NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Cila.

Di teras belakang rumah yang remang-remang oleh lampu kuning, tawa mereka masih tersisa di udara. Angin malam membawa aroma tanah basah, dan suara jangkrik mengisi sela-sela keheningan.

Chika tiba-tiba memegangi perutnya. “Ugh… aduh… perutku…,” keluhnya sambil sedikit membungkuk, wajahnya mengerut seperti roti diperas.

Aki menoleh santai, masih menyandarkan punggung di kursi. “Oh… sudah lapar ya.”

Ia melirik sekeliling—sunyi, tak ada orang. Lalu membuka hologram tipis dari ponselnya. Jari-jarinya menari cepat di udara.

Chika memonyongkan bibir.

“Hei… aku lapar…”

“Bentar,” jawab Aki tanpa menoleh.

Chika menggeser kursinya mendekat. “Ne… lapar…”

Aki mengangguk kecil sambil terus mengetik.

“Hm… bagusnya apa ya…”

Chika mulai menaikkan nada suaranya. “NEE!! LAPAR!!”

Aki akhirnya menoleh tajam. “SABAR!!!”

✨ Puff—!

Cahaya biru kecil menyala di meja.

Dua piring muncul begitu saja: nasi goreng pedas yang masih mengepul dan segelas air putih dingin dengan embun di dinding gelas.

Chika melotot.

“EHH?!”

Aki langsung mengambil sendok, menyendok nasi, dan—

“Buka mulut.”

“Hah—?”

Tanpa ampun, ia menyuapi Chika sampai mulutnya penuh.

“Mmffh—mmfhh!!”

Chika mencoba bicara, tapi suaranya cuma keluar seperti hamster makan kacang.

Aki meletakkan piring dengan ekspresi puas. “Lu rese kalau lapar, ternyata.”

Chika mengunyah cepat, pipinya mengembung. “Hah… hah… AKI!! NYEBELIN BANGET DEH!!”

Aki menyilangkan tangan. “Yang nyebelin itu justru kamu. Nih, nasi goreng sama air mineral.”

Chika menatap nasi itu penuh curiga. “Nasi… goreng? Kalau digoreng bukannya hitam? Kok jadi coklat gini?”

Aki mendengus. “Itu gosong. Ini matang. Coba aja dulu. Enak nggak?”

Chika menyuap lagi, matanya melebar. “Enak… pedasnya pas! Dan airnya… sejuk banget!! Haa… aku baru ngerasain air sesegar ini di dunia lamamu, Aki…”

Aki bersandar ke kursi, menatap langit gelap. “Heh… iya sih. Aku malah jadi kangen lagi tinggal di dunia lamaku…”

Nada suaranya menurun. Sunyi sesaat.

Chika menoleh, wajahnya lembut. “…tapi?”

Aki menarik napas panjang. “Kamu butuh aku, kan. Karena aku Hero keenam dari takdir Hero Sword. Sebenarnya… setelah aku memastikan Cila hidup, aku bakal ninggalin kloninganku di sini… dan balik ke Kota Gigri.”

Chika berkedip. “Hehe.”

Ia menyenggol bahu Aki pelan. “Kata-katamu ribet banget. Tapi… makasih ya.”

Aki meliriknya. “Hah… cantik-cantik begini, tapi bodoh.”

Untuk pertama kalinya, Aki tertawa kecil—bukan tawa sinis, tapi tawa lepas.

Chika ikut tersenyum. “Ih… nyebelin!”

Tiba-tiba…

“…Aki?”

Suara lembut memotong udara malam.

Tawa mereka terhenti seketika.

Di depan teras, berdiri seorang gadis: rambut hitam panjang dengan ujung kecoklatan, mata hitam tenang, pakaian sederhana. Wajahnya familiar… terlalu familiar.

Jantung Aki serasa berhenti sesaat.

“Cila…?”

Chika yang sama sekali tidak peka suasana, langsung melambai ceria. “Wah! Kamu Cila ya? Hai!!”

Aki sudah berdiri. Kakinya melangkah tanpa sadar, mendekati gadis itu, matanya bergetar menahan rindu yang melintasi dua dunia.

Malam itu, angin terasa lebih dingin.

Aki melangkah mendekat.

Satu langkah… dua langkah… terlalu dekat.

Tangannya terangkat tanpa sadar, menyentuh pipi Cila yang hangat. Jemarinya bergetar, seolah ingin memastikan gadis di depannya benar-benar nyata, bukan kenangan.

“Cila… aku—”

DUAK!!

Sebuah lutut melayang tepat ke selangkangannya.

“OIIII!!!”

Aki langsung membungkuk sambil memegangi bagian paling sensitif dari harga dirinya, wajahnya berubah pucat.

Cila berdiri dengan mata menyala-nyala. “APA-APAAN KAU, AKI?! Kenapa muka kamu kek orang kerasukan?! Terus—TERUS—”

Ia menunjuk ke arah Chika dengan jari gemetar.

“KENAPA KAMU DUDUK BERDUA SAMA GADIS BULE PIRANG ITU?!”

Chika yang masih duduk santai mengangkat tangan pelan. “Hai… aku Chika…”

“GUE NGGAK PEDULI NAMA LU!!” bentak Cila.

Chika mengerutkan kening. “Kejam…”

Aki yang masih setengah jongkok mencoba berdiri sambil meringis. “Hah… aku lupa… kalau kamu cemburu, kamu suka… agresif…”

“AGRESIF?!”

Cila maju satu langkah dan mencengkeram pipi Aki dengan kedua tangan. “KAMU KIRA AKU KUCING LIAR?!”

Ia meremas pipi Aki kanan-kiri. “KAMU SELINGKUH YA?! Pantesan kamu dingin akhir-akhir ini! Ternyata kamu punya SIMPANAN BULE!!”

Aki berusaha bicara sambil pipinya ditarik. “C-Cila… itu salah paham… aowh…”

“Apa kurangnya aku, Aki?!” teriak Cila, matanya mulai berkaca-kaca walau ekspresinya masih galak.

Sementara itu…

Chika duduk di kursi seperti penonton teater, menyuap nasi goreng. “Hm… ternyata makan nasi sambil nonton drama itu enak juga ya…”

“ANG GILO ANJIANG!!!” teriak Cila tiba-tiba.

Chika langsung tersedak. “Uhuk—uhuk!! A-air!!”

Sebuah gelas muncul di sampingnya. “Nih, air.”

Chika menoleh.

Di sampingnya sudah duduk seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut—bunda Aki.

Chika minum cepat-cepat. “Hahh… makasih, bunda…”

“Iya, sama-sama, Chika,” kata bunda sambil menepuk punggung Chika pelan.

Ia melirik ke arah Aki dan Cila yang masih ribut.

“Wah… mereka bertengkar lagi, ya…”

Chika menoleh polos. “Bunda… tadi dia bilang aku ‘cewek simpanan’. Cewek simpanan itu apa ya? Terus dia bilang ‘ang gilo anjiang’ itu maksudnya apa?”

Bunda Aki tertawa kecil, lalu mengusap kepala Chika. “Nak… semakin sedikit yang kamu tahu tentang dunia ini… semakin damai hidupmu.”

Chika manggut-manggut sok paham. “Oh… berarti itu ilmu tingkat tinggi…”

Di depan mereka, pertengkaran makin absurd.

