Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Elena baru saja memejamkan mata ketika suara itu membangunkannya. Suara yang tidak wajar, seperti napas yang tersendat, seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan. Elena membuka matanya dalam gelap.
Ia mendengarkan untuk beberapa detik. Lalu ia menyalakan layar ponselnya dan menerangi kasur di sampingnya, karena rumah nya malam itu listrik mati karena tidak bisa membeli token listrik.
Dan apa yang ia lihat membuat jantungnya berhenti. Ara mengalami kejang.
Tubuh kecil itu kaku dan gemetar pada saat bersamaan, tangan mungilnya mengepal, kakinya menegang, matanya setengah terbuka tapi tidak melihat apapun, tidak mengenali apapun, hanya putihnya saja yang terlihat di balik kelopak yang bergetar. Bibirnya membiru di pinggirnya. Napasnya keluar dalam bunyi yang tidak wajar.
"Ara—"
Elena langsung bangkit. Tangannya meraih bahu anaknya, menepuk pipinya pelan, memanggil namanya berulang kali dengan suara yang sudah tidak bisa ia kendalikan karena panik.
"Ara. Ara, Sayang. Ibu di sini. Ara...."
Tapi Ara tidak merespons.
Tubuhnya terus bergetar di bawah tangan Elena membuat seluruh tubuh Elena ikut gemetar karena ketakutan.
"Evan!" Suaranya keluar keras tanpa ia rencanakan. "Evan bangun!"
Di kasur di sudut ruangan Evan terlonjak, matanya membuka lebar dalam gelap, mencari-cari sumber suara ibunya yang tidak pernah ia dengar setinggi ini sebelumnya.
"Bu!"
"Jaga Ara. Pegang tangannya. Jangan panik." Elena sudah berdiri, sudah bergerak ke arah pintu. "Ibu minta tolong dulu."
"Tapi Ara kenapa, Bu? Ara kenapa?"
"Evan." Elena berbalik sedetik, menatap anaknya dalam gelap dengan cahaya layar ponsel yang redup. Wajah Evan yang tujuh tahun itu terlihat kebingungan. "Ibu butuh kamu tenang sekarang. Bisa?"
Evan menelan ludah. Lalu mengangguk meskipun matanya sudah berkaca-kaca.
Lalu Elena berlari keluar rumahnya. Kakinya tidak memakai alas saat menghantam tanah gang yang gelap dan lembab. Kerikil kecil menusuk telapak kakinya, tanah basah sisa hujan sore melekat di sela-sela jarinya. Elena tidak merasakan satupun. Ia berlari melewati rumah-rumah, melewati pohon mangga besar yang selalu dijadikan penanda ujung gang, terus berlari sampai ke rumah Bu Ratih yang lampu terasnya menyala sangat terang.
Ia menghantam pintu itu dengan telapak tangannya. Menggedor dengan panik.
"Bu Ratih! Bu Ratih tolong buka pintunya! Tolong!"
Keheningan malam kampung yang tadinya utuh pecah oleh suaranya. Dari dalam terdengar suara langkah kaki yang tergesa, suara sesuatu yang terjatuh, lalu pintu yang dibuka dari dalam.
Bu Ratih muncul dengan daster tidur dan rambut yang berantakan, matanya masih setengah terpejam tapi langsung terbuka penuh saat melihat wajah Elena di depannya, wajah yang putih, yang gemetar, yang tidak pernah ia lihat seperti itu sebelumnya.
"Elena? Astaga, ada apa?"
"Ara kejang, Bu." Suara Elena pecah di kata terakhir. "Panasnya tinggi dari tadi sore, sekarang dia kejang, saya tidak tahu harus berbuat apa, saya tidak punya kendaraan, saya tidak punya siapa-siapa," ia berhenti karena suaranya tidak bisa melanjutkan. Ia menelannya, memaksanya kembali bicara. "Tolong, Bu Ratih. Tolong."
Bu Ratih tidak bertanya lagi. Ia berbalik ke dalam rumah. "Pak! Pak bangun, cepat! Bapak!"
