Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suasana syahdu yang penuh air mata taubat itu mendadak pecah oleh suara ketukan yang mantap dan berwibawa di pintu kayu kamar mereka.
Tok! Tok! Tok!
Adnan dan Kinan tersentak. Kinan buru-buru menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung mukena putihnya, sementara Adnan bergegas berdiri dan merapikan baju koko tiga puluh lima ribu yang baru saja ia pakai untuk sholat.
"Assalamualaikum, Adnan," suara berat namun teduh terdengar dari balik pintu.
Adnan segera membuka pintu. Di sana berdiri sosok sepuh dengan sorban hijau dan wajah yang memancarkan ketenangan luar biasa.
Kyai Mansyur terdiam sejenak, matanya beralih dari putranya menuju sosok wanita yang bersimpuh di atas sajadah di sudut kamar.
Kinan menunduk dalam, jantungnya berdegup kencang.
Ia takut kehadiran sang Kyai adalah untuk mengusirnya karena ia dianggap telah mengotori kesucian kamar putranya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Kyai Mansyur tersenyum tipis saat melihat Kinan masih dalam balutan mukena putih bersih.
Tatapan matanya tidak menghakimi, melainkan penuh kebapakan—seolah ia melihat sebutir mutiara yang baru saja diangkat dari lumpur hitam.
"Adnan, ajak istrimu keluar," ucap Kyai Mansyur lembut.
"Jam menunjukkan pukul tujuh. Waktunya makan malam bersama di aula pondok dengan para santri dan pengurus. Jangan biarkan perutnya kosong, dia baru saja sembuh."
Kinan gemetar. Makan malam bersama para santri? Ia membayangkan ratusan pasang mata yang tadi sore menghujamnya dengan tatapan jijik.
"Abah, apa tidak sebaiknya kami makan di kamar saja?" tanya Adnan hati-hati, menyadari kekhawatiran istrinya.
Kyai Mansyur menggeleng perlahan, matanya menatap Kinan dengan penuh arti.
"Tidak. Pesantren ini adalah rumahnya sekarang. Jika ia tidak mulai duduk bersama mereka, mereka tidak akan pernah belajar arti dari sebuah penerimaan. Ayo, Nak Kinan. Pakai pakaianmu yang paling sopan, kami menunggumu di meja panjang."
Adnan menoleh pada Kinan, memberikan isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ia ada di sampingnya.
Kinan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
Ia harus menghadapi dunia ini, bukan sebagai wanita klub malam, melainkan sebagai istri dari seorang Ustadz Adnan.
Adnan menggenggam erat jemari Kinan, mencoba menyalurkan keberanian saat mereka melangkah menuju aula besar pesantren.
Kinan sudah berganti pakaian dengan gamis cokelat muda dan kerudung instan yang menutup dada, namun kepalanya tetap tertunduk.Ia merasa seperti domba yang masuk ke kandang serigala.
Begitu mereka memasuki aula, suasana yang tadinya riuh dengan denting sendok dan tawa ringan mendadak senyap.
Ratusan pasang mata tertuju pada mereka. Adnan tetap melangkah tenang menuju meja panjang di depan, tempat Kyai Mansyur sudah menunggu. Namun, saat Kinan hendak mengambil piring yang tertumpuk di ujung meja santriwati, seorang santriwati senior dengan kasar menarik tumpukan piring itu menjauh.
"Jangan sentuh!" desis santriwati itu dengan wajah penuh kejijikan.
"Aku tidak sudi makan menggunakan alat yang sudah disentuh oleh tangan kotornya."
Suara itu memicu reaksi berantai. Bisik-bisik yang tadinya tertahan kini meledak menjadi kalimat-kalimat tajam yang menyayat hati.
"Bagaimana bisa kita duduk dengan seorang pelacur?"
"Selera makanku hilang melihat wanita itu ada di sini. Sangat menjijikkan."
"Pesantren ini akan kena sial jika membiarkan kotoran masuk ke meja makan kita."
Kinan mematung. Kata-kata "pelacur" dan "menjijikkan" itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik.
Ia menatap tangannya yang tadi hendak mengambil piring, tangan yang baru saja ia basuh dengan wudhu, namun di mata mereka tetaplah najis.
Air mata Kinan tumpah seketika dan tanpa berkata apa-apa, ia melepaskan genggaman tangan Adnan dan berlari sekencang mungkin meninggalkan aula, menerobos kerumunan santri yang menatapnya sinis, lalu membanting pintu kamarnya kuat-kuat.
"Kinan!" seru Adnan hendak mengejar, namun langkahnya terhenti oleh suara dentuman tongkat Kyai Mansyur ke lantai kayu.
BRAK!
Aula seketika hening. Kyai Mansyur berdiri dengan wajah yang memerah karena amarah yang jarang diperlihatkannya.
Ia menatap tajam ke arah santriwati yang tadi memprovokasi.
