Qing Lizi, seorang yatim piatu berprofesi sebagai dokter militer genius yang menguasai banyak hal. Selain cantik, ia juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya.
Gadis berusia 30 tahun yang gemar akan tantangan, memilih bergabung dengan pasukan militer negara setelah mendapat lisensi kedokterannya.
Saking geniusnya, Qing Lizi sudah meraih gelar dokter specialis diusia dua puluh empat tahun.
Kariernya berjalan mulus, bermacam misi telah ia jalani, hidup mapan, banyak teman, digandrungi puluhan pria.
Sayangnya Qing Lizi tak berumur panjang. Ia harus kehilangan nyawa saat bertugas dinegara berkonflik bersama tentara perdamaian.
Namun bukannya pergi kesurga atau neraka, jiwa Qing Lizi malah pindah keabad kuno, menempati tubuh seorang gadis berusia sepuluh tahun.
Suatu hari, Qing Lizi mendapat anugerah sebuah cicin ajaib yang memberinya banyak keutungan.
Bagaimanakah kisah perjalanan Qing Lizi dikehidupan keduanya ini..?
Apa fungsi cincin ajaib yang melingkar dijari manis Qing Lizi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehebohan diDesa Zitan
Kerumunan bubar, namun ratusan pasang mata masih menatap tiga sekawan dan Xuan Fang secara bergantian, meski pun mereka sudah menjauh pergi.
Dilantai dua paviliun Nuwa, dari balik jendela kertas yang sedikit terbuka. Wang Jun, Shui sang pengawal dan manager Lu melepas kepergian tiga sekawan dengan tatapan rumit.
"Bagaimana soal penyelidikan kemarin..?" tanya Wang Jun.
"Mereka bertiga pergi kearah desa Zitan tuan muda..! tapi, jika dilihat dari perawakan, sepertinya tiga orang barusan adalah mereka." jawab Shui.
Wang Jun manggut-manggut, bibirnya menyeringai, netra elangnya berkilat tajam.
"Ikuti terus mereka. Jika ada sesuatu yang menarik, segera beritahu aku."
"Baik tuan muda...!"
Kemarin, Wang Jun untung besar. Cermin kacanya habis terjual, dibeli oleh ibu suri, permaisuri, selir agung dan tuan putri pertama, dengan harga lima ratus tahil per biji.
Satu cermin dan lima lilin ia simpan untuk diri sendiri.
Sedangkan lima belas batang lilin lebah lainnya, diborong oleh Kaisar dengan harga satuan lima tahil.
Oleh sebab itu, Wang Jun terobsesi pada tiga sekawan dan ingin menjadikan mereka sekutu.
Tapi sepertinya sekarang pemikiran pemuda itu beda lagi, setelah melihat kemampuan medis Qing Lizi.
Sementara itu tiga sekawan baru saja duduk dikedai mie.
"Kakak Feng tahu keluarga Xuan..?" bisik Qing Lizi.
Huang Feng mencondongkan kepala kedepan, Lizi dan Jiayi kontan meniru.
"Xuan Fang putra bungsu Walikota Xuan, pemilik Jiao Tong, peternakan dan juga perkebunan terbesar diNanmu."
"Apa mereka yang kakak Feng maksud itu, untuk menjual gula..?"
"Mereka bisa, tapi yang aku maksud keluarga Adipati Wei atau Marquis Yang."
Bibir Qing Lizi berkedut. Ia tidak bisa menggali informasi apa pun dari pemilik tubuh asli.
Ck, benar-benar gadis lemah tak bergaul. Dibenaknya hanya ada keinginan sembuh, kasih sayang untuk keluarga dan kedua sahabatnya, serta bermain juga makan enak sampai kenyang.
"Pemilik Jiao Tong ya..?" gumam Jiayi berpikir, lalu menatap Lizi memicing.
"Selain tanghulu, saus pedas, apa yang bisa kau buat lagi..? yang langka. Kalau perlu yang tidak ada diHongcu."
Bibir Qing Lizi terlipat, bergerak menyan-menyon kesana-kemari. "banyak, memangnya kenapa..?"
"Kita harus membuat sesuatu yang menarik, lalu tawarkan keJiao Tong. Dengan begitu, peluang kita untuk memasarkan gula akan lebih mudah."
Qing Lizi dan Huang Feng bertukar tatapan, sedetik kemudian tersenyum bersama, lalu mencubit gemas pipi Jang Jiayi.
"Ide bagus...!" seru Feng dan Lizi bebarengan.
"Yaa, kalian ini..!" seru Jiayi menepis tangan kedua sahabatnya.
Lain halnya cerita didesa Zitan sekarang. Semua penduduknya gempar bergosip, begitu melihat iring-iringan gerobak pengangkut material bangunan.
Terlebih saat berhenti didepan rumah keluarga Qing, Jang dan Huang.
Tadi selepas makan siang, paman dan bibi Huang, Jang dan Qing Jia serta nenek Mei pergi kerumah kepala desa, meminta bantuan untuk mencarikan pekerja bangunan.
