Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Bryan Jangan Berpakaian Dulu
Kali ini ekspresi wajah Aruna berubah total. Wajah cantiknya yang semula tertutup riasan tebal kini berkedut hebat karena amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.
Ia hampir saja berteriak histeris di kamar mandi yang sunyi itu.
"Kirana, dasar gila! Kau benar-benar sudah gila!" ujar Aruna dengan suara tertahan, penuh kebencian.
Sebenarnya, Aruna tidak pernah benar-benar takut pada Kirana yang dulu. Baginya, Kirana hanyalah gadis kampung ambisius yang mencoba bersaing demi status sosial dan perhatian pria seperti Aditya Pratama.
Namun Kirana yang berdiri di depannya sekarang terasa seperti orang yang sama sekali berbeda.
Hal yang paling Aruna takuti bukanlah persaingan karier, melainkan kenyataan bahwa Kirana memegang kunci rahasia masa lalunya.
Ia sangat takut jika suatu hari semua itu benar-benar diungkap ke publik dan menghancurkannya tanpa sisa.
Kirana yang sudah hendak melangkah keluar tiba-tiba berhenti di depan pintu. Ia berbalik perlahan, menatap adik tirinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Hehe…"
Melihat wajah Aruna yang pucat pasi karena ketakutan, Kirana tak mampu menahan tawa kecilnya. Tawa itu terdengar dingin dan meremehkan, membuat bulu kuduk Aruna meremang.
Kirana berjalan mendekat. Dengan gerakan tenang, ia menepuk lembut bahu Aruna sambil memasang ekspresi santai seolah mereka hanya sedang membicarakan cuaca.
"Nona Yudhoyono, tenang saja. Kau tidak perlu gemetar seperti itu. Aku cuma bercanda," ujarnya ringan.
"Lagi pula, aku rasa tidak ada gunanya bagiku jika harus mati bersama sampah sepertimu… itu hanya akan mengotori namaku."
Pada detik berikutnya, tatapan Kirana berubah tajam seperti silet. Ia mencondongkan tubuh, merendahkan suaranya tepat di samping telinga Aruna.
"Tapi kalau kau berani mengancamku dengan masa laluku lagi… aku tidak bisa menjamin aku masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar bicara."
Suaranya pelan, tetapi menusuk seperti bisikan iblis.
"Mengutip kata-kata rekanmu yang berotak koala itu, 'bahkan jika aku mati, aku akan menyeretmu mati bersamaku.' Sayangnya Qiana si idiot itu cuma pandai bicara tanpa bukti."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan penekanan dingin,
"Tapi aku berbeda darinya, Aruna."
Setelah selesai, Kirana melepaskan tangannya dari bahu Aruna. Ia berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak dan langkah mantap, meninggalkan tekanan tak kasatmata yang masih menyesakkan ruangan.
Aruna yang tadinya datang untuk mengancam kini justru menjadi pihak yang terancam dan dipermalukan.
Begitu sosok Kirana menghilang di balik pintu, seluruh kekuatan di kaki Aruna seolah lenyap. Tubuhnya lemas dan ia ambruk di lantai marmer yang dingin.
"Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan! Aku harus memikirkan cara paling efektif untuk menghancurkannya!" gumam Aruna terengah.
Di benaknya yang licik, ia menyadari satu hal mengerikan.
Jika ia tidak segera bertindak, selama Kirana masih hidup—bahkan hanya satu hari lagi—semua kemewahan, status, dan kebahagiaan yang ia miliki bisa lenyap kapan saja seperti debu tertiup angin.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Apa pun risikonya, Kirana harus lenyap!" tegasnya sambil mengepalkan tinju ke lantai.
…
Setelah meninggalkan gedung Starlight Entertainment yang penuh intrik, Kirana menyadari ia tidak memiliki agenda pekerjaan lagi hari ini.
Karena jadwal syuting masih diliburkan, ia memutuskan pergi ke pusat perbelanjaan.
Pikirannya tiba-tiba teringat janji kecilnya untuk membelikan pakaian baru bagi Kael Santoso.
Begitu nama Kael terlintas, suasana hatinya yang semula muram langsung cerah. Senyum tulus terukir di wajahnya.