Suara Pak Darmo yang menggerutu dari dalam, dengan suara langkah kaki yang berat, suara kunci mobil yang diambil terburu-buru. Elena tidak menunggu. Ia sudah berbalik berlari kembali ke kontrakan untuk mengambil Ara.
Ara masih di kasur saat Elena masuk. Kejangnya sudah berhenti tapi tubuhnya lunglai dengan cara yang entah kenapa terasa lebih menakutkan dari saat kejang tadi. Evan duduk di sisi kasur memegang tangan adiknya dengan kedua tangannya, wajahnya pucat dan basah, bibirnya bergerak-gerak seperti sedang berdoa atau sedang bicara pada Ara meskipun tidak ada suara yang keluar.
Pemandangan itu, anak tujuh tahun yang duduk sendirian dalam gelap memegang tangan adiknya yang tidak sadarkan diri, menghantam sesuatu di dalam dada Elena yang langsung terasa sangat sakit.
Ia menggendong Ara. Tubuh kecil itu terasa mulai mendingin di pelukannya. Elena merasa lega mungkin panas nya sudah turun.
"Evan." Elena menatap anaknya. "Kunci pintu. Tunggu di sini. Jangan buka untuk siapapun."
"Ibu jangan lama-lama ya." Suara Evan kecil sekali. Suara yang berusaha keras terdengar berani.
Elena ingin memeluknya. Ingin duduk di sisinya dan memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tidak punya waktu untuk itu malam ini.
"Ibu usahakan." Hanya itu yang bisa ia janjikan.
Ia berlari keluar dengan Ara di pelukannya.
Mobil Pak Darmo sudah hidup di depan gang. Elena masuk ke kursi belakang, Ara di pangkuannya, Bu Ratih menyusul masuk di sebelahnya. Pak Darmo langsung menginjak gas bahkan sebelum pintu tertutup sempurna.
Elena tidak bicara selama perjalanan itu. Ia hanya menundukkan kepalanya ke kepala Ara, mendekatkan bibirnya ke telinga anaknya yang kecil, berbisik hal-hal yang tidak ia rencanakan sebelumnya, hal-hal yang keluar begitu saja dari tempat yang paling dalam di dalam dirinya.
"Ara dengar suara ibu tidak? Ara, Sayang, ibu di sini. Ibu di sini terus. Ara tidak sendirian."
Ara tidak menjawab. Tubuhnya tidak bereaksi sedikitpun.
"Jangan tidur dulu ya. Sebentar lagi sampai. Sebentar lagi ketemu dokter. Ara kuat ya. Ara bisa."
Ara tidak menjawab. Napasnya keluar dalam tarikan yang tidak teratur, terlalu cepat lalu terlalu lambat, seperti sesuatu di dalam tubuh kecilnya sedang berjuang dengan sangat keras.
Elena mengusap rambut anaknya dengan tangan yang gemetar.
Ia berdoa. Bukan dengan kalimat yang rapi dan tertata seperti doa yang biasa ia panjatkan sebelum tidur. Tapi doa yang hancur, yang berantakan, yang keluar dari orang yang sudah tidak tahu lagi cara meminta dengan sopan karena yang ia minta terlalu besar dan waktunya terlalu mendesak.
Tolong. Tolong jangan ambil dia. Apapun yang harus aku tanggung, aku sanggup. Ambil apapun yang kamu mau dari hidupku tapi jangan ambil dia. Tolong. Tolong.
Bu Ratih menyentuh lengannya pelan di kegelapan mobil itu.
Elena tidak menoleh. Ia hanya terus menatap wajah anaknya yang pucat di bawah cahaya jalanan yang sesekali masuk lewat kaca mobil.
Wajah yang tembam itu, pipi yang selalu ia cium setiap pagi, pipi yang selalu merah kalau habis main di luar, pipi yang mengembung lucu saat Ara meniup makanan yang panas — sekarang terlihat begitu pucat, begitu kecil, begitu rapuh di bawah cahaya jalanan yang redup.
"Sudah dekat, Elena." Suara Pak Darmo dari depan. "Lima menit lagi."
Elena menundukkan kepalanya.
Lima menit lagi, Ara. Bertahan lima menit lagi ya.