NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:56.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Usai azan magrib berkumandang, Kyara berganti baju, lalu ia kembali duduk di atas ranjang sambil menatap layar hp-nya. Jemarinya bergerak lincah di atas layar. Ide yang sejak siang berputar-putar di kepalanya kini seperti menemukan jalannya sendiri.

Satu paragraf selesai. Lalu paragraf berikutnya.

Kyara menuliskan setiap adegan dengan hati-hati, dan penuh penghayatan, karena ia merasakan semuanya. Cerita ini adalah kisahnya.

Kadang ia berhenti sejenak, menatap layar, lalu kembali mengetik. Tanpa terasa waktu berlalu cepat. Ketika akhirnya Kyara meregangkan tubuhnya dan melirik jam di sudut layar, ia terkejut sendiri. "Lima bab," gumamnya pelan. Ia membaca kembali judul bab terakhir yang baru saja selesai ditulis.

Ada rasa puas yang hangat mengalir di dadanya. Sudah lama ia tidak merasa seproduktif ini.

Kyara keluar dari aplikasi My Story, "Lumayan," bisiknya pada diri sendiri. "Sudah waktunya menyiapkan makan malam." Kyara berdiri dari atas tempat tidur, merapikan sedikit dasternya, lalu berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menuju lantai satu.

Seperti biasa, dapur rumah itu selalu sunyi. Kyara mengikat rambutnya dengan cepat, lalu mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Daging ayam, brokoli, ikan gurame, juga cabai dan bumbu-bumbu lainnya.

Tak lama kemudian suara minyak panas mulai terdengar dari wajan. Kyara bekerja dengan cekatan. Memotong bawang, menumis bumbu, lalu membalik ikan yang sedang digoreng. Aroma masakan perlahan memenuhi dapur.

Saat ia sedang mengiris cabai untuk sambal, langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Dini muncul di ambang pintu dapur.

Adik iparnya itu terlihat sangat lelah. Tanpa banyak bicara, Dini langsung membuka kulkas. Botol air dingin diambilnya, lalu ia meneguknya beberapa kali dengan lega.

Kyara melirik sekilas. Namun tatapan itu membuat pikirannya tiba-tiba melayang ke kejadian siang tadi. Saat ia keluar dari salon dan matanya tanpa sengaja menangkap sosok Dini yang bergandengan tangan mesra dengan Pak Lurah keluar dari motel, serta lelaki itu yang mengecup kening Dini.

Ingatan itu membuat jari Kyara berhenti sesaat di atas talenan. "Masak apa, Kak?" Suara Dini tiba-tiba memecah lamunannya.

Kyara sedikit tersentak. "Eh-" Ia berdeham kecil, lalu kembali melanjutkan memotong cabai. "Masak ayam lada hitam, tumis brokoli, sama gurame goreng. Sambal juga."

"Oh." Dini mengangguk santai, seolah tidak ada yang aneh. "Oke deh. Yang enak ya, Kak." Kyara hanya tersenyum tipis. Dini menutup kembali pintu kulkas, lalu mengusap sedikit bibirnya dengan punggung tangan. "Aku ke atas dulu ya. Capek banget ih ... habis kuliah seharian."

Gadis itu sudah berbalik dan berjalan keluar dapur sebelum Kyara sempat menjawab. Langkah kakinya menghilang di tangga.

Dapur kembali sunyi. Kyara masih berdiri di depan talenan, pisau di tangannya bergerak pelan memotong cabai terakhir. "Kuliah ..." bisiknya pelan. Sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi bukan senyuman yang hangat. "Kuliah di motel sama Pak Lurah," lanjutnya dalam hati.

Kyara menghela napas panjang. "Dini masih muda, kuliahnya bahkan baru mulai. Namun sikapnya sudah begitu berani bermain api dengan lelaki yang jelas-jelas sudah punya keluarga dan sudah tua." Minyak di wajan tiba-tiba meletup kecil. Kyara tersadar dari pikirannya dan segera membalik ikan gurame yang hampir terlalu matang. Aroma gurih langsung memenuhi dapur.

Ia mencoba kembali fokus pada masakannya, meski bayangan siang tadi masih terlintas di kepalanya. Kyara hanya bisa menggeleng pelan. "Stop memikirkan Dini." Kemudian wanita berdaster merah marun itu kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Setelah hampir empat puluh menit, akhirnya kegiatan memasak itu usai. Kyara menuangkan saus lada hitam ke atas potongan ayam. "Alhamdulillah ... beres juga," gumamnya. Bersamaan dengan itu, langkah kaki terdengar mendekat ke dapur. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

Langkah itu berat, khas milik Hesti.

