NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Mas Bram kenapa jadi gini?" seruku kesal. Dadaku terasa sesak melihat koper besar milik Monika sudah tergeletak di ruang tamu.

"Iya mau gimana lagi, Rania," jawabnya pelan, seolah semua ini adalah hal biasa.

"Gimana apanya, Mas? Sebelumnya Monika tinggal di rumah kamu, kan?"

"Iya… tapi Monika sekarang tinggal sendirian. Ibunya baru saja meninggal. Kasihan dia, Ran."

Kasihan.

Kata itu lagi. Kata yang selalu berhasil membuatku merasa seperti perempuan paling tidak berperasaan di dunia.

Aku terdiam. Tanganku mengepal tanpa sadar. Jadi karena kasihan, dia boleh tinggal di rumah suamiku? Di rumah kami?

"Apa harus di sini, Mas?" tanyaku menahan getar di suara. "Bukannya dia punya keluarga lain?"

Bram menghela napas panjang. "Keluarganya jauh. Lagian, dia masih istriku secara hukum."

Deg.

Kalimat itu seperti tamparan keras.

"Istri?" ulangku lirih. "Lalu aku ini apa, Mas? Simpanan? Bayangan?"

Bram mendekat, mencoba menyentuh bahuku, tapi aku mundur selangkah.

"Jangan lebay, Ran. Kamu tahu sekarang situasinya seperti apa."

Benar. Aku tahu. Aku tahu ketika menikah dengan Bram, aku menjadi istri kedua. Aku tahu surat cerai mereka belum juga turun. Aku tahu semua risikonya.

Tapi mengetahui bukan berarti siap menerima kenyataannya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah kamar tamu. Monika keluar dengan wajah pucat, mata sembab, rambut terurai seadanya. Wajah perempuan yang sedang berduka.

"Maaf kalau kehadiranku mengganggu," ucapnya pelan, namun ada sesuatu di sorot matanya yang sulit kuartikan. Lemah… atau menang?

Aku menatapnya tanpa senyum. "Aku nggak bilang terganggu."

Tapi hatiku berteriak iya.

Bram langsung berdiri di sisi Monika. Refleks. Seolah ia memang terbiasa berada di sana.

"Rania cuma kaget," katanya membelaku—atau membela keadaan?

Monika menunduk. "Aku cuma butuh tempat sementara. Setelah semuanya tenang, aku akan pergi."

Sementara.

Entah kenapa kata itu terasa menakutkan. Karena dalam hidupku, yang sementara sering kali berubah menjadi selamanya.

Aku berbalik dan melangkah ke kamar. Tak sanggup melihat mereka berdiri terlalu dekat. Tak sanggup melihat suamiku bersikap begitu lembut pada perempuan lain—meski perempuan itu adalah istri pertamanya.

Sesampainya di kamar, aku menutup pintu dan bersandar di baliknya.

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku lelah.

Lelah menjadi yang kedua. Lelah harus selalu mengerti. Lelah berpura-pura kuat.

Di luar sana, mungkin Bram merasa ia sedang menjadi lelaki bertanggung jawab. Menolong wanita yang kehilangan ibu. Menjaga perasaan dua istrinya.

Aku menghela napas pelan. Kalau saja aku tidak sedang hamil, sudah pasti aku sendiri yang akan mengurus perceraian antara aku dan Mas Bram.

Aku menatap tajam Mas Bram dan juga Monika yang berdiri tak jauh darinya.

"Maaf, tapi aku nggak bisa, Mas. Hidup dengan Monika… aku nggak sanggup," seruku tegas meski suaraku bergetar.

Sunyi.

Lalu Monika tersenyum tipis.

"Kenapa nggak belajar ikhlas, Ran? Seperti aku."

Aku menoleh cepat ke arahnya. "Ikhlas?" ulangku, nyaris tertawa miris. "Ikhlas yang mana, Kak? Ikhlas suami direbut? Atau ikhlas berbagi perhatian setiap hari?"

Wajah Monika menegang. "Aku lebih dulu jadi istrinya. Harusnya aku yang lebih sakit."

"Dan aku nggak pernah bilang kamu nggak sakit!" sahutku. "Tapi bukan berarti rasa sakitku nggak ada."

Bram memijat pelipisnya. "Sudah cukup. Jangan bertengkar lagi. Ini cuma sementara sampai Monika kuat."

