NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Pembebasan.

Gerombolan mayat hidup ninja masih terus bermunculan di jalanan kota. Tubuh-tubuh itu bangkit dari tanah retak, mata mereka kosong, bergerak seperti ombak hitam yang tak ada habisnya.

Di tengah kekacauan itu, Hanabi berdiri tenang, kunainya berlumur kabut tipis.

“Sudah waktunya…” ucapnya dingin.

“Xiaouman.”

Xiaouman menoleh. Untuk sesaat, matanya gemetar—lalu ia menarik napas dalam dan mengangguk.

“…Baik.”

Ia mengepalkan tinjunya, lalu berteriak, “Chika! Princes! Ayo!!”

Mereka bertiga berlari menerobos hujan darah dan api. Gerbang kastil Orochi menjulang di depan mereka—hitam, penuh ukiran naga, dan retak oleh energi ungu dari dalam.

“HUAAARGH!!”

Xiaouman menghentakkan kakinya ke tanah.

DOOOM!!

Tanah pecah. Pilar giok raksasa muncul dari bawah gerbang seperti tombak alam.

“Teknik Suci Klan Panda—

BAMBU GIok: PENGHANCUR GERBANG!!”

Ia menghantam batu itu dengan kedua telapak tangannya.

BOOOOM!!!

Batu giok melesat seperti peluru meriam dan menghantam gerbang kastil.

KRRAAASH!!

Gerbang besi hancur menjadi potongan-potongan logam yang beterbangan. Debu, api, dan cahaya ungu menyembur keluar.

Mereka bertiga melompat masuk.

Di dalam kastil…

Arena raksasa terbentang. Pilar-pilar hitam melingkari ruangan seperti tulang rusuk naga purba. Di tengahnya, sebuah kristal ungu raksasa melayang, memancarkan cahaya yang berdenyut seperti jantung.

Dari kristal itu, aliran cahaya keluar… dan masuk ke tubuh makhluk di singgasana.

Orochi.

Tubuhnya kini tiga kali lipat manusia. Kulitnya gelap keunguan, bersisik seperti naga, dengan lengan besar penuh urat energi. Di sekelilingnya, tubuh-tubuh warga yang kehilangan jiwa tergeletak seperti boneka kosong.

Xiaouman melangkah maju.

“OROCHI!!”

Suara gadis itu menggema di arena.

“Aku akan menghabisimu!!”

Ia menghentakkan kedua tangannya ke tanah.

DUUUM!!

Batu giok raksasa muncul di belakangnya seperti bukit kecil.

“Teknik Warisan Ayahku—

SERIBU TANGAN BAMBU GIok!!”

Xiaouman menghantam batu itu.

WHOOOOSH!!

Batu itu melesat ke arah Orochi seperti meteor hijau.

Orochi menyeringai. “Hanya batu kecil.”

Ia mengangkat satu tangan untuk menangkis—

Namun—

SSHHHKKK!!

Batu giok itu terbelah dua dari tengah.

Dari celahnya, cahaya biru menyambar.

“LUMINA DASH!!”

Chika melesat keluar dari dalam batu, tubuhnya dibungkus petir biru. Pedang Lumina ditarik ke belakang, siap menebas.

“Teknik Kilat—

LUMINA CRESCENT!!”

SLASH—!!

Sabit petir menghantam dada Orochi.

Namun…

BOOOOM!!

Orochi mengibaskan tangannya.

Api ungu menyembur seperti napas naga.

“Teknik Naga Kegelapan—

HELLFIRE BREATH!!”

“CHIKA!!” teriak Princes.

Chika mengangkat perisainya.

“AEGIS LUMINA!!”

Api ungu menghantam perisai emasnya.

KRAAASH!!

Chika terdorong ke belakang, meluncur di lantai arena—namun ia berhenti dengan satu kaki, berdiri sempurna, asap mengepul dari perisainya.

“Hehe…” katanya terengah.

“Masih bisa dihindari, kok.”

Ia berdiri di samping Xiaouman dan Princes.

Orochi melompat turun dari singgasana.

DUUUM!!

Lantai arena retak saat kakinya mendarat.

“Masih berani menantangku…”

“…padahal aku telah membunuh ayahmu, Xiaouman.”

Xiaouman mengepalkan tinjunya. Bahunya gemetar.

“Maka dari itu aku berdiri di sini!!

AKU AKAN MEMBALASKAN KEMATIAN AYAHKU!!”

Ia maju duluan.

“Teknik Seribu Pukulan—

BAMBU GIok: RAIN FIST!!”

Tangannya bergerak seperti bayangan. Puluhan pukulan menghantam tubuh Orochi.

DADADADADADAM!!

Namun Orochi hanya mundur setengah langkah.

“Lemah.”

Ia membalas dengan satu pukulan naga.

“DRAGON IMPACT!!”

BOOOM!!

Xiaouman terlempar, berguling di lantai.

“XIAOUMAN!!” teriak Princes.

Chika melompat.

“Giliranku!”

“Teknik Pedang—

LUMINA TWIN ARC!!”

Dua tebasan silang membentuk huruf X dari petir biru.

BRASH!!

Mengenai lengan Orochi—namun hanya membuat sisiknya retak sedikit.

“Serangga.”

Orochi mengangkat tangan ke langit.

Bola ungu raksasa terbentuk.

“ORB OF OBLIVION.”

Ia melemparnya.

WOOOOOM!!

Chika menarik Xiaouman dan Princes ke samping.

“ROLLING EVADE!!”

Mereka berguling bersamaan.

Bola ungu menghantam lantai.

KRRRRAAAASH!!!

Sebagian arena runtuh.

Debu memenuhi udara.

Chika berdiri terengah, darah mengalir di keningnya.

“…Dia jauh lebih kuat.”

Xiaouman bangkit perlahan, napas berat.

“…tapi aku tidak akan mundur.”

Orochi berdiri di tengah debu, tubuhnya makin bersinar ungu.

“Datanglah,” katanya.

“Buktikan bahwa kalian pantas mati melawanku.”

Di balik kristal yang berdetak, jiwa-jiwa warga terus mengalir ke tubuhnya.

Pertarungan baru saja dimulai—

dan untuk saat ini…

Orochi masih unggul.

Tubuh Chika dan Xiaouman masih meluncur mundur di lantai arena akibat hantaman terakhir Orochi. Sepatu mereka menggesek batu hitam yang retak, menimbulkan suara nyaring.