“KAMU JELASIN SEKARANG, DIA SIAPA?!” teriak Cila.

“Dia temanku dari—”

“ALASAN! KAMU SELALU ALASAN!”

“AKU BELUM SELESAI NGOMONG!”

“AKU NGGAK PEDULI!”

Aki mengangkat tangan pasrah. “Ya ampun, aku bahkan baru ketemu kamu lima menit…”

“LIMA MENIT CUKUP BUAT SELINGKUH!”

Chika menyeruput air. “Drama dunia lama ternyata lebih seram dari naga…”

Bunda Aki terkekeh. “Iya, Nak… ini namanya… cinta remaja.”

Malam itu, di teras rumah sederhana, dua dunia bertabrakan:

satu dunia penuh sihir dan pedang,

satu dunia penuh… cemburu dan salah paham.

Dan Chika?

Ia hanya duduk, makan nasi goreng, sambil menonton drama paling berbahaya yang pernah ia lihat.

Pertarungan tanpa pedang. Tanpa sihir.

Tapi dengan teriakan paling mematikan.

...----------------...

Tak lama kemudian, suasana akhirnya “dipaksa” damai.

Mereka semua sudah berada di dalam rumah.

Ruang tamu sederhana itu terasa hangat: lampu kuning temaram, sofa tua yang empuk, dan aroma teh manis masih tersisa di udara.

Posisi duduknya… aneh tapi pas:

Cila duduk di samping Aki, tangan terlipat di dada, wajahnya masih setengah jutek.

Chika duduk di samping bunda Aki, punggungnya tegak seperti murid teladan.

Cila menggaruk pipinya, suaranya agak pelan. “Owuh… salah paham rupanya…”

Aki menghela napas panjang sambil menyender ke sofa. “Makanya… dengar orang ngomong dulu… hah… balik ke dunia ini malah kena serang.”

Cila melotot. “Ngomong apa, bujang?”

Aki refleks tegak. “Eh, nggak, nggak… aku bilang… kamu refleksnya cepat…”

Chika menoleh ke bunda Aki dengan mata berbinar. “Hihi… Bunda… jadi ini cinta ya?

Saling marah-marah ke lawan jenis…

Kupikir cinta itu nggak boleh…”

Bunda Aki langsung gemas.

“AHH!!”

Ia menarik Chika ke pelukan. “Ini anak polos banget, Ki!! Haa~!”

Chika terkejut tapi langsung pasrah dipeluk. “Eh—eh—bau bunda enak…”

Aki tersenyum miring. “Dia memang agak… bodoh, Bund.”

“Eh!”

Bunda Aki memukul pelan lengan Aki. “Nggak boleh gitu ngomongnya!”

Sementara itu…

Cila terpaku.

Matanya membesar.

Tangan kanannya terangkat setengah, seperti mau protes tapi bingung ke siapa.

Di dalam kepalanya:

Loh… itu calon ibu mertua gue… kenapa malah meluk cewek bule ini…

Cila mendekat sedikit, duduk lebih tegak. “Bu… itu siapa sih…?”

Bunda Aki masih memeluk Chika. “Namanya Chika. Anak baik, sopan, polos… beda sama kamu yang suka nendang orang.”

Cila tersedak harga diri. “BU—BUKAN GITU MAKSUDNYA!”

Chika menoleh ke Cila, senyum lebar. “Hai… kamu namanya Cila ya? Kamu hebat… lututmu cepat sekali tadi.”

Cila: “…” Aki: “Jangan diingatkan.”

Cila memicingkan mata ke arah Chika. “Lu… sengaja nempel sama ibu gue ya?”

Chika bingung. “Nempel? Aku cuma dipeluk…”

Bunda Aki makin erat memeluk Chika. “Iya, aku yang meluk dia.”

Cila langsung berdiri. “BUUU!”

“Kenapa?”

“Kenapa ibu nggak pernah meluk aku kayak gitu?!”

Bunda Aki menatap Cila. “Kamu kan tiap hari aku peluk waktu kecil.”

Chika mengangkat tangan polos. “Aku mau dipeluk tiap hari juga boleh?”

Bunda Aki:

“BOLEH.”

Cila langsung kaku seperti patung. “…ini tidak adil.”

Aki tertawa kecil. “Sainganmu bukan aku… tapi ibu.”

Cila menoleh tajam. “KAMU DIAM!”

Chika mencondongkan badan ke Cila. “Cila… kamu cemburu ya?”

“A-APA?!”

“Cemburu itu artinya… ingin dipeluk juga?”

Cila terdiam. “…” “…” “…iya.”

Chika berdiri, lalu dengan ekspresi serius berjalan ke Cila…

dan membuka tangannya lebar-lebar.

“Kalau begitu… kita peluk bareng.”

Cila kaget. “EH?!”

Bunda Aki menarik Cila juga. “Ya sudah, sini kamu juga.”

Dalam satu detik…

GRUP PELUKAN TERBENTUK.

Chika di tengah,

Cila di kanan,

bunda Aki di kiri.

Aki menatap mereka sambil terdiam. “…rumah gue jadi aneh.”

Chika tersenyum sambil dipeluk. “Hangat…”

Cila menggerutu pelan. “…gue kalah start.”

Bunda Aki tertawa. “Sudah, sudah. Kalian ini lucu-lucu amat.”

Di ruang tamu kecil itu,

bukan pedang, bukan mesin waktu,

bukan sihir…

yang membuat situasi kacau justru: 👉 cemburu, kepolosan, dan pelukan tiba-tiba.

Dan Chika, tanpa sadar,

sudah resmi menjadi

ancaman emosional bagi Cila

tanpa pernah berniat sama sekali.

...----------------...

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.

KLIK.

Suara kunci motor digantung.

Aki masuk sambil melepas jaket. “Assalamuala—”

Belum selesai, ia melihat sesuatu yang aneh.

Di ruang tamu, Chika duduk di lantai, memeluk ponsel barunya…

MENANGIS.

Bahu Chika naik-turun.

Mata birunya berkaca-kaca.

Ibu jarinya menekan layar berkali-kali.

Aki menghela napas panjang. “…sekarang apalagi?”

Chika menarik napas besar, mulutnya terbuka hendak teriak—

CUBIT.

“AU—!!”

Aki langsung mencubit pipi Chika dan menutup mulutnya setengah. “JANGAN TERIAK.

Kalau kamu ngomong keras di sini, rencana kita ketahuan semua.”

Chika langsung menunduk, matanya berkedip-kedip. Ia berbisik panik, “A… Aki… aku nggak bisa nelpon Vivi sama Princes di Havenload…”

Aki melepas cubitannya. “Hah?”

Chika memeluk ponselnya. “Aku takut… Princes masih sakit… aku nggak bisa hubungi siapa pun…”

Aki memukul jidatnya sendiri. “PLAK.”

“Ya jelas nggak bisa, bodoh…

Ini bukan dunia kita.

Sinyal dunia lain mana nyambung ke Indonesia.”

Chika cemberut. “…terus gimana caranya?”

Aki menghela napas. “Baiklah… ikut aku ke kamar.”

---

Di kamar Aki

Kamar itu sederhana:

kasur kecil, meja belajar, kipas angin, poster lama di dinding.

Aki membuka hologram kecil dari alatnya.

Cahaya biru memantul ke wajah mereka.

“ID penjaga Havenload?”

