NovelToon NovelToon
Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Bad Boy
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYUSUP

Bab 30

Pagi itu, kantor pusat perusahaan Tama terasa begitu dingin dan sibuk. Di balik meja kerjanya yang luas, Tama berusaha menenggelamkan diri dalam deretan angka dan laporan audit, mencoba mengusir bayangan foto berdarah yang dikirim Kevin.

 Namun, fokusnya pecah setiap kali teringat kondisi Alisya di rumah.

Di rumah, Alisya masih berbaring di kamar. Suasana hening hanya dipecah oleh suara kicauan burung di luar dan deru AC.

 Saat itulah, ponsel di samping bantalnya bergetar.

Nama ‘Mas Tama’tertera di layar.

Dengan tangan yang masih terasa lemas, Alisya menggeser tombol jawab.

"Halo, Mas..." bisik Alisya parau.

"Sayang, kamu sudah bangun? Sudah makan siang?" suara Tama terdengar berat, ada nada kelelahan yang sangat dalam di sana.

"Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja di rumah. Argo dan Bi Fatimah menjagamu, kan?"

"Iya, Mas. Aku baik. Aku cuma lagi berbaring," jawab Alisya pelan.

Tiba-tiba, dari balik telepon Tama, terdengar suara nyaring yang sangat Alisya kenali.

Itu suara Selin.

"Tama! Berhenti pegang ponsel! Ini makan siangnya sudah di meja. Kamu dari kemarin belum masuk nasi sebutir pun! Mau mati konyol sebelum urusan ini selesai?"

oceh Selin dengan nada ketusnya yang khas, namun penuh perhatian.

"Makan sekarang, atau aku lempar berkas-berkas ini ke muka kamu!"

Mendengar ocehan Selin di seberang telepon, mata Alisya yang tadinya redup seketika membelalak.

 Rasa cemas sebagai seorang istri mendadak mengalahkan rasa depresinya sejenak.

Dia pun seakan melupakan suaminya, pola makan suaminya yang berantakan karena dia sibuk mengurusi kesedihannya

"Mas... itu Selin?" tanya Alisya, suaranya naik satu nada.

"Benar kata Selin, kamu belum makan dari kemarin?"

Tama mendesah di seberang sana, terdengar suara kursi yang berderit.

"Aku belum lapar, Sayang. Banyak yang harus diselesaikan."

"Mas, tolong..." Alisya sedikit bangkit dari posisinya.

"Jangan seperti ini. Aku sudah kehilangan anak kita, aku nggak mau kehilangan kamu juga karena kamu sakit. Tolong makan, Mas. Dengar kata Selin."

Tama terdiam sejenak.

Kata-kata Alisya seperti sihir yang mampu menembus dinding pertahanannya. Di sisi lain, Selin masih berdiri di depan meja Tama dengan tangan bersedekap, menatap bosnya itu dengan tatapan mengancam.

"Iya, Sayang. Aku makan sekarang. Jangan cemas ya," ucap Tama akhirnya, menyerah pada permintaan istrinya.

"Janji ya, Mas? Habiskan. Aku tutup teleponnya kalau aku dengar kamu sudah mulai makan," desak Alisya.

Tama tersenyum tipis, senyum pertamanya sejak mereka pulang dari Swiss. Ia memberi isyarat pada Selin untuk menyiapkan piringnya.

"Iya, Sayang. Aku janji. Kamu juga harus makan yang banyak di rumah, ya? Aku mencintaimu."

Setelah telepon ditutup, Alisya menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. Ada sedikit kelegaan di hatinya, namun ia teringat ocehan Selin tadi.

Selin begitu setia menjaga suaminya di kantor, sementara di rumah, Argo berdiri tegak di depan pintu kamarnya.

Alisya menatap pintu kamar yang tertutup. Ia merasa beruntung dikelilingi orang-orang hebat, namun pesan gelap dari sosok bernama Kevin semalam tentang ‘Pembunuh’kembali terlintas di pikirannya.

Sementara itu, di lorong kantor, seorang staf kebersihan berjalan melewati ruangan Tama sambil memegang alat pel.

Ia menunduk dalam, namun telinganya menangkap percakapan di dalam ruangan. Ia menyentuh earpiece kecil di telinganya.

"Target sedang makan. Fokusnya teralih. Selin bersamanya," bisiknya sangat pelan.

----

Di rumah, Alisya tidak bisa tenang. Kecemasannya pada Tama justru membuka pintu keberanian yang selama ini tertutup oleh depresi. Ia turun ke lantai bawah dengan langkah yang lebih mantap.

Di depan ruang kerja Tama, Argo berdiri seperti patung. Ia sedikit terkejut melihat Alisya keluar dengan tatapan yang berbeda dari dua hari lalu.

"Nona Alisya, ada yang bisa saya bantu? Perlu saya panggilkan Bi Fatimah?" tanya Argo sopan.

