Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Hari itu masih Jumat siang, tepat setelah Xiao Han dan Xiao Mei keluar dari ruang BK SMP Negeri 7 Golden Core. Jam sekolah baru saja usai pukul 13.30, tapi Xiao Han tidak langsung mengajak adiknya pulang ke kontrakan. Dia melihat wajah Xiao Mei yang masih pucat dan mata yang agak sembab, lalu memutuskan untuk memberi jeda sebentar sebelum kembali ke rutinitas rumah yang berat.
"Ayo, Mei. Kita mampir ke Taman Danau Biru dulu. Cuma sebentar, kasih makan bebek. Biar pikiranmu segar dulu sebelum pulang."
Xiao Mei mengangguk pelan, meski masih terlihat lelah. Mereka berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju taman kota itu, melewati jalan raya yang ramai dan gang-gang kecil yang sudah familiar. Udara siang terasa panas, tapi angin dari danau mulai terasa sejuk begitu mereka memasuki area taman.
Di tepi danau, Xiao Han membeli dua es kelapa muda dan sekantong remah roti dari pedagang keliling. Mereka duduk di bangku kayu panjang, menghadap air yang berwarna kebiruan karena pantulan langit cerah. Xiao Mei mulai melempar remah roti ke bebek-bebek yang berenang mendekat, tawanya pelan tapi mulai terdengar lagi.
"Kak, yang hitam besar itu galak banget, ngejar temennya terus."
Xiao Han tersenyum, merasa sedikit lega melihat adiknya bisa tertawa meski cuma sebentar. "Iya, kayak kakakmu kalau rebutan remote TV sama kamu."
Mereka tertawa kecil bersama.
Angin bertiup kencang dari arah danau, membawa daun kering beterbangan. Sehelai daun menempel di rambut Xiao Mei. Saat Xiao Han hendak mengambilnya, seorang gadis mendekat dari jalur jogging.
"Permisi... daunnya nyangkut di rambut adiknya."
Suara gadis itu lembut dan sedikit terengah karena habis berlari. Dia membungkuk, tangan rampingnya dengan kuku pendek tanpa cat mengambil daun itu dengan hati-hati.
"Terima kasih, Kak," kata Xiao Mei sambil tersenyum malu.
Gadis itu membalas senyum. Usianya sekitar 19 atau 20 tahun. Tubuhnya ramping tapi berlekuk sempurna, kemeja biru langit lengan panjang digulung sampai siku, celana pendek olahraga hitam memperlihatkan kaki panjang kecokelatan. Rambut hitam kecoklatan diikat ponytail tinggi, beberapa helai lepas menari ditiup angin. Matanya biru abu-abu yang mencolok, mungkin lensa kontak atau keturunan campuran.
"Gak apa-apa," jawabnya sambil meluruskan badan. "Aku lagi jogging, eh malah ketemu adek lucu yang lagi kasih makan bebek."
Xiao Mei tertawa kecil. "Kakaknya yang lucu, aku cuma ikut-ikutan."
Gadis itu menoleh ke Xiao Han, tatapannya bertemu sesaat. Ada rasa penasaran di matanya yang biru itu.
"Kalian sering ke sini?" tanyanya.
"Baru kali ini lagi akhir-akhir ini," jawab Xiao Han. "Biasanya sibuk. Hari ini cuma mau nyegarkan pikiran adik sebentar."
Gadis itu mengangguk. "Bagus. Aku juga suka ke sini kalau lagi stres kuliah. Namaku Aria. Mahasiswi tahun kedua Universitas Golden Core, jurusan Desain Komunikasi Visual."
"Xiao Han," balasnya singkat. "Ini adikku, Xiao Mei. Kelas 1 SMP."
Aria tersenyum lebar ke Xiao Mei. "Wah, masih SMP tapi udah pinter kasih makan bebek. Nanti kalau gede mau jadi apa?"
"Veteriner!" jawab Xiao Mei cepat. "Aku suka hewan."
"Bagus! Aku juga suka hewan, tapi aku takut kalau disuruh suntik. Jadi mending gambar aja hewannya."