Chika langsung menyebutkan dengan serius, seperti menghafal mantra. “Vivi… penjaga pulau… rambut putih… senyum misterius…”

Aki mengetik cepat.

BEEP.

Suara statis muncul.

“…Havenload channel open…”

Lalu layar kecil muncul di udara.

Wajah Vivi muncul, tersenyum dengan mata tertutup seperti biasa. “Ini dari Havenload.”

Chika langsung berdiri. “VIVI!! Gimana keadaan Princes?!”

Vivi masih tersenyum. “Dia sudah tidur.

Baru saja aku beri obat.”

Chika menutup mulut. “Fiuh… syukurlah…”

Vivi mencondongkan wajah ke kamera. “Syukur apa?”

Lalu layar berganti tampilan.

---

Tampilan Korban “Pemberontakan Princes”

Layar 1:

Selena tergantung terbalik di tali. “Aku hanya menyarankan obat… kenapa aku diikat…”

Layar 2:

Marianne terjebak di kandang mekanik. “Ini jebakan ciptaanku sendiri… kenapa aku lupa kode keluar…”

Layar 3:

Beatrix dipeluk erat oleh seekor gorila besar. “HAAA!! LEPASIN AKU, GORILA NYATA!!

NAPAS KAU BAU!!”

Layar 4:

Marvin duduk di lantai dengan benjolan besar di kepala. “…aku kalah… oleh batu kecil…”

Layar 5:

Xiaouman tidur pulas dengan bambu hijau di mulut. “…ngom… ngon…”

Chika menutup mulut. “…itu semua… gara-gara Princes?”

Vivi mengangguk pelan. “Dia tidak mau minum obat.”

Aki menatap layar dengan kagum. “…anak kecil tapi bisa menjatuhkan lima Hero.”

Chika berkeringat dingin. “…aku harus cepat pulang…”

Vivi melirik ke samping layar. “Dan kamu di samping Chika siapa?”

Aki refleks berdiri tegak. “…aku?”

Chika menunjuk Aki. “Dia Hero ke enam… kami sekarang tidak di dunia kalian…”

Vivi mengangguk pelan. “Pantas sinyalmu menghilang sejak kota Gigri.”

Lalu ia tersenyum lagi. “Yang penting kalian hati-hati.”

Chika membungkuk ke layar. “Tolong jaga Princes…”

Vivi mengangkat jempol. “Tentu.

Walau… lima Hero sekarang trauma.”

Layar mati perlahan.

BEEP.

Ruangan jadi sunyi.

Chika duduk lemas. “…aku rindu mereka…”

Aki melipat tangan. “Dan mereka pasti lebih rindu kamu… terutama setelah itu.”

Chika menoleh. “Eh?”

Aki menunjuk layar kosong. “Lima Hero tumbang.

Nama penyebabnya: Princes.

Komandan lapangan: kamu.”

Chika menutup wajah. “AKU PASTI DIMARAHIN…”

Aki tertawa kecil. “Tenang… nanti kamu pulang, mereka tetap senang lihat kamu hidup.”

Chika mengangguk kecil. “…iya…”

Di kamar kecil itu,

di dunia yang bukan milik mereka,

dua Hero dari dua dunia berbeda

sedang mengkhawatirkan satu anak kecil…

yang tanpa sadar sudah menjadi

bos besar Havenload.

...----------------...

Pagi itu cerah sekali.

Langit Bukittinggi biru bersih,

angin gunung bertiup sejuk,

dan suara ayam tetangga bersahut-sahutan seperti alarm alami.

Di depan rumah Aki…

Chika berdiri kaku.

Ia sekarang memakai seragam SMP: baju putih kebesaran sedikit di bahu, rok dongker selutut, sepatu hitam mengkilap hasil semalaman dipoles Aki, dan rambut pirang pucatnya diikat setengah dengan kepang kecil di samping.

Matanya berbinar.

“……” Lalu ia mengepalkan tangan.

“AKI…” Ia menoleh dengan senyum super lebar. “Aku… SEKOLAH?

AKHIRNYA AKU SEKOLAH!!”

Aki yang sedang mengancingkan bajunya melirik. “…kenapa kamu senang amat?”

Chika melompat kecil. “Di dunia ku, aku langsung jadi knight tanpa sekolah umum!

Aku cuma latihan pedang, latihan lari, latihan ditusuk monster!”

Aki berhenti. “…jadi kamu nggak pernah sekolah biasa?”

Chika menggeleng bangga. “Nggak! Ujian masuk knight cuma:

– bisa berdiri setelah dipukul

– bisa bangun setelah jatuh

– bisa tetap senyum walau berdarah”

Aki menatap kosong. “…itu bukan sekolah, itu penyiksaan.”

Chika mikir. “Eh… iya juga.”

Belum sempat lanjut,

suara langkah cepat terdengar dari samping.

“AKIIII~”

Cila muncul.

Rambut hitamnya dikuncir, tas sekolah disampirkan satu bahu, dan begitu melihat Aki…

PLUK.

Ia langsung menggandeng lengan Aki erat-erat.

“Berangkat bareng, dong.”

Lalu ia melirik Chika dari ujung mata. “…eh?”

Chika tersenyum ramah. “Oh! Kamu yang kemarin itu ya!”

Cila menyipitkan mata. “…kenapa kamu juga pakai seragam sini?”

Chika menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. “Aku murid baru!”

Cila mengerutkan kening. “…HAH?”

Aki menghela napas. “Dia ikut sekolah sementara.”

Cila makin curiga. “SEMENTARA?

Ikut kamu?”

Ia makin nempel ke lengan Aki.

Chika mencondongkan kepala, menatap wajah Cila serius. “…lidah kamu kecil dan lucu ya.”

Cila: “…………”

“Apa?”

Chika menunjuk mulut Cila. “Kemarin kamu teriak-teriak, lidahmu kelihatan kecil.

Imut.”

Cila meledak. “APA HUBUNGANNYA ITU?!”

Aki menutup muka. “Aduh… mulai…”

Mereka bertiga mulai jalan.

Di trotoar pagi hari,

warga lewat dengan motor,

ibu-ibu menyapu halaman,

anak SD lari sambil makan gorengan.

Cila masih menggandeng Aki. “Ki… ini siapa sih sebenernya?”

Chika langsung angkat tangan. “Aku knight perempuan dari Kerajaan Gurial Tempest.”

Cila berhenti jalan.

“…dari apa?”

“Kerajaan Gurial Tempest.”

“Di mana itu?”

“Di dunia lain.”

Cila menatap Aki. “…dia kenapa?”

Aki menoleh ke langit. “Tolong aku.”

Chika lanjut dengan penuh semangat: “Aku pemilik Hero Sword, pelindung Princes,

dan aku pernah membelah naga jadi dua.”

Cila berkedip. “…naga?”

“Iya.”

“…yang terbang?”

“Iya.”

“…yang gede?”

“Banget.”

Cila menatap Aki lagi. “KI.

INI TEMAN ONLINE KAMU YA?”

Aki menjawab cepat. “Iya.”

Chika mengangguk semangat. “Iya! Teman online dari dunia lain!”

Cila memegang kepala. “OTAK KALIAN KENA VIRUS YA?!”

Chika menunjuk dadanya. “Ini logika dunia ku.”

Cila menunjuk dirinya. “Ini logika dunia ku.”