Sebenarnya bisa saja mereka mencari diIbukota, tapi rasanya tak elok jika didesa sendiri saja banyak penduduknya yang membutuhkan pekerjaan.
Lima puluh wen sehari tanpa makan, upah bagi buruh bangunan yang ditawarkan ketiga keluarga.
Kepala desa pun menyanggupi, mengumpulkan warganya yang bersedia bekerja.
Paman-bibi Huang terjingkat, melihat material bangunan yang sangat banyak. Begitu juga dengan paman-bibi Jang.
Makin kaget lagi saat pelunasan, mereka cuma membayar dua puluh lima tahil.
Pembangunan akan dimulai lusa secara serempak dengan memperkerjakan masing-masing buruh lima puluh orang.
Target selesai adalah dua minggu pengerjaan.
Prak
Kendi arak hancur, serpihannya terburai dilantai. Kang Cuyan mendelik, tangannya terkepal.
Tak beda jauh dengan reaksi yang ditampilkan kakek-nenek Kang dan Jie Xie.
"Mereka membeli material banyak sekali, memperkerjakan lima puluh orang dengan upah lima puluh wen per hari, dari mana uang yang mereka punya itu.?" oceh nenek Kang menjambak rambutnya sendiri.
Begitu adanya jika hidup didesa. Jangankan memborong barang besar kelihatan mata, membeli jarum emas saja bisa langsung satu kampung tahu.
Secepat kilat, segesit hembusan angin, rumor tentang tiga keluarga diterima telinga seluruh penduduk desa.
"Tapi kenapa keluarga Huang dan Jang juga melakukan hal yang sama..?" tanya aneh kakek Kang.
"Sejak jalang sialan itu meninggalkan rumah ini, si bocah penyakitan setiap waktu bersama dengan Huang Feng dan Jang Jiayi. Pergi kehutan, berlatih beladiri, hari ini bahkan mereka keIbukota mengenakan pakaian bagus." Jie Xie menimpali.
Wajah Kang Cuyan dan kakek Kang menghitam, kedua kornea pria berbeda generasi itu membentuk garis tipis.
"Apa yang mereka dapatkan dihutan sampai mampu membeli semua itu..?" gumam Kang Cuyan.
Kakek Kang spontan berdecih "kau bilang mau menyuruh seseorang untuk menyelidiki mereka..? kenapa malah bertanya..?"
Rahang Kang Cuyan melemas, ia menghela nafas jengah.
"Orang suruhanku hanya mengatakan mereka pergi keIbukota tadi pagi setelah berlatih beladiri dan entah membuat apa dirumah keluarga Qing."
"Lebih baik kau pergi selidiki sendiri, dari pada menghamburkan uang untuk orang yang cuma bisa memberikan informasi tidak berguna begitu." sengit kakek Kang kesal.
Kang Cuyan melirik malas sang ayah. Meski enggan patuh, namun pada akhirnya ia pergi juga.
Dengan tangan saling mengait dibalik punggung, dagu terangkat pongah, Kang Cuyan menyusuri jalanan desa.
Langkah demi langkah ia jejakkan pelan ditanah berbatu, telinganya terpasang waspada. Hingga tak terasa sudah ia sampai diujung jalan menuju rumah keluarga Qing.
Dari tempatnya berdiri, Kang Cuyan dapat melihat dengan jelas mantan istrinya Qing Jia.
Wanita itu tengah berbincang bersama bibi Huang dan bibi Jang.
Bola mata Kang Cuyan membeliak, mulutnya ternganga lebar. Mantan istrinya kenapa terlihat berbeda dari lima hari lalu saat ia ceraikan.
Wajah kusamnya tak ada lagi, rambut kusutnya kini rapi berkilau dihiasi tusuk konde giok. Gaun ungu tua berbahan katun halus dengan sulaman membentuk bunga lotus, membalut manis tubuhnya yang sedikit berisi.
"Itu-----
Lirih terputus Kang Cuyan. Otaknya berkerja keras.
Ramuan kecantikan apa yang dikonsumsi mantan istrinya itu, dan berapa pula harganya sampai bisa membuat perubahan drastis dalam waktu lima hari.
Pupil kornea Kang Cuyan bergeser kehalaman rumah keluarga Qing, dimana bata dan genting adobe menumpuk tinggi.
Ludah pahit pria itu teguk, berdehem serak guna menyingkirkan kotoran yang menyumbat tenggorokannya.
"Tidak bisa, ini tidak masuk akal." rancu Kang Cuyan berbalik pulang.
Disepanjang jalan bibir pria itu terus komat-kamit dengan wajah linglung. Tinjunya terkepal dibalik lengan baju, menciptakan titik merah menusuk.
Kelebatan bayangan senyum ranum Qing Jia mengusik mata Kang Cuyan.
Senyum bahagia yang sudah lama tak pernah ditunjukkan padanya.
Senyum yang hanya ada pada saat awal-awal pernikahan saja.
"Sialan, kau tidak boleh tersenyum begitu. Tidak, aku tidak akan membiarkanmu tersenyum tanpaku." oceh geram Kang Cuyan dengan mata gelap berselimut dengki.