NovelToon NovelToon
Residu Kulit Kacang

Residu Kulit Kacang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."

Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.

Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Dari Masa Silam

Hari pernikahan itu tiba dengan segala keanggunan yang telah kususun rapi dalam mimpi-mimpiku. Langit pagi memberikan warna biru yang bersih, seolah ikut merestui langkahku untuk menanggalkan beban masa lalu. Aku duduk di depan cermin besar di kamarku, ruangan yang selama ini menjadi saksi bisu isak tangisku dan hitung-hitungan cicilan bank yang mencekik. Hari ini, ruangan itu dipenuhi aroma melati dan bedak pengantin.

Perias pengantin dengan telaten mengulaskan warna di wajahku. Aku menatap pantulan diriku sendiri; wanita yang ada di cermin itu tidak lagi terlihat seperti gadis kecil kurus yang memanjat pohon jambu monyet atau membawa karung besi tua. Ia terlihat berwibawa, kuat, namun tetap menyimpan kelembutan di matanya. Aku mengenakan kebaya putih panjang yang melambangkan kemurnian hati yang selama ini kuragukan.

"Cantik sekali, Mbak Maya. Matanya bicara kalau Mbak ini orang yang sangat sabar," puji sang perias.

Aku hanya tersenyum tipis. Sabar adalah kata lain untuk bertahan hidup bagiku. Di luar kamar, aku bisa mendengar suara riuh rendah tamu yang mulai berdatangan. Pernikahan ini berjalan persis seperti keinginanku: tanpa campur tangan Paman-paman yang rakus itu. Aku membayar semuanya sendiri, memastikan setiap detail adalah hasil kemandirianku. Aku merasa bebas.

Prosesi akad nikah berlangsung dengan khidmat. Saat Mas Aris mengucapkan ijab kabul dengan satu napas yang mantap, aku merasakan getaran hebat di dadaku. Air mata jatuh, namun kali ini bukan air mata kepedihan. Itu adalah air mata syukur karena Tuhan mengirimkan seorang pria yang sudi memeluk seluruh pecahanku.

Ayah menangis saat menjabat tangan Mas Aris. Aku tahu, tangisan Ayah adalah campuran rasa syukur dan permohonan maaf yang tak terucap karena telah membiarkanku berjuang sendirian selama ini. Saat aku mencium tangan Mas Aris sebagai suami sahku, aku berbisik dalam hati: *Cicilan rumah mungkin belum lunas, tapi cicilan pencarian pelindung hidupku berakhir hari ini.

Namun, roda nasib seringkali memiliki selera humor yang gelap. Di tengah resepsi, saat aku dan Mas Aris berdiri di pelaminan untuk menyalami para tamu, dunia seolah berhenti berputar.

Di barisan tamu yang sedang mengantre, aku melihat sosok itu. Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya, mengenakan batik usang yang tampak kebesaran di tubuhnya yang mulai membungkuk. Awalnya aku tidak yakin, namun saat dia semakin mendekat, bau itu bau keringat dan aroma pengap yang menghantuiku sejak SD seolah tercium kembali oleh indra penciumanku.

Dia adalah pria itu. Tetangga dari rumah panggung Nenek. Iblis yang mencuri masa kecilku di siang sunyi belasan tahun yang lalu.

Dia datang bersama rombongan kerabat jauh dari desa Nenek yang memang sengaja diundang oleh Ibu karena merasa mereka adalah "orang lama". Pria itu berjalan perlahan, tersenyum ramah kepada tamu lain, seolah-olah dia adalah seorang kakek yang baik dan bijaksana. Dia tidak tahu bahwa setiap langkahnya adalah hantaman martil pada mental yang baru saja kubangun.

Tubuhku membeku. Tanganku yang tadinya hangat dalam genggaman Mas Aris mendadak sedingin es. Napasku mulai pendek, dan pandanganku berkunang-kunang. Dekorasi bunga yang indah di sekelilingku mendadak tampak seperti jeruji penjara.

"Maya? Kamu kenapa?" bisik Mas Aris, menyadari perubahan drastis pada sikapku.

Aku tidak bisa menjawab. Pria itu sudah sampai di depanku. Dia menatapku, matanya yang mulai keruh menatap wajahku dengan penuh kekaguman yang memuakkan.

"Selamat ya, Maya. Sudah jadi orang sukses, suaminya juga gagah. Masih ingat Om, kan? Tetangga depan rumah Nenek dulu," ucapnya dengan suara serak yang sangat kukenali. Dia mengulurkan tangannya yang keriput untuk menjabat tanganku.

Saat itu, aku merasakan mual yang luar biasa. Ingin rasanya aku berteriak, menjatuhkan nampan, dan mengusirnya di depan ribuan tamu. Aku ingin berteriak kepada dunia bahwa pria tua ini adalah seorang pemangsa. Namun, di sampingku ada Mas Aris. Di depanku ada Ayah dan Ibu yang sedang tersenyum bangga. Di bawah atap ini adalah rumah yang kubayar dengan susah payah agar menjadi tempat yang damai.

Aku menatap tangannya yang terjulur. Tangan yang dulu membungkam mulutku. Tangan yang dulu mengunci pintu.

Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, aku tidak menjabat tangannya. Aku hanya menangkupkan kedua tanganku di depan dada, memberikan salam tanpa sentuhan fisik. Mataku menatapnya tajam, sangat tajam, hingga senyum di wajahnya perlahan memudar. Aku tidak mengatakan "terima kasih". Aku tidak membalas sapaannya.

"Silakan nikmati hidangannya," kataku dengan suara yang sangat rendah namun penuh dengan otoritas.

Pria itu tampak bingung, merasa ada sesuatu yang salah. Dia buru-buru bersalaman dengan Mas Aris dan berjalan menjauh menuju area makanan. Aku memperhatikan punggungnya. Dia terlihat begitu lemah, begitu rapuh. Dan saat itulah sebuah kesadaran menghantamku Dia hanyalah seorang pria tua yang tidak berdaya sekarang. Dia tidak lagi memiliki kuasa atas diriku.

Melihatnya berjalan menjauh, rasa sesak di dadaku perlahan menghilang. Aku menyadari bahwa kehadirannya di pernikahanku bukanlah sebuah kutukan, melainkan ujian terakhir untuk membuktikan apakah aku sudah benar-benar merdeka. Selama ini aku takut padanya. Selama ini aku takut bayangannya akan menghancurkan kebahagiaanku. Tapi hari ini, di rumahku sendiri, di atas pelaminan yang kubayar sendiri, aku berdiri lebih tinggi darinya.

Mas Aris meremas lembut tanganku. "Dia orangnya, kan?" bisiknya pelan.

Aku terkejut. "Mas tahu?"

"Aku bisa merasakannya dari reaksimu. Kamu mau aku minta petugas keamanan untuk mengantarnya keluar?" tanya Mas Aris dengan nada protektif yang tulus.

Aku menggeleng. "Jangan, Mas. Biarkan dia makan. Biarkan dia melihat bahwa gadis kecil yang dia rusak dulu sekarang telah tumbuh menjadi wanita yang tidak bisa dia sentuh lagi. Biarkan dia melihat bahwa kejahatannya gagal menghancurkan hidupku."

Aku melanjutkan menyalami tamu-tamu berikutnya dengan senyum yang jauh lebih nyata. Kehadiran pria itu justru memberiku penutupan yang selama ini kucari. Dia hanyalah bagian kecil dari masa laluku yang pahit, sementara Mas Aris, rumah ini, dan masa depanku adalah kenyataan yang manis.

Malam itu, setelah pesta usai dan semua tamu pulang, aku duduk di sofa ruang tamu bersama Mas Aris. Rumah masih berantakan dengan sisa-sisa kado dan bunga, tapi hatiku terasa sangat lapang.

"Tadi kamu hebat sekali, Maya," ucap Mas Aris sambil merangkul pundakku.

"Aku akhirnya sadar, Mas. Aku bukan korban lagi. Aku pemenang," jawabku sambil menyandarkan kepala di bahunya.

Aku melihat ke sekeliling rumah. Cicilan bank memang masih panjang, dan mungkin kenangan pahit itu tidak akan hilang sepenuhnya. Tapi mulai besok, aku tidak akan lagi bangun dengan rasa takut. Aku sudah memiliki rumah fisik yang kokoh, dan sekarang, aku memiliki rumah emosional dalam diri Mas Aris.

Aku adalah Maya. Wanita yang membangun istananya di atas tanah penderitaan, dan hari ini, aku secara resmi telah mengusir iblis masa laluku hanya dengan sebuah tatapan. Aku sudah benar-benar pulang.

1
orang cobacoba
😭😭😭😭😭😭😭
orang cobacoba
akhirnyaa may😭😭😭
orang cobacoba
may.. pliss sekali aj lho ikutin egois sndiri kek... 😓 🫂
orang cobacoba
when cicilan lunas bisa foya foya untuk diri sndiri😀 tnpa trpikir beban lain bisa g si
orang cobacoba
maya in tipe gen sandwich bgt 🫂🫂 niat mncrii kedamaian jiwa dn ketentraman lainny mlh ada lagi hal yg hrus dikorbanin (tmbh beban😓)
orang cobacoba
🫂🫂 🫂
orang cobacoba
😓😞😞
orang cobacoba
keluarga ada karena liat uang😀
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..
orang cobacoba
Ceritaa nya mendalam banget... Kuharap bisa dijadikan film
Emily
beli rumah neneknya yg ada mengingatkan kenangan pahit masa kecil
Esti 523
ya alloh ceritanya super duper bagus bgt thor,tdk ada typonya reel bgt di kehidupan nyata
Sri Jumiati
maya wanita yg kuat
Esti 523
nyesek bgt dari bab kebab nya,bawangnya bertsburan
Ummu Shafira
/Cry//Cry//Cry/
Sri Jumiati
bagus may .enyahkan parasit
Ummu Shafira
recommended 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Ummu Shafira
kasihan Maya🥺🥺dan hal seperti ini mirisnya banyak terjadi didunia nyata🥺🥺
Sri Jumiati
wanita tangguh maya
Sri Jumiati
semangat thor .suka
Emily
kisah Maya merasa melihat diri sendiri ketika kita tidak punya apa apa kerabat memandang remeh diri kita beda saat kita punya finansial yg kuat kerabat merasa segan ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!