Mereka saling tatap.

Angin lewat.

Seekor kucing melintas.

Sunyi satu detik.

Lalu Chika berkata polos: “Kalau di dunia ku, kamu mungkin jadi bangsawan.”

Cila refleks. “HAH KENAPA?”

“Karena kamu galak.”

Aki nyengir. “…valid.”

Cila menjewer Aki. “DIAM!”

Di gerbang sekolah,

murid-murid mulai berdatangan.

Semua melirik Chika.

Rambut pirang.

Mata hijau.

Wajah bule.

Bisik-bisik muncul.

“Anak baru?” “Bule?” “Cosplay?” “Idol?”

Chika melambai ke orang-orang. “Halo! Aku knight!”

Semua: “…?”

Cila memukul jidat. “Ya Tuhan…”

Chika menoleh ke Aki. “Sekolah itu seru ya.”

Aki mengangguk. “…tunggu sampai upacara.”

Cila melirik mereka berdua. “…aku mulai mikir hidupku salah jalur.”

Chika tersenyum cerah. “Tenang.

Kalau dunia ini diserang naga, aku yang maju duluan.”

Cila: “JANGAN NGOMONG KAYAK GITU DI DEPAN SEKOLAH.”

Bell berbunyi.

TIIIING—

Hari sekolah dimulai.

Dan tanpa mereka sadari…

Sekolah kecil itu baru saja kedatangan: seorang knight dari dunia lain, yang menganggap SMP sebagai medan tempur baru.

Dan kekacauan… baru saja dimulai.

...----------------...

Lapangan sekolah penuh.

Matahari pagi sudah mulai panas,

ubin lapangan memantulkan cahaya,

dan ratusan murid berdiri berbaris rapi.

Chika ditempatkan paling belakang,

tepat di belakang barisan kelas Aki dan Cila.

Di depannya: Cila.

Di samping Cila: Aki.

Dan di belakang mereka…

Chika berdiri terlalu tegak.

Punggung lurus.

Dada dibusungkan.

Tangan di samping paha seperti prajurit upacara perang.

Cila melirik ke samping. “…kenapa kamu kayak patung?”

Chika berbisik bangga, “Ini posisi siaga tempur.”

Cila mendesis, “INI UPACARA.”

“Oh.”

Chika langsung ganti pose…

jadi terlalu santai.

Tangannya di pinggang. Kakinya terbuka sedikit.

Aki berbisik, “Chika… sikap sempurna.”

Chika kaget. “Sikap SEMPURNA?!”

Ia langsung berdiri super kaku, tumit rapat, tangan mengepal.

Cila: “Kamu mau perang sama bendera?!”

---

Kepala sekolah naik ke podium.

“Mari kita mulai upacara bendera hari Senin…”

Terompet kecil berbunyi.

TUUUT—

Bendera mulai dinaikkan.

Aki langsung berbisik cepat, “Chika, nanti nyanyi.”

Chika mengangguk serius. “Siap.”

Musik mulai.

🎵 Indonesia tanah airku…

Semua murid bernyanyi pelan, lemas, setengah hidup.

Chika membuka mulut lebar.

“…IN…DO…NE…SI…A…”

Lalu berhenti.

Ia berbisik panik ke Aki, “AKI. LAGUNYA KECEPATAN.”

Aki tetap menghadap depan. “LANJUTIN AJA.”

Chika nyanyi asal.

🎵 Indonesia… eh… tanah…

airku… eh…

tanah air… Indonesia…

Nada naik turun kayak sirene perang.

Cila menutup muka. “Ya Tuhan…”

Chika makin semangat.

🎵 BANGSA DAN TANAH AIRKU—

EH… SALAH YA?

Aki mencubit lengannya pelan. “PELAAAAAN.”

Chika langsung nyanyi super keras tapi lambat.

🎵 I…NDO…NE…SI…A…

Beberapa murid di depan mulai nengok.

“Siapa sih yang nyanyi kayak boss final…”

---

Matahari makin panas.

Beberapa murid mulai goyah.

“Aduh pusing…” “Panas…” “Kapan selesai…”

Cila mulai gelisah, kakinya pindah-pindah.

Chika malah… makin tegap.

Keringat turun di pipinya, tapi matanya bersinar.

Ia berbisik ke Aki, “Upacara ini latihan ketahanan fisik ya?”

“Bukan…”

“Bagus. Knight harus tahan berdiri lama.”

Di depan mereka, seorang siswa tumbang.

“BRUK.”

Guru olahraga lari. “Bawa ke UKS!”

Cila nelen ludah. “…aku juga mau jatuh.”

Chika panik. “KENAPA DIA TUMBANG?! DISERANG SIHIR?!”

“KEPANASAN, WOI.”

“Oh.”

Chika malah tambah serius berdiri. “Serangan panas matahari… licik…”

---

Giliran pembina upacara pidato.

“Anak-anak sekalian…”

Pidato panjang.

Sangat panjang.

ANGIN TIDAK ADA.

MATAHARI KEJAM.

Cila mulai goyah.

Chika berdiri seperti: 🗿

Aki melirik. “…kamu kuat banget ya.”

Chika bangga. “Di dunia ku, aku pernah berdiri tiga jam menunggu naga turun.”

Cila hampir pingsan. “AKU NUNGGU BEL ISTIRAHAT AJA MAU MATI.”

Chika berbisik polos, “Kalau kamu knight, kamu sudah gugur.”

Cila: “AKU BUKAN KNIGHT!!!”

---

Saat pembina bilang, “Upacara selesai.”

Semua murid langsung: “HUAAA…”

Barisan bubar.

Cila langsung duduk di tanah. “Aku… hampir mati…”

Aki juga menghela napas panjang.

Chika malah berdiri lebih tegak.

“Selesai?

Cepat sekali.”

Cila menatapnya. “…kamu makhluk apa sih?”

Chika tersenyum cerah. “Knight yang baru belajar lagu nasional.”

Lalu ia nyanyi lagi pelan: “🎵 Indonesia… tanah… airku…”

Cila:

“BERHENTI.”

Aki ketawa kecil. “…hari pertama sekolah, kamu sudah bikin trauma satu lapangan.”

Chika menggaruk kepala. “Eh… salah ya?”

Cila berdiri, menunjuk Chika. “Kamu dengar ya…

SELAMA DI SEKOLAH,

jangan bilang kamu knight.”

Chika mikir. “…kalau bilang pahlawan?”

“JUGA JANGAN.”

“…kalau bilang bule nyasar?”

Cila menghela napas. “Itu masih masuk akal.”

Chika tersenyum puas. “Baik. Aku bule nyasar.”

Dan hari itu, upacara bendera tidak hanya mengajarkan disiplin…

tapi juga memperkenalkan: seorang knight asing

yang lebih kuat dari matahari.

...----------------...

Koridor menuju ruang kepala sekolah terasa panjang.

Langkah sepatu mereka tok—tok—tok menggema di lantai keramik.

Chika berjalan paling belakang sambil celingukan, matanya berbinar melihat foto-foto prestasi di dinding.

“Wah… ini ruang para jenderal ya?” bisiknya kagum.

Aki menoleh setengah frustasi. “Bukan. Ini… sekolah.”

Cila melipat tangan. “Jangan bikin masalah ya, bule.”

Chika mengangguk cepat. “Siap! Aku akan bersikap seperti murid normal!”

