Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pendaftaran Basket
Matahari sore mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga yang masuk melalui celah-celah ventilasi gedung Fakultas Ekonomi. Begitu dosen menutup kuliah terakhir hari itu, suasana kelas yang tadinya sunyi mendadak pecah oleh suara gesekan kursi dan riuh obrolan mahasiswa yang berhamburan keluar.
Liana menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayuti pundaknya. Namun, rasa lelah itu segera tergantikan oleh desiran adrenalin yang jauh lebih kuat. Sore ini bukan sekadar sore biasa. Ini adalah sore di mana ia akan melangkah masuk ke dunia yang selama ini hanya ia intip dari balik rintik hujan.
"Li, ayo cepetan! Keburu antreannya panjang kayak ular naga!" seru Dhea sambil menarik lengan Liana dengan semangat yang meluap-luap.
"Sabar, Dhe. Tas gue kejepit nih," sahut Liana sambil tertawa kecil, meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan alat tulisnya.
Keduanya berjalan cepat menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang menuju tempat parkir atau sekadar duduk-duduk di taman. Tujuan mereka jelas: Gedung Olahraga (GOR) Universitas Cakrawala yang letaknya berada di bagian belakang kompleks kampus.
Semakin dekat mereka dengan GOR, suara pantulan bola basket yang beradu dengan lantai kayu mulai terdengar. Duk. Duk. Duk. Suara itu berpadu dengan lengkingan peluit dan teriakan-teriakan penyemangat. Aroma udara di sekitar GOR pun berubah; ada bau khas lantai parket yang dipoles, aroma keringat, dan semangat kompetisi yang kental.
Liana berhenti sejenak di depan pintu besar GOR yang terbuka lebar. Ia menelan ludah. Di dalam sana, lapangan basket yang luas tampak begitu megah. Beberapa senior sedang melakukan pemanasan, melakukan lay-up dengan gerakan yang sangat atletis.
"Wih, rame banget, Li! Liat tuh, meja pendaftarannya di pojok sana," tunjuk Dhea.
Di sudut lapangan, dua meja panjang telah ditata. Di belakang meja tersebut, beberapa pengurus UKM duduk dengan tumpukan formulir. Dan benar saja, di meja nomor satu, sosok yang sejak tadi menghantui pikiran Liana duduk dengan tegak.
Justin.
Ia mengenakan jersey latihan berwarna hitam tanpa lengan, memperlihatkan otot lengannya yang kencang dan atletis. Wajahnya tampak serius, matanya tertuju pada lembaran kertas di depannya, sesekali ia berbicara dengan nada rendah kepada maba yang sedang diwawancarai. Di sebelahnya, Raka tampak jauh lebih santai, sesekali tertawa dan bercanda dengan para pendaftar.
"Li, itu Kak Justin yang jaga meja satu! Aduh, mati gue kalau dapet dia," bisik Dhea sambil meremas ujung kaus olahraganya.
"Tenang, Dhe. Kan ada Kak Raka juga," balas Liana, mencoba menenangkan diri sendiri meski jantungnya kini berdegup seperti genderang perang.
Mereka pun ikut mengantre. Liana memperhatikan bagaimana Justin melakukan wawancara. Ia tidak banyak tersenyum. Pertanyaannya singkat, padat, dan tajam. Beberapa maba perempuan tampak keluar dari meja Justin dengan wajah lesu, bahkan ada yang matanya berkaca-kaca karena dikritik soal motivasi mereka yang dianggap hanya "main-main".
"Antrean selanjutnya!" teriak seorang panitia.
Dhea maju duluan karena posisinya tepat di depan Liana. Beruntung bagi Dhea, ia diarahkan ke meja Raka. Liana mengembuskan napas lega untuk sahabatnya. Dhea tampak asyik mengobrol dengan Raka yang ramah.
Namun, kelegaan Liana hanya bertahan beberapa detik.
"Selanjutnya! Meja satu," panggil panitia itu lagi.
Liana mematung. Meja satu. Itu meja Justin.
Dengan langkah yang terasa berat, Liana berjalan mendekat. Ia bisa merasakan tatapan mata beberapa orang di GOR tertuju padanya. Ia menarik kursi di depan Justin dan duduk dengan kaku.
Justin tidak langsung mendongak. Ia masih sibuk mencoret sesuatu di formulir sebelumnya. Bau parfum yang sama dengan yang di kantin tadi siang kembali tercium, kali ini bercampur dengan aroma segar keringat setelah latihan.
"Nama," ucap Justin tanpa melihat ke arah Liana. Suaranya dingin, datar, dan sangat berwibawa.
"Liana... Liana Putri, Kak," jawab Liana berusaha agar suaranya tidak pecah.
Justin mendongak. Matanya yang tajam langsung bertemu dengan mata Liana. Ada jeda satu detik di mana Justin tampak sedikit tertegun, seolah mengenali gadis yang duduk di sampingnya saat makan siang tadi. Namun, ekspresi itu segera hilang, digantikan oleh tatapan profesional yang mengintimidasi.
Ia mengambil formulir kosong dan menyodorkannya pada Liana. "Isi dulu. Terutama bagian pengalaman olahraga."
Liana menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit dingin. Ia mengisinya dengan cepat. Saat sampai di kolom pengalaman, ia ragu sejenak, lalu menuliskan: Hanya basket di sekolah menengah (ekstra kurikuler).
