Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 dapur tanpa batas
Gelap. Dingin. Lalu tiba-tiba, panas yang luar biasa.
Han Shuo merasa jiwanya ditarik paksa melewati lorong waktu yang sempit sebelum akhirnya terlempar ke sebuah lantai marmer yang putih bersih. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di arena Sekte Awan Merah yang kotor dan penuh debu.
Ia berada di sebuah ruangan yang luasnya seolah tak berujung. Di atasnya, bukan langit-langit, melainkan hamparan galaksi dengan bintang-bintang yang berdenyut seolah mengikuti detak jantung.
"Di mana ini?" bisik Han Shuo. Suaranya bergema jauh.
"Ini adalah Ruang Rasa Tak Terbatas," sebuah suara parau menjawab.
Sesosok bayangan muncul dari balik kabut kosmik. Awalnya Han Shuo mengira itu adalah seorang penatua sakti, namun saat sosok itu mendekat, ia tertegun. Sosok itu mengenakan celemek kain kasar, memegang spatula kayu yang sudah menghitam, dan wajahnya dipenuhi bekas luka bakar. Matanya tajam, namun menyimpan kelelahan ribuan tahun.
"Aku adalah Zhu Que, pelayan dapur tingkat rendah yang menjadi Dewa Dapur pertama sebelum dunia ini mengenal api," sosok itu memperkenalkan diri. "Dan kau... kau adalah orang gagal yang beruntung."
Han Shuo berdiri, mencoba menahan rasa sakit di lengannya yang anehnya hilang di tempat ini. "Beruntung? Saya hampir mati berkali-kali untuk memenangkan turnamen itu."
Zhu Que tertawa, suara tawa yang terdengar seperti bara api yang disiram air. "Menang melawan bocah ingusan seperti Wang He itu kau sebut perjuangan? Di dunia atas, koki bertarung menggunakan rasi bintang sebagai bumbu dan darah naga sebagai minyak goreng. Apa yang kau lakukan tadi hanya bermain tanah di depan gerbang surga."
Zhu Que mengibaskan tangannya. Tiba-tiba, di depan Han Shuo muncul deretan bahan makanan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
* Ada jantung buah yang berdetak.
* Ada sayuran yang transparan seperti kristal.
* Ada daging yang masih mengeluarkan petir kecil.
"Bab 1 hingga 10 dari kitabmu adalah dasar. Sekarang, kau masuk ke Bab Tengah: Alkimia Kuliner," Zhu Que menunjuk ke sebuah kompor yang apinya berwarna ungu tua. "Di dunia luar, tubuhmu sedang koma. Kau punya waktu yang terasa seperti sepuluh tahun di sini, tapi di luar hanya satu jam. Kau tidak boleh keluar sampai kau bisa memasak satu hidangan yang bisa membuatku... tersenyum."
Han Shuo menelan ludah. "Sepuluh tahun? Hanya untuk membuatmu tersenyum?"
"Jika kau gagal, jiwamu akan terjebak di sini menjadi bahan bakar api komor ini selamanya," Zhu Que menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang jarang. "Sekarang, ambil pisaumu. Kita mulai dengan memotong Akar Roh Seribu Wajah."
Zhu Que melempar sebuah akar yang bentuknya terus berubah-ubah—kadang seperti tangan manusia, kadang seperti ular, kadang seperti batu.
"Jangan gunakan matamu, gunakan niatmu. Jika kau salah potong satu milimeter saja, akar ini akan meledak dan menghancurkan tangan logammu itu," ancam Zhu Que.
Han Shuo menarik napas dalam. Ia tahu ini adalah kesempatan sekaligus kutukan. Ia menggenggam pisau Pemotong Takdir yang kini terasa lebih berat.
Satu tahun pertama di dimensi itu, Han Shuo hanya belajar memotong. Akar Roh itu sangat lincah. Setiap kali Han Shuo mencoba mengirisnya, akar itu akan menghindar atau mengeras menjadi sekeras baja.
"Salah! Ulangi!"
PLAK!
Spatula kayu Zhu Que menghantam punggung Han Shuo setiap kali ia melakukan kesalahan kecil.
