NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8) Sea belum tau

Lampu neon di perpustakaan Universitas Indonesia menerangi ruangan yang penuh dengan mahasiswa yang sibuk membaca atau mengetik di laptop mereka. Suara deretan keyboard dan halaman buku yang dibalik adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan yang tenang.

Sea Satuan duduk di sudut pojok perpustakaan yang selalu menjadi tempat favoritnya – dekat jendela dengan pandangan ke taman kecil kampus. Ia sedang fokus membaca buku tentang patologi dasar ketika tiba-tiba ada seseorang yang duduk di kursi dihadapannya dengan tergesa-gesa.

Ia mengangkat kepala dan merasa hatinya berdebar kencang ketika melihat wajah Rayyan yang sudah lama tidak ia lihat. Wajahnya tampak sedikit pucat dan ada kesedihan yang terlihat di mata nya yang biasanya ceria.

"Rayyan? Kamu sudah pulang?" tanya Sea dengan suara yang penuh kegembiraan, segera menutup bukunya. "Kamu baik-baik saja kan? Aku sangat khawatir tentangmu setelah mendengar kabar kecelakaanmu."

Rayyan melihatnya dengan mata yang penuh emosi. Ia ingin langsung memberitahukan padanya tentang apa yang baru saja terjadi, tapi kata-kata seolah-olah macet di tenggorokannya. Ia hanya bisa mengangguk dan memberikan senyum yang lemah.

"Aku sudah baik-baik saja sekarang, Sea," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Terima kasih sudah khawatir tentangku. Aku benar-benar merindukanmu selama di Singapura."

Sea merasa wajahnya menjadi sedikit panas mendengar kata-kata itu. Ia selalu merasa ada sesuatu yang spesial antara mereka, tapi ia tidak pernah berani mengungkapkannya karena takut merusak hubungan baik mereka sebagai senior dan junior.

"Aku juga merindukanmu, Rayyan," ucapnya dengan suara yang lembut, menatap matanya dengan tatapan yang penuh perhatian. "Kamu sudah banyak membantu aku selama ini – baik dalam hal akademik maupun dalam menghadapi tantangan sebagai mahasiswa kedokteran. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada kamu di sini."

Rayyan mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk berbicara. "Sea, ada sesuatu yang harus kubicarakan padamu. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi."

Ia menjelaskan tentang apa yang baru saja dikatakan orang tuanya – tentang jodohannya dengan Amara, tentang alasan mereka yang berdasarkan pada status sosial dan nama baik keluarga, dan tentang bagaimana mereka menolak untuk menerima Sea karena latar belakang keluarganya. Ia melihat ekspresi wajah Sea yang berubah dari kegembiraan menjadi kesedihan dan kecewa.

"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sea dengan suara yang rendah, menunduk melihat mejanya. "Apakah kamu akan menerima apa yang mereka inginkan?"

"Tidak!" jawab Rayyan dengan tegas, mengambil tangannya dengan lembut. "Aku tidak akan pernah menerima itu, Sea. Aku menyukaimu – lebih dari sekadar teman atau adik fakultas. Aku merasa bahwa kita memiliki tujuan yang sama dalam hidup, bahwa kita bisa saling mendukung dan membantu satu sama lain menjadi dokter yang baik dan manusia yang baik."

Sea melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingin dengan tulus menerima perasaan Rayyan, tapi ada rasa takut yang besar di dalam hatinya. Ia tahu betul bagaimana masyarakat melihat hubungan antara orang kaya dan orang biasa. Ia tahu bahwa orang tua Rayyan tidak akan pernah menerima dirinya, dan ia tidak ingin menjadi sebab konflik dalam keluarga nya.

"Kamu tidak bisa begitu saja menentang orang tuamu, Rayyan," ucapnya dengan suara yang penuh kesusahan. "Mereka mencintaimu dan hanya ingin yang terbaik untukmu. Mungkin mereka benar – mungkin kita memang tidak cocok satu sama lain."

"Tidak ada yang bisa memutuskan kecocokan kita selain kita sendiri, Sea!" kata Rayyan dengan suara yang semakin keras, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka melihat ke arah mereka. Ia segera menurunkan suaranya dan menarik kursinya lebih dekat ke meja Sea. "Aku tidak peduli dengan latar belakangmu atau seberapa kaya keluargamu. Yang penting adalah kamu – siapa dirimu sebagai manusia, dan bagaimana kamu membuat hatiku merasa hidup setiap kali aku melihatmu."

Sea merasa air mata mulai mengumpul di sudut matanya. Ia tidak pernah berpikir bahwa seseorang bisa melihat dirinya bukan sebagai putri keluarga Satuan yang kaya raya, tapi hanya sebagai Sea – seorang wanita muda yang sedang berjuang untuk mencapai impiannya menjadi dokter.

"Aku juga menyukaimu, Rayyan," ucapnya akhirnya dengan suara yang bergetar. "Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Tapi aku takut. Takut bahwa hubungan kita akan membawa masalah bagi kamu dan keluarga mu. Takut bahwa aku tidak akan pernah bisa memenuhi harapan orang tuamu."

Rayyan mengeluarkan sapu tangan dari kantong jasnya dan mengusap air mata dari pipinya dengan lembut. "Kamu tidak perlu memenuhi harapan mereka, Sea. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri – karena dirimu sendiri sudah sempurna bagiku. Kita bisa menghadapi semua masalah ini bersama-sama. Kita bisa menunjukkan pada orang tuaku bahwa cinta kita lebih kuat dari pada segala sesuatu yang mereka khawatirkan."