Alisya berhenti tepat di depan Argo.

"Go, aku mau tanya satu hal. Dan aku mau kamu jawab jujur, bukan sebagai pengawal Tama, tapi sebagai orang yang sudah lama mengenalnya."

Argo tetap tenang, meski otot rahangnya mengeras.

"Tanya apa, Nona?"

"Siapa pria dengan jam tangan putih yang ada di foto ini? Kenapa Kevin memanggil Tama 'Pembunuh'?" suara Alisya bergetar, namun ia menuntut jawaban.

Argo panik dia tidak menyangka Foto yang susah payah di sembunyikan bosnya kini ada di tangan Alisya.

Argo terdiam cukup lama. Ia menatap langit-langit, mencari kata yang tepat. Ia tahu Tama ingin melindungi Alisya dari kebenaran ini, tapi ia juga tahu bahwa ketidaktahuanlah yang membuat Alisya depresi.

“saya kurang paham Non.”

Alisya tidak yakin dengan jawaban Argo, masa iya Argo tidak mengetahuinya?

Tepat saat Alisya hendak menanggapi, suara Bi Fatimah terdengar berteriak dari arah dapur.

"NONA! DEN ARGO! ADA ASAP DI BELAKANG!"

Argo langsung sigap. Ia menarik Alisya ke belakang tubuhnya dan mencabut senjata dari balik jasnya.

"Tetap di belakang saya, Nona! Jangan bergerak!"

Ternyata, asap itu berasal dari sebuah paket kecil yang dilemparkan lewat pagar belakang. Itu bukan bom, tapi gas air mata. Di saat yang sama, alarm keamanan rumah mulai berbunyi nyaring.

Kevin tidak menyerang langsung,dia menggunakan taktik pengalihan.

Ponsel Argo bergetar. Itu dari Selin.

"Go! Ada penyusup di kantor, tapi sepertinya itu cuma pengalih perhatian! Cek rumah sekarang! Kevin mengincar Alisya!" teriak Selin dari seberang telepon di tengah suara keributan di kantor.

Argo menggeram. "Mereka sudah di sini, Lin! Gas air mata sudah masuk lewat dapur!"

Alisya, meski ketakutan, merasa amarahnya mulai bangkit. Ia kehilangan anaknya karena rencana Kevin, dan ia tidak akan membiarkan bajingan itu mengambil suaminya atau hidupnya lagi.

"Go, berikan aku sesuatu untuk membela diri," ucap Alisya tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah pintu belakang yang mulai didobrak.

Asap putih mulai memenuhi area dapur, membuat pandangan Bi Fatimah kabur dan napasnya tersengal.

Argo bergerak dengan efisiensi mematikan. Ia menarik Alisya menuju ruang tengah, menjauhi sumber asap, sambil tetap waspada terhadap setiap pergerakan di jendela.

"Nona, masuk ke dalam safe room sekarang!" perintah Argo tegas.

"Tidak, Go! Berikan aku sesuatu," tuntut Alisya. Matanya yang tadinya layu karena depresi kini menyala oleh amarah.

"Dia sudah mengambil anakku. Aku tidak akan membiarkan dia mengambil apa pun lagi dari rumah ini!"

Argo menatap Alisya sejenak. Ia melihat tekad yang sama dengan yang sering ia lihat pada Tama. Ia merogoh saku kakinya dan memberikan sebuah pisau lipat taktis dan botol pepper spray cadangan.

"Gunakan ini hanya jika mereka sangat dekat. Tetap di belakang saya."

Di kantor, Tama baru saja mendengar suara alarm rumah yang terhubung ke ponselnya. Ia membanting meja kerja, mengabaikan Selin yang sedang beradu argumen dengan staf keamanan gedung.

"Sein! Urus di sini, aku pulang!" teriak Tama.

"Tam, tunggu! Ini jebakan!" Selin berusaha menahan, tapi Tama sudah berlari menuju lift.

Tama mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila, menerobos lampu merah dan trotoar. Pikirannya hanya satu.

 Alisya.

Ia tidak peduli jika Kevin sedang menunggunya di jalan dengan senapan. Jika sesuatu terjadi pada Alisya setelah kehilangan bayi mereka, Tama tahu ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

BRAAAKK!

Pintu belakang hancur. Dua pria berpakaian hitam dengan penutup wajah merangsek masuk. Argo melepaskan dua tembakan peringatan yang mengenai bahu salah satu penyusup, namun mereka terorganisir. Mereka menggunakan tameng balistik.

"Nona, lari ke atas!" teriak Argo saat ia mulai terlibat kontak fisik dengan salah satu penyusup yang mencoba menerjangnya.

Saat pria kedua mencoba mengejar Argo dari samping, Alisya bergerak.

Dengan tangan gemetar namun mantap, ia menyemprotkan pepper spray tepat ke celah mata topeng penyusup itu.

