NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - JEJAK KEUANGAN

Perjalanan ke Kemang memakan waktu empat puluh menit. Dara duduk di kursi penumpang, menatap jalanan Jakarta yang ramai meski sudah malam. Kepalanya masih berdenyut efek suntikan Salma, tapi dia memaksa dirinya tetap fokus.

"Kak, kamu yakin bisa jalan?" tanya Regan sambil menyetir.

"Harus bisa."

"Kita perlu rencana, tidak bisa asal masuk apartemen Salma."

Dara berpikir. "Kamu bilang kamu punya kenalan di kepolisian?"

"Iya, tapi..."

"Hubungi mereka. Tanya apakah ada laporan tentang wanita terluka tembak di kakinya malam ini. Kalau ada, kita bisa lacak ke rumah sakit mana dia pergi."

Regan mengangguk, mengambil ponselnya, menelpon. Percakapan singkat dalam bahasa yang hati-hati.

"Ada," katanya setelah menutup telepon. "Wanita sekitar tiga puluh tahunan, luka tembak di betis kiri, datang ke rumah sakit swasta di Pondok Indah sekitar jam dua pagi tadi. Bilang kecelakaan tertembak peluru nyasar."

"Dia masih di sana?"

"Tidak, dia sudah keluar sejam lalu. Bayar tunai, tidak mau dirawat inap."

Berarti Salma sudah bebas berkeliaran. Berbahaya.

"Dia pasti sudah ke apartemennya, mengambil barang-barang penting."

"Kalau begitu kita terlambat?"

"Belum tentu, Salma itu hati-hati. Dia tidak akan gegabah, dia akan pastikan aman dulu sebelum memindahkan semua bukti."

Mereka sampai di kompleks Apartemen Permata Hijau, bangunan tinggi mewah dengan keamanan ketat.

"Bagaimana kita masuk?" tanya Regan. "Pasti ada satuan pengamanan."

Dara mengamati dari mobil. "Kamu masih pakai jas kerja?"

"Selalu bawa di mobil."

"Pakai! Kita pura-pura tamu bisnis, aku istri klienmu yang ikut rapat malam."

Regan berganti jas dengan cepat. Dara merapikan rambutnya, mencubit pipinya supaya terlihat lebih segar meski pucat. Mereka masuk lobi dengan percaya diri, satuan pengamanan menatap mereka.

"Selamat malam, mau ke unit mana?"

"Lantai dua puluh, unit dua nol tiga. Ada janji dengan Nyonya Anita." Regan tersenyum profesional.

Dara hampir tersentak... Anita? Nama tengah Salma.

Satuan pengamanan mengecek buku tamu. "Tidak ada pemberitahuan tamu malam ini untuk unit tersebut."

"Mungkin beliau lupa memberitahu, ini soal kontrak penting yang harus ditandatangani malam ini juga." Regan mengeluarkan dompetnya, menyelipkan beberapa lembar uang di balik kartu namanya. "Kami tidak akan lama, paling setengah jam."

Satuan pengamanan melirik uang itu, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi tolong hubungi penghuni unit dulu untuk konfirmasi."

"Tentu."

Mereka menjauh ke sudut lobi. Regan berbisik, "Sekarang bagaimana?"

"Tunggu sebentar." Dara mengamati. Satuan pengamanan sedang melayani tamu lain yang baru datang, rombongan besar. Kondisi sedikit riuh, tapi justru memberi keuntungan untuk mereka.

"Sekarang, langsung ke tangga darurat."

Mereka menyelinap ke tangga darurat, naik dua puluh lantai... Meskipun melelahkan, tapi lebih aman dari penjelasan tambahan di lift.

Lantai dua puluh. Koridor sepi, pencahayaan redup. Unit dua nol tiga ada di ujung, pintu kayu gelap dengan nomor perak.

Regan mencoba kenop. "Terkunci."

"Minggir." Dara mengeluarkan jepit rambutnya, keterampilan dari kehidupan lama. Tangannya gemetar sedikit efek suntikan, tapi muscle memory-nya masih ingat.

Lima belas detik kemudian... klik.

Pintu terbuka, apartemen gelap. Hanya cahaya kota dari jendela besar yang menerangi ruangan.

"Hati-hati," bisik Regan, menyalakan senter ponselnya.

Apartemen ini steril. Tidak ada foto, tidak ada dekorasi personal. Hanya furnitur minimalis dan... Meja kerja besar di sudut ruangan, penuh dengan komputer, berkas, dan peralatan laboratorium kecil.

"Ini dia," kata Dara, mendekati meja.

Ada tiga komputer jinjing. Semua menyala, Salma pasti baru saja di sini. Dara membuka komputer pertama, terkunci dengan kata sandi.

"Sialan."

"Biar aku coba." Regan mengambil alih, mengetik beberapa kombinasi. "Salma itu metodis kan? Biasanya orang metodis pakai pola kata sandi yang bisa diingat tapi tidak mudah ditebak."

Dara berpikir. "Coba tanggal kematianku, dua sembilan nol tujuh dua nol dua empat."

Regan mengetik, salah...

"Coba nama lengkapku, Dara Alvarino."

