Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran Javier ke Ujang
Di gedung agensi Luminous Entertainment yang megah, suasana sedang mencekam. Bukan karena ada serangan siber atau skandal kencan, melainkan karena sang center sekaligus leader mereka, Javier, sedang mengalami malfungsi perilaku yang sangat mengkhawatirkan.
Javier duduk di kursi rias, dikelilingi oleh lima penata rias yang sedang berusaha menutupi aura rakyat jelata yang entah kenapa masih menempel padanya. Dia sedang dipersiapkan untuk pemotretan majalah Vogue, mengenakan setelan sutra seharga mobil mewah, namun pandangannya kosong menatap cermin.
"Hyung," bisik Rian, sang maknae, sambil menyodorkan segelas jus kale organik yang sangat sehat dan sangat mahal.
"Minum ini dulu, kamu sudah bengong selama dua jam. Manajer Han mulai mikir kamu kesambet setan kosan."
Javier tidak menoleh. Dia hanya menggerakkan jarinya perlahan, seolah sedang menyentuh sesuatu yang imajiner di udara.
"Rian," suara Javier berat dan penuh wibawa, namun isinya tidak masuk akal.
"Kenapa jus ini tidak memiliki gagang plastik yang harus digigit bagian ujungnya agar bisa diminum?"
"Maksudmu... es mambo?"
Rian menepuk dahi.
"Hyung, ini Menteng, bukan warung Bang Tejo! Kita tidak minum cairan yang dibekukan di dalam plastik kiloan!"
Javier memejamkan mata. Tiba-tiba, memori itu menghantamnya lebih keras daripada dentuman bass lagu mereka. Dia teringat malam itu di kamar kos tiga kali tiga meter. Dia teringat aroma sabun mandi curah milik Aruna yang baunya seperti bunga kamboja yang hampir layu tapi menenangkan.
Dan yang paling parah adalah Ciuman itu.
Setiap kali Javier menutup mata, dia bisa merasakan tekstur bibir Aruna yang sedikit terasa rasa es mambo stroberi. Dia teringat bagaimana tangannya yang besar meremas ujung daster Aruna karena gugup dengan sesuatu yang belum pernah dia rasakan bahkan di depan puluhan ribu fans.
"Sistem saya..." gumam Javier pelan, membuat penata rias yang sedang memasang eyeliner tersentak.
"Kenapa, Javi-ssi? Ada yang perih?" tanya penata rias itu panik.
"Sistem saya mengalami kebocoran memori pada koordinat bibir,"
Javier menatap penata rias itu dengan tatapan Ice Prince yang mematikan.
"Apakah ada prosedur medis untuk menghapus rasa stroberi yang tertinggal di ingatan secara permanen?"
Penata rias itu melongo.
"Stroberi? Maaf, kita tadi pakai lip balm aroma vanila..."
Satu jam kemudian, member LUMINOUS berada di ruang latihan yang dipenuhi kaca. Musik Supernova yang menggelegar seharusnya membuat Javier menari dengan presisi militer. Namun, yang terjadi justru sebuah tragedi estetika.
Saat bagian chorus yang seharusnya Javier melakukan gerakan body roll yang seksi, dia malah melakukan gerakan membungkuk secara otomatis sambil menggerakkan tangannya maju-mundur.
"STOP! STOP!" teriak koreografer mereka.
"Javier! Apa yang kamu lakukan? Itu bukan koreografi kita!"
Javier berhenti, napasnya memburu.
"Maaf. Memori otot saya mendadak teringat cara menyikat lantai kamar mandi yang licin."
"Menyikat lantai?!"
sang koreografer menjambak rambutnya sendiri.
"Kamu itu bintang dunia! Kenapa tubuhmu ingat cara kerja asisten rumah tangga?!"
Satya mendekati Javier, berbisik sambil menahan tawa.
"Hyung, kontrol dirimu. Kamu sudah bukan Ujang lagi. Kamu tidak perlu menyikat lantai ini, sudah ada petugas kebersihan yang melakukannya pake mesin."
Javier menatap pantulan dirinya di kaca. Dia meraba rahangnya yang kini mulus tanpa plester dinosaurus.
"Satya, apakah menurutmu Aruna sedang memarahi dinding karena tidak ada yang membantunya berdebat dengan Mbak Widya?"
"Mungkin dia sedang merayakan ketenangan hidupnya karena nggak ada kloningan gila lagi di kamarnya," sahut Satya jujur namun menusuk.
Malam harinya, saat seluruh gedung agensi sudah sepi, Javier menyelinap ke ruang penyimpanan barang-barang pribadinya. Dia mencari kotak sepatu yang dia bawa dari kosan, barang-barang yang sempat disita oleh Manajer Han karena dianggap sampah infeksius.
Di dalam kotak itu, ada satu benda yang dia ambil secara diam-diam, Kacamata renang biru.
Javier memakai kacamata itu di tengah kegelapan ruangan. Dia merasa kekuatannya kembali. Sensor kepalsuannya menyala.
"Aruna..."
Javier berbicara pada bayangannya di kaca jendela yang memantulkan lampu kota Jakarta.
"Apakah Anda sudah mengganti gayung yang patah itu? Apakah Anda masih memakai daster pink yang baunya seperti kebebasan itu?"
Tiba-tiba, pintu terbuka. Manajer Han masuk dengan membawa setumpuk jadwal baru. Dia mematung melihat artis nomor satunya sedang duduk di lantai memakai jas Gucci lengkap dengan kacamata renang biru.
"Javier..."
Manajer Han gemetar.
"Kamu... kamu mau berenang di bathtub agensi jam dua pagi?"