"Sementara itu nggak jelas batasnya, Mas!" potongku cepat. "Hari ini bilang sementara. Besok? Sebulan? Setahun? Atau sampai kamu benar-benar memilih salah satu?"

Bram terdiam.

Keheningan itu lebih menyakitkan dari jawaban apa pun.

Monika menatapku datar. "Aku sudah belajar berbagi sejak kamu masuk ke hidup kami. Aku nggak pernah mengusirmu."

Aku tersenyum pahit. "Karena kamu yakin Mas Bram nggak akan benar-benar meninggalkanmu."

Ucapan itu seperti panah yang tepat sasaran. Bram langsung menoleh ke arah Monika, lalu ke arahku.

"Aku nggak pernah berniat meninggalkan siapa pun," katanya pelan.

"Justru itu masalahnya, Mas," bisikku. "Kamu mau punya semuanya."

Tanganku refleks menyentuh perutku yang masih rata, tapi di dalamnya ada kehidupan yang tak bersalah. Anak ini… alasan terbesarku bertahan.

"Aku nggak minta banyak," lanjutku dengan suara lebih tenang. "Aku cuma minta hidup yang waras. Rumah yang tenang. Suami yang jelas berdiri di mana."

Monika mengembuskan napas panjang. "Jadi maumu apa, Ran? Aku pergi? Di saat aku baru kehilangan ibu?"

Pertanyaan itu menampar rasa kemanusiaanku.

Aku menunduk. Air mata kembali menggenang.

"Aku nggak sekejam itu," ucapku lirih. "Tapi aku juga bukan perempuan sekuat yang kalian kira."

Bram mendekat, kali ini benar-benar memegang tanganku. "Ran, tolong mengerti. Kondisimu juga nggak boleh stres. Pikirkan anak kita."

Anak kita.

Kenapa setiap kali aku ingin pergi, selalu ada kalimat itu?

Aku menarik tanganku perlahan.

"Aku pikir yang harus belajar ikhlas bukan cuma aku," kataku pelan namun tegas. "Tapi Mas juga. Ikhlas melepas salah satu… kalau memang nggak bisa adil."

Bram membeku.

" Aku mau istirahat," ucapku pada akhirnya, suara yang tadinya tegas kini melemah.

Tak ada yang menahanku.

Aku berjalan menuju kamar dengan langkah pelan, tapi hatiku terasa berlari tanpa arah. Setiap pijakan terasa berat, seolah lantai rumah ini bukan lagi tempatku berpijak.

Begitu sampai di dalam kamar, aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Punggungku bersandar di balik daun pintu, napasku memburu.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh.

Sakit sekali.

Bukan karena Monika tinggal di sini. Bukan hanya karena statusku yang menggantung.

Tapi karena aku sadar… Mas Bram tak pernah benar-benar memilih.

Aku berjalan pelan ke tepi ranjang dan duduk. Tanganku kembali menyentuh perutku.

"Maaf ya, Nak…" bisikku lirih. "Harusnya kamu tumbuh di rumah yang penuh cinta… bukan di rumah yang dipenuhi keraguan."

Dadaku terasa sesak. Pikiran tentang perceraian kembali menghantuiku. Andai saja aku tak hamil… mungkin aku sudah pergi. Menyelamatkan harga diriku sebelum benar-benar hancur.

Tok.

Tok.

Terdengar ketukan pelan di pintu.

"Ran…" suara Mas Bram terdengar dari luar. "Buka pintunya. Kita belum selesai bicara."

Aku memejamkan mata. Air mataku belum kering, tapi hatiku sudah terlalu lelah untuk berdebat lagi.

"Kita nggak akan pernah selesai, Mas…" gumamku pelan, cukup untuk diriku sendiri.

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan.

"Jangan kayak gini. Kamu tahu aku peduli sama kamu."

Aku tertawa hambar.

Peduli.

Kalau benar peduli, kenapa aku yang selalu diminta mengerti?

Aku bangkit, melangkah mendekat ke pintu… tapi tak juga membukanya.

"Aku capek, Mas," ucapku dari balik pintu. "Capek harus kuat terus. Capek harus ikhlas terus. Capek harus pura-pura baik-baik aja."

Di luar sana terdengar keheningan. Mungkin ia tak menyangka aku akan berbicara sejujur ini.

"Aku cuma mau istirahat," lanjutku pelan. "Bukan cuma badan… tapi hati."

Tak ada jawaban.

Hanya suara langkah menjauh dari pintu kamarku.

****

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!