Dengan langkah ringan, ia memesan taksi daring lewat ponsel dan memilih tujuan ke salah satu pusat belanja favorit kalangan elite Jakarta: Pacific Place.
Perjalanan tidak memakan waktu lama karena belum memasuki jam pulang kantor, sehingga jalanan masih ramai tetapi belum macet.
Saat mobil berhenti di depan lobi utama, Kirana langsung turun. Pembayaran digital membuatnya tak perlu repot membuka dompet.
Ia melangkah masuk. Hawa sejuk pendingin ruangan langsung menyentuh kulitnya, memberi rasa nyaman instan.
Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal raksasa di langit-langit tinggi. Aroma parfum mahal bercampur wangi kopi artisan dari kafe terdekat, menciptakan atmosfer kemewahan yang kental.
Kirana berjalan santai menuju direktori digital di tengah atrium. Ia membuka kategori Kids & Baby untuk mencari referensi toko pakaian anak terbaik. Setelah mencatat beberapa nama menarik, ia mulai berkeliling dari lantai ke lantai dengan antusias.
Sejak pertama kali bertemu Kael, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.
Dulu ia selalu menghindari toko perlengkapan bayi karena trauma masa lalu. Sekarang justru pemandangan pakaian kecil membuat dadanya hangat, sebab setiap helai kain mengingatkannya pada bocah menggemaskan itu.
Setiap melihat barang lucu, ia ingin langsung membelinya.
"Rasanya aneh… seperti jatuh cinta saja," gumamnya pelan sambil menggeleng geli.
Sebagian besar barang di etalase berasal dari merek desainer dunia dengan harga yang jelas tidak ramah bagi penghasilan standar UMR Jakarta. Pakaian anak di sini bahkan tak kalah mahal dari pakaian dewasa.
Namun karena itu untuk Kael, Kirana rela mengurangi anggaran kosmetiknya demi sesuatu yang pantas dan berkualitas.
Beberapa butik mewah yang ia lewati memang memiliki koleksi anak, tetapi biasanya hanya sebagian kecil dari lini keluarga.
Ada desain terlalu formal, ada harga terlalu tidak masuk akal untuk pakaian yang cepat kekecilan, ada pula model seperti miniatur busana orang dewasa yang terasa kurang cocok bagi anak.
Kirana menggeleng pelan saat melihat sebuah kemeja kecil.
'Kael pasti tidak suka yang kaku begini… dia butuh yang nyaman dan tetap imut,' batinnya.
Ia terus berjalan menyusuri koridor melengkung di lantai atas. Langkahnya melambat saat matanya menangkap sebuah etalase butik dengan dekorasi ceria.
Butik itu didominasi warna pastel lembut, dihiasi boneka kain lucu dan manekin kecil mengenakan pakaian kasual nan manis.
Di atas pintu kaca butik itu terpampang nama elegan sekaligus imut: Little Monarch Atelier.
Kirana berhenti tepat di depannya. Tanpa ragu, ia mendorong pintu kaca dan melangkah masuk.
Hari ini Kirana mengenakan gaun indah rancangan desainer lokal favoritnya.
Potongannya artistik dan menonjolkan keanggunan tubuhnya. Namun karena merek itu belum terlalu dikenal luas, tidak ada logo mencolok yang terlihat di permukaannya.
Seperti kebiasaan buruk di butik mewah pada umumnya, para pramuniaga menilai pelanggan sekilas dari penampilan. Mereka hanya melirik Kirana dengan cepat dan dingin, lalu segera mengalihkan perhatian untuk menyambut seorang wanita lain yang baru saja masuk.
Wanita itu tampak mentereng dengan setelan Chanel lengkap dari ujung kepala sampai kaki.
Kirana sama sekali tidak tersinggung. Ia justru merasa lega karena bisa bebas menjelajahi rak tanpa bayangan pramuniaga yang biasanya menempel seperti bayangan.
Rak demi rak ia telusuri dengan teliti.
Berbagai model pakaian anak terpajang rapi. Tanpa sadar ia tenggelam dalam lautan warna dan desain yang menggemaskan. Antusiasmenya bahkan terasa lebih besar daripada saat berbelanja untuk dirinya sendiri.