Javier menoleh perlahan, kacamata renangnya miring ke kiri.
"Manajer Han. Saya butuh cuti."
"Cuti?! Kita mau tur dunia bulan depan!"
"Saya butuh cuti satu hari untuk melakukan sinkronisasi ulang dengan sumber energi saya," ucap Javier dengan nada dingin namun tegas.
"Atau saya akan memakai kacamata ini saat konferensi pers besok pagi."
Manajer Han hampir pingsan.
"Oke, oke! Satu hari! Tapi jangan ke kosan itu! Banyak wartawan yang mulai mengendus!"
Keesokan paginya, Javier berhasil kabur dari pengawasan agensi berkat bantuan Rian yang meminjamkan jaket hoodie berukuran super jumbo dan motor scooter listriknya. Javier meluncur di jalanan Jakarta dengan kacamata hitam di bawah kacamata renang agar penyamarannya double.
"Target terdeteksi: Griya Widya," gumam Javier.
Namun, saat dia sampai di depan gang kosan Aruna, dia melihat sebuah pemandangan yang membuat sistemnya mendadak panas. Di depan gerbang kosan, ada Genta yang sedang berdiri memegang buket bunga mawar merah yang sangat besar.
"Aruna! Ayo keluar! Aku minta maaf soal kejadian kemarin! Aku bawain mawar dan voucher belanja di mall!" teriak Genta.
Javier yang bersembunyi di balik tempat sampah besar di ujung gang, menyipitkan mata.
"Pria bermulut ember itu kembali. Dan dia membawa tumbuhan mati untuk merayu Majikan saya."
Javier meraba sakunya. Dia tidak punya mawar. Dia hanya punya satu bungkus es mambo melon yang dia beli di minimarket tadi.
"Senjata terdeteksi, Es mambo beku," bisik Javier.
Javier tidak bisa langsung muncul sebagai Javier. Dia harus menjadi Ujang kembali. Dia menarik tudung jaketnya, memakai sarung yang dia simpan di dalam tasnya, dan berjalan mendekat dengan gaya jalan yang sedikit pincang untuk efek dramatis.
"Permisi, Pria Bunga," suara Javier sengaja dibuat cempreng dan aneh.
Genta menoleh.
"Apaan sih? Eh, lo pengemis ya? Pergi sana! Gue lagi mau ngelamar... eh, minta maaf sama cewek cantik!"
"Tumbuhan itu tidak cocok untuk Aruna," ucap Javier, kini kembali ke suara baritonnya yang asli karena dia lupa harus menyamar.
Genta tertegun, suara itu dia kenal.
"Lo... lo si Ujang?!"
Javier membuka tudung jaketnya sedikit, memperlihatkan kacamata renang birunya yang berkilat tertimpa cahaya matahari.
"Saya bukan Ujang. Saya adalah Radiasi Masa Lalu yang datang untuk memberitahu Anda bahwa bunga mawar Anda baunya seperti kegagalan."
"Wah, lo beneran si Ujang kloningan itu ya?!"
Genta menjatuhkan bunganya.
"Mana Aruna?! Lo pasti sembunyi di dalem kan?!"
Tepat saat itu, pintu gerbang terbuka. Mbak Widya keluar membawa sapu lidi.
"HEH! RIBUT APA INI?! SIAPA YANG—"
Mbak Widya berhenti. Dia melihat pria tinggi dengan sarung, jaket mahal, dan kacamata renang.
"U... Ujang?!"
Mbak Widya menjatuhkan sapunya.
"UJANG! KAMU BALIK?! KAMU UDAH JADI ARTIS IKLAN SABUN?!"
Javier segera melakukan gerakan shushing.
"Sst! Mbak Widya. Jangan berteriak. Sistem saya sedang dalam mode senyap."
Aruna keluar dari gerbang dengan kaos oblong dan celana pendek, matanya sembab karena kurang tidur dan mungkin sedikit rindu. Dia melihat kerumunan di depan kosannya.
"Ada apa sih, Mbak..."
Langkah Aruna terhenti. Dunianya serasa berhenti berputar saat matanya bertemu dengan sosok pria di balik kacamata renang biru itu. Pria yang seminggu ini dia coba buang dari ingatannya.
"U-jang?" bisik Aruna.
Javier melangkah maju, melewati Genta yang masih bengong dan Mbak Widya yang sedang sibuk membetulkan korden jendela agar bisa mengintip lebih jelas. Dia berdiri tepat di depan Aruna.
"Majikan," ucap Javier lembut.
Dia mengeluarkan es mambo melon dari sakunya.
"Es mambo ini sudah mulai mencair karena panasnya rindu saya. Apakah Anda ingin membantu saya membekukannya kembali dengan satu omelan galak?"
Aruna ingin marah, dia ingin memukul Javier dengan penggaris besi. Tapi melihat plester dinosaurus yang ternyata sengaja ditempelkan Javier lagi di rahangnya demi totalitas memori, Aruna justru tertawa sambil menangis.
"Kamu... kamu beneran idola paling gila sedunia, Javi!"
"Saya bukan Javi sekarang," bisik Javier sambil sedikit menunduk agar hanya Aruna yang dengar.
"Sekarang saya adalah Ujang yang sedang butuh sinkronisasi bibir tahap ketiga karena sistem saya mengalami kegagalan fungsi tanpa kehadiran Anda."
Aruna wajahnya merah padam.
"DI SINI ADA MBAK WIDYA, BEGO!"
"Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam,"
Javier merangkul bahu Aruna dengan posesif, melirik tajam ke arah Genta yang langsung lari terbirit-birit ketakutan.
"Saya harus memastikan gagang gayung yang baru sudah terpasang dengan benar."