NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3~Antara rahasia dan perasaan

Hari Senin itu, suasana sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Semua kelas sibuk menyiapkan kegiatan kelompok lintas kelas untuk acara “Pekan Proyek Sekolah.”

Dan aku, Alya, ternyata satu kelompok dengan… tebak siapa?

Ya, Raka.

Waktu guru mengumumkan pembagian kelompok, semua teman langsung heboh.

“Serius, Kak Raka satu kelompok sama Alya?”

“Fix banget, mereka pasti jadi pasangan paling keren di acara nanti!”

Aku cuma bisa tertawa kaku sambil pura-pura sibuk mencatat. Raka duduk di kursi belakang, tenang seperti biasa, tapi aku bisa lihat sudut bibirnya sedikit terangkat — tanda dia menikmati keramaian ini.

Setelah kelas bubar, aku menghampirinya di koridor.

“Raka,” panggilku pelan.

Dia menoleh, menatapku dengan senyum kecil. “Kenapa, calon partner proyek?”

Aku melotot kecil. “Jangan panggil aku gitu di sekolah, nanti orang makin salah paham.”

Dia tertawa pelan. “Oke, oke. Tapi kan bener, kita satu kelompok.”

Aku menghela napas. “Guru minta kita buat stand pameran tentang ‘inovasi lingkungan’. Ada ide?”

Raka menatap ke langit-langit sejenak. “Gimana kalau kita buat mini taman hidroponik? Biar gampang dirawat dan keren dilihat.”

Aku mengangguk pelan. “Ide bagus. Tapi siapa yang mau bantu bikin?”

“Tenang,” katanya. “Aku udah punya beberapa alat di rumah. Kita bisa kerjain bareng akhir pekan nanti. Di rumahku aja.”

Aku langsung menatapnya dengan mata membesar. “Di rumahmu? Sendirian?”

Dia terkekeh. “Tenang, Mama aku pasti ada.”

Aku mengangguk cepat, pipiku terasa hangat entah kenapa. “O-oke. Kalau gitu aku siapin bahan presentasinya.”

Dia tersenyum. “Deal.”

Keesokan harinya, gosip baru mulai muncul.

Bukan cuma soal “Alya dan Raka dijodohkan,” tapi juga soal “Alya bakal main ke rumah Raka akhir pekan ini.”

Aku bahkan belum sempat cerita ke Lina, tapi entah kenapa seluruh sekolah sudah tahu duluan.

“Ly, ini gosipnya makin gila!” kata Lina sambil menunjuk layar HP-nya. “Ada yang bikin story: katanya kamu dan Raka mau kencan proyek!”

Aku menepuk dahi. “Aduh, siapa sih yang suka banget bikin heboh?”

Lina cengar-cengir. “Ya salah kamu juga sih, dijodohin sama cowok sekeren itu. Orang-orang pasti penasaran.”

Aku menunduk, berusaha menutupi wajah. “Tapi aku nggak mau dikenal karena gosip, Lin. Aku cuma mau sekolah tenang.”

Lina menepuk pundakku pelan. “Tenang aja, Ly. Kalau Raka memang sebaik yang kamu ceritain, dia pasti nggak bakal ninggalin kamu di tengah omongan orang.”

Dan ternyata Lina benar.

Hari itu, di kantin, aku melihat sekelompok cewek dari kelas lain menatapku dengan wajah sinis. Salah satu dari mereka — Nadya, cewek populer yang terkenal dekat dengan Raka — menghampiriku.

“Eh, Alya, aku denger kamu dijodohin sama Raka, ya?” katanya dengan senyum tipis.

Aku berusaha tetap sopan. “Iya, tapi itu cuma urusan keluarga, kok.”

Dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki. “Lucu juga, sih. Biasanya cowok kayak Raka tuh nggak cocok sama cewek model… biasa.”

Aku tahu maksudnya. Tapi aku cuma tersenyum kecil. “Mungkin karena aku biasa, jadi nggak terlalu ribet.”

Lina yang duduk di sebelahku langsung menahan tawa. Nadya hanya mendengus pelan dan pergi.

Baru beberapa menit kemudian, Raka muncul di kantin. Dia menatap ke arah kami, lalu menghampiri mejaku tanpa ragu.

“Ly, nanti sore latihan bareng, ya?” katanya santai.

Semua orang langsung berhenti bicara. Kantin mendadak sunyi seperti disihir.

Aku nyaris tersedak. “Eh… iya. Oke.”