Lalu, di sudut rak bagian belakang, matanya tiba-tiba berbinar.
Di sana tergantung satu setelan jas anak berwarna biru safir dengan potongan rapi dan elegan. Warnanya terlihat mewah tetapi tetap ceria. Di saku dadanya terpasang emblem huruf “S” bergaya kartun yang tampak lucu.
"Ini cocok sekali. Kael punya banyak baju tema Superman. Kalau dipakai barengan pasti kelihatan matching," gumam Kirana sambil tersenyum kecil.
Ia segera mencari pramuniaga terdekat dan langsung menghampirinya.
"Mbak, saya mau ambil setelan jas biru ini. Tolong bungkuskan," ujarnya ramah.
Pramuniaga itu tidak langsung bergerak. Ia menatap Kirana dengan pandangan meremehkan, lalu berkata dengan nada datar,
"Maaf sebelumnya, Kak, tapi setelan ini harganya dua juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah."
Nada penekanannya terdengar jelas, seolah memperingatkan bahwa barang itu bukan untuk sembarang orang.
"Iya, saya tahu harganya. Saya sudah lihat labelnya. Tolong langsung bungkuskan saja," jawab Kirana tenang.
Baru setelah mendengar ketegasan itu, ekspresi pramuniaga sedikit melunak.
"Baik, Kak. Mau sekalian dikemas dalam kotak hadiah?"
Sebelum Kirana sempat menjawab, sebuah tangan berhiaskan gelang giok mahal tiba-tiba menyelonong dari samping dan merebut jas itu dari tangannya.
"Oh, ternyata bagus juga. Saya saja yang ambil ini," ujar wanita itu seenaknya.
"Maaf, Bu, tapi setelan ini tadi sudah dipilih lebih dulu oleh Kakak ini," jelas pramuniaga dengan sangat hati-hati.
Wanita itu adalah sosok berbusana Chanel mencolok yang tadi dilihat Kirana.
Ia mengangkat dagu dengan kesal.
"Memangnya dia sudah bayar?" tanyanya menantang.
"Itu… belum, Bu," jawab pramuniaga gugup.
"Nah, kalau belum dibayar berarti belum jadi milik siapa pun, kan? Jadi siapa pun boleh mengambilnya. Saya yang ambil. Masukkan saja ke tagihan saya," perintahnya arogan.
Namun tepat setelah ia selesai bicara, tangannya mendadak kosong.
Dengan gerakan cepat, jas biru itu sudah kembali berada di tangan Kirana.
Wanita itu langsung membelalakkan mata.
"Heh! Kau pikir kau sedang apa?! Beraninya kau merampas baju yang sudah ada di tanganku!" teriaknya keras hingga beberapa pelanggan menoleh.
Nada suara Kirana justru tetap datar.
"Bukannya tadi kau bilang kalau barang yang belum dibayar belum jadi milik siapa pun?"
Ia menatap wanita itu tenang.
"Kalau kau boleh mengambilnya dariku, berarti aku juga punya hak yang sama untuk mengambilnya kembali, bukan?"
"Kau—!"
Wanita itu hampir meledak, tetapi tiba-tiba berhenti. Ia menyipitkan mata, meneliti wajah Kirana dengan saksama.
"Kirana… kau ini Kirana Yudhoyono, ya?" tanyanya tidak percaya.
Seolah menemukan hiburan besar, ia segera menarik tangan temannya.
"Tasha, sini lihat. Coba lihat siapa yang kita temui. Si gadis kampung keluarga Yudhoyono ternyata berani muncul di tempat semewah ini dan berebut baju denganku!" katanya sambil tertawa mengejek.
"Apa? Kirana? Masa sih…" Temannya menatap lebih dekat.
Ia melihat wanita cantik berambut hitam panjang dengan ikal alami. Riasannya klasik dan presisi, menonjolkan fitur wajah yang sempurna.
Gaun ungu muda yang dikenakan memang tanpa logo mencolok, tetapi potongannya memancarkan aura elegan kelas atas yang sulit ditiru.
Tak tersisa sedikit pun bayangan gadis desa kusam seperti dulu.
Lima tahun lalu, Kirana memang sudah cantik alami, tetapi ia tidak tahu cara berdandan dan selalu memakai pakaian kuno yang membuatnya terlihat aneh.
