Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Rumah sakit dan rahasia mulai terbuka
Mobil Raka melaju cepat membelah jalanan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergerak di wajah mereka.
Nadira duduk diam di kursi penumpang. Tangannya menggenggam tasnya erat tanpa sadar.
Sejak Raka mengatakan bahwa Vanessa pingsan dan dibawa ke rumah sakit, suasana di antara mereka berubah. Hening. Tegang.
Raka fokus menyetir, tapi pikirannya jelas tidak tenang.
“Apa kamu ingin ikut?” tanya Raka tiba-tiba tanpa menoleh.
Nadira menoleh padanya.
“Aku tidak tahu,” jawabnya pelan.
Jujur saja, Nadira tidak tahu harus merasa apa.
Vanessa adalah masa lalu Raka. Wanita yang pernah hampir menjadi istrinya.
Dan sekarang wanita itu kembali.
Dalam keadaan seperti ini.
“Kalau kamu tidak nyaman, kamu bisa pulang dulu,” kata Raka lagi.
Nadira menggeleng.
“Tidak. Aku ikut.”
Raka akhirnya menoleh sebentar padanya.
“Yakin?”
“Iya.”
Suara Nadira terdengar tenang, tapi di dalam hatinya ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan cemburu.
Bukan juga marah.
Tapi semacam firasat.
Seperti sesuatu yang besar akan terjadi.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit besar di pusat kota.
Lampu neon putih menerangi halaman depan yang ramai oleh ambulans dan orang-orang yang datang pergi.
Raka dan Nadira turun dari mobil.
Begitu mereka masuk ke dalam gedung rumah sakit, aroma antiseptik langsung menyambut mereka.
Raka berjalan cepat menuju meja informasi.
“Pasien bernama Vanessa. Dia baru saja dibawa masuk sekitar setengah jam yang lalu,” kata Raka.
Petugas itu mengecek komputer sebentar.
“Ruang IGD, lantai satu. Tapi saat ini masih ditangani dokter.”
“Terima kasih.”
Raka langsung berjalan menuju arah yang ditunjukkan.
Nadira mengikutinya dari belakang.
Saat mereka sampai di depan ruang IGD, seorang pria berdiri di sana.
Itu Daniel.
Asisten pribadi Raka.
Begitu melihat Raka datang, Daniel langsung menghampiri.
“Pak Raka.”
“Apa yang terjadi?” tanya Raka.
Daniel terlihat sedikit gugup.
“Saya mendapat telepon dari resepsionis hotel, Pak. Katanya Nona Vanessa tiba-tiba pingsan di kamarnya.”
“Dia sendirian?”
“Iya.”
Raka menghela napas pelan.
“Dokter bilang apa?”
“Masih diperiksa.”
Mereka bertiga berdiri di depan ruang IGD dalam diam.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Akhirnya pintu ruang IGD terbuka.
Seorang dokter keluar.
“Siapa keluarga pasien Vanessa?” tanya dokter itu.
Raka langsung maju.
“Saya temannya.”
Dokter itu menatap mereka sebentar sebelum berkata,
“Pasien sudah sadar.”
Nadira merasa napasnya sedikit lega.
“Tapi kondisinya cukup lemah,” lanjut dokter.
“Dia mengalami kelelahan berat dan tekanan darahnya sangat rendah.”
Raka mengernyit.
“Apakah ada penyakit lain?”
Dokter itu terlihat ragu sejenak.
“Ada kemungkinan pasien sedang mengalami stres berat.”
Daniel menunduk sedikit.
Sementara Nadira memperhatikan ekspresi dokter itu.
Seolah ada sesuatu yang belum dikatakan.
“Sekarang pasien dipindahkan ke ruang rawat. Kalian boleh menemuinya, tapi jangan terlalu lama.”
“Baik.”
Beberapa menit kemudian mereka menuju kamar rawat Vanessa.
Saat pintu kamar dibuka, Nadira melihat sosok wanita yang sedang berbaring di tempat tidur.
Wajah Vanessa terlihat pucat.
Rambut panjangnya terurai di bantal putih.
Dia tampak jauh lebih rapuh dibanding saat terakhir Nadira melihatnya.
Vanessa menoleh ketika pintu terbuka.
Matanya langsung menemukan Raka.
“Raka…”
Suaranya sangat pelan.
Raka berjalan mendekat.
“Kamu baik-baik saja?”
Vanessa tersenyum tipis.
“Aku tidak menyangka kamu benar-benar datang.”
Nada suaranya terdengar penuh emosi.
Nadira berdiri beberapa langkah di belakang.
Vanessa akhirnya menyadari keberadaan Nadira.
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu yang aneh dalam tatapan Vanessa.
Bukan kebencian.
Bukan juga permusuhan.
Tapi sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Kamu juga datang,” kata Vanessa pelan.
Nadira mengangguk sopan.
“Iya.”
Ruangan itu kembali hening.
Vanessa memandang Raka lagi.
“Aku minta maaf membuatmu khawatir.”
Raka menghela napas.
“Kamu harus lebih menjaga kesehatanmu.”
Vanessa tertawa kecil, tapi terdengar pahit.
“Menjaga kesehatan?” gumamnya.
“Sejak kembali ke kota ini, hidupku sudah tidak pernah tenang lagi.”
Kata-kata itu membuat suasana berubah.
Raka menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Vanessa tidak langsung menjawab.
Dia justru memandang Nadira lagi.
Lalu berkata pelan,
“Aku pikir kamu berhak tahu sesuatu.”
Raka mengernyit.
“Tahu apa?”
Vanessa menutup matanya sebentar, seolah mengumpulkan keberanian.