Salah lagi...

"Tunggu..." Dara mengingat sesuatu. "Coba nama latin untuk belladonna, Atropa Belladonna. Itu adalah racun favoritnya."

Regan mengetik. "AtropaBelladonna... dengan huruf besar di awal..."

Layar terbuka.

"Berhasil!"

Mereka menatap layar, berisi ratusan berkas. Foto, video, dokumen penelitian.

"Salin semuanya," kata Dara. "Kita butuh bukti ini."

Regan mencolokkan diska lepas, mulai menyalin data.

Sementara itu, Dara membuka laci-laci meja. Menemukan buku catatan, tulisan tangan Salma, rapi, detail.

Dia membuka halaman pertama : Proyek Transmigari Jiwa - Tahap Satu

Subjek : Dara Alvarino

Status : Berhasil dipindahkan ke tubuh Kiara Adisaputra

Catatan : Ritual membutuhkan korban dalam keadaan hampir mati. Jiwa yang kuat (trauma, amarah, keinginan hidup tinggi) lebih mudah berpindah.

Dara merasa dingin membaca ini. Salma benar-benar memperlakukannya seperti percobaan tikus.

Dia membalik halaman,

Tahap Dua : Mengamati subjek dalam kehidupan baru. Mencatat perubahan perilaku, ingatan, kemampuan.

Tahap Tiga : Mereplikasi proses dengan subjek lain.

Ada daftar nama di bawahnya, nama-nama orang yang Salma targetkan untuk "percobaan" berikutnya.

"Regan, dia punya daftar korban selanjutnya."

"Apa?!"

Dara menunjukkan buku itu. "Dia mau melakukan ini ke orang lain, ada sepuluh daftar nama di sini."

"Kita harus bawa buku ini ke polisi..."

Suara di belakang mereka. "Aku tidak akan biarkan kalian melakukan itu."

Salma berdiri di ambang pintu, bertumpu pada tongkat, kaki kirinya diperban. Di tangannya ada sepucuk pistol, siap tembak mengarah ke Dara.

"Jauh-jauh dari komputer itu, Sekarang!" Teriaknya dengan wajah merah menahan amarah dan rasa khawatir.

Regan perlahan berdiri, tangan terangkat. "Salma jangan bodoh, kamu sudah terluka..."

"Justru karena itu aku tidak punya apa-apa lagi sekarang." Salma melangkah masuk, pincang. "Kamu tembak kakiku, Regan. Kamu pikir aku akan biarkan itu begitu saja?"

"Kamu yang lebih dulu menyuntik kakak iparku..."

"Cuma penenang, tidak akan bunuh dia. Tapi sekarang..." Salma menggeser pistolnya sedikit, mengarah ke kepala Dara, "...aku sudah muak dengan permainan ini."

Dara menatapnya tanpa berkedip. "Kamu tidak akan bunuh aku. Aku adalah bukti hidup eksperimenmu, kamu butuh aku."

"Dulunya iya, tapi sekarang aku sudah punya data yang cukup. Aku sudah tahu caranya, aku tidak butuh kamu lagi, Dara." Salma tersenyum... senyum yang dulunya hangat, sekarang dingin membeku. "Jadi selamat tinggal, untuk kedua kalinya."

Jarinya mulai menarik pelatuk...

Pintu apartemen terbuka dengan keras. Polisi menyerbu masuk, senjata teracung.

"LEPASKAN SENJATA! TANGAN DI ATAS KEPALA!"

Salma tersentak, berbalik...

Regan memanfaatkan kesempatan itu, melompat, merebut pistol dari tangan Salma. Salma jatuh, menjerit kesakitan saat kaki lukanya terbentur lantai. Polisi mengerubungi, memborgolnya.

Dara merosot ke kursi, lega campur shock.

"Bagaimana... polisi bisa tahu..." bisiknya pada Regan.

Regan tersenyum tipis. "Aku menelpon temanku di polisi sebelum masuk tadi. Bilang ada tersangka percobaan pembunuhan di alamat ini. Suruh mereka datang dua puluh menit kemudian. Aku hitung waktunya pas."

"Kamu... kamu jenius."

"Aku cuma belajar dari yang terbaik." Regan menatapnya. "Dari kakak ipar yang pernah jadi dokter mafia dan tahu cara bertahan hidup."

Salma berteriak dari lantai, "DARA! INI BELUM SELESAI! AKU MASIH PUNYA BUKTI! AKU AKAN BONGKAR SEMUANYA!"

Tapi Dara hanya menatapnya dingin.

"Silakan coba. Tapi ingat... kamu sekarang tersangka percobaan pembunuhan, penelitian ilegal, dan penculikan. Siapa yang akan percaya padamu?"

Salma terdiam, akhirnya mengerti dia sudah kalah.

Saat polisi membawa Salma keluar, Dara menatap Regan.

"Terima kasih. Untuk semuanya."

"Belum selesai, Kak. Masih ada Lenna yang harus kita urus."

Dara tersenyum untuk pertama kali, senyum yang tulus.

"Ya. Masih ada Lenna."

1
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
semoga lancar ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!