Pada sebuah jamuan besar, ia bahkan pernah datang dengan gaun A-line kebesaran berwarna tua. Semua orang mengingatnya—bukan karena kagum, melainkan karena kasihan dan ejekan.
"Iya, itu dia. Aku tidak mungkin lupa wajah membosankan itu," ujar wanita arogan itu.
"Mau ganti gaya seperti apa pun, gadis kampung tetap saja kelihatan kampung," lanjutnya sinis.
"Dia mungkin kelihatan berbeda sekarang, tapi tetap saja orang biasa yang tidak selevel dengan kita."
Temannya, Natasha yang dipanggil Tasha, menatap Kirana sekali lagi lalu mengangguk pelan.
"Wah… beneran dia."
Matanya menyipit penuh selidik saat melihat jas di tangan Kirana.
"Tapi kenapa dia beli baju anak kecil? Setahuku belum ada kabar dia menikah," ucap Tasha dengan nada penasaran yang tajam.
Wanita arogan bernama Clarissa—yang dipanggil Risa—mendengus.
"Siapa tahu itu anak dari hubungan gelap dengan pria liar mana pun. Bukannya sangat mungkin kalau dia hamil di luar nikah?"
Ia tersenyum tipis penuh racun.
"Lagipula, bukankah dulu Aditya Pratama meninggalkannya karena dia ketahuan selingkuh dengan pria lain?"
…
Saat kedua wanita di depannya terus saling melontarkan kata-kata tajam cukup lama, Kirana akhirnya teringat siapa sebenarnya mereka.
Wanita yang mengenakan setelan Chanel itu adalah Clarissa Wijaya, dan temannya adalah Natasha Tan.
Mereka berdua bagian dari lingkaran sosialita kelas atas Jakarta, sekaligus anggota kelompok teman dekat Aruna Yudhoyono.
Dulu, merekalah dua orang yang paling sering menghina dan menertawakan Kirana setiap kali bertemu di acara sosial mana pun.
Kirana juga pernah mendengar kabar bahwa Clarissa berhasil menikah dengan pria dari keluarga terpandang. Pada tahun pertama pernikahan, ia melahirkan seorang putra, dan sejak itu kesombongannya di kalangan sosialita makin menjadi.
Sedangkan Natasha sudah memiliki tunangan dari keluarga kaya berpengaruh.
'Benar-benar dunia sempit. Siapa sangka aku justru menemukan barang-barang "berkualitas tinggi" seperti mereka saat sedang santai di bagian pakaian anak-anak?' batin Kirana sarkastik.
Sepertinya mereka belum tahu bahwa sekarang ia sudah terjun ke industri hiburan. Kirana sendiri sama sekali tidak berniat memulai keributan di tempat umum seperti ini.
Ia memutuskan mengabaikan mereka sepenuhnya. Ia berbalik ke pramuniaga dan berkata tegas, "Nona, tolong siapkan tagihannya sekarang. Saya mau bayar."
Pramuniaga itu sebenarnya merasa kedua wanita yang baru datang terlihat jauh lebih kaya dan lebih sulit dihadapi. Namun sesuai aturan toko, Kirana-lah yang pertama memilih setelan jas tersebut.
Dengan sedikit gugup, ia menyerahkan mesin EDC dan bersiap memproses pembayaran.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah aneh saat menatap layar mesin.
"Aduh… maaf sekali, Nona. Sepertinya transaksi ini tidak bisa diproses karena saldo kartu Anda tidak mencukupi," katanya cukup keras hingga terdengar jelas.
"Ah? Masa?" Kirana menatap kosong beberapa detik, bingung.
Baru kemudian ia teringat sesuatu.
Bulan lalu ia baru saja melakukan modifikasi besar-besaran pada mesin mobil kesayangannya dengan komponen impor supermahal. Tak heran saldo di kartu debitnya hampir habis.
Melihat situasi itu, Clarissa langsung tertawa keras.
"Hahaha! Ya ampun, Kirana! Kau benar-benar membuatku ingin tertawa sampai gila!"
"Jadi kau sebenarnya tidak punya cukup uang, tapi masih nekat mau bergaya? Benar-benar tidak tahu diri!" sindir Risa.
