Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Keseharian
Keheningan malam itu terasa jauh lebih berat setelah kepulan asap terakhir dari tubuh Daefiel menghilang. Vivienne menurunkan tangannya, sisa-sisa air sihirnya meresap ke tanah reruntuhan. Mereka bertiga saling pandang dalam gelap, menyadari betapa tipis batas antara keselamatan dan kehancuran malam ini.
“Cukup untuk hari ini,” ujar Lucien dengan nada final. Ia membantu Daefiel berdiri, meski pria berambut api itu masih sedikit sempoyongan. “Jika kita memaksakan diri, kita hanya akan memancing kecurigaan yang lebih besar pagi nanti.”
Daefiel menyeka sisa air di wajahnya dengan kasar lalu mencoba menyeringai, walau bibirnya masih pucat. “Setidaknya aku tidak meledak, bukan? Sampai jumpa besok, Sang Guru yang dingin.”
Tanpa banyak bicara, Lucien mengangguk sekilas kepada Vivienne—sebuah isyarat kesepahaman yang tak terucap—lalu melesat menuju asrama Crimson Crest. Ia harus melewati gerbang belakang dan menghindari patroli penjaga yang mungkin masih menyelidiki sisa aura misterius tadi. Bagi Lucien, kembali ke asrama bukan berarti beristirahat; ia harus memastikan tak ada jejak sihir iblis yang tertinggal pada jubahnya sebelum matahari terbit.
Keesokan paginya, lonceng besar Akademi Arcanova berdentang, memecah kabut yang menyelimuti menara-menara tinggi. Kehidupan akademi kembali berjalan normal, seolah ketegangan di Hutan Abyss dan insiden di reruntuhan semalam tak pernah terjadi.
Di aula besar Arcanova, Vivienne duduk di barisan depan kelas Teori Manipulasi Elemen. Wajahnya tampak segar dan angkuh seperti biasa, namun jemarinya sesekali menyentuh area di bawah tulang selangka, merasakan denyut samar simbol hitam yang tersembunyi di balik seragam ungu mewahnya. Di sudut lain, Daefiel tampak tertidur sambil menyangga dagu, pura-pura mendengarkan ceramah profesor meski sebenarnya menahan pegal luar biasa di sekujur tubuhnya.
Sementara itu, di bangunan batu kokoh milik Crimson Crest, Lucien berdiri tegak di tengah lapangan latihan. Ia mengikuti kelas Seni Pedang Resonansi. Pedangnya bergerak dengan presisi menakutkan, menebas boneka latihan dalam satu gerakan bersih.
“Luar biasa, Tuan Muda Vlad,” puji instruktur pedang. “Fokusmu hari ini tampak lebih tajam dari biasanya.”
Lucien hanya mengangguk sopan, menyimpan rahasia di balik mata birunya yang tenang. Di antara teriakan latihan dan diskusi sihir di kedua akademi, tak seorang pun menyadari bahwa tiga remaja ini mengenakan topeng sempurna. Mereka adalah siswa teladan di bawah matahari, namun tetap pembawa kutukan yang merencanakan pemberontakan terhadap takdir saat bulan kembali naik.
Tiba-tiba, denting pedang di lapangan latihan Crimson Crest terhenti oleh raungan parau yang membelah udara. Di tengah lapangan, ruang hampa seolah terobek, memuntahkan tiga makhluk setinggi manusia dengan kulit bersisik kelabu dan cakar panjang.
“Void Crawler!” teriak salah satu siswa, suaranya bukan dipenuhi ketakutan, melainkan kesiagaan.
Munculnya monster yang “terlempar” dari Hutan Abyss adalah fenomena atmosfer sihir yang lumrah. Tekanan mana yang terlalu tinggi kerap menciptakan retakan ruang kecil yang membuang monster lemah ke area sekitar, termasuk wilayah akademi. Bagi para instruktur, ini hanyalah ujian lapangan dadakan.
“Tetap dalam formasi!” seru instruktur sambil mundur selangkah, membiarkan murid-muridnya maju. “Tunjukkan hasil latihan kalian! Ini hanya monster kelas rendah yang tersesat!”
Lucien menatap ketiga makhluk itu dengan pandangan datar. Setelah berhadapan dengan Umbra Wraith di jantung Abyss, monster-monster ini terasa seperti serangga lambat. Namun ia harus berhati-hati. Bergerak terlalu cepat atau menggunakan kekuatan berlebihan hanya akan mengundang kecurigaan.
“Vlad! Ambil sayap kiri!” perintah seorang rekan.
Lucien mengangguk singkat. Ia melesat maju, sengaja memperlambat gerakannya agar sesuai standar siswa elit yang tetap “normal”. Ia mengalirkan sihir petir biru dasar ke pedangnya—bukan petir hitam yang meluluhlantakkan segalanya.
Crat!
Satu tebasan bersih mengenai bahu Void Crawler pertama. Monster itu menjerit, menyemburkan darah hijau berbau amis. Lucien memutar tubuh, menghindari sabetan cakar monster kedua dengan jarak tipis. Di benaknya, ia terus mengulang latihan ketenangan semalam. Jangan biarkan emosi meluap. Jangan biarkan simbol di punggungmu berdenyut.
Di kejauhan, siswa lain merapalkan mantra api dan es. Ledakan-ledakan kecil mewarnai lapangan latihan. Bagi mereka, ini hiburan di tengah kelas membosankan. Namun bagi Lucien, setiap ayunan pedang adalah perjuangan untuk tetap terlihat biasa di bawah tatapan instruktur yang menyipit curiga.
“Hanya sedikit lagi,” bisiknya saat bersiap melancarkan serangan pamungkas pada monster terakhir. Ia harus memastikan makhluk itu tumbang oleh sihir akademi yang sempurna—tanpa menyisakan jejak kegelapan sedikit pun.