SKRRRRT—!!

Mereka berhenti hampir bersamaan. Napas berat, dada naik turun.

Di tengah arena, Orochi berdiri di depan kristal ungu raksasa itu. Cahaya dari kristal berdenyut seperti jantung raksasa yang sakit. Ia mengulurkan satu tangan dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan kristal.

Cahaya ungu berubah menjadi arus cahaya seperti kabut jiwa.

Dari lantai, dari dinding, dari udara—

bayangan transparan manusia mulai muncul.

Wajah-wajah warga Shen. Anak kecil, orang tua, prajurit, pedagang.

Mereka menjerit tanpa suara, lalu tersedot masuk ke tubuh Orochi.

WOOOOOOO…

Tubuh Orochi berdenyut. Ototnya membesar, sisik ungu muncul di kulitnya.

Xiaouman melangkah maju satu langkah, matanya melebar.

“Kau…!” suaranya bergetar.

“Mereka itu warga kotamu sendiri!!”

Princes yang bersembunyi setengah badan di belakang Chika mencengkeram lengan Chika erat-erat.

“Kamu nggak boleh melakukan ini…!” suaranya pecah.

“Mereka bukan senjata!”

Orochi menoleh perlahan. Senyum miring muncul di wajahnya.

“Tidak boleh…?” katanya pelan.

“Apakah dulu mereka berpihak padaku?”

Ia melangkah menjauh dari kristal. Cahaya ungu masih mengalir di pembuluh tubuhnya seperti retakan bercahaya.

“Kalian pasti bertanya… kenapa aku melakukan semua ini.”

Chika menghela napas panjang, menggeser pedang Lumina ke bahunya.

“Eeh… ini momen basa-basi final boss ya?”

Lalu ia menunjuk Orochi dengan ujung pedangnya.

“Cepat ceritakan. Biar setelah itu kita langsung lanjut ke pemusnahanmu.”

Orochi menyipitkan mata.

“…Lima ratus tahun yang lalu.”

Suaranya berubah lebih rendah, seperti bergema di ruang besar itu.

“Aku dan Koko… sahabat sejak kecil.”

Ia menutup satu mata sejenak, seperti melihat masa lalu.

“Aku melatihnya bertarung. Ia payah. Sangat payah dalam teknik klan naga.”

“Namun… di dalam jiwanya sudah tertanam teknik lain.”

“Teknik suci panda.”

Xiaouman refleks mengepalkan tangannya.

“Teknik itu sekarang hidup di dalam darah anaknya…”

“…di dalam dirimu.”

Orochi melangkah perlahan mengitari arena.

“Koko mengasah kekuatannya bertahun-tahun. Lalu… ia berpihak pada para pahlawan yang mengaku ingin menyelamatkan dunia.”

“Sementara kota ini… Shen… dibiarkan tenggelam.”

Ia berhenti.

“Warga klan naga… Koko… semuanya memilih Kaden.”

Nada suaranya naik.

“Aku merasa dikhianati.”

Cahaya di matanya bergetar.

“Kedua orang tuaku mati… dalam perang melawan Kerajaan Gurial Tempest.”

“Tujuan mereka cuma satu: menegakkan keadilan saat kota Shen hampir runtuh oleh siklus ekonomi.”

Tangannya mengepal.

“Yang kulihat hanya mayat mereka.”

Xiaouman menelan ludah.

“Aku tahu Koko ikut membantu Gurial Tempest melawan Shen.”

“Pengkhianatan.”

Ia tertawa kecil, pahit.

“Tapi aku diberi kurikan naga.”

“Aku sendirian membuat Gurial Tempest hampir kehilangan moral.”

“Mereka hampir runtuh.”

Nada suaranya berubah dingin.

“Lalu… Kaden dan Koko datang.”

“Mereka mengalahkanku.”

Ia mengangkat kepalanya.

“Aku tidak tahu kenapa Koko berpihak kepada pahlawan itu.”

“Apakah ia ingin kekuasaan kota Shen?”

“Karena itu aku tidak peduli jiwa siapa pun yang kuambil.”

Ia menunjuk kristal.

“Mereka keturunan para pengkhianat.”

“Apakah kalian mengerti?”

Ruangan sunyi sesaat.

Chika mengangkat kepalanya.

“Karena kamu terlalu ambisius.”

Orochi menoleh tajam.

“Sampai warga yang awalnya mendukungmu… jadi takut.”

Chika melangkah satu langkah ke depan.

“Kau sendiri yang menghancurkan Shen secara ekonomi.”

“Kerajaan Gurial Tempest bukan penanggung jawab kota ini.”

“Dan Kaden juga bukan.”

“Itu tanggung jawab pemimpin Shen.”

Xiaouman melirik Chika.

“…Tumben pintar.”

Chika tersenyum miring.

“Hehe.”

“Biasanya orang kayak gitu…”

“Yang ingin melindungi sesuatu, malah menghancurkannya sendiri karena ambisinya.”

Orochi bergetar.

“Kau…!”

Otot di lehernya menonjol.

“Beraninya…!”

Ia mengangkat kepalanya dan mengaum.

ROOOOOAAAARRR!!

Udara bergetar.

Tubuhnya membesar. Tulang bergeser dengan suara mengerikan.

KRRRAAAKKK—

Sayap hitam-ungu muncul dari punggungnya. Wajahnya memanjang, rahangnya berubah menjadi moncong naga.

Dalam sekejap…

Orochi menjadi naga hitam raksasa.

Api ungu berkumpul di tenggorokannya.

“MENYINGKIR!!” teriak Chika.

Mereka bertiga melompat.

FWOOSHHH—!!

Api ungu menyapu arena, melelehkan batu.

Mereka mendarat terpisah, terengah.

Di luar kastil.

Selena, Marianne, Beatrix, Marvin, MK.99, Vivi, dan Hanabi masih menahan lautan mayat hidup ninja.

Ledakan cahaya ungu menerangi langit.

Mereka semua menoleh ke arah kastil.

Selena menyipitkan mata.

“…Itu naga.”

Hanabi menatap tajam.

“Bagus.”

Ia mengangkat kunainya.

“Sekarang emosinya terpancing.”

Ia menoleh ke semua orang.

“Semuanya!”

“Tahan semua mayat hidup ini!”

“Jangan biarkan satu pun masuk ke arena!”

Marvin menghantam tanah dengan sarung tangan bajanya.

“Kalau begitu, kita habisi mereka di sini!”