"Siapa yang mengajarimu cara menjadi hakim bagi sesama manusia?" suara Kyai Mansyur menggelegar, bergetar karena emosi.
"Kalian merasa suci? Kalian merasa lebih mulia hanya karena hafal beberapa juz sementara hati kalian penuh dengan kotoran kesombongan?"
Kyai Mansyur menunjuk ke arah pintu tempat Kinan pergi.
"Wanita yang kalian hina itu telah menunjukkan kejujuran yang belum tentu kalian miliki! Jika kalian merasa terlalu suci untuk makan bersama orang yang sedang bertaubat, maka kalianlah yang tidak layak berada di pesantren ini!"
Kyai Mansyur menghela napas panjang, mencoba meredam kemarahannya sebelum memberikan keputusan.
"Untuk semua yang tadi membuka lisan dengan hinaan: Mulai besok, tidak ada waktu istirahat. Kalian dihukum menyetorkan hafalan Surah Al-Ma'un dan Al-Hujurat sebanyak lima puluh kali beserta artinya. Pahami baik-baik apa itu sombong dan apa itu menghina sesama! Sebelum kalian khatam maknanya, jangan harap kalian boleh duduk di meja makan ini lagi!"
Adnan menatap ayahnya dengan penuh rasa hormat, lalu dengan ijin sang Kyai, ia segera berlari menyusul istrinya yang hancur di dalam kamar.
Adnan berlari sepanjang selasar dengan jantung berdegup kencang.
Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di depannya membuat hatinya mencelos.
Kinan sedang berlutut di lantai dengan tangan gemetar, memasukkan kembali baju-baju barunya ke dalam tas plastik dengan terburu-buru. Isaknya terdengar menyayat hati, lebih perih dari sebelumnya.
"Kinan, apa yang kamu lakukan?" tanya Adnan dengan suara parau.
Kinan mendongak, wajahnya basah kuyup oleh air mata.
"Aku tidak bisa di sini, Mas. Aku tidak bisa! Tempat ini terlalu suci untuk orang sepertiku. Benar kata mereka, aku hanya akan mengotori meja makan kalian. Aku hanya akan menjadi aib bagi keluargamu."
Ia berdiri, menyampirkan tas plastiknya dengan paksa.
"Maaf, aku harus pergi. Biarkan aku kembali ke jalanan. Setidaknya di sana tidak ada yang berpura-pura suci hanya untuk menginjak hatiku."
"Tidak, Kinan! Jangan pergi!" Adnan menahan lengan istrinya, namun Kinan meronta.
Tepat saat ketegangan itu memuncak, pintu kamar kembali terbuka.
Kyai Mansyur berdiri di ambang pintu. Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya, yang ada hanyalah gurat kesedihan dan penyesalan yang mendalam.
"Nak Kinan..." suara Kyai Mansyur terdengar lirih.
Kinan terpaku, ia menunduk dalam, tak berani menatap sang Kyai. Namun, di luar dugaan, Kyai Mansyur melangkah mendekat dan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Maafkan saya. Maafkan kami yang telah gagal mendidik santri kami menjadi manusia yang memiliki kasih sayang. Saya yang paling bersalah karena tidak mampu menjaga tamu Allah di rumah saya sendiri," ucap Kyai Mansyur dengan ketulusan yang luar biasa.
Kinan tertegun melihat Seorang Kyai besar meminta maaf padanya.
Kyai Mansyur kemudian menoleh ke arah Adnan. "Adnan, Abah rasa lingkungan ini sedang tidak sehat untuk istrimu yang baru ingin melangkah. Fitnah dan kesombongan sudah terlalu dalam merasuki beberapa orang di sini."
Kyai Mansyur mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
"Pindah lah ke rumah yang baru saja kamu beli di pinggir kota itu. Rumah yang rencananya akan kamu tempati setelah menikah. Bawalah istrimu ke sana. Di sana, kalian bisa membangun surga kecil tanpa ada mata-mata yang menghakimi. Ajari dia dengan tenang, jauh dari bisik-bisik yang menyakitkan."
Adnan menerima kunci itu dengan tangan bergetar.
"Tapi, Abah..."
"Pindah lah ke sana, Adnan. Ajak istrimu. Lindungi dia di tempat yang lebih tenang," tegas Kyai Mansyur sambil mengusap bahu putranya.
Di kejauhan, di balik pilar selasar, Fauziah yang diam-diam mengikuti sang Kyai, mendengar setiap kata itu.
Ia mencengkram erat pilar kayu hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kecemburuan membakar dadanya.
"Pindah ke rumah baru?" desis Fauziah dengan tatapan penuh kebencian.
"Ustadz Adnan akan membawanya pergi hanya untuk menjauhkannya dari pengaruhku? Tidak akan kubiarkan pelacur itu hidup tenang menikmati rumah indah bersama lelaki pujaan ku!" gumam Fauziah.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