Natasha mengangkat bahu dengan tatapan jijik.
"Kupikir selama kau menghilang dan katanya belajar di luar negeri, kau akan berkembang."
"Ternyata aku salah. Ayam kampung tetap saja ayam kampung. Tidak akan pernah berubah jadi burung phoenix!" katanya menghina.
Clarissa lalu menoleh angkuh ke pramuniaga.
"Nah, sekarang sudah jelas, kan? Dia tidak mampu bayar. Jadi berikan saja pakaian itu padaku sekarang," tuntutnya.
"Baik, Ibu! Tentu!" jawab pramuniaga cepat, lalu hendak mengambil jas dari tangan Kirana.
Namun Kirana memegangnya erat dan tidak melepaskan.
"Heh! Apa-apaan kau?! Sudah jelas tidak punya uang, tapi masih sok kuat? Tidak tahu malu!" bentak Clarissa tak sabar.
Tanpa terburu-buru, Kirana merogoh tasnya dengan tangan bebas. Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam elegan dan menyerahkannya pada pramuniaga dengan tatapan tajam.
"Tolong gunakan kartu ini. Gesek sekali lagi."
Awalnya Kirana memang berniat membayar hadiah untuk Kael dengan uang hasil kerjanya sendiri. Ia tidak menyangka situasi memalukan ini terjadi hanya karena lupa mengecek saldo.
Ia sangat menyukai setelan itu. Membayangkan pakaian yang seharusnya menjadi milik Kael jatuh ke tangan seseorang seperti Clarissa membuat tubuhnya menolak.
Akhirnya ia terpaksa menggunakan kartu kredit khusus yang dulu diberikan Bryan Santoso.
Begitu kartu hitam itu muncul, pramuniaga dan kedua sosialita langsung terpaku.
Sebagai pegawai butik papan atas berpengalaman, pramuniaga itu langsung mengenali jenis kartu tersebut hanya dengan sekali pandang.
Clarissa dan Natasha mungkin belum pernah melihatnya secara langsung, tetapi sebagai bagian dari lingkaran elite, mereka sangat peka terhadap simbol status seperti itu.
Mereka sadar kartu di tangan Kirana adalah kartu kredit Infinite Black—"raja" dari semua kartu.
Limitnya nyaris tak terbatas, iuran tahunannya fantastis, dan pemiliknya mendapat layanan kelas satu di seluruh dunia.
Kartu itu tidak bisa diajukan sembarang orang. Hanya segelintir nasabah terpilih yang menerima undangan khusus dari bank pusat.
Artinya, bahkan orang kaya belum tentu memilikinya. Pemegang kartu ini pasti miliarder sejati dengan status sosial luar biasa.
Wajah Clarissa langsung kaku.
"Halah! Itu pasti kartu palsu untuk menipu orang!" dengusnya.
"Nona Pramuniaga, kau harus periksa benar-benar! Jangan sampai tertipu gertakan murahan gadis ini!" suaranya mulai bergetar.
Pramuniaga itu memang pernah melihat kartu seperti ini sekali seumur hidup. Dengan sangat hati-hati ia mengambilnya, seolah memegang benda keramat, lalu memasukkannya ke mesin EDC.
Sepuluh detik terasa seperti satu jam bagi semua orang.
Layar mesin akhirnya menampilkan konfirmasi berhasil.
Senyum pramuniaga langsung melebar. Ia membungkuk sembilan puluh derajat.
"Mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini, Nona. Pembayaran Anda berhasil."
"Saya akan segera membungkus setelan jas ini dengan kemasan terbaik," tambahnya penuh hormat.
Kirana mengangguk pelan.
"Iya, terima kasih."
Clarissa dan Natasha hanya bisa berdiri kaku, saling pandang bingung, lalu menatap Kirana lagi seolah melihat hantu di siang bolong.
Kirana mengambil tas belanja berisi pakaian Kael yang sudah terbungkus rapi, lalu berbalik pergi tanpa melirik mereka.
Suara langkah sepatu hak tingginya berketuk ritmis di lantai marmer.
Clarissa menggertakkan gigi. Wajahnya dipenuhi iri dan benci.