…yang entah definisinya apa.

---

Aki mengetuk pintu.

Tok tok tok.

“Assalamualaikum.”

Dari dalam terdengar suara berat tapi ramah. “Waalaikumsalam, masuk.”

Pintu terbuka.

Ruangan itu rapi, penuh map, piala, dan foto wisuda.

Di balik meja besar duduk seorang pria berkacamata, berkemeja batik.

Kepala sekolah menatap Aki dan tersenyum. “Oh… ini murid terpintar kita. Silakan duduk.”

Aki menunduk sopan. “Terima kasih, Pak.”

Ia melirik Chika dan Cila. “Ayo masuk.”

Chika masuk sambil berdiri terlalu tegap, tangannya di samping badan.

Cila duduk dengan santai, kaki disilangkan.

---

Kepala sekolah menatap Chika dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

“Jadi… ini gadis bule yang diceritakan ibumu semalam?”

Chika refleks berdiri.

“Anu… paman— eh, maksud saya kapten sekolah— eh bukan—

Nama saya Chika… aku… knight— eh maksudnya… aku dari Jepang!”

Aki langsung menutup wajahnya dengan tangan.

Cila ikut mengusap jidat. “Ya ampun…”

Cila berbisik ke Aki, “Dia ngomong knight, naga, sihir…

Ini anak kenapa sih? Sindrom delusi?”

Aki mendesis, “DIAM. Jangan ngomong.”

Kepala sekolah mengangkat alis. “Kapten sekolah?”

Chika kaku. “…kepala sekolah ya?”

“Iya.”

Chika membungkuk terlalu dalam. “Maaf, Yang Mulia Kepala Sekolah!”

Cila hampir jatuh dari kursi.

---

Kepala sekolah tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Kamu bilang dari Jepang?”

“Iya, Pak!”

Chika mengangguk cepat. “Saya pindah dunia— eh, pindah kota.”

Aki cepat menyela, “Dia… tamu keluarga, Pak. Sementara tinggal di rumah saya.”

Kepala sekolah menatap Aki tajam. “Dan kamu menjamin dia bisa mengikuti pelajaran?”

Aki mengangguk mantap. “Saya akan membantunya.”

Chika ikut mengangguk cepat. “Saya bisa belajar cepat! Saya pernah belajar membaca peta perang dalam semalam!”

“…peta apa?”

“Peta… geografi!”

Cila menutup mulut menahan tawa.

---

Kepala sekolah berpikir sejenak, mengetuk meja dengan pulpen. “Baiklah. Kita terima sebagai murid sementara.”

Aki menghela napas lega.

“Dia akan masuk kelas…”

Kepala sekolah membuka map.

“3B.”

Aki hampir berdiri. “Syukurlah…”

Cila refleks menoleh ke Chika. “…SERIUS SATU KELAS?”

Chika tersenyum polos. “Wah! Kita satu pasukan!”

“BUKAN PASUKAN.”

Kepala sekolah menatap mereka bertiga. “Jaga sikap. Jangan buat keributan.”

Chika berdiri terlalu cepat. “SIAP! Saya akan menjaga kedamaian sekolah ini!”

Aki menarik lengannya. “Duduk… duduk…”

---

Keluar dari ruangan, Aki menghela napas panjang.

“Untung kamu sekelas sama aku.”

Chika berkedip. “Kenapa?”

“Kalau kamu masuk kelas lain… mungkin sekolah ini sudah jadi medan perang.”

Cila menunjuk Chika. “Denger ya.

Jangan bilang kamu knight.

Jangan bilang kamu dari dunia lain.

Dan JANGAN nyanyi di kelas.”

Chika mikir serius. “…kalau aku bilang aku bule nyasar?”

Cila menghela napas. “Itu… masih bisa diterima.”

Chika mengangkat tangan semangat. “Baik! Aku murid bule nyasar dari Jepang!”

Aki menatap langit-langit koridor. “…tahun ini bakal panjang.”

Dan dengan itu,

resmilah seorang knight dari dunia lain

menjadi murid kelas 3B

yang siap menghancurkan ketenangan sekolah

dengan kepolosannya sendiri.

...----------------...

Bel masuk berbunyi panjang.

Tiiiiiing—!!

Kelas 3B langsung ricuh. Kursi diseret, tas dibanting ke lantai, suara anak-anak bercampur aduk seperti pasar pagi.

Chika masuk terakhir bersama Aki dan Cila.

Begitu Chika melangkah masuk…

Semua cowok:

👁️👁️

👁️👁️

👁️👁️

Sunyi satu detik.

Lalu…

“WOI ADA BULE MASUK KELAS KITA.”

“EH SERIUS?”

“RAMBUTNYA PIRANG ASLI?”

Chika, dengan refleks knight sopan, langsung melambaikan tangan ke semua arah.

“Halo!”

“Hai!”

“Halo juga!”

Cowok-cowok yang disapa langsung salah tingkah.

“A-aku disapa…”

“Dia senyum ke gue…”

“Enggak, ke gue.”

Cila duduk sambil memelotot. “…mati kalian semua.”

Aki langsung menutup wajah pakai buku. “Ini baru lima menit…”

---

Pelajaran pertama: Geografi.

Guru masuk sambil membawa peta besar.

“Hari ini kita kerja kelompok.”

Kursi diseret.

Chika otomatis duduk di samping Aki.

Cila langsung geser kursi dan duduk rapat ke Aki dari sisi lain.

Dua cowok langsung narik kursi.

“Eh boleh ikut?”

“Iya kita satu kelompok kan?”

Mereka duduk berhadapan dengan Chika.

Yang satu rambut cepak, yang satu berkacamata.

“Nama aku Rian.”

“Aku Dito.”

Chika tersenyum cerah. “Aku Chika!”

Dito langsung bisik ke Rian, “Anjir… cakep banget.”

Cila mendengar. “…aku dengar, ya.”

---

Guru menaruh peta Asia di meja.

“Diskusikan negara-negara di Asia Tenggara.”

Chika menatap peta itu…

Lama.

Sangat lama.

Matanya membesar pelan.

Tangannya naik perlahan menunjuk.

“…ini wilayah kerajaan angin.”

Aki tersedak. “HAH?”

Chika berdiri sedikit dari kursi. “Dan ini jalur pasukan laut—”

Cila menarik lengannya. “Chika. Itu… Indonesia.”

“Oh.”

Chika menatap lagi.

“Jadi… kerajaan ini bentuknya ayam?”

“Itu Sulawesi.”

“OHHHH.”

Rian dan Dito bengong.

Dito pelan-pelan tanya, “Eh… kamu beneran dari Jepang?”

“Iya.”

“Kok ngomongnya kayak…” “…kayak NPC game RPG?”

Chika mikir keras. “NPC itu naga kecil?”

Aki langsung menyela, “Dia… terlalu sering nonton anime.”

Cila menoleh cepat. “Kamu sering bilang dunia lain, knight, kerajaan…

Sebenarnya kamu siapa sih, Chika?”

Chika refleks mau jawab. “Aku knight dari—”

Aki langsung nutup mulut Chika pakai tangan.

“HAHAHA dia halu karena kebanyakan isekai!”

Chika bicara sambil ketutup tangan, “Mmmmhh mmhh!!”

Cila menyipitkan mata. “Kamu aneh.”