Beberapa detik kemudian, wanita paruh baya itu muncul di ambang pintu dapur. Tangannya menyilang di dada, matanya langsung menyapu ruangan sebelum berhenti pada Kyara yang berdiri di depan kompor. "Kya," panggilnya.

Kyara menoleh sebentar. "Iya, Ma?"

Hesti melangkah masuk beberapa langkah, lalu bertanya dengan nada datar. "Suamimu ke mana?"

Kyara tetap fokus mencuci wajan bekas menggoreng sambal. Seolah pertanyaan itu tidak terlalu penting baginya. "Mas Doni pergi ke rumah temannya, Ma," jawabnya santai. "Katanya dia akan pulang malam."

"Oh." Hesti menarik kursi di dekat meja makan dapur dan duduk. Tatapannya tidak lepas dari Kyara. Dari kepala sampai kaki, seakan sedang menilai sesuatu.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu alis Hesti sedikit terangkat. "Kya, daster kamu baru ya?"

Kyara otomatis menunduk, melihat pakaian yang ia kenakan. Daster berwarna merah marun dengan motif bunga kecil itu memang baru dibelinya siang tadi. Ia mengangkat wajah lagi. "Iya, Ma," jawabnya ringan. "Uang dari Mas Doni tadi malam, aku beliin daster dan beberapa potong baju sama keperluan lainnya." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada seolah biasa saja. "Aku tadi siang juga pergi ke salon."

Wajah Hesti langsung berubah sedikit kaku. "Salon?" ulangnya.

Kyara mengangguk kecil. "Iya, Ma. Potong rambut sedikit sama perawatan wajah."

Beberapa detik dapur kembali sunyi. Lalu suara Hesti terdengar, kali ini lebih tajam. "Jadi istri tuh jangan boros!" Kyara tidak langsung menoleh. "Kalau dikasih uang sama suami itu disimpan," lanjut Hesti dengan nada menggurui. "Bukan dihambur-hamburkan begitu saja."

Kyara mengangkat alis tipis, tapi punggungnya masih menghadap ke arah mertuanya. Ia mematikan keran air, lalu mengelap tangannya dengan serbet sebelum akhirnya menjawab. "Tapi Mas Doni baru ngasih uang nafkah lagi setelah lima tahun, Ma." Kalimat itu keluar tenang. Tidak keras, tapi cukup jelas. "Jadi wajar dong kalau aku belanjakan." Kyara akhirnya menoleh. Wajahnya terlihat biasa saja, bahkan ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya. Namun kata-katanya seperti sengaja ditusukkan tepat ke arah Hesti.

Di kursinya, tangan Hesti langsung mengepal. Rahangnya mengeras. Giginya bergertakan pelan karena menahan emosi. Ia menatap Kyara dengan tajam, seolah ingin memaki habis-habisan. Tapi di saat yang sama, ia juga tahu jika ia sekarang sedang berpura-pura baik. Belum waktunya ia memaki Kyara lagi. "Ihh ... dasar menantu pembangkang," geramnya dalam hati. Tatapannya semakin dingin. "Awas kau, Kya," lanjutnya dalam batin yang penuh amarah. "Sebentar lagi kau akan diceraikan oleh anakku!"

Sementara itu, Kyara kembali membalik badan ke arah kompor. Ia memindahkan ayam lada hitam ke dalam piring saji, lalu menata brokoli tumis di sampingnya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal di balik sikap tenangnya, Kyara tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Ia sedang memancing emosi mertuanya. Dan entah kenapa, melihat Hesti tidak bisa membalas dengan bebas justru memberi kepuasan kecil di hatinya.

Dapur kembali dipenuhi aroma masakan. Kyara mulai menata semua masakan di atas meja ... ayam lada hitam, tumis brokoli, gurame goreng, dan sambal di mangkuk kecil. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan.

Hesti duduk di kursi ujung meja, sementara Dini di sebelah kanannya. Kyara sendiri duduk berhadapan dengan mereka.

Awalnya makan malam berlangsung tenang. Hanya suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.

Dini terlihat makan dengan cepat, seolah benar-benar lapar setelah seharian "kuliah". Sesekali ia meneguk air putih di gelasnya.