"Kau memotong dengan kebencian! Daging ini tidak butuh dendammu pada Keluarga Wang! Daging ini butuh pengertian!" teriak Zhu Que.
Tahun ketiga, Han Shuo mulai memahami. Ia berhenti mengejar akar itu. Ia duduk diam, memejamkan mata, dan mendengarkan ritme "napas" dari bahan makanan itu. Saat ia mengayunkan pisaunya, bukan lagi fisik yang bergerak, tapi aliran Qi-nya yang menyatu dengan serat akar tersebut.
Sret. Sret. Sret.
Akar Roh Seribu Wajah itu terpotong menjadi lembaran-lembaran yang sangat halus, masing-masing memiliki ketebalan yang sama persis hingga ke tingkat molekul.
Zhu Que hanya mendengus, tapi matanya menunjukkan sedikit kekaguman. "Lumayan untuk pemula. Sekarang, Bab selanjutnya: Pengendalian Api Sembilan Langit."
Sementara itu, di Dunia Nyata (Sekte Awan Merah).
Suasana kemenangan berubah menjadi kepanikan. Tubuh Han Shuo terbaring kaku di tengah arena. Kulitnya terasa sangat panas, namun napasnya sangat lambat.
"Minggir! Beri dia ruang!" teriak Penatua Li Mei. Ia mencoba memeriksa denyut nadi Han Shuo, namun jarinya segera menarik kembali karena ujung jarinya melepuh. "Panas ini... ini bukan demam biasa. Qi-nya mengamuk di dalam!"
Penatua Tie mendekat, wajahnya serius. "Dia mengalami Manifestasi Jiwa. Jiwanya tidak ada di tubuhnya. Seseorang... atau sesuatu, sedang menariknya."
"Ini kesempatanku," bisik Wang He yang berdiri di kejauhan. Ia melihat kekacauan itu sebagai peluang. Ayahnya, Wang Lin, yang merupakan kepala keluarga Wang sekaligus tetua logistik sekte, memberikan isyarat dari tribun.
Wang Lin berdiri dan berteriak dengan suara yang diperkuat Qi. "Penatua! Bocah ini menggunakan teknik terlarang! Lihatlah, tubuhnya terbakar oleh api iblis! Dia bukan koki, dia adalah mata-mata sekte hitam yang menggunakan sihir untuk memenangkan turnamen!"
Fitnah itu langsung menyebar seperti api di antara para murid yang iri.
"Benar! Mana mungkin seorang pelayan bisa mengalahkan Tuan Muda Wang?"
"Lihat apinya! Itu pasti ilmu hitam!"
Wang Lin berjalan turun dengan angkuh. "Sebagai penjaga keamanan sekte, aku memerintahkan agar tubuh Han Shuo segera ditahan di Penjara Bawah Tanah Es untuk dimurnikan... atau dieksekusi jika terbukti berkhianat!"
"Tunggu!" Li Mei berdiri menghalangi. "Dia baru saja memenangkan turnamen! Kalian tidak bisa membawanya begitu saja tanpa bukti!"
"Bukti?" Wang Lin mengeluarkan sebuah gulungan hitam. "Aku menemukan ini di gubuknya tadi pagi. Kitab kuno yang ditulis dengan darah. Apa kau masih mau membelanya, Li Mei?"
Tentu saja itu adalah bukti palsu yang sudah disiapkan Keluarga Wang. Namun, di dunia yang kuat memegang kendali, bukti palsu seringkali lebih berat daripada kebenaran.
Penatua Tie tampak bimbang. Ia tahu Wang Lin punya pengaruh besar, tapi ia juga baru saja mencicipi masakan Han Shuo yang begitu suci. "Wang Lin, biarkan Penatua Agung Mu Chen yang memutuskan."
Semua mata tertuju ke kursi tertinggi. Namun, kursi itu kosong. Penatua Agung Mu Chen telah menghilang entah ke mana tepat setelah pengumuman pemenang.
"Penatua Agung sedang bermeditasi. Aku yang bertanggung jawab sekarang!" Wang Lin memberi kode pada pengawalnya. "Bawa dia!"