Aki senyum kaku. “Namanya juga bule.”

---

Saat diskusi, Chika serius banget.

“Asia Tenggara ini mirip peta aliansi kerajaan.”

“Kenapa Thailand tidak dijajah?”

“Kenapa Laos tidak punya laut? Apakah karena dikutuk?”

Rian bingung. “Dia… lucu juga ya.”

Cila mencubit meja. “LUCU KEPALA LU.”

Chika tiba-tiba berdiri.

“AKI. JIKA KERAJAAN INDONESIA DISERANG, AKU AKAN MEMBELA!”

Semua satu kelas menoleh.

Guru: “…kenapa murid itu berdiri?”

Aki cepat tarik Chika duduk. “Dia… semangat belajar, Pak.”

Guru menghela napas. “…baik. Lanjut.”

---

Saat bel istirahat berbunyi…

TIIING—!!

Cowok-cowok langsung ngantri ke meja mereka.

“Chika kamu dari Jepang daerah mana?”

“Chika kamu suka ramen?”

“Chika kamu punya pacar?”

Chika jawab polos satu-satu.

“Tidak tahu.”

“Aku pernah makan ramen lebih dari Seratus mangkok!”

“Pacar itu monster?”

Cila langsung berdiri. “UDAH UDAH. ISTIRAHAT.”

Chika menoleh ke Aki. “Kenapa dia marah?”

Aki menghela napas. “…itu namanya cemburu.”

Chika berpikir keras. “…cemburu itu penyakit?”

Aki menutup mata. “Pelan-pelan kamu bakal ngerti.”

Cila dari belakang: “AKI.”

“Iya?”

“Jaga knight kamu.”

“…dia bukan barang.”

“POKOKNYA.”

Chika mengangkat tangan. “Aku bukan barang, aku senjata suci.”

Aki: “ITU JUGA SALAH.”

Dan hari pertama Chika di kelas 3B pun berubah jadi:

medan perang sosial,

sarang salah paham,

dan awal dari legenda

“Bule Knight Paling Aneh di Sekolah.”

...----------------...

Bel istirahat kedua berbunyi.

TIIING—!!

Kantin langsung berubah jadi lautan manusia.

Bau gorengan, mi rebus, saus sambal, dan es teh manis bercampur jadi satu aroma khas neraka… eh, maksudnya surga sekolah.

Chika melangkah masuk sambil menoleh ke kiri-kanan seperti anak kecil masuk pasar malam.

“Wah… ini pasar senjata makanan ya…”

Aki membawa tiga gelas es teh. “Ini kantin.”

Cila sudah lebih dulu duduk, menyilangkan tangan. “Duduk sini. Jangan berdiri di tengah jalan.”

Chika duduk…

lalu langsung berdiri lagi.

“Aki! Ada makanan yang digoreng tapi tidak hangus!”

“Itu tempe.”

“Dan ada mie panjang seperti tali sihir!”

“Itu mie ayam.”

Chika terharu. “Dunia ini hebat…”

Belum sempat mereka makan, satu cowok datang.

“Chika… nanti pulang bareng yuk?”

Chika menoleh. “Pulang ke mana?”

“Ke… jalan-jalan.”

“Jalan ke mana?”

“Ya… muter kota.”

“Oh. Muter kota itu misi patroli?”

Cowok itu bengong. “…eh, bisa dibilang gitu.”

Chika tersenyum cerah. “Kalau tidak ada monster, boleh.”

Cila langsung berdiri.

“NGGAK BOLEH.”

Cowok itu kaget. “Eh… kenapa?”

Cila mendekat satu langkah. “Karena dia belum kenal kamu.”

Cowok itu mundur setengah langkah. “…oh.”

Pergi.

Datang lagi cowok lain.

“Chika, habis sekolah nonton film yuk?”

Chika mikir serius. “Film itu latihan visual?”

“Bukan…”

“Kalau duduk gelap-gelapan, itu ritual?”

“…nggak juga.”

Chika mengangguk. “Berarti tidak penting.”

Cila senyum tipis. “Pintar.”

Cowok itu: “…kok jadi aku yang merasa gagal hidup.”

Lalu datang dua cowok sekaligus.

“Chika, kamu suka jalan sore?”

Chika jujur. “Aku suka patroli sore.”

“Eh… sama aja.”

“Kalau kamu ikut, kamu bawa pedang?”

“Tidak.”

“Berarti kamu lemah.”

Mereka: “……”

Cila meletakkan nampan dengan DUK.

“Pergi.”

“Eh kita cuma—”

“Pergi.”

Nada Cila datar.

Tatapan tajam.

Anak-anak di kantin mulai bisik-bisik.

“Woy…”

“Si ratu pemarah turun tangan…”

“Udah selesai hidup mereka…”

Julukan itu menyebar pelan-pelan: Ratu Pemarah.

Chika menoleh ke Aki. “Kenapa semua orang takut sama Cila?”

Aki mengunyah bakso. “…karena dia sayang kamu dengan cara menyeramkan.”

Chika menatap Cila yang sedang memelototi satu meja cowok.

“…itu cara sayang?”

“Iya.”

Chika berpikir keras. “…cinta dunia ini menakutkan.”

Satu cowok nekat datang lagi.

“Cila… kita cuma mau ngajak Chika main, kok.”

Cila berdiri perlahan.

“Kamu mau ngajak dia ke mana?”

“Ke… mall.”

“Untuk apa?”

“Ya… jalan.”

“Berdua?”

Cowok itu menelan ludah. “…iya.”

Cila mendekat. “Dia belum tahu arti jalan berdua.”

Cowok itu: “…terus?”

“Berarti kamu mau nyulik.”

“HAH?!”

Chika berdiri refleks. “Aku diculik?”

Cila cepat menoleh. “Bukan kamu.”

Cowok itu lari.

Chika duduk kembali sambil memegang roti.

“Cila.”

“Iya?”

“Kenapa kamu tidak suka aku diajak jalan?”

Cila terdiam.

Sendok berhenti di udara.

“…karena kamu gampang percaya orang.”

Chika menatapnya. “…itu salah?”

Cila menghela napas. “…bukan. Tapi dunia ini nggak kayak dunia kamu.”

Chika tersenyum kecil. “…kalau begitu, terima kasih sudah menjaga.”

Cila terdiam.

Pipinya merah sedikit.

“…jangan GR.”

Aki melirik. “Tsundere.”

“DIAM.”

Di sekeliling mereka, anak-anak sudah pasrah.

“Fix… Chika nggak bisa ditembak.”

“Belum tembus benteng.”

“Bentengnya Cila.”

Chika menggigit tempe. “…kenapa semua orang menatap kita?”

Aki santai. “Karena kamu bule knight yang tidak tahu apa itu kencan.”

Chika mengangguk mantap. “Kalau begitu… aku akan belajar.”

Cila langsung berdiri lagi. “BELUM.”

Dan kantin hari itu resmi dicatat dalam sejarah kelas 3B sebagai:

Hari ketika:

7 cowok gugur,

1 knight bingung,

dan Ratu Pemarah naik tahta.

...----------------...

Langit sore mulai berubah jingga ketika mereka bertiga berjalan menuju rumah Cila.

Angin membawa aroma gorengan dari warung kecil di pinggir jalan.

Cila langsung berhenti. “Eh, bentar. Aku mau beli es dan cilok.”

