NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberuntungan atau kesempatan

Beberapa hari kemudian, mentari pagi terasa sedikit lebih hangat bagi Byan. Untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, seragam sekolah kembali melekat di tubuhnya, menggantikan pakaian rumahan.

Langkahnya masih agak ragu saat mendekati gerbang sekolah. Di kakinya, sebuah perban kecil masih mengintip dari balik kaos kaki. Byan sempat meremas tali tasnya kuat-kuat, merasa sedikit asing dengan keriuhan bunyi bel dan tawa anak-anak yang berlarian.

Namun, keraguan itu pecah seketika saat ia melewati pintu kelas.

"Levin datang!" seru seorang kawan dari barisan belakang.

Dalam sekejap, ia dikerumuni.

Teman-temannya tidak bertanya tentang rasa sakitnya, melainkan berebut ingin menghias beberapa perban yang masih ada dengan spidol warna-warni. Ibu Guru tersenyum hangat dari depan kelas, menyambutnya dengan anggukan lembut yang seolah berkata, “Selamat datang kembali, Nak.”

Byan duduk di bangkunya, meraba permukaan meja kayu yang halus. Bau spidol tulis dan keriuhan kelas yang biasanya terasa biasa saja, kini terdengar seperti musik yang indah.

Ia bukan lagi bocah yang terbaring lemah, ia telah kembali ke dunianya. Hari itu, pelajaran matematika terasa jauh lebih mudah daripada harus berdiam diri di tempat tidur.

"Lama sekali sembuhnya." Nino menyembunyikan rasa senangnya karena Byan sudah hadir ke sekolah. "Aku kesepian tidak ada teman ke kantin."

Byan tersenyum. "Masih banyak teman-teman lain kok di sini."

"Tapi tidak ada yang seperti kamu." Nino menempelkan plester luka di atas perban di sikut Byan. "Maaf tidak datang menjenguk kamu saat di rumah sakit."

"Tidak masalah."

...----------------...

Matahari tepat di atas kepala, mengubah aspal jalanan menjadi tungku yang memantulkan uap panas. Bel panjang berbunyi tiga kali, memicu sorak sorai dari balik jendela kelas yang seketika berubah menjadi gelombang anak-anak berseragam berhamburan keluar.

Byan menatap ke arah toko Sebria. Namun wajahnya terlihat ragu untuk menyeberang. Kilatan terserempet motor saat itu terngiang kembali di benaknya. Keringat tipis memenuhi jidatnya dengan kedua tangan menggenggam erat tali tas ranselnya. Kepala Byan tertunduk mengatur nafas mengumpulkan keberanian untuk meminta tolong pada security.

"Ayo."

Byan tersentak kecil melihat tangan mulus dan cantik terulur ke arahnya. Ia melebarkan senyum melihat Sebria berdiri di hadapannya terlebih dulu sebelum ia meminta security mengantarnya.

"Tante jemput aku?"

"Iya sayang."

Byan langsung menyambut tangan Sebria dan menggenggam erat. Langkah kecil nya terayun di samping Sebria. Setiba di depan pintu toko aroma khas lili dan mawar menguar begitu pintu terbuka. Byan meletak tas nya di atas meja.

"Hari ini mau tinggal sama tante?"

Byan mengangguk cepat. "Mau tante tapi papa bagaimana?"

"Papa ikut dong." Suara berat di ambang pintu bersamaan dengan lonceng berdentang. Sosok tinggi nan tampan tersenyum lebar melangkah masuk. Mobil mewahnya terparkir di halaman toko.

"Papa." Byan semakin berbinar. "Papa mau tinggal sama tante juga?"

"Mau sekali." Dengan wajah cuek nya Jehan duduk di kursi milik Sebria. "Iya, 'kan tante. Harus sepaket kalau mengajak anak nya jalan-jalan. Papa nya juga harus di ajak."

Sebria mendelik kesal. Pagi tadi ia meminta izin untuk mengajak Byan tinggal bersama nya hari ini di toko. Sebelum nanti sore mengajak Byan jalan-jalan. Tapi Jehan malah datang juga.

"Aku cuma minta Byan bukan kamu, Je..."

"Ayo Byan ganti baju." Jehan mengabaikan Sebria. "Ini baju Byan yang tadi di kirim Bi Merry, 'kan?"

"Hm." Sebria menata meja dengan makanan yang di belinya tadi. Rencana nya hari ini ingin menghabiskan waktu bersama Byan sambil merangkai pesanan tapi siapa sangka Jehan juga datang.

Byan sudah mengenakan pakaian rumahan. Lalu duduk di kursi. Ia melihat Sebria yang menyiapkan piringnya lalu mengembangkan senyum.

"Cuci tangan dulu di samping." Titah Sebria

"Iya tante."