Vivi mengangkat tangannya, pohon Labose tumbuh lagi.

“Chika harus tetap hidup.”

Beatrix menggeram.

“Kalau naga itu keluar, aku yang tonjok kepalanya.”

MK.99 mengunci senjata.

“Target: pertahanan perimeter.”

Marianne menarik napas.

“Kita beli waktu.”

Hanabi tersenyum tipis.

“Pertarungan sesungguhnya… baru dimulai.”

Api ungu masih mengepul di udara ketika Orochi—dalam wujud naga raksasa—mengembangkan sayapnya.

FWOOOOOSH!!

Angin dari kepakan sayapnya menghantam arena seperti badai. Pilar-pilar batu di sekeliling kristal runtuh, beterbangan seperti daun kering.

Chika menancapkan kakinya ke tanah.

“Ugh—anginnya gila…!”

Xiaouman menutup wajahnya dengan satu lengan, mantel perangnya berkibar liar.

“Dia terbang…!”

Di belakang mereka, Princes melangkah maju. Rambutnya melayang, matanya bersinar biru muda.

“Chika… Xiaouman…”

Ia mengangkat kedua tangannya ke dada.

Cahaya biru muda muncul dari jantungnya.

“Kontrak rantai roh… aktif.”

KLANG—!!

Rantai-rantai cahaya biru muncul dari punggung Princes, melesat seperti kilat dan menembus punggung Chika dan Xiaouman—tanpa melukai.

Tubuh mereka bergetar.

Energi mengalir.

Chika terengah.

“A—apa ini…!”

Xiaouman mengepalkan tangan.

“Tenagaku… naik…!”

Princes terhuyung sedikit.

“Aku… mengikatkan kekuatanku pada kalian… jadi jangan kalah…”

Orochi tertawa dari udara.

“Hmph… rantai kecil tak akan menghentikan naga.”

Ia membuka rahangnya.

Cahaya ungu berputar di tenggorokannya.

“Naga Neraka: Nafas Kehancuran.”

“MENYINGKIR!!” teriak Chika.

Api ungu ditembakkan seperti sungai cahaya.

BWOOOOOOOM!!!

Chika melompat ke kiri, Xiaouman meloncat ke kanan. Api itu menyapu lantai arena, menciptakan parit lava.

Chika berputar di udara.

“Lumina—mode jarak dekat!”

Pedang Lumina bersinar putih-biru.

“Lumina Sword: Flash Step!”

SHING!!

Chika menghilang dari tempatnya, muncul di udara di atas kepala naga, menebas ke bawah.

CLANG!!

Pedangnya memantul dari sisik Orochi, memercikkan cahaya.

“Apa?! Keras banget!!”

Orochi mengibas ekornya.

WHAMMMM!!

Chika sempat berputar di udara, menahan dengan Lumina.

“Lumina Guard!”

Namun tetap terpental.

BRUAAAK!!

Ia menghantam dinding arena, jatuh berlutut.

Xiaouman menghentakkan kakinya.

“Teknik Panda—”

Batu giok raksasa muncul dari tanah.

“Giok Langit: Peluncur Roh!”

Ia memukul batu itu.

DOOOM!!

Batu itu melesat seperti meteor hijau ke arah Orochi.

Orochi memutar tubuhnya di udara.

“Tidak berguna.”

Ia menampar batu itu dengan cakar.

CRRRAAAACK!!

Batu giok hancur di udara.

Pecahannya menghujani arena.

Chika berdiri terhuyung.

“Heh… oke… jarak dekat nggak cukup…”

Ia menarik napas panjang.

“Lumina… mode gabungan.”

Pedangnya terbelah menjadi dua bentuk:

Satu tetap pedang bercahaya.

Yang satu berubah menjadi busur energi putih.

“Dual Lumina: Sword & Bow Mode.”

Chika melompat ke atas pilar runtuh.

Menarik busur.

“Panah Cahaya: Star Pierce!”

FWIIING—!!

Panah cahaya melesat ke udara, meninggalkan jejak garis putih.

BOOM!!

Panah itu meledak di dada Orochi.

Sisiknya retak sedikit.

Orochi menggeram.

“Cukup…!”

Ia mengepakkan sayapnya keras.

“Cakar Naga: Hujan Pemusnah.”

Puluhan bola api ungu terbentuk di sekelilingnya dan jatuh seperti meteor.

“CHIKA!!” teriak Xiaouman.

Chika melompat, berguling, menembak panah sambil bergerak.

“Lumina Roll Shot!”

FWIP! FWIP! FWIP!

Beberapa bola api meledak di udara, tapi yang lain menghantam lantai.

BOOOM!! BOOOM!!

Ledakan membuat arena runtuh sebagian.

Xiaouman mengangkat kedua tangan.

“Perisai Giok: Kubah Roh!”

Dinding giok transparan muncul, menahan api.

Namun retak.

“Kuat banget…!”

Orochi menukik.

“Taring Naga: Tebasan Langit.”

Ia menebas dengan sayapnya.

SHRRRAAAKK!!

Gelombang angin tajam menghantam mereka berdua.

Chika dan Xiaouman terlempar bersamaan.

BRUUAAAK!!

Mereka menghantam tanah dekat kristal ungu.

Debu mengepul.

Chika terbatuk.

“Heh… udah dibuff… masih kalah dorong…”

Xiaouman menggertakkan gigi, berdiri dengan susah payah.

“Dia… masih terlalu kuat…”

Rantai biru dari Princes masih terhubung, tapi bergetar hebat.

Princes berlutut, memegang dadanya.

“A—aku masih bisa… jangan mundur…”

Orochi melayang di udara, menatap mereka dari atas.

“Dengan kekuatan seperti itu… kalian hanya menunda kematian.”

Ia membuka rahang lagi.

Energi ungu berkumpul lebih besar dari sebelumnya.

“Nafas Raja Naga.”

Chika menatap Xiaouman.

“…belum.”

Ia berdiri, mengangkat pedang dan busur sekaligus.

“Belum selesai.”

Xiaouman berdiri di sampingnya, napas terengah.

“Ayahku… tidak mati untuk ini…”

Mereka menatap naga di langit.

Debu perlahan turun.

Api ungu menerangi wajah mereka.

Pertarungan…

belum berakhir.

Debu masih melayang di udara.

Retakan-retakan panjang membelah lantai arena seperti luka terbuka.

