Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inpeksi tidak diundang
Pukul tujuh pagi. Matahari baru saja mengintip malu-malu di balik jendela kaca besar rumah selatan. Laras terbangun dengan sisa lelah yang masih menggelayut di bahunya. Tanpa riasan, tanpa sanggul, ia hanya mengenakan kaos oblong abu-abu kebesaran milik Arka yang ia "pinjam" dari tumpukan baju bersih semalam, dan celana pendek kain. Ia melangkah ke dapur dengan rambut yang menyerupai sarang burung, berniat menyeduh kopi hitam pekat untuk mengumpulkan nyawanya.
Arka sudah ada di sana. Ia duduk di meja makan dengan laptop terbuka, hanya memakai celana training dan kaos dalam putih. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa seragam militer atau jas mahal.
"Kopi?" tawar Arka tanpa menoleh, jemarinya masih sibuk mengetik.
"Dua sendok gula, jangan terlalu banyak air," gumam Laras sambil menarik kursi. "Aku nggak percaya kita benar-benar bangun di sini. Rasanya seperti bolos sekolah secara masal."
Arka baru saja akan menjawab saat sebuah suara memekakkan telinga memecah kesunyian.
TING-TONG! TING-TONG!
Mereka berdua membeku. Bel rumah itu tidak seharusnya berbunyi. Tidak ada yang tahu alamat ini kecuali...
"Arka! Laras! Buka pintunya! Papa sudah di depan!" suara bariton Jenderal Baskoro menggelegar dari interkom, disusul suara melengking Ibu Laras. "Aduh, jam segini kok belum bangun? Anak muda zaman sekarang!"
Mata Laras dan Arka membelalak sinkron. "Sial," umpat Arka, langsung berdiri. "Mereka melakukan inspeksi mendadak."
"Kamar!" teriak Laras setengah berbisik. "Barang-barangku masih di kamar sebelah kanan! Handuk, skincare, semuanya! Kalau Ibu masuk dan lihat kita pisah ranjang, habislah kita!"
Dalam hitungan detik, aliansi mereka diuji dengan cara yang paling absurd. Arka berlari ke atas, sementara Laras menyusul di belakangnya dengan panik.
"Pindahkan koper keduamu ke kamarku! Cepat!" perintah Arka sambil melempar beberapa baju Laras yang masih berserakan.
"Jangan cuma baju! Sikat gigiku di kamar mandi sebelah kanan, Ka!"
Mereka berlarian seperti peserta lomba lari estafet di lorong rumah yang sempit. Arka menyambar bantal dari kamar Laras dan melemparnya ke tempat tidurnya sendiri agar terlihat ada dua orang yang tidur di sana. Laras dengan cepat menaruh beberapa alat riasnya di meja rias Arka yang biasanya hanya berisi jam tangan dan parfum maskulin.
"Sepatu kamu di depan! Sembunyikan yang sandal jepit!" Arka berteriak sambil turun kembali ke bawah untuk membuka pintu, sementara Laras berusaha merapikan rambutnya secara brutal dengan jari.
Begitu Arka membuka pintu depan dengan napas sedikit tersengal, Jenderal Baskoro dan Ibu Laras masuk dengan wajah penuh penilaian.
"Lama sekali buka pintunya? Papa pikir kalian sedang apa," ujar Baskoro sambil matanya memindai setiap sudut ruang tamu yang masih minim furnitur. "Rumah macam apa ini? Dindingnya belum dicat, semennya telanjang. Seperti tinggal di bunker."
Ibu Laras langsung menghampiri Laras yang baru turun dengan napas terengah-engah. "Laras! Kamu ini pengantin baru, kenapa penampilannya acak-acakan begini? Kaos siapa ini yang kamu pakai? Kebesaran begitu!"
"Ini... kaos Arka, Bu. Biar lebih terasa... 'kebersamaannya'," jawab Laras dengan senyum palsu yang paling manis yang bisa ia kerahkan. Ia sengaja merangkul lengan Arka, memberikan kode agar Arka ikut dalam sandiwara ini. Arka segera menaruh tangannya di pinggang Laras. "Maaf Pa, Ibu. Kami tidak menyangka ada kunjungan sepagi ini. Kami baru saja mau... sarapan."
"Sarapan apa? Papa lihat tadi di dapur cuma ada mie instan," Baskoro mendengus, duduk di sofa tunggal seolah itu adalah singgasananya. "Besok Papa kirim orang untuk mengecat rumah ini. Dan Papa sudah pesan satu set meja makan dari jati ukiran Jepara. Tidak pantas anak Jenderal makan di meja plastik seperti itu."Tapi Pa, rumah ini konsepnya industrial minimalis"
"Konsep itu buat orang yang nggak punya uang buat beli cat, Arka!" potong Baskoro tak terbantahkan. "Papa ingin rumah ini mencerminkan wibawa klan kita."
