NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Menuju McD

## Bab 33: Menuju McD

Keluar dari lobi Irian Kisaran terasa seperti melangkah kembali ke dalam oven raksasa yang lupa dimatikan. Udara panas Sumatera Utara langsung menyergap, membuat kelembapan yang tadi hilang di bawah AC mall (Bab 26) kini kembali merayap di sela-sela kemeja flanel Rafi. Namun, fokus Rafi tidak terganggu. Matanya tertuju pada sebuah bangunan dengan atap merah ikonik dan logo huruf 'M' besar yang berdiri kokoh di seberang area parkir.

McDonald's. Bagi banyak orang di kota besar, ini mungkin hanya tempat makan cepat saji biasa. Tapi bagi Rafi, ini adalah "Medan Pertempuran Tahap Dua".

"Ramai ya, Fi," gumam Nisa sambil memicingkan mata menembus silau matahari yang memantul dari kaca-kaca mobil yang terparkir.

"Iya, tapi biasanya kalau jam tanggung begini ada saja meja yang kosong," sahut Rafi. Ia sengaja mempercepat langkahnya sedikit, namun tetap menjaga agar Nisa tidak tertinggal. Secara taktis, ia harus sampai di depan pintu masuk lebih dulu untuk membukakan pintu—sebuah protokol kesopanan yang ia pelajari dari novel-novel romansa yang sering ia baca secara sembunyi-sembunyi.

Mereka menyeberangi aspal parkiran yang mengeluarkan hawa panas. Rafi bisa merasakan sol sepatunya yang tadi ia perbaiki dengan Alteco (Bab 3) sedikit melunak karena suhu permukaan jalan. Ia berdoa dalam hati agar lem itu tidak menyerah sekarang. Kehilangan sol sepatu di depan pintu McD akan menjadi tragedi sosiologis yang tak termaafkan bagi citra dirinya.

Begitu sampai di depan pintu kaca McD, udara dingin kembali menyambut. Kali ini aromanya berbeda; bukan lagi wangi pinus mall, melainkan aroma gurih kentang goreng dan minyak panas yang menggugah selera. Rafi tidak langsung menuju kasir. Ia berhenti sejenak di dekat area pemesanan mandiri (*kiosk*), matanya menyapu seluruh ruangan dengan ketajaman seorang pengintai.

Ia sedang menjalankan misi "Strategi Pemilihan Kursi".

Secara analitis, ruangan ini terbagi menjadi beberapa zona. Ada zona dekat pintu masuk yang terlalu bising karena arus orang keluar-masuk. Ada zona tengah yang dikuasai oleh anak-anak kecil yang berteriak meminta mainan *Happy Meal*. Dan ada zona pojok, dekat jendela besar yang menghadap ke arah jalan raya, yang biasanya lebih tenang.

*Pojok kanan, dekat pilar,* batin Rafi setelah melakukan pemindaian selama lima detik.

Tempat itu strategis. Pilar tersebut memberikan privasi visual dari arah kasir, sementara jendela di sampingnya memberikan pencahayaan alami yang bagus—sebuah detail penting jika Nisa ingin mengambil foto nanti (Bab 38). Yang paling utama, jarak antar meja di sana sedikit lebih lebar, memungkinkan mereka untuk mengobrol tanpa harus berteriak melawan suara mesin es krim atau tangisan bayi.

"Nis, kamu duduk di sana dulu ya, biar nggak diambil orang. Meja yang dekat jendela itu," ujar Rafi sambil menunjuk ke arah targetnya.

"Nggak apa-apa aku duduk duluan, Fi? Nggak pesan dulu?" tanya Nisa ragu.

"Nggak apa-apa. Biar tas kita ada tempatnya juga. Kamu tunggu di situ, nanti aku ke kasir," jawab Rafi dengan nada yang ia buat semantap mungkin. Ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang memiliki rencana, bukan remaja linglung yang kebingungan mencari tempat duduk sambil membawa nampan penuh makanan.

Nisa menurut. Rafi memperhatikannya berjalan menuju meja tersebut. Begitu Nisa meletakkan tasnya dan duduk, Rafi merasakan sebuah kemenangan logistik. Kursi sudah diamankan. Sekarang, tinggal masalah logistik keuangan yang sesungguhnya.

Rafi berdiri di antrean kasir. Ia melihat papan menu digital yang berganti-ganti di atas kepala para staf berbaju merah. Matanya langsung mencari harga, bukan gambar.

*Paket Panas 2: Rp...*

*Paket Hemat Burger: Rp...*

Secara skeptis, Rafi memperhatikan bagaimana harga yang tertera belum termasuk pajak 10%. Di kepalanya, ia segera menambahkan 10% ke setiap angka yang ia lihat. Jika harga tertera Rp35.000, maka aslinya adalah Rp38.500. Kesalahan dalam menghitung pajak ini sering kali menjadi penyebab hancurnya anggaran remaja SMA yang hanya membawa uang pas.

Ia meraba uang dua puluh ribu rupiah yang tadi ia simpan di saku depan (kembalian dari Bab 27). Uang itu akan menjadi "pelapis" jika perhitungannya meleset. Sementara itu, dompet di saku belakangnya terasa panas, seolah menuntut untuk segera dikeluarkan dan dikuras isinya.

Sambil menunggu antrean, Rafi kembali melirik ke arah Nisa. Gadis itu sedang melihat ke luar jendela, menatap arus lalu lintas Kisaran yang mulai padat. Sinar matahari siang menyentuh sisi wajahnya, memberikan siluet yang menurut Rafi sangat estetik. Ia merasa puas. Strategi pemilihan kursinya berhasil. Nisa tampak nyaman.

Namun, rasa haus yang tadi menyerang di Bab 32 kembali mengingatkannya. Tenggorokannya benar-benar kering. Ia membayangkan rasa dingin dari minuman soda yang penuh dengan es batu.

*Satu menit lagi, Rafi. Jangan pingsan dulu sebelum bayar,* batinnya menghibur diri sendiri.

Antrean di depannya tersisa satu orang lagi. Seorang ibu dengan tiga anak yang memesan banyak sekali menu, membuat kasir sibuk mengetik dan menyiapkan nampan. Rafi menggunakan waktu tunggu ini untuk memantapkan pesanannya. Ia sudah memutuskan: Nisa harus mendapatkan menu yang layak, sementara ia akan melakukan "efisiensi" pada pesanannya sendiri (Bab 34).

Ia tidak boleh terlihat pelit, tapi ia juga tidak boleh bangkrut sebelum sampai ke Terminal Tanjungbalai (Bab 43). Ini adalah keseimbangan matematis yang lebih rumit daripada soal Kalkulus di sekolah.

"Selamat siang, mau pesan apa?" suara kasir memecah lamunan Rafi.

Rafi menarik napas panjang, menegakkan bahunya, dan melangkah maju. Ini adalah saat di mana ia akan menukar hasil jerih payahnya selama sebulan dengan selembar struk kertas dan dua nampan makanan yang akan menentukan atmosfer kencannya hari ini.

Rafi berdiri di depan kasir, siap melakukan transaksi paling krusial dalam kencannya, sementara Nisa menunggunya di meja pojok yang telah ia pilih dengan penuh pertimbangan strategis.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!