Chika dan Xiaouman tergeletak di tanah, punggung mereka menghantam batu yang dingin. Nafas mereka tersengal, dada naik turun tidak beraturan. Setiap kali mereka mencoba menggerakkan tubuh, rasa nyeri menjalar seperti petir di tulang-tulang mereka.

Princes kecil berjalan tertatih-tatih di antara puing-puing. Kakinya gemetar, satu tangannya memegangi dadanya, yang lain meraih bahu Chika.

“Chika… Xiaouman…”

Suaranya pecah, hampir seperti bisikan.

Chika berusaha mengangkat kepala, matanya setengah terpejam.

“P—princes…”

Xiaouman menggertakkan gigi, mencoba bangkit, tapi lututnya langsung ambruk lagi.

“Tubuhku… nggak mau nurut…”

Di udara, Orochi dalam wujud naga raksasa melayang dengan angkuh. Sayapnya mengepak perlahan, menciptakan pusaran angin panas.

“Hahaha…”

Tawanya menggema di seluruh ruangan.

“Hahaha!! Ada apa ini? Kalian yang berani menantangku… malah berakhir seperti sampah di lantai!”

Ia menurunkan kepalanya, mata ungunya menyala tajam.

“Bersiaplah mati dan meratapi nasib kalian.”

Keheningan jatuh sesaat.

Lalu terdengar suara tawa kecil.

“Heh…”

Chika tertawa pendek, serak, tapi penuh ejekan.

Orochi menyipitkan mata.

“…Apa?”

Chika menanamkan satu tangan ke tanah dan memaksa dirinya berdiri setengah berlutut. Helmnya retak, rambut pirangnya basah oleh keringat dan darah tipis di pelipisnya.

“Kalah?”

Ia tersenyum miring.

“Kamu lupa ya… siapa aku?”

Orochi mendengus.

“Hanya manusia lemah yang memegang pedang warisan.”

Chika mengangkat pandangannya, menatap langsung ke arah naga itu.

“Aku ini… pemilik baru Hero Sword.”

Nada suaranya bergetar, tapi tegas.

“Senjata yang dulu mengalahkanmu.”

Angin berhenti sejenak.

Orochi tertawa keras.

“Percuma kalau pemiliknya tidak sehebat pemilik pertama!”

Chika terdiam beberapa detik.

Lalu ia mengangguk pelan.

“Memang.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku knight pemula. Aku sering jatuh. Sering gagal. Sering salah langkah.”

Ia menatap Princes, lalu Xiaouman.

“Tapi aku nggak tahu arti menyerah.”

Tangannya perlahan terangkat.

Cahaya biru muncul di udara.

SHIIIIING…

Hero Sword terwujud di genggamannya. Bilahnya ramping, memantulkan cahaya arena. Kristal di gagangnya berkilau pelan.

“Knight yang ditakdirkan…”

Chika menggenggam pedang itu lebih erat.

“…tidak boleh berhenti di sini.”

Princes terbelalak.

“Hero Sword…”

Tiba-tiba, tubuh Xiaouman bergetar.

Cahaya biru menyelimuti dadanya.

“A—apa… ini…?”

Dari dadanya muncul sebuah kristal kecil berwarna hijau, melayang keluar seperti air mata cahaya.

Kristal itu bergerak perlahan…

lalu masuk ke dalam kristal Hero Sword.

TING…

Suara nyaring seperti lonceng bergema.

Pedang itu berdenyut.

Chika tertegun.

“Xiaouman…”

Xiaouman menatap tangannya sendiri, napasnya tercekat.

“…pedang itu… nerima aku?”

Princes menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.

“Hero kelima…”

Chika mengangkat Hero Sword tinggi-tinggi.

“Dan ada satu hal yang membedakanku dari Kaden.”

Cahaya pedang berubah.

Biru… mulai tercampur merah.

Kristal di gagangnya berubah menjadi merah darah.

Mata Chika yang semula hijau muda… berubah menjadi merah menyala.

Ujung rambut pirangnya berubah kemerahan, seperti tersentuh api.

“HERO SWORD!”

Ia berteriak, suaranya menggema.

“SELENA HEROES!! ART BLOOD VAMPIR!!”

Udara bergetar.

Dari langit-langit arena, ratusan tombak darah terbentuk.

FSSSHHH—!!!

Hujan tombak menghujani Orochi.

“GH—?!”

Naga itu mengepakkan sayap, menghindar dengan kasar. Beberapa tombak menghantam sisiknya, memercikkan cahaya merah.

Di bawah, Xiaouman bangkit perlahan.

Aura hitam-hijau keluar dari tubuhnya.

Di punggungnya, simbol yin dan yang hitam-hijau melayang berputar.

“Aku… tahu rasa kehilangan…”

Suaranya rendah, penuh amarah tertahan.

“Tapi caramu… dengan mengorbankan semua orang…”

Tangannya mengepal.

“Dan kau… membunuh ayahku…”

Dari tangannya muncul dua sarung tangan unik.

Yang kiri hitam pekat.

Yang kanan hijau giok berkilau.

Udara di sekitarnya bergetar.

“AKU HANCURKAN KAU!!”

Aura di sekeliling Xiaouman meledak.

BOOOOM!!

Debu dan cahaya menyebar ke segala arah.

Princes mundur setengah langkah, menutup wajah dari terpaan angin.

Chika berdiri di samping Xiaouman, pedang merah-birunya berkilau.

Di udara, Orochi menatap mereka dengan mata menyala.

“…jadi kalian memilih melawan sampai akhir.”

Arena kini dipenuhi cahaya merah, biru, dan hijau.

Pertarungan belum selesai.

Ia baru saja… memasuki fase sebenarnya.

Chika dan Xiaouman saling menatap.

Tidak ada lagi keraguan di mata mereka—yang ada hanya tekad.

“Ayo…” Chika mengangkat Hero Sword yang berkilau merah–biru.

“…kita selesaikan ini.”

Xiaouman mengepalkan kedua tangannya yang terbalut sarung tangan mitos hitam–giok. Aura yin-yang di punggungnya berputar semakin cepat.

“Sekali lagi,” katanya pelan, “demi ayahku… dan semua jiwa yang kau curi.”

Mereka menekuk lutut bersamaan.

BOOOM!!

Tanah arena meledak saat mereka melesat ke udara, tubuh mereka ditembakkan seperti dua meteor cahaya menuju naga raksasa yang melayang di langit-langit kastil.

