NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tim yang Kembali Lengkap

Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Saat Ini.

Ryzen masih menangis di lantai—tubuhnya gemetar, tangannya mencengkeram lantai dengan kuat.

Enam bulan.

Enam bulan dia pergi dari Amerika untuk menghabisi Null Order.

Enam bulan dia berjuang untuk balas dendam sampai empat ratus anggotanya mati.

Dan sekarang—sekarang dia melihat Rafael hidup kembali.

Semua pengorbanan itu.

Semua kematian itu.

Semua rasa sakit itu.

Sia-sia.

Karena Rafael tidak pernah benar-benar mati.

Rafael menarik Ryzen untuk bangkit—tangannya kuat, genggamannya firm.

Ryzen berdiri dengan kaki yang masih gemetar, dengan mata yang masih basah.

Lalu Rafael memeluknya.

Pelukan yang erat, yang hangat, yang mengatakan lebih banyak dari ribuan kata.

"Maaf," bisik Rafael di telinga Ryzen.

"Maaf karena harus membuat lo menderita."

Ryzen tidak menjawab. Dia hanya menangis lebih keras—merutuki kebodohannya, merutuki keputusan impulsifnya, merutuki dirinya sendiri yang tidak melakukan investigasi lebih lanjut sebelum bertindak.

Seharusnya dia tidak terburu-buru.

Seharusnya dia lebih tenang.

Seharusnya dia tidak membiarkan kemarahan mengendalikan keputusannya.

Tapi semuanya sudah terlambat. Empat ratus nyawa tidak bisa kembali.

Ryzen melepaskan pelukan Rafael. Matanya yang merah menyala di ruangan itu—tidak lagi sedih, tapi marah.

Marah yang sangat panas.

Dia berbalik, menatap Daniel dengan tatapan yang bisa membunuh.

Lalu dia bergerak.

Kecepatan yang brutal—dalam sekejap Ryzen sudah ada di depan Daniel, tangan kanannya mencengkeram leher Daniel, mengangkat tubuh dokter itu ke atas dengan satu tangan.

"KENAPA LO NGGAK KASIH TAU GUE KALAU RAFAEL MASIH HIDUP?!" teriak Ryzen.

Suaranya memenuhi seluruh ruangan seperti guntur.

"APA GUE NGGAK BERHAK TAU ITU? APA GUE BUKAN ORANG YANG TEPAT UNTUK TAU TENTANG INI?!"

Daniel mencoba melepaskan cengkeraman di lehernya, tapi genggaman Ryzen seperti besi. Wajahnya mulai merah, nafasnya tercekat.

"KALAU SAJA LO KASIH TAU GUE DARI AWAL," Ryzen mendekatkan wajahnya ke wajah Daniel,

"GUE NGGAK AKAN BERTINDAK SEJAUH INI!"

Rafael langsung bergerak. Tangannya memegang pergelangan tangan Ryzen—mencengkramnya dengan kekuatan yang membuat Ryzen sedikit terkejut.

"Turunkan Daniel," kata Rafael.

Suaranya tenang tapi ada authority di dalamnya yang tidak bisa diabaikan.

"Lo nggak harus menghukum Daniel. Gue yang akan bertanggung jawab penuh di sini."

Ryzen menatap Rafael dengan mata yang masih menyala. Tapi akhirnya dia melepaskan Daniel—begitu saja, tanpa peringatan.

Daniel jatuh ke lantai, terbatuk-batuk dengan keras, tangan memegangi lehernya yang merah.

Kimberly langsung mendekat, membantunya berdiri, memberikan botol air mineral yang dia ambil dari meja.

Rafael membawa Ryzen duduk di sofa—gerakan yang firm tapi lembut. Lalu dia menatap Ryzen dengan serius.

"Jelaskan semuanya," kata Rafael.

"Dari awal sampai akhir. Gue perlu tahu apa yang terjadi selama enam bulan terakhir."

Ryzen menarik nafas panjang. Tangannya masih gemetar. Tapi dia mulai bicara—dengan bantuan Kael yang melengkapi detail-detail yang Ryzen lewatkan, Zen yang menjelaskan teknologi yang mereka gunakan, Adrian yang menceritakan pertempuran-pertempuran brutal.

Tentang ekspansi AGE yang brutal.

Tentang kantor baru yang masih dalam tahap pembangunan—gedung pencakar langit yang akan menjadi simbol kekuatan AGE.

Tentang rekrutmen massal Valhalla—dari seratus menjadi lima ratus anggota.

Tentang deklarasi perang kepada Null Order—perang yang berlangsung enam bulan penuh di berbagai negara.

Tentang kemenangan yang diraih dengan bayaran empat ratus nyawa—empat ratus anggota Valhalla yang gugur di medan perang, yang tidak pernah kembali pulang.