"Aku juga harus cuci tangan, 'kan?" Jehan meletak plastik terlihat berat. "Ini peralatan makan ku baru saja di beli tapi sudah di cuci tadi di kantor. Kalau kurang yakin sama kebersihannya kamu cuci saja lagi." Pria beranak satu itu menyusul Byan ke samping.

Sebria menatap plastik itu lalu mengeluarkan barangnya. Benar saja ada peralatan makan disana. Wanita itu menggeleng pelan dan memastikan peralatan itu bersih. Dua orang laki-laki beda usia yang kini bergerak serentak menarik kursi siap untuk makan siang.

"Tante, aku ada PR matematika tadi."

"Nanti kita lihat ya PR nya. Mau di kerjakan disini atau di rumah saja sama Papa atau Bi Merry?"

"Disini saja tante." Sahut Byan.

"Benar disini saja. Aku juga bekerja dari sini hari ini." Timpal Jehan melirik ke arah mobil.

Sebria menatap selidik apa mau pria dewasa ini. "Ayo makan nanti lagi ngobrolnya."

"Siap kapten." Jehan melempar senyum lalu menyantap makanannya.

Byan bersikap manja tapi tidak berlebihan. Dan Sebria selalu mendengarkannya. Perlahan rasa hangat mengalir begitu saja ke tengah mereka. Tidak ada drama seperti kemaren karena hari ini Keona sangat sibuk di kantor.

"Aku yang cuci piringnya kamu temani Byan saja mengerjakan PR." Jehan mengumpulkan piring-piring kotor.

"Nanti baju kamu kotor dan basah, biar aku saja. Cuma sebentar kok cuci piring."

"Aku saja." Jehan tidak membiarkan Sebria menyentuh piring-piring kotor itu. "Memberikan waktu mu seperti ini untuk kami saja aku sangat bersyukur, Bria. Jangan biarkan aku seperti tidak tahu diri." Tatapnya lamat.

Sebria menurut lalu menghampiri Byan yang mengeluarkan buku-buku nya. Ia melihat PR yang di maksud. Mempelajari materi sejenak, Sebria siap mengajarkan Byan. Dari arah belakang Jehan memperhatikan sambil mencuci piring. Ada kristal bening yang terperangkap di manik matanya bersamaan rasa hangat menjalar didada bercampur haru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pemandangan itu terlalu indah untuk di lihat sepasang matanya.

Entah ini kebetulan atau kesempatan. Sebria berdiri didepannya dengan wujud yang sama. Tidak berubah selalu penuh kasih. Mengajarkan Byan dengan hati-hati meski pun anak itu adalah cerminan luka masa lalu nya. Tapi Sebria mampu berdamai dengan itu semua. Bagaimana jika di balik, apa Jehan mampu mengambil sikap seperti Sebria. Wanita itu memiliki hati yang lapang. Keberuntungan atau kesempatan. Jehan tidak akan menyia-nyiakan lagi. Jika Sebria memang takdirnya makan ia akan menggenggamnya erat.

"Sudah selesai PR nya."

Sebria tersentak merasakan tubuh Jehan terlalu dekat dengannya. Ia ingin bergeser tapi pria itu seolah menguncinya dengan cara berdiri di antara dirinya dan Byan.

"Sudah Pa." Byan membereskan buku-bukunya. "Papa tidak ke kantor?"

"Papa kerja dari sini saja. Kamu istirahat dulu." Jehan menarik diri lalu melangkah keluar mengambil laptop dan berkas-berkasnya.

"Byan kalau mau tidur siang biar tante siapkan tempatnya." Sebria ingin menurunkan kasur busa yang bersandar di dinding.

"Nanti saja tante, aku mau lihat tante merangkai bunga."

Sebria mengangguk lalu menarik kursi. "Ada empat pesanan yang mau di ambil tapi Byan nanti ambil waktu istirahat ya biar sore bisa jalan sama tante."

"Iya tante." Bocah itu tampak bersemangat.

Sebria melihat Jehan menyiapkan pekerjaannya. "Memang boleh seorang atasan bekerja dari tempat lain." Cibirnya sambil menggunting tangkai bunga.

"Yang penting kerja, Bria." Jehan mengedipkan mata sebelah.

Sebria menatap datar. Lalu fokus pada rangkaian bunga nya. Sementara Jehan sesekali menoleh sambil bekerja. Ia tersenyum melihat Sebria dan Byan larut dalam obrolan. Sekarang ia paham kenapa putranya begitu suka pada Sebria. Apa pun yang Byan ceritakan mantan kekasihnya itu selalu menanggapi dengan baik. Termasuk saat Byan memamerkan coretan spidol teman-temannya di atas perban yang masih ada.

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!