Di luar gerbang, Hanabi menghentikan langkahnya. Ia merasakan tekanan luar biasa dari dalam kastil—seolah udara sendiri menjerit.

“…kekuatan itu…”

Ia menengadah ke langit kelabu di atas benteng.

“Xiaouman… kau sudah membuktikannya…”

Matanya menyipit, bibirnya bergetar.

“Sekarang… jangan mati.”

Langit di dalam arena dipenuhi pusaran energi ungu dan merah.

Orochi mengepakkan sayapnya, menciptakan badai angin yang mendorong pecahan batu berputar seperti peluru.

“Kalian benar-benar keras kepala!!”

Ia membuka rahangnya.

“NAGA HITAM: NAPAS KEHANCURAN!!”

Semburan api ungu melesat seperti sungai neraka.

Chika memutar tubuhnya di udara.

“Xiaouman! Kiri!!”

Ia menebas ke depan.

“ART BLOOD VAMPIR: SCARLET SLASH!”

Tebasan merah berbentuk bulan sabit memotong semburan api, menciptakan ledakan cahaya di tengah udara.

BOOOOM!!

Gelombang panas menghantam mereka, tapi Xiaouman memutar tubuhnya dan menghantam udara dengan telapak tangan.

“JIWA PANDA: PALM OF BALANCE!”

Lingkaran yin-yang muncul di depan mereka, menahan sisa api naga dan membelokkannya ke samping.

Chika melesat lagi.

Ia berpindah dari satu sisi tubuh naga ke sisi lain, langkahnya seperti menari di udara.

SHIIING—SHIIING—!!

Setiap tebasan Hero Sword meninggalkan jejak darah cahaya di sisik Orochi.

“GRAAAH!!”

Orochi memutar tubuhnya, ekornya menyapu seperti cambuk raksasa.

“DODGE!” teriak Xiaouman.

Chika memutar tubuhnya, nyaris tersentuh ujung ekor.

Xiaouman melesat ke bawah perut naga.

“MODE MITOS: TINJU BAMBU SERIBU BAYANGAN!!”

Tangannya menghantam berkali-kali.

DUDUDUDUDUDU!!

Sisik Orochi retak di beberapa titik.

Namun naga itu mengaum dan memukul mereka dengan sayapnya.

WHOOOOM!!

Tubuh Chika dan Xiaouman terpental.

Chika memutar tubuhnya di udara, menusukkan Hero Sword ke sisik naga untuk menghentikan lajunya.

“URGH—!!”

Xiaouman memutar tubuhnya, mendarat di punggung naga.

“Kau masih terlalu besar… tapi bukan tak bisa dijatuhkan!!”

Orochi mengumpulkan energi di dadanya.

“RA’N DRACONIS… BOLA NAGA UNGU!!”

Bola energi raksasa terbentuk.

Chika mengangkat pedangnya.

“Kalau begitu—kita pakai serangan gabungan!”

Ia menoleh ke Xiaouman.

“Siap?!”

Xiaouman mengangguk.

“Selalu.”

Mereka melesat berlawanan arah, lalu berputar kembali menuju satu titik di depan dada naga.

Chika memusatkan energi Hero Sword.

“ART BLOOD VAMPIR: CRIMSON RAIN—REKAH LANGIT!!”

Ratusan bilah darah cahaya terbentuk di udara.

Xiaouman mengepalkan tinjunya.

“JIWA PANDA: HEAVEN-EARTH BREAKER!!”

Ia menghantam udara di depan Chika.

Kedua teknik bertabrakan… lalu menyatu.

BOOOOOM!!

Gelombang energi merah-hijau menghantam bola naga ungu Orochi.

Bola itu pecah.

Ledakan besar menelan tubuh naga.

“GRAAAAAAHHHH!!!”

Tubuh naga itu terlempar ke bawah seperti meteor.

KRAAAASHHHH!!!

Ia menghantam lantai arena, menciptakan kawah raksasa.

Debu dan asap memenuhi ruangan.

Sayap naga menghilang.

Tubuhnya menyusut.

Orochi kembali ke wujud setengah naga—lututnya menghantam tanah, satu tangannya menahan tubuhnya.

“Ngh… ngh…”

Chika mendarat terhuyung-huyung.

Xiaouman mendarat di sampingnya, napas mereka berat.

Mereka berdiri berdampingan.

Hero Sword masih berkilau.

Aura yin-yang Xiaouman masih berputar.

Orochi mengangkat kepalanya, darah ungu mengalir dari mulutnya.

“…kalian…”

Matanya gemetar antara marah dan tidak percaya.

Chika mengangkat pedangnya.

“Ini belum selesai.”

Xiaouman melangkah maju setengah langkah.

“Sekarang… giliranmu merasakan kehilangan.”

Chika menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai… ia menurunkan pedangnya.

Bukan tanda menyerah—

melainkan tanda pengendalian diri.

Denyut cahaya merah pada Hero Sword meredup.

Napasnya diperlambat.

Detak jantungnya dipaksa stabil.

“…tenang…” bisiknya.

“Jangan biarkan darah memimpin.”

Di depan dadanya, cahaya biru mulai terkumpul.

Awalnya hanya setitik.

Lalu membesar, berputar perlahan seperti embun yang dipadatkan.

Bola biru muncul. Stabil. Sunyi.

Princes melangkah maju dengan kaki pincangnya.

Tubuh kecilnya gemetar, tapi matanya tidak lagi ketakutan—

melainkan penuh tekad.

Ia mengangkat kedua tangannya.

Cahaya merah muncul di antara telapak tangannya.

Warnanya tidak liar seperti sebelumnya.

Masih kecil…

namun padat.

berdenyut seperti jantung kedua.

Bola merah muncul. Terkendali.

Xiaouman menutup mata.

Aura yin-hijau di punggungnya berputar pelan.

“Jangan marah…” gumamnya.

“Jangan benci…”

Ia membuka telapak tangan.

Dua energi muncul bersamaan—

hitam dan hijau.

Tidak saling bertabrakan.

Tidak saling menolak.

Berputar dalam harmoni.

Bola yin-yang terbentuk. Lebih tenang dari sebelumnya.

Tiga bola melayang di udara.

Biru.

Merah.

Hitam-hijau.

Arena menjadi sunyi.

Bahkan Orochi berhenti tertawa.

“…itu…”

“…teknik itu…”

Matanya membesar.

“Tidak mungkin… kalian… tidak mungkin bisa—”

Chika dan Princes melangkah maju bersamaan.