Tentang markas-markas Null Order yang dihancurkan satu per satu—Los Angeles, Chicago, Miami, Seattle, Houston, Tokyo, Berlin, dan puluhan kota lainnya.

Tentang Ryzen yang memimpin dari depan—tidak pernah bersembunyi, selalu mengambil risiko terbesar.

Tentang bagaimana setiap kematian anggota terasa seperti pisau yang menusuk dada Ryzen berulang kali.

Rafael mendengarkan tanpa ekspresi. Matanya fokus, otaknya memproses setiap informasi dengan cepat.

Setelah Ryzen selesai, keheningan memenuhi ruangan.

Lalu Rafael berbicara.

"Gue nggak marah," katanya pelan.

"Pada dasarnya, gue bukan bagian dari Valhalla saat ini. Keputusan yang lo ambil adalah keputusan lo sebagai komandan."

Dia berhenti sejenak.

"Tapi keputusan yang membuat empat ratus anggota Valhalla gugur—itu membuat gue harus bertanggung jawab."

Rafael menatap Kael. "Catat siapa saja anggota yang terbunuh. Semua nama mereka. Lalu berikan jaminan untuk keluarga mereka—kompensasi finansial yang cukup untuk hidup layak seumur hidup."

Kael mengangguk, langsung mengeluarkan tablet untuk mencatat.

"Jika mereka tidak punya keluarga," Rafael melanjutkan,

"berikan sumbangan dalam jumlah besar ke beberapa institusi—panti asuhan, korban bencana, panti jompo. Atas nama mereka. Pengorbanan mereka tidak boleh sia-sia."

Ryzen menatap Rafael dengan mata berkaca-kaca lagi.

Ini—ini adalah Rafael yang dia kenal.

Rafael yang peduli pada orang-orang kecil.

Rafael yang tidak pernah melupakan pengorbanan siapapun.

"Sekarang," Rafael berbalik ke Daniel yang masih terbatuk-batuk pelan,

"giliran lo menjelaskan kenapa lo menutupi tentang gue."

Daniel menegakkan tubuh—meskipun lehernya masih sakit. Dia mengambil tablet, lalu mulai menampilkan data medis Rafael.

"Saat Rafael dibawa ke sini," kata Daniel dengan suara serak,

"dia memang benar-benar sudah mati. Jantungnya berhenti. Tidak ada tanda-tanda kehidupan."

Dia menampilkan grafik detak jantung—garis datar yang panjang.

"Tapi entah bagaimana—entah keajaiban atau fenomena medis yang tidak bisa gue jelaskan—jantungnya kembali berdetak. Pelan. Sangat pelan. Tapi ada."

Daniel menggeser layar—menampilkan proses ekstraksi racun.

"Gue mengekstrak racun yang ada di tubuh Rafael. Membuat penawar dari scratch. Prosesnya memakan waktu berhari-hari."

Lalu dia menampilkan scan otak Rafael.

"Sesaat setelah racun berhasil dinetralkan, otak Rafael mengalami gangguan—Diffuse Axonal Injury. DAI adalah kerusakan pada akson-akson di otak. Untuk menyembuhkannya, gue butuh waktu. Waktu yang tepat. Tidak boleh asal-asalan."

Daniel menatap semua orang di ruangan itu.

"Karena jika salah sedikit, akibatnya fatal—bisa disabilitas permanen, bahkan kematian."

Dia mengambil nafas dalam.

"Saat itu, gue sama sekali tidak yakin apakah gue bisa menyembuhkan Rafael atau tidak. Bulan pertama, gue melakukan tiga kali percobaan treatment. Dan ketiganya gagal. Pasien-pasien lain dengan DAI yang gue tangani—ada yang mati, ada yang mengalami disabilitas permanen."

Daniel menutup mata sejenak, mengingat kembali momen-momen tergelap dalam karirnya.

"Di titik itu, gue benar-benar menyerah. Gue berpikir—lebih baik membunuh Rafael daripada membiarkannya hidup tapi hidupnya tidak kembali normal."

Keheningan yang berat.

"Itulah kenapa gue tidak memberitahukan tentang Rafael ke siapapun. Karena pada dasarnya, Rafael hidup tapi tertidur—dan gue nggak tahu apakah dia bisa bangun kembali atau tidak."

Daniel membuka mata, menatap Ryzen.

"Di bulan kedua, percobaan mulai menunjukkan respon positif. Tubuh Rafael mulai pulih—tapi dengan respon yang sangat lambat. Di bulan ketiga, ada peningkatan signifikan. Saraf otak Rafael mulai kembali normal. DAI menghilang. Rafael sembuh."

Dia menampilkan data terakhir—nineteen treatment protocols yang dia lakukan selama tiga bulan.