Raka menatapku sebentar, lalu menoleh ke arah Nadya yang masih berdiri tak jauh dari situ.

“Oh, Nadya,” katanya kalem, “tolong jangan ganggu kelompokku, ya. Kita lagi banyak persiapan.”

Semua orang menatap kaget. Nadya tersenyum kaku. “Nggak kok, cuma ngobrol biasa.”

Raka mengangguk singkat lalu kembali menatapku. “Ayo, Ly.”

Aku bangkit, masih bingung antara malu dan bangga. Tapi satu hal yang pasti — gosip hari ini bakal lebih panas dari matahari siang.

Sore harinya, kami mulai latihan presentasi di perpustakaan. Aku membawa laptop, sementara Raka menyiapkan rancangan gambar untuk taman hidroponik.

Dia serius banget, tapi tetap sempat bercanda di sela-sela kerja.

“Ly,” katanya sambil menatap layar, “kamu tahu nggak kenapa tanaman bisa tumbuh tanpa tanah?”

Aku berpikir sebentar. “Karena akarnya dapat nutrisi dari air?”

Dia mengangguk. “Pintar juga.” Lalu dia menambahkan, “Sama kayak manusia. Kadang nggak butuh tempat mewah buat tumbuh. Cukup disiram perhatian.”

Aku menatapnya, antara geli dan kagum. “Kamu barusan ngasih nasihat atau gombalan terselubung?”

Dia pura-pura berpikir. “Dua-duanya, mungkin.”

Aku tertawa kecil. “Kamu aneh.”

“Tapi kamu senyum,” balasnya cepat.

Aku menunduk, menyembunyikan pipiku yang panas. Di ruangan yang sunyi itu, rasanya suara detak jantungku bisa terdengar jelas.

Akhir pekan pun tiba. Aku datang ke rumah Raka dengan membawa beberapa bahan tanaman. Rumahnya besar, tapi terasa hangat.

Bu Dinda menyambutku dengan ramah. “Alya! Wah, makin cantik aja. Ayo masuk, Mama lagi di dapur.”

Aku tersenyum gugup. “Terima kasih, Tante.”

Raka sudah menunggu di taman belakang. Dia mengenakan kaus putih dan celana hitam, terlihat santai tapi tetap rapi.

“Siap kerja?” tanyanya sambil menyodorkan sarung tangan taman.

“Siap, Bos,” jawabku sambil tertawa.

Kami mulai bekerja — menanam sayuran kecil, menyiapkan botol air, dan menyusun rak tanaman. Kadang aku salah pasang pipa, dan dia dengan sabar membantu.

Beberapa kali tangan kami bersentuhan, dan tiap kali itu terjadi, jantungku seperti berhenti sepersekian detik.

Setelah hampir dua jam, taman kecil kami akhirnya selesai.

Raka memandang hasil kerja kami sambil tersenyum puas. “Nggak buruk buat tim pertama.”

Aku duduk di rumput, mengelap keringat. “Capek, tapi senang.”

Dia duduk di sebelahku, cukup dekat sampai aku bisa mendengar napasnya. “Ly,” katanya pelan, “kamu tahu nggak… waktu Mama pertama kali bilang aku dijodohin, aku nggak peduli. Tapi setelah kenal kamu, aku pikir… mungkin Mama nggak salah.”

Aku menatapnya kaget. “Maksudnya?”

Dia menatap mataku, lembut tapi serius. “Kamu bukan cuma orang baik, Alya. Kamu orang yang bikin aku pengen jadi lebih baik.”

Aku terdiam. Rasanya semua suara di sekitar tiba-tiba menghilang. Hanya ada aku, dia, dan suara jantungku yang entah kenapa berdegup terlalu keras.

Aku menunduk pelan, mencoba menenangkan diri. “Raka, kita baru kenal beberapa minggu…”

Dia tersenyum. “Aku tahu. Makanya aku nggak buru-buru. Tapi aku pengen kamu tahu — aku nggak main-main.”

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar percaya padanya.

Malam itu, di kamarku, aku menatap foto taman hidroponik yang kami buat tadi. Aku tersenyum sendiri.

Entah bagaimana, semua hal yang dulu terasa aneh — perjodohan, gosip, rasa gugup — sekarang terasa seperti bagian dari cerita yang indah.

Mungkin cinta memang begitu: datang dari hal-hal tak terduga, tumbuh perlahan, dan tanpa kita sadari… sudah mulai berakar di hati.

✨ Bersambung ke Bab 4

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!