“Jangan lama,” kata Aki, pura-pura santai.

“Iya, iya.”

Cila menyeberang ke warung, sibuk menunjuk-nunjuk plastik makanan sambil ngobrol dengan ibu penjual.

Begitu Cila agak jauh, Aki langsung bergerak cepat.

“Ayo, Chika. Sekarang.”

“Hah? Sekarang apa?”

Aki mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya.

Di dalamnya, sepasang soflen bening berkilau samar kebiruan.

Chika refleks mendekat. “Oh, ini yang kemarin bikin mataku hangat ya?”

“Ya. Fokus. Kita pasang lagi.”

Aki berdiri sedikit menutupi Chika dari pandangan jalan.

“Condong dikit.”

Chika menurut, sedikit mendongak.

Aki memasang soflen itu dengan hati-hati.

“Jangan kedip.”

“Aku knight, aku bisa tahan mata terbuka.”

“…itu bukan skill knight.”

Soflen terpasang.

Chika berkedip. “Eh… dunia jadi kayak ada garis-garis cahaya tipis…”

“Normal. Itu tampilan identitas.”

Lalu Aki memasang soflen di matanya sendiri.

“Target pertama: mama Cila.”

Chika mengangguk serius. “Dimengerti.”

---

Mereka sampai di depan rumah Cila.

Rumah sederhana, catnya mulai pudar, tapi bersih.

Pintu terbuka.

“Assalamualaikum!” Aki menyapa.

Seorang wanita keluar dari dapur sambil mengelap tangan dengan lap kain.

“Waalaikumsalam… eh, Aki! Pulang bareng lagi sama Cila?”

“Iya, Ma.”

Nada Aki lembut, nyaris bergetar.

Chika melihat mata Aki berubah fokus.

Di pandangannya, di atas kepala mama Cila muncul tulisan samar:

IDENTITAS: IBU — STATUS: HIDUP (AMAN)

Aki menelan ludah.

Jarinya mengepal pelan.

“Ma sehat?”

“Iya, alhamdulillah. Kamu gimana sekolah?”

“Baik.”

Mama Cila tersenyum. “Kamu ini sudah kayak anak sendiri di rumah ini.”

Aki memaksakan senyum. “Iya, Ma…”

Chika melihat bahunya sedikit bergetar.

---

Lalu… dari ujung gang, seseorang muncul.

Seorang pria.

Langkahnya berat.

Wajahnya datar.

Tatapannya dingin.

Aki langsung menegang.

Jantungnya berdentum keras.

DUK. DUK. DUK.

Di pandangan Aki, muncul tulisan merah samar:

IDENTITAS: AYAH — STATUS: BERBAHAYA

Napas Aki tersendat.

“Dia…”

Tangannya gemetar.

“Itu… dia…”

Chika menoleh, melihat wajah Aki berubah pucat.

“Aki?”

Dadanya terasa seperti diremas.

Dalang kematian Cila.

Orang ini…

Langkah Aki maju setengah.

“Kalau sekarang aku—”

Tangannya terkepal kuat.

Chika refleks menarik baju seragamnya.

“Aki.”

Aki berhenti.

Chika menatapnya.

Tatapannya serius, tenang, seperti saat di medan perang.

“Kita punya rencana.”

Aki menggertakkan gigi. “…aku bisa menghancurkannya sekarang.”

“Bukan tugas knight untuk membunuh tanpa kebenaran.”

Kalimat itu seperti menyiram air dingin ke kepalanya.

Aki menghela napas berat. “…benar.”

Chika menoleh ke pria itu.

“Aki… biar aku.”

Aki menatap Chika ragu. “Kamu…?”

Chika mengangguk. “Aku bisa mengunci identitasnya.”

---

Cila masih di warung, belum kembali.

Mama Cila masuk ke dapur lagi.

Pria itu mendekat ke rumah.

Chika melangkah maju satu langkah, berdiri di depan Aki.

Dengan suara polos tapi jelas: “Permisi, Om.”

Pria itu menoleh. “Hm?”

“Aku… temannya Aki. Baru pertama ke sini.”

Pria itu mengangguk singkat. “Oh.”

Chika menatap matanya.

Dalam pandangannya, dunia seperti berhenti sesaat.

Garis-garis cahaya muncul, membentuk simbol aneh.

LOCKING TARGET…

Detak jantung Chika terdengar di telinganya sendiri.

Aki bilang… lihat, dengar, simpan.

Pria itu mengerutkan kening. “Kamu bule ya?”

“Iya… aku dari Jepang.”

“Ngapain ke sini?”

“Mau… belajar tentang dunia manusia.”

Jawaban jujur.

Terlalu jujur.

Aki menahan napas.

Soflen Chika berkedip pelan.

IDENTITY LOCKED

Chika menghela napas lega.

Senyumnya muncul lagi. “Om, rumah ini hangat.”

Pria itu terdiam sebentar. “…ya.”

Lalu masuk ke rumah tanpa bicara lagi.

---

Begitu pria itu pergi dari pandangan, Aki langsung duduk di bangku depan rumah.

Tangannya menutup wajah.

“…aku hampir kehilangan kendali.”

Chika berdiri di depannya. “Tapi kamu tidak.”

Aki menatap Chika. “…kalau bukan kamu…”

Chika menggaruk pipinya. “Knight membantu Hero. Itu tugasku.”

Cila datang sambil membawa plastik jajanan. “Kenapa kalian serius banget?”

Aki berdiri cepat. “Ah… nggak apa-apa.”

Cila curiga. “Kalian ngapain pas aku pergi?”

Chika menjawab polos: “Kami sedang mengunci manusia berbahaya.”

“…APA?”

Aki cepat menutup mulut Chika. “MAKSUDNYA… ngunci WiFi tetangga.”

Cila: “…ngaco.”

Chika mengangguk. “Ngaco.”

Aki: “…makasih sudah ikut bohong.”

Di dalam dadanya, Aki tahu:

Hari ini…

takdir mulai bergerak.

Dan langkah pertama sudah diambil.

...----------------...

Malam turun perlahan di rumah Cila.

Lampu ruang tengah menyala kekuningan, memantul di layar TV yang menampilkan acara varietas.

Chika duduk bersila di karpet, memeluk bantal. “Wah… kotak bercahaya ini lucu ya. Orang-orang di dalamnya kayak dikurung dunia kecil.”

Cila melirik malas. “TV, kali. Biasa aja, tau. Jangan lebay.”

“Tapi mereka bisa tertawa tanpa sihir…”

“Ya karena itu namanya hiburan, bukan ritual.”

Chika mengangguk-angguk sok paham. “Kalau di dunia aku, hiburan biasanya naga balapan.”

Cila: “…aku nyesel nanya.”

---

Di dapur, Aki berdiri di dekat meja, membantu mama Cila menuang air panas ke teko.

“Ma,” suara Aki datar, terlalu tenang, “papa Cila ke mana?”

Mama Cila terdiam sebentar. Tangannya berhenti di udara.

“Dia… lagi ngurus tiket bus ke Padang,” katanya pelan.

“Kami rencananya pindah setelah kalian tamat SMP.”

Aki menatap lantai. “Oh… begitu.”

Di dadanya, tak ada kaget.

Tak ada heran.

Semua sudah pernah ia lihat… di masa depan.

“Tidak apa-apa, Ma,” lanjutnya lembut. “Kalau itu jalan hidup suami Mama.”