"Total percobaan yang gue lakukan selama tiga bulan itu adalah sembilan belas kali. Sembilan belas formula berbeda. Sembilan belas harapan dan kegagalan."

Daniel menatap Rafael.

"Tapi akhirnya—akhirnya gue berhasil."

***

Setelah mendengar penjelasan Daniel, atmosfer di ruangan berubah.

Kemarahan perlahan mereda, digantikan oleh pemahaman yang pelan tapi pasti.

Mereka semua faham sekarang. Saat itu memang tidak ada pilihan lain. Pada dasarnya Rafael hidup tapi tertidur—dan tidak ada yang tahu apakah dia bisa bangun kembali atau tidak.

Ryzen berdiri, berjalan ke Daniel. Dokter itu sedikit mundur—masih waspada setelah dicekik tadi.

Tapi Ryzen hanya menundukkan kepala.

"Maaf," katanya. Suaranya pelan, tapi tulus.

"Maaf karena tadi gue udah kasar sama lo."

Daniel menggelengkan kepala. "Gue ngerti. Lo punya hak buat marah."

Lalu Rafael berdiri, menarik perhatian semua orang.

"Sekarang ada masalah yang lebih besar," katanya.

"Kita semua harus membantu Daniel untuk menggelar konferensi pers. Mengundang orang-orang penting—wartawan, pejabat, pengusaha."

Dia menatap satu per satu orang di ruangan itu.

"Tujuannya adalah untuk mengumumkan bahwa Rafael Alkava masih hidup."

Kael langsung mengambil alih mode strategis. "Kita butuh waktu persiapan. Venue, undangan, security, media coverage—"

"Tiga hari," potong Rafael.

"Kita lakukan dalam tiga hari."

Semua orang menatapnya dengan terkejut.

"Tiga hari?" Kimberly mengerutkan kening.

"Itu terlalu cepat—"

"Tiga hari itu lebih dari cukup," kata Rafael dengan tegas.

"Selama tiga hari ke depan, kita buat undangan dan persiapkan tempatnya. Daniel sudah menyiapkan bukti—empat pasien DAI yang sudah dia sembuhkan."

Daniel mengangguk. "Total ada lima orang dengan penyakit DAI yang sudah sembuh—jika dihitung dengan Rafael."

"Sempurna," kata Kael sambil sudah mulai mengetik di tabletnya.

"Gue akan koordinasi dengan tim PR AGE. Seraph, lo handle media relations. Kimberly, lo yang kontak pengusaha-pengusaha besar—Mahendra, Zephyr, dan yang lainnya."

"Zen," Rafael menatap sahabatnya yang diam di pojok ruangan,

"Lo pasti'in security system di venue benar-benar tight. Gue nggak mau ada kejutan dari pihak-pihak yang tidak senang dengan kembalinya gue."

Zen mengangguk tanpa bicara.

"Draven, Adrian, Aurelia," Rafael melanjutkan,

"kalian backup Zen. Pastikan tidak ada ancaman yang lolos."

Mereka semua mengangguk.

Lalu Rafael menatap Ryzen—sahabat terbaiknya, komandan yang baru saja kehilangan empat ratus anak buahnya.

"Dan lo, Ryzen," kata Rafael dengan suara yang lebih lembut,

"lo istirahat. Lo sudah berjuang cukup lama. Sekarang waktunya gue yang ambil alih."

***

Ryzen menatap Rafael dengan mata yang masih berkaca-kaca. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan.

Air mata lega. Air mata yang mengatakan—akhirnya, akhirnya Rafael kembali.

Mereka semua berunding sampai larut malam—membahas detail konferensi pers, siapa yang harus diundang, bagaimana narrative-nya harus dibentuk, bagaimana menangani pertanyaan-pertanyaan sulit dari media.

Daniel menjelaskan secara teknis tentang DAI—bagaimana penyakit ini bisa terjadi, bagaimana dia mengembangkan treatment, hasil-hasil yang sudah dicapai.

Kael membuat timeline yang detail—hari pertama untuk mengirim undangan, hari kedua untuk setup venue dan rehearsal, hari ketiga untuk konferensi pers actual.

Kimberly menghubungi kontak-kontaknya di dunia bisnis—memastikan bahwa orang-orang penting akan hadir.

Dan Rafael—Rafael duduk di tengah-tengah mereka semua, mendengarkan, memberikan input, membuat keputusan final.

Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, tim ini lengkap lagi.

Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, mereka punya harapan yang nyata.

Tiga hari lagi. Tiga hari sampai dunia tahu bahwa Rafael Alkava tidak mati.

Tiga hari sampai kehidupan Rafael yang baru dimulai.

 ***

BERSAMBUNG...

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!