Justin mengambil kembali kertas itu setelah Liana selesai. Ia membacanya dengan teliti, keningnya sedikit berkerut.
"Cuma ekskul sekolah?" tanya Justin. "Lo tau kan, UKM Basket di sini levelnya nasional? Kita nggak punya waktu buat ngajarin orang dari nol soal cara dribble yang bener."
"Saya tau, Kak. Tapi saya mau belajar. Saya disiplin dan nggak gampang menyerah," jawab Liana mantap. Ia mengingat perjuangannya mengejar bus pagi tadi dan bagaimana ia terpesona melihat Justin di bawah hujan. Itu adalah bahan bakarnya.
Justin menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di depan dada. "Tadi siang di kantin, temen lo bilang lo ikut ini buat hidup sehat. GOR ini bukan tempat gym atau taman kota buat lari sore, Liana. Ini tempat buat orang yang mau menang."
Liana merasa wajahnya memanas. Justin benar-benar tidak memberi ampun. "Hidup sehat itu salah satu alasannya, Kak. Tapi alasan utamanya... saya suka olahraga ini. Saya suka cara orang-orang di sini berjuang buat masukin bola ke ring meskipun mereka udah capek."
Justin menatap Liana dalam-dalam, seolah sedang mencari kebohongan di matanya. "Oke. Kalau lo beneran niat, lo harus buktiin di lapangan. Bukan cuma lewat omongan."
Justin berdiri, mengambil bola basket di bawah mejanya, dan melemparnya ke arah Liana. Liana nyaris saja tidak menangkapnya karena kaget.
"Sepuluh kali free throw," perintah Justin sambil menunjuk ke arah ring di ujung lapangan yang sedang kosong. "Kalau masuk kurang dari tiga, lo nggak usah lanjutin pendaftaran ini. Gue nggak butuh beban di tim putri."
Raka yang sedang asyik bercanda dengan Dhea di meja sebelah sampai menoleh. "Woi, Tin! Sadis amat lo! Maba baru masa langsung tes free throw?"
"Dia bilang dia nggak gampang menyerah, Rak. Gue cuma mau liat buktinya," sahut Justin tanpa menoleh pada Raka. Matanya masih tertuju pada Liana.
Dhea menatap Liana dengan wajah cemas, memberikan isyarat semangat lewat kepalan tangan. Liana berdiri, memeluk bola itu erat. Rasanya berat, jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Ia berjalan menuju garis free throw diikuti oleh pandangan Justin yang berdiri di pinggir meja pendaftaran.
Liana berdiri di sana. Ring basket itu terasa sangat tinggi dan jauh. Ia menarik napas dalam-dalam. Detik demi detik. Ia membayangkan gerakan Justin di bawah hujan kemarin. Ia mencoba meniru posisinya.
Lemparan pertama... meleset jauh.
Lemparan kedua... hanya mengenai papan.
Beberapa mahasiswa di GOR mulai memperhatikan, membuat Liana semakin gugup.
"Fokus ke ringnya, bukan ke orang-orang di sekitar lo," suara Justin terdengar dari kejauhan. Tidak lagi terdengar dingin, tapi lebih seperti instruksi seorang pelatih.
Liana memejamkan mata sejenak. Ia membuang semua rasa malunya. Ia hanya memikirkan bola dan ring.
Lemparan ketiga... masuk!
Lemparan keempat... meleset.
Lemparan kelima... masuk!
Hingga lemparan kesembilan, Liana baru memasukkan dua bola. Ini adalah lemparan terakhir. Penentuan apakah ia bisa masuk UKM ini atau tidak. Jika meleset, ia harus pulang dengan malu dan menyerah pada mimpinya untuk dekat dengan Justin.
Liana berkeringat dingin. Ia memantulkan bola tiga kali ke lantai kayu. Duk. Duk. Duk. Ia menekuk lututnya, mendorong bola dengan seluruh kekuatannya. Bola itu melayang tinggi, berputar di udara, dan... swish! Masuk dengan sempurna tepat di detik terakhir sebelum ia menyerah.
"Tiga, Kak," ucap Liana sambil terengah-engah, menatap Justin dari tengah lapangan.
Justin tidak bertepuk tangan. Ia hanya mengangguk tipis, hampir tidak terlihat. Ia kembali duduk dan mencoret sesuatu di formulir Liana.
"Besok latihan perdana jam empat sore. Pakai sepatu yang bener, jangan pake sneakers jalan-jalan kayak tadi. Kalau telat semenit, lo lari keliling GOR sepuluh kali," ucap Justin tanpa melihatnya lagi. "Panggil antrean selanjutnya."
Liana berjalan kembali ke arah Dhea dengan lutut lemas. Ia berhasil. Ia diterima.
"Gila, Li! Lo keren banget tadi! Gue udah jantungan liat Kak Justin kayak malaikat pencabut nyawa gitu," cerocos Dhea saat mereka berjalan keluar GOR.
Liana hanya tersenyum lemas. Ia menoleh ke belakang sekali lagi. Justin sudah sibuk dengan pendaftar lain, namun Liana merasa ini adalah kemenangan kecil pertamanya. Ia tidak hanya mendapatkan tempat di UKM, tapi ia baru saja membuktikan sesuatu di depan laki-laki yang ia sukai.
Di luar GOR, udara sore terasa begitu segar. Liana melihat ke langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan.
"Masih banyak detiknya, Justin," bisik Liana dalam hati. "Dan gue nggak akan berhenti di sini."