lift terbuka, menyuguhkan pemandangan kantor open space yang sangat modern. Namun, sambutan hangat bukanlah hal yang Hana temukan. Di depan ruangan Adrian, seorang wanita cantik dengan riasan tajam dan pakaian desainer berdiri menghalangi jalan.

"Jadi, Anda 'anak emas' baru yang dibawa Pak Baskoro?" tanya wanita itu sambil melipat tangan di dada. Namanya Sandra, sekretaris senior Adrian yang sudah merasa memiliki otoritas penuh di lantai ini. "Mr. Adrian sedang rapat. Anda bisa menunggu di kursi pojok sana. Jangan menyentuh apa pun, dokumen di sini bukan untuk sembarang orang."

Hana menatap Sandra dengan tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi wanita seperti Ibu Salma dan Maya yang berbisa, jadi ancaman halus seperti Sandra tidak membuatnya gentar. "Saya di sini untuk bekerja, bukan untuk menyentuh barang-barang yang bukan urusan saya. Dan Mr. Adrian yang meminta saya datang tepat pukul delapan. Jika dia rapat, saya akan menunggu dengan cara yang profesional."

Hana duduk, membuka buku catatan kecilnya, dan mulai memeriksa kembali poin-poin audit yang sempat ia kerjakan semalam. Ia tidak membuang waktu satu detik pun untuk merasa terintimidasi.

Di belahan kota yang lain, suasana di rumah Aris jauh dari kata profesional. Rumah itu kini terasa seperti penjara yang pengap. Ibu Salma terbaring di sofa dengan kompres di dahi, terus-menerus merintih sambil meratapi nasibnya.

"Mana Aris? Mana kakakmu, Maya?!" seru Ibu Salma dengan suara lemah.

"Mas Aris lagi di kantor polisi, Bu! Kan tadi pagi ada orang berseragam datang bawa surat!" jawab Maya dengan nada tinggi. Ia sedang sibuk menyetrika bajunya sendiri—sebuah pekerjaan yang biasanya dilakukan Hana dan kini membuatnya sangat emosi karena ia tidak tahu cara mengatur panas setrika hingga bajunya sedikit terbakar.

"Gara-gara Hana... ini semua gara-gara perempuan itu! Dia tega melaporkan suaminya sendiri! Dia mau kita semua mati kelaparan!" Ibu Salma mulai menangis histeris.

"Ibu juga sih! Kenapa dulu uang bonus Mas Aris malah dipakai buat beli keramik mahal? Kalau sekarang Mas Aris dipenjara, siapa yang mau bayar cicilan kuliah Maya? Siapa yang mau kasih Maya uang jajan?" Maya justru berbalik menyalahkan ibunya.

"Kamu anak tidak tahu diuntung! Kamu yang minta tas baru, kamu yang minta ponsel baru! Sekarang kamu malah menyalahkan Ibu?!"

Perdebatan itu terus berlanjut, semakin panas, mengisi rumah yang kini berantakan itu dengan energi negatif. Mereka tidak sadar bahwa kehancuran mereka bukan karena laporan Hana, melainkan karena pondasi keluarga mereka yang memang sudah rapuh oleh ego dan keserakahan. Aris, di kantor polisi, sedang duduk dengan tangan gemetar, mencoba menghubungi semua temannya untuk meminjam uang, namun satu per satu nomornya diblokir. Kabar bahwa ia "bermain" di proyek Pak Baskoro sudah menyebar di kalangan kontraktor.

Kembali ke kantor Adrian, Hana akhirnya dipanggil masuk. Ruangan Adrian sangat luas dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan Jakarta dari ketinggian.

"Duduk, Hana," perintah Adrian tanpa menoleh dari komputernya. "Sandra sudah memberimu berkas proyek Grand Emerald?"

"Belum, Mr. Adrian. Tadi Miss Sandra meminta saya menunggu."

Adrian menghentikan aktivitasnya, menatap Hana dengan tajam, lalu menekan interkom. "Sandra, bawa berkas Grand Emerald sekarang. Dan jangan biarkan ego pribadimu menghambat alur kerja kantorku lagi."

Wajah Sandra merah padam saat ia masuk dan meletakkan dokumen tebal di depan Hana. Begitu Sandra keluar, Adrian menatap Hana. "Di sini, orang akan mencarimu bukan karena mereka menyukaimu, tapi karena mereka butuh kemampuanmu. Saya butuh kamu menemukan di mana kebocoran dana tiga miliar di proyek ini. Kamu punya waktu empat puluh delapan jam sebelum rapat pemegang saham."