"Hah! Kalau dia punya kartu itu memangnya kenapa?! Pasti dia jadi simpanan orang kaya tua mesum!"
"Apa dia pikir cuma karena melahirkan anak laki-laki hasil hubungan gelap, dia bisa bermimpi menikah dengan keluarga bangsawan?!" makinya penuh dengki.
"Kau benar, Risa! Istri sah pria itu pasti akan tahu dan membuatnya menderita sampai mati!" sahut Natasha dengan nada tajam.
…
Setelah meninggalkan bagian pakaian anak-anak, Kirana tanpa sengaja melewati area pakaian pria di lantai bawah.
'Hmm… kalau tidak salah, merek itu sepertinya yang biasa dipakai Bryan setiap hari,' batinnya sambil mengamati salah satu butik dari kejauhan.
Gaya pakaian di etalase itu benar-benar mencerminkan selera Bryan—dominan hitam, putih, dan abu-abu. Desainnya aristokratis, minimalis, tetapi tetap memancarkan aura elegan yang kuat.
Setelah beberapa saat menatap, pandangan Kirana beralih ke butik di sebelahnya.
Merek itu sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Dibandingkan butik sebelumnya, koleksinya jauh lebih berwarna dengan potongan modern dan trendi.
Kirana mengelus dagu pelan.
Tiba-tiba muncul keinginan untuk membelikan pakaian baru bagi Bryan juga.
Begitulah sifat alami perempuan.
Kadang mereka berangkat belanja dengan niat membeli satu barang, tetapi pulang membawa setumpuk tambahan yang sama sekali tidak direncanakan.
Setelah mendapatkan sesuatu yang bagus untuk Kael, Kirana jadi tergoda memperbarui gaya berpakaian Bryan yang menurutnya terkadang terlalu kaku dan monoton.
Ia sempat ragu sekitar tiga menit, menimbang-nimbang dalam diam.
"Ya sudah, beli saja."
Ia melangkah masuk dan langsung menunjuk satu setelan jas yang dikenakan manekin di dekat pintu.
Warna jas itu biru safir—persis sama seperti pakaian yang baru ia belikan untuk Kael.
"Kalau Bryan dan Kael memakainya bersama pasti akan sangat serasi," gumamnya.
Tiba-tiba sebuah istilah terlintas di benaknya—outfit orang tua dan anak.
Perutnya seolah dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan. Sensasinya ringan sekaligus menggelitik. Ia sedikit tertegun oleh perasaan hangat yang aneh itu.
Baru kali ini Kirana menyadari sesuatu.
Keinginan tulus untuk memberi yang terbaik ternyata bukan hanya milik pasangan yang sedang jatuh cinta. Perasaan itu juga bisa muncul saat seseorang menyayangi seorang anak sepenuh hati.
Ia terdiam sejenak menikmati sensasi asing namun menyenangkan itu, sebelum akhirnya tersadar dan melambaikan tangan memanggil pramuniaga.
Pada saat yang sama, di kantor pusat SantoPrime, tepatnya di ruang kerja pribadi CEO, Bryan Santoso duduk di kursinya sambil mendengarkan laporan Arion Santoso.
Tiba-tiba ponsel di atas meja bergetar singkat, menandakan dua pesan masuk berturut-turut.
Bryan memeriksanya.
Ternyata dua notifikasi resmi dari bank pusat.
'Apakah Kirana baru saja menggunakan kartu pemberianku?' batin Bryan.
Senyum puas—ekspresi yang sangat langka—tiba-tiba muncul di wajahnya yang biasanya dingin.
Perubahan itu tentu langsung ditangkap Arion.
"Wah, senyum-senyum sendiri? Ada pesan dari kakak ipar tersayang?" godanya.
"Bukan," jawab Bryan singkat.
"Bukan?" Arion makin penasaran.
Didorong rasa ingin tahu, ia mendekat sedikit untuk mengintip layar ponsel kakaknya.
'Lho? Bukankah ini cuma notifikasi pengeluaran dari bank? Bukan pemasukan?' batin Arion bingung.
Ia benar-benar tidak paham. Bagaimana mungkin seseorang terlihat sebahagia itu hanya karena melihat saldo berkurang?
