Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bom Waktu dan Anacaman Terakhir
Matahari mulai meninggi, namun suasana di dalam mansion utama keluarga Renfred justru terasa semakin mencekam. Jerome melangkah menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja ayahnya dengan langkah yang bergema di atas lantai marmer. Di tangannya, sebuah flashdisk hitam digenggam erat—benda kecil yang akan menjadi eksekutor bagi masa depan Aiden.
Begitu pintu ruang kerja terbuka, aroma cerutu yang pekat langsung menyambutnya. Tuan Besar Renfred duduk di balik meja ek, menatap layar televisi yang masih menampilkan wajah Serena yang sedang bersandiwara.
"Kau lihat ini, Jerome?" suara Tuan Besar terdengar parau dan penuh kekecewaan. "Seluruh kota menertawakan kita. Cucu tertuaku dikhianati oleh pamannya sendiri. Kau ingin aku membiarkan skandal ini menghancurkan harga diri keluarga?"
Jerome menarik kursi di hadapan ayahnya tanpa menunggu dipersilakan. Ia meletakkan flashdisk itu di atas meja dengan dentuman pelan. "Ayah terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ayah hanya melihat apa yang mereka ingin Ayah lihat."
Tuan Besar mengerutkan kening, menatap benda hitam itu dengan curiga. "Apa maksudmu?"
"Putar itu, Yah. Dan siapkan jantung Ayah untuk melihat siapa sebenarnya 'cucu kesayangan' yang sedang Ayah bela habis-habisan itu," jawab Jerome dingin.
Dengan tangan gemetar, Tuan Besar memasukkan flashdisk itu ke laptopnya. Layar mulai menampilkan rekaman CCTV yang jernih. Di sana, terlihat Aiden sedang bermesraan dengan Serena di sebuah apartemen mewah. Tidak hanya itu, kamera menangkap momen saat seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun—Hiro—berlari memeluk Aiden sambil memanggilnya 'Papa'.
Tuan Besar terbelalak. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, kini berubah pucat pasi. "Ini... ini tidak mungkin. Aiden bilang itu adalah anak dari kerabat jauh Serena."
"Aiden membohongi seluruh dunia, termasuk Ayah," desis Jerome, matanya berkilat tajam. "Dia menggunakan warisan ibunda Valerie yang dia gelapkan secara ilegal untuk membiayai gundiknya dan anak haramnya. Dia membiarkan Valerie membayar semua kerugian perusahaannya, sementara dia bersenang-senang dengan kakaknya sendiri di belakangnya."
Tuan Besar menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak seolah baru saja dipukul oleh gada besi. "Jadi... tuduhan perselingkuhan yang dilakukan Serena di televisi itu..."
"Hanya pengalihan isu agar Valerie tampak sebagai penjahatnya," potong Jerome. "Aiden tahu aku akan melindunginya, jadi dia menyerang kami berdua sekaligus agar dia bisa tampil sebagai korban yang malang."
"Jerome... apa yang ingin kau lakukan?" tanya Tuan Besar dengan suara yang hilang kewibawaannya.
"Hancurkan dia, Yah. Tendang dia dari silsilah keluarga, cabut semua fasilitasnya, dan biarkan aku yang mengambil alih asetnya untuk dikembalikan kepada Valerie," ujar Jerome tanpa ampun. "Jika Ayah tidak melakukannya, maka aku sendiri yang akan meruntuhkan Renfred Group hanya untuk memastikan Aiden membusuk di penjara."
...****************...
Sementara itu, di apartemen Jerome, Valerie duduk dengan gelisah di tepi ranjang. Punggungnya masih berdenyut perih, namun kecemasan di hatinya jauh lebih menyiksa. Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat.
Nama 'Ayah' muncul di layar. Jantung Valerie mencelos.
Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau. "Halo?"
"Anak tidak tahu diuntung!" Suara teriakan ayahnya langsung meledak dari seberang telepon. "Kau pikir kau hebat setelah bersembunyi di balik ketiak Jerome Renfred?! Gara-gara kau, saham perusahaanku anjlok! Keluarga kita dipermalukan!"
Valerie mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Keluarga? Ayah tidak pernah menganggapku keluarga. Ayah hanya menganggapku aset yang bisa dijual kepada Aiden demi uang!"
"Tutup mulutmu!" bentak ayahnya. "Sekarang dengarkan baik-baik. Aku tahu Jerome sedang menuju mansion pusat. Jika kau tidak segera keluar dari apartemen itu dan memberikan pernyataan di depan media bahwa kaulah yang menggoda Jerome, maka jangan harap kau bisa melihat foto-foto peninggalan ibumu lagi."
Valerie tertegun. "Apa maksud Ayah?"
"Aku sudah membakar sebagian surat-surat ibumu pagi ini. Jika dalam satu jam kau tidak muncul di kantorku, aku akan membakar seluruh isi brankas ibumu! Termasuk kalung lili yang sangat kau dambakan itu!"
"AYAH JANGAN!" Valerie berteriak histeris. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Itu satu-satunya kenangan yang aku punya dari Ibu! Bagaimana Ayah bisa setega itu?!"
"Aku tidak peduli pada kenangan orang mati! Aku hanya peduli pada kelangsungan hidupku! Pilih sekarang, Valerie: warisan sampah ibumu itu, atau kau hancur bersama Jerome!"
Pip!
Sambungan telepon diputus secara sepihak. Valerie jatuh terduduk di lantai, terisak hebat. Ia merasa sesak, paru-parunya seolah kehabisan oksigen.
...****************...
Di ruang kerja Tuan Besar, Jerome tiba-tiba memegangi dadanya. Ia meringis kesakitan, tubuhnya membungkuk hingga kepalanya nyaris menyentuh meja.
"Jerome? Kau kenapa?" Tuan Besar bangkit dengan cemas.
"Valerie..." gumam Jerome terengah-engah. "Dia... dia sedang dalam bahaya. Jantungku... rasanya seperti diremas."
Jerome bisa merasakan ketakutan luar biasa yang sedang melanda Valerie. Rasa perih di punggungnya mendadak terasa lebih panas, seiring dengan isak tangis yang bisa ia 'rasakan' melalui ikatan aneh itu.
Jerome segera berdiri, mengabaikan rasa pening di kepalanya. "Yah, lakukan apa yang harus Ayah lakukan pada Aiden. Sekarang juga."
"Tapi kau mau ke mana?"
"Menyelamatkan nyawaku, Yah," jawab Jerome tanpa menoleh lagi.
Ia berlari keluar, menerjang pintu lorong dengan kecepatan penuh. Jerome meraih ponselnya dan menghubungi Raka. "Raka! Pastikan Valerie tidak keluar dari kamar! Jangan biarkan dia menerima telepon dari siapa pun!"
"Maaf Tuan, Nona Valerie... dia baru saja berlari keluar melalui pintu darurat. Dia tampak sangat panik dan menangis," lapor Raka dengan nada ketakutan.
"SIALAN!" Jerome mengumpat keras hingga suaranya menggema di seluruh mansion. "Cari dia! Lacak posisinya melalui GPS ponselnya! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan memastikan kalian semua ikut terkubur!"
Jerome masuk ke mobilnya, menginjak gas hingga ban mobilnya berdecit di atas aspal. Di dalam kepalanya, bayangan gudang tua yang terbakar itu kembali muncul. Ia tidak akan membiarkan sejarah berulang. Ia tidak akan membiarkan wanita itu hancur lagi demi orang-orang serakah yang menyebut diri mereka keluarga.
...****************...