Empat pengawal tingkat tinggi mendekati tubuh Han Shuo yang tak sadarkan diri. Mereka membawa rantai khusus yang bisa menyerap Qi.
Namun, saat rantai itu menyentuh kulit Han Shuo...
BOOM!
Gelombang api biru meledak dari tubuh Han Shuo, melempar keempat pengawal itu hingga menabrak dinding arena.
Mata Han Shuo terbuka. Tapi itu bukan mata Han Shuo.
Matanya bersinar dengan cahaya keemasan yang dingin. Di telapak tangan kanannya, muncul tanda sebuah tungku api kecil.
Di dalam Dimensi Dewa, Han Shuo baru saja menyelesaikan tantangan tahun kelimanya. Ia telah menguasai Api Pemurnian Jiwa.
Kembali ke Dimensi Dewa.
Han Shuo terengah-engah. Di depannya, sebuah hidangan sederhana tersaji di atas piring tanah liat: Bubur Bintang dengan Irisan Akar Roh.
Zhu Que mengambil sesendok. Ia diam selama beberapa menit. Ekspresinya yang keras perlahan melunak. Kenangan masa lalu saat ia masih menjadi pelayan kecil yang kelaparan melintas di benaknya. Rasa bubur itu bukan tentang kemewahan, tapi tentang kepulangan.
Zhu Que tersenyum. Tipis, hampir tak terlihat, tapi itu adalah sebuah senyuman.
"Kau lulus," kata Zhu Que. "Tapi ingat, Han Shuo. Dunia luar tidak akan menyambutmu dengan senyuman. Keluarga Wang telah menjebakmu. Tubuhmu dalam bahaya."
"Berapa lama waktu yang saya punya?" tanya Han Shuo.
"Waktumu di sini sudah habis. Aku akan memberimu satu hadiah terakhir sebelum kau bangun." Zhu Que menyentuh dahi Han Shuo. "Aku membuka segel kedua dari kitabmu. Sekarang kau tidak hanya bisa memasak makanan untuk dimakan... kau bisa memasak Pil Kuliner."
"Pil Kuliner?"
"Alkimia dan memasak adalah dua sisi dari koin yang sama. Selama ini orang-orang bodoh memisahkan keduanya. Pil pahit yang mereka telan itu sampah. Koki sejati menciptakan kekuatan melalui rasa."
Pandangan Han Shuo mulai memudar. Dunia galaksi itu hancur menjadi serpihan cahaya.
"Bangunlah, Koki Dewa. Tunjukkan pada mereka bahwa pisau dapurmu bisa memotong konspirasi semudah memotong bawang!"
Arena Sekte Awan Merah.
Han Shuo berdiri tegak. Tubuhnya tidak lagi terasa panas, tapi memancarkan aura yang membuat orang segan untuk mendekat.
Wang Lin terkejut, namun segera menutupi rasa takutnya dengan amarah. "Kau! Kau berani melawan petugas sekte?! Bunuh dia! Dia sudah kerasukan iblis!"
Wang He, yang merasa punya kesempatan untuk membalas dendam, mencabut pedang peraknya. "Biar aku yang menghabisinya! Dasar sampah beruntung!"
Wang He melesat maju, pedangnya memancarkan cahaya perak yang tajam. Serangan ini adalah teknik tingkat tinggi Keluarga Wang: Tebasan Bulan Sabit.
Han Shuo tidak menghindar. Ia bahkan tidak melihat ke arah Wang He.
Ia hanya mengangkat tangan kanannya. Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, ia menjepit bilah pedang Wang He seolah-olah itu hanya sepasang sumpit.
KLING!
Dunia seakan membeku. Semua orang terbelalak. Seorang murid tingkat rendah menjepit pedang seorang murid elit dengan dua jari?
"Wang He," suara Han Shuo terdengar berat dan bergema. "Masakanmu tadi kekurangan satu bumbu."
"Apa... apa maksudmu?!" Wang He gemetar, mencoba menarik pedangnya tapi pedang itu tidak bergeming sedikit pun.