'Aiya… sepertinya benar kata orang. Logika pria yang sedang jatuh cinta memang sulit dipahami,' pikirnya pasrah.
Malam pun tiba. Lampu kota mulai menyala.
Kirana akhirnya kembali ke kediaman megah Bryan Santoso dengan beberapa kantong belanja di tangannya.
Melihat kepala pelayan tua yang sedang menyiram bunga di dekat pintu masuk, ia segera menghampiri.
"Kakek Kepala Pelayan, selamat malam. Di mana Sayangku, Harta Kecil Kael sekarang?" sapanya ceria.
Pria tua dengan setelan formal rapi dan dasi kupu-kupu itu menoleh. Begitu melihat Kirana, ia langsung menjawab hormat.
"Selamat malam, Nona Kirana. Tuan Muda Kael sedang menggambar di taman belakang."
"Ah, begitu… kalau dia sedang fokus, sebaiknya aku tidak mengganggunya dulu."
Ia lalu bertanya, "Kalau Tuan Bryan ada di mana?"
"Tuan Bryan berada di ruangannya di lantai atas, Nona."
"Oke, terima kasih banyak informasinya."
Dengan langkah ringan dan suasana hati cerah, Kirana masuk ke dalam rumah.
Melihat punggung gadis itu yang tampak ceria dan penuh semangat, kepala pelayan tua tersebut diliputi berbagai perasaan yang bercampur aduk.
Selama mengenal Kirana, meskipun awalnya ia sempat sangat waspada, ia harus mengakui bahwa ia tidak bisa menahan diri untuk menyukai kepribadian gadis itu.
Baginya, gadis cantik dengan sopan santun yang baik dan ketulusan seperti Kirana pasti akan selalu diterima dengan tangan terbuka di mana pun ia berada.
"Satu hal yang benar-benar tidak aku sangka adalah bahwa dia ternyata sangat berhati-hati dalam menjaga setiap tindakannya," gumamnya.
"Dia sama sekali tidak pernah terlihat mencoba melewati batas kewajaran dengan Tuan Bryan. Bahkan terkadang ia terlihat seolah tidak peduli pada citra kecantikannya sendiri di depan kami," lanjutnya pelan sambil terus menyiram bunga.
Sebagai seseorang yang berpengalaman, sebenarnya sangat mudah baginya menilai apakah seorang wanita memiliki niat tersembunyi terhadap seorang pria atau tidak.
Paling lama seseorang hanya mampu menyembunyikan niat asli satu atau dua hari. Tidak mungkin bertahan lama di bawah pengamatannya.
Begitu pula sebaliknya. Ia juga bisa dengan mudah melihat apakah seorang pria menyimpan maksud tertentu terhadap seorang wanita.
Mungkin orang lain yang hanya melihat dari luar tidak akan menyadarinya. Namun karena kepala pelayan ini menyaksikan semuanya sejak awal hingga sekarang di rumah ini, dialah yang paling memahami situasi sebenarnya.
"Tuan Muda Bryan sudah jelas memiliki perasaan khusus yang sangat mendalam terhadap gadis ini," gumamnya dengan senyum kecil.
Ia melihat sendiri bagaimana Bryan mendesain setiap detail kamar tamu tempat Kirana menginap. Ia bahkan turun tangan memilih warna seprai, jenis tirai, serta mengatur sendiri stok pakaian dan aksesori mewah di dalam lemari.
Bukan hanya itu.
Sejak hari pertama Kirana datang, Bryan secara khusus menginstruksikan koki rumah mengenai kebiasaan makan gadis itu, dan selalu memastikan ada makanan hangat setiap kali Kirana pulang larut malam.
Ada begitu banyak detail perhatian kecil lain yang sudah terlalu banyak untuk dihitung satu per satu.
"Sekalipun awalnya karena gadis ini berjasa menyelamatkan nyawa Tuan Muda Kecil, perhatian Tuan Bryan jelas sudah jauh melampaui batas kewajaran seorang tuan rumah biasa," gumamnya meyakinkan diri.
Jika dipikirkan lagi, bila Kirana benar-benar gadis baik dengan latar keluarga tanpa cela, tentu akan menjadi kebahagiaan bagi semua orang jika mereka berdua bisa menjadi pasangan serasi.