Tiga miliar. Angka itu membuat jantung Hana berdegup, tapi matanya justru berbinar. Ini adalah tantangan yang ia butuhkan.

Hana bekerja tanpa henti. Ia tidak peduli pada bisik-bisik karyawan lain saat jam makan siang. Ia tidak peduli pada Sandra yang sengaja menumpahkan kopi sedikit di dekat berkasnya. Hana tenggelam dalam angka-angka. Ia melihat pola yang sama seperti di kantor Pak Baskoro, namun dengan skala yang jauh lebih besar dan melibatkan perusahaan-perusahaan cangkang yang rumit.

Menjelang pukul tujuh malam, kantor sudah mulai sepi. Hana masih di mejanya, matanya mulai perih oleh cahaya monitor. Tiba-tiba, sebotol air mineral dan sebungkus makanan diletakkan di samping laptopnya.

Hana mendongak. Adrian berdiri di sana, jasnya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung hingga siku.

"Makan dulu. Otakmu tidak akan bisa menghitung kalau perutmu kosong," ucap Adrian datar.

"Terima kasih, Mr. Adrian. Saya hampir selesai dengan pola pertama," jawab Hana sambil mencoba tersenyum tipis.

Adrian duduk di kursi di depan meja Hana, memperhatikan wanita itu. "Kamu tahu, Hana... Pak Baskoro bilang kamu adalah orang paling sabar yang pernah dia kenal. Tapi saya melihat sesuatu yang lain di matamu. Itu bukan sabar, itu adalah kemarahan yang dikelola dengan sangat baik."

Hana terdiam sebentar, lalu menutup laptopnya perlahan. "Sabar itu ada batasnya, Mr. Adrian. Saat batas itu dilewati, yang tersisa hanyalah kalkulasi. Saya tidak marah secara meledak-ledak. Saya hanya sedang menghitung kapan waktu yang tepat untuk menjatuhkan semua beban ini pada tempat yang seharusnya."

Adrian mengangguk perlahan. "Bagus. Karena di dunia ini, orang baik seringkali kalah. Tapi orang yang teliti dan berdarah dingin... mereka yang akan bertahan."

Saat Hana hendak pulang, ponselnya berdering. Itu panggilan dari Aris. Hana awalnya ingin mengabaikannya, namun ia tahu Aris tidak akan berhenti jika tidak diangkat.

"Apa lagi, Aris?" tanya Hana dingin saat ia berdiri di lobi gedung yang sepi.

"Hana... tolong aku. Polisi bilang aku bisa ditahan kalau Pak Baskoro tidak mencabut laporannya. Aku sudah coba pinjam uang, tapi tidak ada yang kasih. Tolong bicara pada Pak Baskoro, Han... demi Gilang. Kamu tidak mau kan anak kita punya ayah seorang narapidana?" suara Aris terdengar pecah, memelas, namun Hana tahu itu hanyalah taktik manipulasi.

"Kamu memikirkan Gilang saat kamu mengambil uang itu? Kamu memikirkan Gilang saat kamu membiarkannya menangis di rumah ibumu kemarin?" Hana menjawab dengan suara yang bergetar karena emosi. "Jangan gunakan anakku sebagai tameng atas kebusukanmu, Aris. Kamu yang menanam, kamu yang menuai. Jangan pernah telepon aku lagi."

Hana mematikan ponselnya. Ia melangkah keluar dari gedung, disambut oleh udara malam Jakarta yang dingin. Ia merasa lelah, sangat lelah, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya.

Hana naik ke dalam bus, menyandarkan kepalanya di jendela. Di pikirannya, ia sudah menyusun strategi untuk rapat besok. Ia akan membuktikan bahwa ia bukan sekadar "wanita simpanan" atau "orang titipan" seperti yang dituduhkan Sandra. Ia adalah Hana Anindita, dan dunia akan segera tahu itu.

Sementara itu, di rumahnya, Aris menatap surat panggilan polisi dengan tatapan kosong. Di lantai atas, Ibu Salma merintih kesakitan karena darah tingginya naik, sementara Maya sibuk mengepak baju, berniat mengungsi ke rumah temannya karena tidak tahan dengan suasana rumah yang seperti neraka. Keluarga itu mulai hancur dari dalam, tepat saat Hana mulai bersinar di atas menara gadingnya.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!