Lalu dia membuka matanya lagi.
“Kembalinya aku ke kota ini bukan kebetulan.”
Raka dan Nadira saling berpandangan.
“Ada seseorang yang memaksaku kembali.”
“Siapa?” tanya Raka.
Vanessa menggenggam selimutnya erat.
“Orang dari masa lalu kita.”
Nadira merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
“Aku sebenarnya tidak ingin kembali,” lanjut Vanessa.
“Tapi aku tidak punya pilihan.”
“Vanessa,” kata Raka dengan nada serius.
“Katakan dengan jelas.”
Vanessa menatap Raka lama.
Lalu dia berkata pelan,
“Dia mengancamku.”
Ruangan itu terasa semakin dingin.
“Mengancammu?” ulang Raka.
Vanessa mengangguk.
“Dia mengatakan kalau aku tidak kembali… dia akan menghancurkan hidupmu.”
Nadira membeku.
“Apa?”
Raka terlihat tegang.
“Siapa orang itu?”
Vanessa ragu beberapa detik.
Lalu dia berkata,
“Arman.”
Nama itu membuat wajah Raka berubah.
Nadira bisa melihat rahang Raka menegang.
“Arman?” ulangnya.
Vanessa mengangguk pelan.
“Aku bertemu dia di luar negeri beberapa bulan lalu.”
“Dia bilang dia ingin membalas semuanya.”
“Semua apa?” tanya Nadira tanpa sadar.
Vanessa menoleh padanya.
“Balas dendam pada Raka.”
Raka tertawa dingin.
“Orang itu masih saja sama.”
“Dia tidak main-main kali ini,” kata Vanessa.
“Dia tahu semua tentangmu sekarang.”
Raka menyilangkan tangan.
“Biarkan dia mencoba.”
Tapi Nadira bisa melihat sesuatu di mata Raka.
Kemarahan.
Dan mungkin sedikit kekhawatiran.
Vanessa menggeleng.
“Raka, kamu tidak mengerti.”
“Dia tidak hanya menargetkanmu.”
Tatapan Vanessa perlahan beralih ke Nadira.
“Dia juga menargetkan orang yang kamu cintai.”
Jantung Nadira seperti berhenti sesaat.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Raka langsung menoleh pada Nadira.
Seolah memastikan dia baik-baik saja.
Vanessa menutup matanya lagi.
“Aku tidak ingin terlibat dalam semua ini,” katanya pelan.
“Tapi dia memaksaku.”
Nadira akhirnya berbicara.
“Kenapa kamu tidak melapor ke polisi?”
Vanessa tertawa kecil.
“Arman terlalu pintar untuk meninggalkan jejak.”
“Dan dia punya banyak koneksi.”
Raka terdiam beberapa saat.
Lalu dia berkata,
Kalau begitu kita hadapi saja.”
Vanessa membuka matanya lagi.
“Raka…”
“Aku serius,” lanjut Raka.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengancam hidupku.”
Dia menoleh pada Nadira.
“Apalagi orang yang penting bagiku.”
Nadira menatapnya.
Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang membuat hatinya bergetar.
Vanessa memperhatikan mereka berdua.
Ada senyum kecil di bibirnya.
“Aku tahu sejak awal,” katanya pelan.
“Kamu akan memilihnya.”
Raka mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Vanessa hanya menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Lalu dia berkata lagi,
“Tapi kamu harus berhati-hati.”
“Arman bukan orang yang bisa dianggap remeh.”
Nadira merasakan firasat buruk kembali muncul.
Malam ini benar-benar mengubah segalanya.
Mereka datang ke rumah sakit hanya karena Vanessa pingsan.
Tapi sekarang mereka mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar.
Seseorang dari masa lalu Raka kembali.
Dan dia membawa niat balas dendam.
Raka akhirnya berkata, “Kamu istirahat saja sekarang.”
Vanessa mengangguk pelan.
“Terima kasih sudah datang.”
Raka berdiri.
Nadira juga ikut berdiri.
Sebelum mereka keluar, Vanessa memanggil pelan.
“Nadira.”
Nadira menoleh.
Vanessa menatapnya lama.
“Jaga dia.”
Nadira sedikit terkejut.
“Apa?”
Vanessa tersenyum tipis.
“Raka selalu terlihat kuat.”
“Tapi sebenarnya dia jauh lebih rapuh dari yang kamu kira.”
Kata-kata itu membuat Nadira terdiam.
Setelah itu mereka keluar dari kamar.
Pintu tertutup perlahan.
Di lorong rumah sakit yang sunyi itu, Nadira dan Raka berjalan berdampingan.
Tanpa bicara beberapa saat.
Akhirnya Nadira berkata,
“Kamu mengenal orang bernama Arman itu?”
Raka mengangguk pelan.
“Sayangnya, iya.”
“Siapa dia sebenarnya?”
Raka berhenti berjalan.
Lalu menatap Nadira dengan serius.
“Musuh lama.”
Nadira menunggu penjelasan lebih lanjut.
Raka menarik napas panjang.
“Dan kalau dia benar-benar kembali…”
Tatapannya menjadi tajam.
“Maka ini baru permulaan.”
Nadira merasakan bulu kuduknya merinding.
Karena untuk pertama kalinya—
Dia melihat sisi berbahaya dari masa lalu Raka.
Dan tanpa dia sadari,
Dia juga sudah ikut terlibat di dalamnya.
Malam itu, di bawah lampu rumah sakit yang dingin—
Sebuah permainan besar baru saja dimulai.
Dan tidak ada yang tahu.
Siapa yang akan terluka paling dalam.
Bersambung…