Mereka bertiga tertawa kecil. Angin kembali bertiup, membawa aroma kopi dari kedai kecil di ujung taman.
Aria melirik jam tangan olahraganya. "Aku harus balik ke kosan bentar lagi, ada deadline tugas. Tapi senang ketemu kalian. Xiao Mei, kalau butuh gambar bebek buat PR seni, kabarin aku ya. Aku suka gambar gratis buat anak kecil."
Dia mengeluarkan ponsel. "Boleh foto bareng? Biar aku ingat hari ini ada adik lucu yang bikin mood naik."
Xiao Mei langsung antusias. Xiao Han mengangguk canggung. Aria memeluk bahu Xiao Mei dari samping, selfie tiga orang dengan latar danau biru. Saat melihat hasilnya, Aria tertawa.
"Kakaknya kelihatan serius banget. Senyum dong, Kak."
Xiao Han memaksakan senyum tipis. Aria mengangguk puas.
"Oke, aku simpan nomor kalian ya? Eh, nomor kakaknya aja kali ya, biar nggak ganggu adiknya pas belajar.”
Mereka bertukar nomor WhatsApp. Aria mengetik nama "Kak Han + Xiao Mei Lucu" di kontaknya.
"Terima kasih ya hari ini. Sampai ketemu lagi!"
Aria melambai, lalu mulai berjalan perlahan ke arah jalur jogging. Xiao Han dan Xiao Mei masih duduk di bangku, menatap punggung Aria yang menjauh.
Xiao Mei menoleh ke kakaknya dengan mata berbinar. "Kak, Kak Aria cantik banget ya. Matanya biru! Kayak di drama Korea."
Xiao Han mengacak rambut adiknya. "Iya, cantik. Yang penting hatinya baik."
Saat itu juga, ponsel di saku celana Xiao Han bergetar keras, bukan notifikasi biasa, tapi panggilan masuk. Dia mengeluarkannya dengan cepat. Layar menunjukkan nama kontak yang sudah dia simpan: Lin Qing.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia ingat janji malam ini, jam 9 di villa pribadi di pinggir danau. "Malam ini spesial," kata Lin Qing kemarin. Dan dia sudah bilang akan datang.
Xiao Han menatap layar itu beberapa detik, lalu buru-buru berdiri.
"Mei, Kakak harus pergi sekarang. Ada... urusan kerja mendadak. Kamu pulang sendiri ya? Jalan kaki aja, nggak jauh. Hati-hati."
Xiao Mei terkejut. "Eh? Tapi Kak...."
"Maaf ya, Mei. Kakak janji besok kita makan enak bareng Ibu. Kamu pulang dulu, ya? Kakak transfer uang jajan ke rekeningmu sekarang."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Xiao Han berbalik dan berjalan cepat meninggalkan bangku itu. Dia bahkan tidak sadar bahwa Aria, yang tadinya sudah berjalan menjauh, sempat berhenti dan menoleh kembali. Gadis itu melihat Xiao Han pergi tergesa-gesa, lalu mendekati Xiao Mei yang masih duduk sendirian dengan ekspresi bingung.
"Hey... kakakmu kenapa buru-buru banget?" tanya Aria lembut sambil duduk kembali di bangku.
Xiao Mei menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Entah, Kak. Katanya ada urusan kerja…"
Aria memandang ke arah Xiao Han yang sudah hampir hilang di antara kerumunan pengunjung taman. Lalu dia menoleh ke Xiao Mei, tersenyum hangat.
"Gpp, nanti aku anterin pulang ya? Kosanku searah kok. Kita bisa ngobrol sambil jalan."
Xiao Mei mengangguk kecil, meski hatinya masih bertanya-tanya.
Sementara itu, Xiao Han berlari kecil menuju halte bus terdekat, pikirannya sudah melayang ke malam nanti, ke villa, ke Lin Qing, ke uang 25 juta yang bisa mendekatkan dia pada biaya terapi ibunya. Tapi di dadanya ada sesuatu yang terasa salah, sesuatu yang dia coba abaikan: dia baru saja meninggalkan adiknya sendirian di taman, bersama orang asing yang baru dikenal.