"ARGH!" pria itu terhuyung, tangannya mencoba mengusap mata.

Alisya tidak berhenti di situ. Saat pria itu lengah, ia menendang tulang keringnya dengan sekuat tenaga, memberikan ruang bagi Argo untuk melepaskan tembakan pelumpuh ke kaki lawan.

Mobil Tama mengerem mendadak di depan pagar rumah hingga menimbulkan bunyi decit yang memilukan.

 Ia melompat pagar tanpa menunggu gerbang terbuka.

Dengan pistol di tangan, ia masuk melalui pintu depan yang sudah dijaga ketat oleh tim keamanan tambahan yang ia panggil di jalan.

Tama menemukan Alisya berdiri di tengah ruang tamu, memegang botol semprotan dan pisau kecil, dengan napas memburu.

Di depannya, Argo sudah melumpuhkan dua penyusup.

"ALISYA!" Tama menjatuhkan senjatanya dan langsung memeluk istrinya erat-erat.

Alisya melepaskan pisau di tangannya.

Tubuhnya yang tadi tegang seketika lemas dalam dekapan Tama.

 "Mas... mereka datang lagi... mereka mau ambil aku..."

Gani masuk tak lama kemudian, memeriksa saku salah satu penyusup yang pingsan. Ia mengeluarkan sebuah ponsel yang masih menyala.

Ada satu pesan masuk yang belum dibaca dari kontak bernama 'K'.

"Sampaikan pada Kakakku, ini hanya latihan. Puncak pertunjukannya adalah saat dia sadar bahwa istrinya lebih berani menghadapi maut daripada menghadapi kenyataan bahwa suaminya adalah seorang pembunuh."

Tama membaca pesan itu, lalu menatap Alisya yang kini bersandar di dadanya. Ia menyadari satu hal,

 Kevin tidak hanya ingin membunuh mereka secara fisik. Kevin ingin meracuni cinta Alisya sampai Alisya sendiri yang meninggalkan Tama.

"Go," ucap Tama dingin, matanya menatap tajam ke arah dua penyusup itu.

"Bawa mereka ke gudang bawah tanah. Jangan panggil polisi dulu. Aku sendiri yang akan bertanya pada mereka di mana Kevin berada."

-----

1
R⁸
mending tama alisya bicara dari hati ke hati dulu deh, tama harus jujur sama alisya, ttg semua nya.. n yakin, alisya ga bakal ninggalin tama, klo emang cinta mereka kuat fondasi nya
Yeni Suprianti Laba'a
terima kasih thor ceritanya bagus lanjut jgn lama2 up-nya
Yeni Suprianti Laba'a
lanjut thor
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow author yaaa😍
total 1 replies
Yeni Suprianti Laba'a
ceritanya bagus thor tp updatenya lama sekali
Amelia Kesya
jgn lama" update nya thor aku semakin cinta karyamu ni
Amelia Kesya
semakin menarik.🥰🥰
Amelia Kesya
aaaaah semakin suka dgn ceritanya,jgn lama"donk thor upnya🙏
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow authornya yaaa😍
total 1 replies
Amelia Kesya
lama kali updatenya thor,,,,,kenapa?bolak balik ditunggu" nggak muncul".
Rekana
ceritanya keren. banyak rahasia yang belum terungkap bikin penasaran..
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut

love banget pokonya 😗 😗
Rekana
jangan lama² up nya kak.. ceritanya bagus banget.. seru
Ipus
terimakasih Thor ceritanya bagus,menarik. lanjut,,,,
Amelia Kesya: oke KK tp kenapa update nya lama kali.
total 2 replies
Amelia Kesya
masih ngikutin alur
R⁸
banyak bgt al nya, bayu ngobrol dgn selin, panggil al, gani dgn selin al lagi.. tokoh baru nongol al lagi😓
Nufie: maaf kak.. nanti di revisi
total 1 replies
Rekana
aduh siapa lagi itu..
antagonis mulai keluar nih kayanya
Rekana
tempramental banget si tama yaa... keras di luar lembut di dalam 😍
Rekana
duh tam.. meleleh akyuuuu😍
Rekana
takut banget tiba² si selin jahat.
Rekana
jahat banget njirr🤣
Rekana
lanjut kak
Vina Tamaela
Alhamdulillah ternyata sein asisten yang setia dan tidak jahat syukurlah aku sempat kuatir takut tama ada hubungan sama asisten mengingat mereka beda gender 😭 alhamdulillah asisten tama wanita baik2 semoga berjodoh sama bayu dan ada apa sampai tama tidak mau istri hamil dulu tp klo sudah terjadi anak adalah anugerah jika tama benar-benar cinta istri dia akan berusaha menerima kehadiran darah dagingnya apapun terjadi tanpa bnyk pertimbangan dan alasan
Amelia Kesya: Alur ceritanya menarik,masih menyimak alur dan membaca semangat thor💪.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!