NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Makan Bersama

Bab 35: Makan Bersama

Nampan plastik berwarna cokelat tua itu kini tergeletak di atas meja bundar putih, menjadi pusat semesta kecil bagi Rafi dan Nisa. Di sudut gerai McDonald’s Kisaran yang relatif tenang ini, kebisingan jalan raya hanya terdengar seperti dengung lebah di balik kaca tebal. Rafi duduk tegak, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit memburu akibat rasa haus dan lapar yang beradu.

Ia memperhatikan gelas plastiknya yang berisi minuman soda hitam dengan butiran es yang berderak pelan. Secara analitis, ia menghitung berapa lama es itu akan bertahan sebelum mencair sepenuhnya dan merusak konsistensi rasa sodanya. Namun, pengamatan itu segera terhenti ketika Nisa mulai membuka kotak burgernya.

Klek.

Suara tutup kotak karton itu terbuka, memperlihatkan sebuah Cheeseburger yang masih mengepulkan uap tipis. Aroma roti panggang, daging sapi, dan keju yang meleleh segera menyerbu indra penciuman mereka.

Nisa mengambil burger itu dengan kedua tangannya. Jari-jarinya yang ramping terlihat kontras dengan roti burger yang berwarna cokelat keemasan. Ia menatap makanan itu dengan binar mata yang jujur—sebuah ekspresi kepuasan yang jarang Rafi lihat di sekolah. Secara sosiologis, momen ini adalah puncak dari sebuah "prestise" bagi mereka; makan di tempat bermerek internasional bukan sekadar tentang kenyang, tapi tentang pengalaman yang divalidasi oleh lingkungan.

"Selamat makan, Fi," ujar Nisa lembut.

"Iya, Nis. Makan yang banyak ya," sahut Rafi.

Nisa menggigit burgernya. Kecil dan perlahan. Rafi memperhatikan detail kecil saat Nisa mengunyah; bagaimana ujung hidungnya sedikit berkerut karena menikmati perpaduan saus tomat dan acar timun. Ada jejak wijen yang tertinggal di sudut bibirnya, namun Nisa segera menyekanya dengan tisu dengan gerakan yang sangat sopan.

Bagi Rafi, pemandangan ini adalah bayaran yang setimpal untuk segala "nasi garam" yang ia konsumsi secara sembunyi-sembunyi selama sebulan terakhir (Bab 2). Secara matematis, biaya satu suapan burger Nisa mungkin setara dengan satu porsi nasi uduk di Tanjungbalai, namun secara emosional, nilai gunanya tak terhingga.

Rafi sendiri mulai membuka bungkusan nasinya yang berbentuk bulat sempurna, putih bersih, dan terbalut kertas lilin. Ia mengambil potongan ayam gorengnya—sepotong paha bawah yang ukurannya cukup adil untuk harga paket hemat yang ia bayar di Bab 34. Kulit ayamnya yang kecokelatan terlihat renyah.

Ia mencuil sedikit daging ayam itu, mencampurnya dengan nasi, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Gurih. Asin. Panas.

Sensasi itu meledak di lidahnya, mengirimkan sinyal kepuasan ke otaknya yang sudah lama tidak mencicipi protein hewani yang digoreng dengan teknik deep fry sesempurna ini. Ia menelan suapan pertamanya, lalu segera mengambil gelas minumannya.

Gluk... gluk... gluk...

Cairan soda yang dingin dan tajam mengalir melewati kerongkongannya yang tadi terasa seperti padang pasir (Bab 32). Rasa haus yang menyiksa itu lenyap seketika, digantikan oleh kesegaran yang membuat matanya sedikit terpejam karena sensasi soda yang menusuk pangkal lidah.

"Gila, segarnya," gumam Rafi tanpa sadar.

Nisa tertawa kecil sambil mengunyah kentang gorengnya. "Haus banget ya, Fi? Tadi di mall beneran nahan ya?"

Rafi tersenyum tipis, berusaha tetap menjaga gengsinya. "Ya gitu deh, Nis. Kan lebih enak minum pas lagi makan begini. Pas takarannya."

Secara skeptis, Rafi sebenarnya memikirkan bahwa strategi "menahan diri" di Bab 32 adalah keputusan ekonomi terbaik yang pernah ia buat.

Jika tadi ia membeli boba seharga tiga puluh ribu, ia tidak akan memiliki kepuasan seperti sekarang. Ia belajar bahwa kenikmatan sering kali merupakan hasil dari penundaan kepuasan yang terencana.

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman.

Sekali-sekali, Nisa menawarkan kentang gorengnya kepada Rafi. "Ini, ambil aja kentangnya. Aku nggak bakal habis semuanya kalau sendiri."

Rafi mengambil sebatang kentang, mencelupkannya ke saus sambal yang sudah ia tuang di pinggir nampan. Tekstur kentang yang empuk di dalam dan renyah di luar terasa sangat mewah di lidahnya. Di tengah aktivitas makan itu, Rafi sesekali mencuri pandang ke arah meja-meja lain.

Ia melihat keluarga-keluarga menengah Kisaran yang makan dengan santai tanpa harus menghitung kembalian di saku. Ia melihat pasangan yang lebih dewasa yang sibuk dengan ponsel masing-masing. Dibandingkan mereka, Rafi merasa dirinya dan Nisa jauh lebih menghargai makanan ini. Bagi orang-orang di meja lain, ini mungkin rutinitas. Bagi Rafi, ini adalah perayaan kemenangan atas kemiskinannya.

"Kamu suka nggak burgernya?" tanya Rafi.

"Suka banget. Dagingnya beda ya sama yang dijual di depan sekolah," jawab Nisa tulus. "Makasih ya, Fi. Kamu baik banget hari ini."

Kalimat itu—"kamu baik banget"—terasa lebih mengenyangkan daripada seluruh porsi nasi dan ayam di depan Rafi. Ia merasa statusnya sebagai pelajar SMA 3 yang berkelas kini telah terpatri kuat di benak Nisa. Ini adalah puncak kebahagiaan dalam hidupnya sejauh ini. Segala beban pikiran tentang tugas sekolah, joki ketik, dan rumahnya yang sederhana di Tanjungbalai seolah menghilang ditelan dinginnya AC McD.

Rafi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. Ia melihat sisa makanan di nampannya. Tinggal tulang ayam dan sisa-sisa nasi yang berceceran. Di seberangnya, burger Nisa pun tinggal suapan terakhir.

Dunia terasa sangat lambat. Detik demi detik berlalu dengan indahnya. Rafi tidak ingin momen ini berakhir. Secara logis, ia tahu bahwa setelah ini mereka harus menghadapi realitas perjalanan pulang yang panjang dan melelahkan (Sub-Blok F).

Namun untuk saat ini, di bawah lampu gantung McD yang hangat dan di depan gadis yang ia sukai, Rafi merasa ia adalah orang terkaya di Kisaran.

Ia meraih gelas sodanya yang tinggal berisi es batu, mengocoknya pelan hingga terdengar bunyi klenting yang merdu.

Helaan napas panjang Rafi yang penuh kepuasan. Ia menatap Nisa yang sedang mengelap tangannya dengan tisu, menyadari bahwa ia baru saja menyelesaikan fase paling membahagiakan dalam "Hari Spesial" ini. Tantangan selanjutnya mungkin menanti, namun dengan perut yang kenyang dan hati yang penuh, Rafi merasa siap menghadapi apa pun—bahkan jika itu berarti ia harus berjalan kaki ke terminal nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!