"Sejak Nona muda ini tinggal di sini, Tuan Bryan menjadi jauh lebih bersemangat menjalani hari. Tuan Muda Kael pun kini jauh lebih ceria dan terbuka," lanjutnya dengan perasaan hangat.
Karena ia telah menyaksikan tumbuh kembang mereka sejak kecil, tentu ia merasa sangat bahagia melihat perubahan positif itu.
Karena itu, hal yang justru ia khawatirkan sekarang bukanlah kemungkinan Kirana memiliki niat buruk.
Sebaliknya—
Ia takut Kirana sama sekali tidak memiliki niat romantis terhadap Bryan.
Di lantai atas, Kirana sudah tidak sabar ingin menunjukkan semua barang belanjaannya.
Karena terlalu bersemangat, ia langsung membuka pintu kamar kerja Bryan Santoso tanpa mengetuk.
"Bryan… lihat apa yang aku bawa!"
Namun saat pintu terbuka lebar, pandangannya langsung membeku.
Di hadapannya berdiri Bryan Santoso yang tampaknya baru selesai mandi. Rambut hitamnya masih basah dan berantakan—dan yang paling mengejutkan, ia hanya mengenakan sehelai handuk putih bersih yang melilit di pinggangnya.
Handuk itu menutup bagian bawah tubuhnya hingga lutut, tetapi tetap memperlihatkan tubuh atasnya yang telanjang.
Tetesan air masih mengalir perlahan di permukaan perutnya yang berotot, menyusuri lekukan tajam di antara garis sixpack yang sempurna.
Pemandangan itu terlalu mencolok untuk diabaikan siapa pun.
Reaksi pertama Kirana bukan menutup mata.
Sebaliknya—
Ia justru tanpa sadar membelalak.
Di dalam hatinya, Kirana sebenarnya menyimpan trauma terhadap gagasan aktivitas seksual akibat luka masa lalu. Namun ternyata itu tidak menghentikan insting alaminya untuk tetap mengagumi keindahan tubuh di depannya.
Mungkin luka pengkhianatan lima tahun lalu memang terlalu dalam. Bahkan Kirana sendiri tidak tahu sejak kapan kepribadiannya mulai berubah.
Dulu, ia tipe gadis yang akan langsung tersipu hanya karena melihat pria memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek.
Karena sifat pemalunya, ia bahkan tak pernah mau pergi ke pantai atau kolam renang umum.
Selain dengan Aditya Pratama, dulu ia hampir tak pernah berbicara dengan pria asing. Sebagus apa pun wajah seorang pria, ia tak pernah tertarik memperhatikannya.
Butuh sekitar lima detik sampai akhirnya kesadarannya kembali.
Dengan gerakan cepat disertai desir kain gaunnya, ia berbalik membelakangi Bryan dan menutup mata rapat-rapat dengan kedua tangan—meski masih menjinjing dua tas belanja besar.
"Aduh! Maaf, maaf sekali! Saya benar-benar minta maaf! Saya lupa mengetuk pintu tadi!" teriaknya dengan wajah semerah kepiting rebus.
Mendengar kepanikannya, Bryan justru tertawa kecil dengan suara rendah.
"Tidak apa-apa. Itu juga salahku karena lupa mengunci pintu," ujarnya tenang.
Padahal kenyataannya—
Ia sama sekali tidak lupa.
Ia sengaja membiarkan pintunya tidak terkunci sejak tahu Kirana sudah pulang.
"Jadi, apakah kau membutuhkan sesuatu dariku sekarang? Tunggu sebentar, aku akan memakai baju dulu agar kita bisa bicara dengan nyaman."
Walau Kirana kini membelakanginya, bagi Bryan, tatapan singkat gadis itu tadi terasa seperti api yang membakar kulitnya inci demi inci.
Untung saja Kirana berpaling tepat waktu.
Jika tidak, reaksi biologis tertentu dari tubuhnya pasti akan langsung membongkar rahasia besar tentang betapa ia menginginkan gadis itu.
Bryan hendak melangkah menuju lemari.
Namun tiba-tiba—
"Ah! Tidak! Jangan! Kumohon jangan pakai pakaian apa pun dulu!" teriak Kirana panik.
Bersambung...
semangat 💪💪