Langkah mereka sinkron.

Debu di lantai terangkat pelan oleh tekanan energi.

Bola biru dan merah bergerak mendekati bola yin-yang Xiaouman.

Awalnya…

GETARAN KERAS.

Udara berdesing.

ZZZRRRNNNGGG!!

Energi saling menolak.

Lantai arena mulai retak.

Princes menggertakkan gigi.

“Jangan… lepas…”

Chika menahan dengan kedua tangan.

“Fokus, Princes… ingat… kita tidak menyerang dengan amarah…”

Xiaouman membuka mata.

“…tapi dengan keputusan.”

Tiga energi itu berhenti bergetar.

Lalu…

MENYATU.

Cahaya berubah.

Biru…

merah…

hitam…

hijau…

melebur menjadi satu.

Sebuah bola besar terbentuk.

Warnanya putih keperakan.

Di dalamnya, pola yin-yang berputar lambat.

Tenang.

Padat.

Mengerikan.

Chika berbisik:

“Teknik yang mengalahkanmu dulu…”

Princes menambahkan pelan:

“…bukan karena kekuatannya…”

Xiaouman menyelesaikan:

“…tapi karena keseimbangannya.”

Bersamaan mereka berkata:

“SIONGKINO.”

Orochi mengaum panik.

“DIAM!!!”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Kristal ungu di dadanya bersinar liar.

“AKU TIDAK AKAN KALAH LAGI!!!”

Di depan dadanya terbentuk bola energi ungu raksasa.

Lebih besar dari tubuhnya sendiri.

Langit arena menggelap.

Mayat-mayat di dinding bergetar.

“ORB OF DRAGON RUIN!!”

Dua bola energi melesat.

Putih keperakan.

Ungu pekat.

Mereka bertabrakan di tengah arena.

BOOOOOOOOMMMMMM!!!!

Cahaya menelan segalanya.

Tekanan angin melempar pilar batu hingga hancur.

Dinding kastil terkelupas.

Chika menahan dengan kedua tangan.

“Dorong…!!”

Princes berteriak:

“Aku masih bisa…!!”

Xiaouman menjejak lantai.

“JIWA PANDA—KUNCI HARMONI!!”

Pola yin-yang di bola putih berputar lebih cepat.

Cahaya perak semakin terang.

Bola ungu mulai retak.

KRRRKKK…

Orochi terbelalak.

“Tidak… tidak… ini seharusnya tidak mungkin…!”

“Dulu kau kalah karena kau sendirian,” kata Chika.

“Kau mengira dunia mengkhianatimu.”

“Sekarang…” lanjut Xiaouman,

“…kau kalah karena kami bersama.”

“Dan karena kau memilih membenci,” kata Princes.

RETAAAKKK!!!

Bola ungu pecah.

Energi putih menghantam tubuh Orochi.

KRRRRAAAAAASSSHHHHH!!!!!

Tubuh Orochi terlempar menembus dinding kastilnya sendiri.

Menabrak singgasana batu.

Kristal ungu di belakangnya pecah berkeping-keping.

Kastil runtuh.

Debu mengepul seperti badai.

Saat cahaya meredup—

Orochi tergeletak di antara reruntuhan.

Tubuhnya kembali sepenuhnya manusia.

Tidak ada sayap.

Tidak ada sisik.

Hanya sosok yang hancur…

dan terdiam.

Chika menurunkan tangannya.

Napasnya berat.

Princes terduduk.

Xiaouman berdiri terpaku.

“…ayah…” bisiknya.

Teknik Siongkino telah selesai.

Dan untuk pertama kalinya…

kastil itu benar-benar sunyi.

Debu runtuhan kastil masih beterbangan.

Batu-batu besar mengelupas dari dinding yang retak, jatuh dengan bunyi

KRUK… KRASH…

pelan… berat… seperti napas terakhir sebuah kerajaan.

Di tengah reruntuhan itu, Orochi tergeletak.

Tubuhnya kembali ke wujud manusia setengah naga—

sisiknya rontok satu per satu seperti daun kering.

Sayapnya sudah menghilang.

Kristal ungu di dadanya retak, memancarkan cahaya redup yang berkedip tak beraturan.

“Ha… ha…”

napasnya tersengal.

Matanya, yang tadi penuh amarah, kini kosong dan redup.

Chika berdiri beberapa langkah darinya.

Hero Sword masih di tangannya, tapi ujung pedangnya sudah turun.

Princes berlutut, kelelahan.

Tangannya gemetar.

Xiaouman…

tidak bergerak.

Ia menatap Orochi tanpa berkedip.

Wajahnya kaku.

Matanya merah… bukan karena aura… tapi karena air yang tertahan.

Orochi tertawa kecil.

“Heh…”

“Hehehe…”

Batuk darah keluar dari sudut mulutnya.

“Jadi… akhirnya…”

“teknik itu… membunuhku juga…”

Ia memalingkan wajah ke Xiaouman.

“…kau sudah besar…”

Xiaouman melangkah maju satu langkah.

“Diam,” suaranya pecah.

“Jangan bicara seolah kau berhak…”

Orochi tersenyum miring.

“Aku tahu… kau membenciku…”

Ia mengangkat tangan dengan susah payah.

Jarinyapun gemetar.

“…tapi…”

“…kalau aku tidak melakukan ini…”

“…kota ini tetap akan hancur…”

Chika mengepalkan tangan.

“Dengan membunuh wargamu sendiri?”

“Itu bukan melindungi. Itu menghancurkan.”

Orochi tertawa pelan, lalu terdiam.

“…mungkin…”

Ia menutup mata sesaat.

Lalu membukanya lagi—

menatap Xiaouman lurus.

“Xiaouman…”

“aku… tidak pernah ingin kau melihatku seperti ini…”

Xiaouman menggertakkan gigi.

“Kalau begitu… kenapa kau bunuh ayahku?!”

Suara itu menggema di aula runtuh.

Orochi terdiam.

Lama.

Debu jatuh di antara mereka.

“…karena aku takut…”

Xiaouman membeku.

“Aku takut…” lanjut Orochi,

“kalau aku tidak menghentikan mereka…”

“kau akan menjadi seperti Koko…”

“…orang yang memilih dunia… dan meninggalkan kota ini…”

Air mata Xiaouman akhirnya jatuh.

“Jangan sebut nama ayahku…”

Orochi tersenyum tipis.