Kyara memperhatikannya diam-diam.

Tatapannya sempat berhenti di leher Dini. Sudut bibir Kyara sedikit terangkat. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Beberapa menit kemudian, Hesti yang sejak tadi makan sambil sesekali melirik anak bungsunya tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya menyipit. "Din ..."

Dini yang sedang mengambil brokoli langsung menoleh. "Iya, Ma?"

Hesti mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap leher anaknya dengan lebih jelas. "Itu leher kamu kenapa merah begitu?"

Seketika suasana meja makan berubah.

Refleks Dini langsung menyentuh lehernya. Begitu ujung jarinya meraba bagian kulit yang dimaksud, wajahnya langsung berubah pucat pasi. "Ha?" Dini tertawa kaku. "Ini ... itu ... tadi digigit serangga, Ma. Kayak tomcat gitu. Perih ih, gatel. Makanya aku garuk dan eh ... jadi merah gini deh."

Hesti tak lantas menanggapi. Matanya masih meneliti dengan alis yang saling bertaut. "Tapi itu kok kayak cupang?" celetuknya dan berhasil membuat tubuh Dini menegang.

1
Anonim
Lanjut up thor
Yuni Ngsih
Kiaraaaa kamu jangan diam aza betul lawan laki" dzolim ky gitu cepet bereskan bjumu kwluar dari Rumak laknat itu biar tau rasa ,....klw kamu dah keluar dari situ smg pelangi kehidupanmu muncul ...ih Thor ku ngenes ya dasar Ceritramu nih bgs banget jd bikin ku yg baca emozi ...
Evi Lusiana
lah si nayla blom tahu siapa kama
Ama Apr: belum kk🤣
total 1 replies
Evi Lusiana
lucu x y,abis ngadain pesta pernikahan mewah trs d ciduk polisi
Ama Apr: wkwkwk nggak jd bahagia🤣
total 1 replies
Evi Lusiana
nayla angkuhny minta ampun,tr abs nikah scr megah mewah,trs suaminy d ciduk sbg koruptor dan brg² mewahny di sita,mampus
Ama Apr: hahaa mkn tuh kemewahan
total 1 replies
Evi Lusiana
bnr² kluarga bejat
Ama Apr: nah kan
total 1 replies
Anonim
emang pasangan terkontol dan terMMQ
Ama Apr: aduh sadis🤣
total 1 replies
Evi Lusiana
dipikir doni para atasan ny org bodoh kali,milyaran kok d anggep kcil dasar tikus berdasi
Ama Apr: begitulah kk klo udah gelap mata
total 1 replies
Laila Amilia
si doni duit dari mana paling juga duit hasil korupsi, buat nayala sama somi orang yang kerjaan, y iri sama sirik tanda tak mampu
Ama Apr: wkwkwk emang hsil nyolong dia
total 1 replies
Evi Lusiana
kk ny mo jd koruptor,adekny mo bundir
Ama Apr: kluarga ripuh ye
total 1 replies
Evi Lusiana
selingkuh bearti sm² mau,giliran ketahuan blg ny khilaf lah,d jebak lah kelakuan mnsia² tk puny iman
Ama Apr: iya, dan itu penyakit kronis y kk
total 1 replies
Evi Lusiana
tmbh video bertemuny bu hesti sm org sruhan ny si wildan,yg sdh memfitnah kyara berzina
Ama Apr: nanti diup lagi sm kama duarr
total 1 replies
Evi Lusiana
awal perang dunia kelima kt kama
Ama Apr: hahahah
total 1 replies
Evi Lusiana
beruntung kyara lepas dr pecundang dpt lelaki yg meratukan
Ama Apr: aamiin, selalu ada terang setelah kegelapan🥹
total 1 replies
Evi Lusiana
demi jalang matre,doni mk jd koruptor
Ama Apr: demi memenuhi keinginan selengki an🤭
total 1 replies
Evi Lusiana
kapok lo doni mbuang berlian demi krikil matre,blom karma yg datang
Ama Apr: wkwkwk betul
total 1 replies
Evi Lusiana
doni blom ngrasain yg nmany karma y
Evi Lusiana
itukan dini ipar lucnut mu kya
Evi Lusiana
sebodoh itukah kyara,10 thn d perlakukan sperti itu mau aj,cinta boleh bodoh jangan
Evi Lusiana
10 thn,klo aku mah setahun 2 thn aj udh lgsg gugat cerai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!