Ibu Laras sudah mulai "bergerilya" masuk ke area pribadi. "Ibu mau lihat kamar kalian. Katanya Laras yang desain sendiri penataannya?"
Laras dan Arka saling lirik. Keringat dingin mulai menetes. Jantung Laras berdegup kencang saat ibunya mulai menaiki tangga. "Tunggu, Bu! Kamarnya masih agak... berantakan," Laras mencoba menghalangi, tapi ibunya sudah lebih dulu membuka pintu kamar utama Arka.
Di dalam, suasananya sangat kacau. Ada bantal tambahan yang diletakkan sembarangan, koper Laras yang masih terbuka di sudut, dan sepasang sandal jepit biru yang lupa disembunyikan Laras, sekarang tergeletak di bawah tempat tidur Arka. Ibu Laras terdiam, melihat koper yang terbuka. "Kenapa kopermu tidak ditaruh di lemari, Nak?"
Arka masuk dengan sigap. "Itu karena kami berencana mau pergi liburan singkat minggu depan, Bu. Jadi Laras pikir lebih praktis kalau bajunya tetap di koper."
"Oh, bulan madu?" Ibu Laras langsung semringah. "Baguslah. Arka memang harus pintar-pintar memanjakan Laras." Baskoro yang menyusul ke atas, berdiri di ambang pintu. Ia menatap tempat tidur itu dengan selidik, lalu melihat ke arah sandal jepit biru di bawah ranjang. Ia mendekat, mengambil sandal itu dengan ujung jarinya seolah itu adalah benda beracun.
"Ini sandal yang bikin masalah di pesta kemarin, kan?" tanya Baskoro dingin. "Kenapa masih disimpan?"
Laras menahan napas. Ia merasa harga dirinya akan diinjak lagi. Namun, Arka melangkah maju dan mengambil sandal itu dari tangan ayahnya. "Karena itu mengingatkan saya, Pa," suara Arka kembali ke nada baritonnya yang mantap. "Bahwa di rumah ini, Laras bisa jadi dirinya sendiri tanpa perlu merasa terbebani oleh standar orang lain. Sandal ini adalah simbol bahwa di sini, kami yang membuat aturan. Bukan orang luar."
Suasana mendadak hening. Baskoro menatap putranya dengan tatapan yang sulit dibaca ada kemarahan, tapi juga ada pengakuan samar akan ketegasan Arka. "Terserah kalian," gerutu Baskoro akhirnya. "Tapi ingat, minggu depan ada jamuan makan malam dengan para kolega senior. Pastikan penampilan kalian tidak memalukan seperti sandal ini."
Setelah satu jam penuh kritik dan instruksi yang melelahkan, para orang tua itu akhirnya pergi. Begitu mobil mereka menghilang dari pandangan, Arka dan Laras langsung ambruk di sofa ruang tamu.
"Aku nggak sanggup kalau harus begini setiap minggu," Laras menutup wajahnya dengan tangan. "Setidaknya kita berhasil lewat satu inspeksi," Arka menghela napas panjang. Ia menatap sandal jepit biru yang masih ia pegang. "Lain kali, taruh ini di tempat yang lebih tersembunyi, Laras. Ayahku punya mata elang."
Laras mengintip dari balik celah jarinya. "Makasih ya, Ka. Kamu tadi... keren pas bilang itu simbol aturan kita."
Arka terdiam sejenak, lalu meletakkan sandal itu dengan rapi di dekat kaki Laras. "Aku nggak bohong, Laras. Di sini, memang kita yang buat aturan.
" Pagi itu, meski sarapan mereka hancur dan privasi mereka terganggu, ada sebuah rasa kemenangan kecil yang mereka rasakan. Mereka baru saja berhasil mempertahankan benteng mereka dari serangan pertama. Namun, mereka tahu, Jenderal tidak akan berhenti hanya dengan mengirim meja jati. Perang sesungguhnya adalah mempertahankan identitas mereka di tengah kepungan kemewahan yang dipaksakan.
Dinamika mereka semakin kompak dalam menghadapi "musuh" dari luar. Konflik berikutnya bisa berupa tekanan untuk segera memiliki anak (yang akan menguji Pasal 4) atau kemunculan kembali Doni dengan kartu as yang lebih berbahaya.