“…Koko…”

“…tidak pernah meninggalkanmu…”

Cahaya di mata Orochi mulai padam.

“…dia hanya…”

“…tidak pandai menunjukkannya…”

Tubuh Orochi mulai berubah menjadi partikel cahaya ungu pucat.

“…Xiaouman…”

“…jangan ulangi jalanku…”

“…jangan hidup dengan dendam…”

“…kalau kau ingin melindungi…”

“…pilih… dengan siapa…”

Tangannya jatuh.

Matanya kosong.

Tubuhnya hancur menjadi cahaya…

lalu lenyap tertiup angin di aula runtuh.

Hening.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada ledakan.

Hanya suara reruntuhan yang runtuh pelan.

Xiaouman berdiri kaku.

Lalu lututnya goyah.

Ia jatuh berlutut di tempat Orochi tadi menghilang.

“…ayah…”

Suara itu keluar seperti bisikan anak kecil.

Tangannya mencengkeram lantai.

“…aku menang…”

“…tapi…”

“…kenapa rasanya…”

“…aku tetap kehilangan…”

Cahaya lembut muncul di udara.

Bukan ungu.

Putih kehijauan.

Di sekeliling Xiaouman, dunia seperti melambat.

Bayangan-bayangan muncul.

Kenangan.

— Xiaouman kecil jatuh saat latihan.

Seorang pria berdiri membelakanginya, pura-pura tidak peduli.

“Bangun sendiri.”

Tapi saat Xiaouman tertidur malam itu…

tangan yang sama diam-diam mengoleskan obat ke lututnya.

— Xiaouman remaja marah dan kabur dari rumah.

Di malam hari, seseorang berdiri di atap rumah, menunggu hingga fajar.

— Xiaouman bertanya, “Kenapa ayah selalu memihak kota daripada aku?”

Jawaban yang dulu terdengar dingin:

“Karena kota ini adalah masa depanmu.”

Kenangan itu memudar.

Di depan Xiaouman, muncul sosok bercahaya.

Koko.

Wajahnya tenang.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Xiaouman membeku.

“…ayah…?”

Roh itu tersenyum lembut.

“Kau sudah melakukannya dengan baik.”

Xiaouman menunduk.

“Aku membencimu…”

“…tapi…”

“…aku tetap ingin kau melihatku…”

Koko berlutut dan memeluknya.

Pelukan itu hangat…

padahal ia hanya cahaya.

“Aku selalu melihatmu.”

Xiaouman menangis.

Tangannya gemetar memeluk cahaya itu.

“…aku takut…”

“…kalau aku menjadi seperti Orochi…”

Koko menggeleng.

“Kau berbeda.”

Ia menoleh ke Chika dan Princes.

“Aku titipkan dia pada kalian.”

Chika terdiam, lalu mengangguk pelan.

“Aku jaga dia.”

Princes menyeka mata.

“Dia bukan sendirian lagi.”

Koko tersenyum.

“Kau tidak perlu memikul dunia sendirian, Xiaouman.”

Tubuh cahaya itu mulai memudar.

“Teruslah hidup…”

“…bukan untuk dendam…”

“…tapi untuk orang-orang yang kau lindungi.”

Cahaya itu menghilang.

Tersisa Xiaouman…

berlutut…

menangis dalam reruntuhan kastil.

Chika berjalan mendekat dan berlutut di sampingnya.

Tidak berkata apa-apa.

Hanya menaruh tangan di bahunya.

Princes ikut duduk di sisi lain.

Untuk pertama kalinya…

Xiaouman tidak sendirian saat menangis.

Pagi datang dengan warna yang berbeda.

Sinar matahari menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas kota Shen.

Tidak ada lagi teriakan perang.

Tidak ada bau asap sihir.

Yang terdengar hanyalah suara palu, kayu diseret, dan tawa pelan orang-orang yang kembali bekerja.

Klan Panda dan Klan Naga kini berdiri di jalan yang sama.

Beberapa panda bertubuh besar mengangkat balok kayu bersama para naga bertanduk kecil yang mengatur batu-batu fondasi.

Di sudut kota, anak-anak berlari membawa ember air, tertawa ketika tersandung dan disiram balik oleh temannya.

Shen… mulai hidup lagi.

Di alun-alun yang setengah dibangun, Selena berdiri di bawah payung merahnya.

Payung itu besar, dengan kain gelap yang menahan sinar matahari agar tidak menyentuh kulit pucatnya.

Marvin berdiri di sampingnya, tangan besarnya terulur.

Selena…

mengemut jari Marvin.

“Nghh…”

suara kecil keluar dari mulutnya.

Beberapa tetes darah mengalir, diserap perlahan.

Dengan suara masih cadel karena jarinya belum dilepas, Selena menoleh ke Chika.

“Jahdi… khemarin kau pakai teknik darah vampirku ya?”

Chika yang berdiri bersama Princes dan Xiaouman menggaruk belakang kepalanya.

“Hehehe… iya… maaf… tapi kekuatanmu itu… gila kuatnya, Selena.”

Selena mendengus kecil sambil melepas jari Marvin.

“Hmph… tentu saja… itu teknik warisan darah Bellial…”

Marvin mengibas-ngibaskan jarinya.

“Oi… oi… aku merasa terhormat sekaligus takut.”

Ia menoleh ke Chika dengan mata berbinar.

“Jadi penasaran… gimana kalau kekuatanku juga kau pakai ke Hero Sword?”

Chika langsung tertawa gugup.

“Ehh… kita coba nanti aja… jangan sekarang…”

Di sisi lain, Princes menggendong seekor panda kecil.

Panda itu berguling-guling di lengannya, menggigit ujung sarung tangan Princes.

“Hihihihi… lucu banget… bulat… hangat…”

Panda kecil itu mencicit pelan, “Prrk!”

Tak jauh dari mereka, di depan bangunan balai kota baru, Hanabi berdiri dengan tangan bersedekap.

Telinga kucingnya bergerak-gerak pelan tertiup angin.

Beatrix berdiri di depannya, menatap sekitar kota dengan wajah datar.

“…kenapa kota ini sekarang mirip kebun binatang ya.”

Hanabi meliriknya.

Beatrix menunjuk satu per satu.

“Pemimpin setengah kucing…” “Anak setengah panda…” “Dan lihat itu—panda kecil di gendongan putri…”

Ia menghela napas dramatis.

“Serius… apa-apaan ini…”

Hanabi masih diam, menunggu.