Sebelum Sea bisa menjawab, suara seseorang yang akrab terdengar dari belakang mereka. "Rayyan? Apakah kamu sudah kembali?"

Keduanya berbalik dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang berwarna coklat muda berdiri di belakang mereka. Wanita itu mengenakan baju seragam mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi dengan rapi, dan wajahnya menunjukkan ekspresi kegembiraan ketika melihat Rayyan.

"Amara?" kata Rayyan dengan suara yang penuh kejutan. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Saya sedang mencari referensi buku untuk makalah saya," jawab Amara dengan senyum lebar, kemudian melihat ke arah Sea dengan tatapan yang sedikit heran. "Siapa temanmu ini, Rayyan?"

Rayyan berdiri dengan cepat, merasa tubuhnya menjadi kaku. Ia melihat Sea yang sedang menunduk dengan wajah yang penuh kesedihan, dan rasanya ingin segera menjelaskan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman. Tapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, Amara sudah mendekat dan memberikan pelukan yang erat padanya.

"Saya sangat senang kamu sudah kembali dan sehat kembali, Rayyan," ucap Amara dengan suara yang penuh perhatian. "Orang tuamu sudah memberitahu saya tentang rencana kita. Saya sangat senang dan tidak sabar untuk mulai mengenalmu lebih baik."

Kata-kata itu seperti pukulan keras bagi Sea. Ia segera berdiri dengan cepat, mengambil tas dan bukunya dengan tergesa-gesa. "Aku harus pergi sekarang, Rayyan. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di rumah."

Tanpa menunggu jawaban dari Rayyan, Sea berlari keluar dari perpustakaan dengan cepat, menyisakan Rayyan yang sedang melihat ke arahnya dengan wajah yang penuh kesedihan dan Amara yang berdiri di sebelahnya dengan ekspresi yang bingung.

KONFLIK DAN KEPUTUSAN

Hari-hari berikutnya menjadi sangat sulit bagi Rayyan dan Sea. Sea mulai menghindari Rayyan di kampus – ia datang lebih awal ke kelas, pergi lebih cepat setelah jam kuliah, dan bahkan berhenti datang ke perpustakaan kampus yang selalu menjadi tempat mereka bertemu. Rayyan mencoba menghubunginya melalui telepon dan pesan teks, tapi Sea tidak pernah menjawab atau hanya memberikan jawaban yang singkat dan tidak jelas.

Sementara itu, tekanan dari orang tuanya semakin besar. Mereka sering mengundang keluarga Amara untuk makan malam di rumah, dan setiap kali itu mereka akan membicarakan rencana pertunangan dan pernikahan dengan sangat antusias. Amara sendiri tampak sangat senang dengan hubungan mereka – ia selalu ramah, penuh perhatian, dan menunjukkan minat yang besar pada kehidupan dan impian Rayyan sebagai dokter.

Pada suatu hari, Rayyan diundang oleh orang tuanya untuk makan malam bersama keluarga Amara di restoran mewah di pusat kota. Ia tidak ingin pergi, tapi ia tidak punya pilihan karena Ayahnya mengatakan bahwa ini adalah kesempatan penting untuk memperkuat hubungan antara kedua keluarga.

Ketika ia tiba di restoran, ia melihat keluarga Amara sudah ada di sana bersama orang tuanya. Amara mengenakan gaun panjang berwarna biru muda yang membuatnya terlihat sangat cantik, dan ia memberikan senyum lebar ketika melihat Rayyan datang.

"Rayyan, sayang! Kamu sudah datang!" ucap Ibunya dengan senyum lebar, segera mengajaknya untuk duduk di kursi di sebelah Amara. "Kamu harus mencoba hidangan spesial restoran ini – Amara sudah memilihnya untuk kita semua."

Selama makan malam, percakapan berjalan dengan cukup hangat. Kedua keluarga membicarakan segala hal – dari perkembangan bisnis hingga prestasi akademik anak-anak mereka. Namun, Rayyan hanya bisa diam dan merenungkan dimana Sea berada saat ini, apa yang ia lakukan, dan apakah ia sudah memaafkannya karena tidak bisa menghentikan pertemuan dengan Amara.

Setelah makan malam, Amara mengajak Rayyan untuk berjalan-jalan di taman dekat restoran. Rayyan merasa terpaksa untuk menyetujuinya, meskipun hatinya benar-benar ingin kembali ke kampus dan mencari Sea.

"Rayyan, aku tahu bahwa kamu mungkin masih merasa tidak nyaman dengan rencana kita," mulai Amara dengan suara yang lembut ketika mereka sedang berjalan di taman yang sunyi. "Aku juga tahu bahwa kamu memiliki seseorang yang kamu suka – gadis yang kamu temui di perpustakaan beberapa hari yang lalu."

Rayyan merasa tubuhnya menjadi kaku. Ia tidak menyangka bahwa Amara sudah menyadari hubungan antara dia dan Sea. "Aku minta maaf, Amara," ucapnya dengan suara yang rendah. "Aku tidak bisa bersamamu karena aku sudah mencintai orang lain."

Amara mengangguk perlahan dengan ekspresi yang penuh pengertian. "Aku mengerti, Rayyan. Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku sendiri juga tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak mencintai aku dengan tulus. Tapi kamu harus tahu bahwa orang tua sudah menentukan harinya. "

Deg.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!