"Kau kekurangan rasa malu," kata Han Shuo.
Dengan satu sentakan kecil, pedang perak itu patah menjadi tujuh bagian. Han Shuo kemudian melakukan gerakan telapak tangan yang sangat cepat ke dada Wang He.
Teknik Telapak: Pukulan Adonan Seribu Lapis.
Wang He terpental keluar arena, tulang rusuknya tidak patah, tapi seluruh ototnya terasa lemas seperti adonan roti yang baru saja diuleni. Ia jatuh pingsan dengan mulut berbusa.
"Berani-beraninya!" Wang Lin murka melihat putranya dipermalukan lagi. Ia melepaskan aura tingkat Pakar (Expert) miliknya. Tekanan itu membuat murid-murid di sekitarnya jatuh berlutut.
"Han Shuo, kau telah melakukan banyak pelanggaran! Menggunakan sihir, menyerang rekan sekte, dan memfitnah keluarga bangsawan! Hari ini, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu!"
Wang Lin melompat turun, tangannya membentuk cakar elang yang siap merobek leher Han Shuo.
Namun, sebuah suara menggelegar menghentikan langkahnya di udara.
"Siapa bilang tidak ada yang bisa menyelamatkannya?"
Seorang pria tua dengan jubah abu-abu usang mendarat di depan Han Shuo. Itu adalah Mu Chen. Tapi kali ini, ia tidak membawa cangkir teh. Ia membawa sebuah papan kayu besar bertuliskan: KOKI PRIBADI PENATUA AGUNG.
"Mulai hari ini," Mu Chen menoleh ke arah Wang Lin dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Siapa pun yang menyentuh Han Shuo, berarti sedang mencoba meracuni makanan saya. Dan kalian tahu apa yang saya lakukan pada orang yang mencoba meracuni saya?"
Mu Chen menghentakkan kakinya. Seluruh arena bergetar hebat. Retakan besar muncul di lantai batu, berhenti tepat di depan kaki Wang Lin.
Wang Lin pucat pasi. Ia tahu ia kuat, tapi di depan Mu Chen, ia hanyalah seekor semut.
"Tapi... Penatua Agung... dia menggunakan ilmu hitam..." Wang Lin masih mencoba memprotes.
"Ilmu hitam?" Mu Chen mengambil sebuah piring berisi irisan akar roh yang dibawa Han Shuo dari dimensi dewa (yang entah bagaimana ikut terbawa). "Ini adalah bahan tingkat suci yang dimasak dengan teknik pemurnian jiwa. Jika kau menyebut ini ilmu hitam, maka seluruh leluhur sekte ini adalah iblis!"
Mu Chen menoleh ke Han Shuo dan berbisik pelan, "Kerja bagus di dalam sana. Sekarang, ikut aku. Ada 'pelanggan' besar yang sedang menunggumu di ibukota kekaisaran. Dan dia tidak sesabar aku."
Han Shuo membungkuk hormat. "Ke mana pun Anda pergi, Penatua."
Han Shuo melirik ke arah Wang Lin dan Wang He untuk terakhir kalinya. "Simpan dendam kalian. Aku akan kembali saat aku sudah siap memasak seluruh Keluarga Wang di atas kuali penderitaan."
Dengan itu, Han Shuo mengikuti Mu Chen pergi, meninggalkan sekte yang telah menghinanya selama bertahun-tahun.
Target berikutnya: Ibukota Kekaisaran Naga Biru.
Pojok Informasi Kuliner & Kultivasi Arc 2
Teknik Baru:
* Alkimia Kuliner: Kemampuan mengubah bahan makanan menjadi obat-obatan atau pil dengan efektivitas 100% tanpa efek samping.
* Pukulan Adonan Seribu Lapis: Teknik bela diri yang melunakkan otot dan saraf lawan tanpa membunuh, membuat mereka lumpuh sementara.
Status Han Shuo:
* Kultivasi: Naik ke tingkat Pondasi Dasar (Foundation Establishment) tahap menengah berkat latihan 10 tahun di dimensi dewa.
* Gelar: Koki Pribadi Penatua Agung.