Mama Cila tersenyum tipis, tapi matanya lelah. “Iya… hidup memang begitu.”

Aki mengangguk. “Kalau begitu… aku pinjam kamar mandi, ya.”

“Silakan, Ki.”

---

Pintu kamar mandi tertutup.

Klik.

Lampu menyala.

Aki berdiri di depan cermin kecil yang buram.

Bayangannya tampak seperti anak SMP biasa…

tapi matanya kosong.

Ia menunduk, kedua tangannya mencengkeram wastafel.

“…akhirnya kau muncul juga di garis waktu ini.”

Napasnya berat.

“Orang yang membuat masa depanku runtuh…

orang yang membuat dia mati…”

Tangannya gemetar.

“Di dunia lain… aku hanya bisa melihatmu dari jauh.

Sekarang… kau ada di sini.”

Ia mengangkat wajah.

Pantulan di cermin berubah.

Matanya menyala biru tua, seperti api dingin di laut malam.

Suara Aki merendah, nyaris seperti bisikan makhluk lain:

“Tidak… aku tidak akan membunuhmu.”

Ia tersenyum tipis, dingin.

“Aku akan menghancurkan hidupmu… pelan-pelan.”

Hologram biru muncul di udara.

Simbol-simbol aneh berputar.

“Bangun.”

Dari cahaya itu, sosok lain terbentuk—

wajah sama, tubuh sama, tapi ekspresinya kosong.

Klon itu berdiri tegak.

Aki menatapnya seperti melihat bayangan jiwanya sendiri.

“Kau,” katanya dingin,

“urus pemilik Hero Sword… dan makhluk bernama Cila itu.”

Klon mengangguk tanpa emosi.

“Dan kau,” Aki melanjutkan,

“akan berjalan di dunia ini menggantikan aku.”

Ia menatap klonnya tajam. “Aku… punya urusan dengan ayahnya.”

Klon melangkah keluar dari kamar mandi.

Krek.

Pintu terbuka.

Di dalam kamar mandi…

Aki asli sudah tidak ada.

Hanya udara dingin tersisa.

---

Di ruang tengah, Chika masih menonton TV sambil makan kerupuk.

“Eh, Cila… tokoh di TV ini kenapa nangis padahal tidak ada pedang di perutnya?”

Cila menghela napas. “Itu namanya patah hati, bukan tertusuk.”

Chika mengangguk serius. “Oh… lebih sakit mana?”

“…aku males jawab.”

Tak ada yang sadar…

Bahwa malam itu,

sesuatu yang gelap mulai bergerak di kota kecil itu.

Dan kebencian Aki…

akhirnya menemukan jalannya.

...----------------...

Malam itu di warung sunyi, hanya terdengar suara asap rokok yang mendesis dan denting koin dari meja judi. Lampu kuning temaram bergetar, bayangan orang-orang di sekeliling berkerut oleh cahaya lilin.

Aki berdiri di luar, menatap sosok pria itu — papa Cila. Tubuhnya membungkuk, matanya menyipit, jari-jari yang berotot memegang kartu dan cerutu. Wajah itu sama seperti dulu… wajah yang membuat Aki menahan darah panas di nadinya.

“Sikapnya masih sama…” gumam Aki pelan, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan angin di malam sunyi. Matanya menyala biru gelap. “Lihat wajah itu… aku… sudah sangat membenci… aku akan…”

Tangannya terangkat. Hologram biru tua berkedip di sekelilingnya, melingkupi tubuhnya seperti lingkaran energi berdenyut. Cahaya itu memantul di aspal basah, menimbulkan suara desis seperti ular.

“Sistem call: pindahkan objek,” bisiknya, suara berat menggema di telinga sendiri.

“Dan aku…” tangannya menekuk, jari-jari seperti mengukir garis tak terlihat di udara.

Sebuah pancaran biru menyambar ke tubuh papa Cila. Sekejap, sosok itu hilang, tubuhnya ambruk ke kegelapan. Aki ikut menghilang bersamanya.

---

Dunia berubah menjadi gelap total, seakan malam dan kabut pekat menyatu.

Papa Cila jatuh terduduk, kakinya patah, tangan gemetar menahan tubuhnya.

“D-dimana ini… kemana orang-orang tadi…?!” suaranya serak, cemas, dan bergetar.

Sebuah cahaya biru perlahan menyala, memperlihatkan Aki duduk dengan tenang di kursi, dahi bersandar di kedua tangannya. Matanya yang biru gelap menatap tajam, senyum dingin merekah di bibirnya.

“Kau?” suara ayah Cila bergetar. “Anak si Alex… pacar anakku?”

Aki tidak menjawab. Hanya tersenyum, senyum yang menembus tulang, menebar rasa dingin di udara.

“Oi! Sopan kah begitu kau dengan orang tua? Bajingan! Dimana ini?!” suara ayah Cila semakin panik, mundur selangkah… tapi kakinya patah setelah terjatuh di tanah hitam yang tak terlihat ujungnya.

Aki mengangkat tangan, tertawa panjang, terdengar bergema, menakutkan:

“Hahahah… HAHAHAHAH… HAHAHAH… HIHIHIHI!” Suaranya memecah keheningan, menimbulkan getaran di udara.

“Oi… oi… Pak tua? Kenapa kau ketakutan?” Aki maju, langkahnya pelan, mantap, menjejak seperti bayangan maut. “Mengapa…?!”

“Dasar… anak durhaka!” teriak papa Cila, suara keras namun tak berdaya.

Aki melebarkan senyum mengerikan, matanya berkobar biru gelap:

“Oh… benar… aku anak durhaka… YA!! AKU SEPERTI INI KARENA ULAMU!! Kau menghancurkan masa depanku!! Kau menghancurkan masa mudaku… Kau membuat anakmu sendiri mati!! BAJINGAN!!”

Papa Cila menatap bingung, terengah. “Hah? Apa yang kau katakan, bocah?! Kau mabuk ya?”

Aki berdiri perlahan, cahaya biru tua muncul di sekeliling pedang hologram yang tiba-tiba mengambang di tangannya. Pedang itu bergetar, desis energi seperti ular yang melingkari udara. Papa Cila menelan ludah, matanya melebar; hal ini tak mungkin terjadi di dunia nyata.

“Kau… monster… penghancur hidupku… Kau membuat cinta pertamaku tersiksa… mati karena penyakit bawaan… Menekannya, mengikatnya, dan MATI!! DIA MATI, HAHAHAHA!!” Aki berteriak, suara menggema dan memantul di kegelapan, memecah kesunyian dengan kekejaman yang membekukan.

Papa Cila berusaha membuka mulut, tapi sebelum kata terucap, kepala itu… terpisah dari lehernya, jatuh berguling ke tanah hitam, darah tak menetes, hanya keheningan.

“Tidak ada basa-basi…” Aki berbisik, mencondongkan tubuhnya mendekat, mata menyala.

“Kalau kau adalah kunci yang membuat Cila lebih cepat mati… aku akan menyingkirkan orang tak berguna… Selamat jalan… Moron.”

Hawa di dunia itu semakin pekat. Suara Aki, tawa seramnya, dan hologram biru yang berkedip membuat tempat itu terasa seperti neraka kecil—setiap detik, setiap desah napas, menebar ketakutan murni.

To Be Continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!