Beatrix menyeringai.

“Tapi… kamu kurang satu satwa liar lagi.”

Semua orang langsung menoleh.

Hanabi bertanya pelan, “Satwa apa.”

Beatrix mengangkat dagu.

“…Gorila.”

Sejenak… hening.

Lalu serempak:

“Sudah kuduga…”

“Pasti gorila…”

“Dia nggak pernah ganti bahan ejekan…”

Chika, Princes, Marianne, Selena, Marvin, MK.99, dan Vivi berkata hampir bersamaan.

Hanabi menghela napas panjang.

“…kenapa bukan kau saja yang jadi gorila?”

Beatrix tersenyum sombong.

“Nono… gadis sepintar aku tidak bisa disamakan dengan gorila.”

Hanabi memijat pelipisnya.

Lalu menoleh ke Xiaouman.

“Dan kau?”

Xiaouman yang tadinya duduk langsung berdiri tegak.

“I… iya!”

Hanabi menyipitkan mata.

“Kau mau pergi, ya.”

Xiaouman mengangguk pelan.

“Aku… akan ikut Chika mencari Hero yang tersisa.”

Hening sejenak.

Angin bertiup melewati kain-kain bangunan.

Hanabi berjalan mendekat.

Ia berhenti di depan Xiaouman.

“Kau sudah membuktikan dirimu.”

Xiaouman menatapnya.

“Kau tidak lagi berjalan di bayang-bayang Orochi.”

Ia mengulurkan tangan.

“Kau pantas menunjukkan jalanmu sendiri.”

Xiaouman ragu sesaat…

lalu menjabatnya.

“Terima kasih… Pemimpin Hanabi.”

Hanabi tersenyum tipis.

“Hati-hati di luar sana, anak panda.”

Tak lama kemudian, mereka semua berkumpul.

Chika memanggul Hero Sword di punggung.

Princes berdiri di sisinya.

Xiaouman mengikat sarung tangan hitam-hijau di tangannya.

Mereka melambaikan tangan.

“Jaga kota ini, Hanabi!” seru Chika.

“Jangan biarkan jadi kebun binatang beneran!” tambah Beatrix.

Hanabi mendengus.

MK.99 berdiri di depan mereka dengan tangan di pinggang.

“…aku tidak mengerti…” “…mengapa aku yang harus mengangkat kalian semua…”

Ia menatap ke atas.

Pulau Havenload melayang di langit, tepat di atas kota Shen.

“…berat…” “…sangat tidak efisien…”

Meski begitu, roket kecil di kakinya menyala.

“Mode angkut… aktif.”

Dengan suara WHOOOOOSH—

mereka semua terangkat ke udara.

Di bawah, kota Shen mengecil.

Hanabi berdiri di tengah alun-alun, menatap ke langit.

“Kota ini… aku jaga.”

Dan di atas sana…

perjalanan baru pun dimulai.

...----------------...

Langit di atas dunia berwarna biru pucat.

Awan bergerak pelan… terlalu pelan.

Di sebuah tempat yang tidak tercatat dalam peta mana pun—

bukan di tanah, bukan di langit—

sebuah dataran putih membentang seperti kaca retak.

Di sana, Savior berdiri.

Jubah hitamnya berkibar tanpa angin.

Di hadapannya, terbentang ribuan lingkaran cahaya—

setiap lingkaran adalah timeline.

Ia menatap salah satunya.

Di dalam lingkaran itu, bayangan Chika dan Princes terlihat kecil, bergerak di Kota Shen yang baru dibangun.

Savior menyipitkan mata.

“…mereka mulai berkumpul lagi.”

Tangannya terangkat, jari-jarinya gemetar halus.

“Anomali ciptaan Dewi Fil…”

“Chika…”

“Dan gadis itu…”

Ia menggeser lingkaran cahaya lain.

Dalam ribuan timeline sebelumnya—

tidak pernah ada Princes.

Tidak pernah ada sosok yang berjalan sejajar dengan Chika.

Dan justru karena itulah…

“Looping akan terjadi lagi,” gumamnya.

“Meski bentuknya berbeda…”

Suara langkah terdengar.

Tap. Tap. Tap.

Cahaya keemasan muncul di belakangnya.

Sosok perempuan turun seolah menginjak udara.

Rambut panjangnya mengalir seperti cahaya senja.

Matanya tenang… terlalu tenang.

Dewi Fil.

“Masih menatap kemungkinan yang sama?” tanyanya lembut.

Savior tidak menoleh.

“Timeline ini… berbeda,” katanya pelan.

“Namun hasil akhirnya tetap satu.”

Fil tersenyum tipis.

“Kau selalu bilang begitu.”

Ia melangkah ke samping Savior, ikut menatap lingkaran cahaya.

“Dan tetap saja… kepalamu terpenggal lagi.”

Savior mengepalkan tangan.

“Karena kau membiarkannya.”

Fil menoleh.

“Tidak.”

Nada suaranya halus…

tapi ada dingin di dalamnya.

“Karena kau memilih jalan itu.”

Savior berbalik.

“Jika aku tidak menciptakan kehancuran… dunia akan terus terjebak dalam pengulangan.”

Fil mengangkat alis.

“Dan kau menyebut membunuh jutaan jiwa sebagai… penyelamatan?”

Savior mengertakkan gigi.

“Aku menciptakan akhir agar tidak ada awal lagi.”

Fil tertawa kecil.

“Lucu…”

Ia mendekat, jaraknya hanya satu langkah.

“Kau takut.”

Savior membeku.

“Kau takut pada satu hal.”

Ia mengangkat tangannya, jari menunjuk lingkaran cahaya yang menampilkan Chika.

“Pedang itu.”

Lalu ke Princes.

“Dan gadis yang tidak seharusnya ada.”

Fil mendekat ke telinga Savior.

“Lebih tepatnya… kau takut pada saat di mana…”

Ia berhenti sejenak.

“…kepalamu ditebas lagi.”

Savior menepis tangan Fil.

“Sudah 8.766.122 kali.”

Fil tersenyum lebih lebar.

“Dan akan menjadi…”

“…8.766.123.”

Angin tak kasat mata berdesir.

Lingkaran cahaya bergetar.

Dalam salah satu timeline, bayangan Chika mengangkat pedangnya.

Savior menatapnya dengan mata gelap.

“Jika aku menghapus mereka sekarang…”

Fil menggeleng pelan.

“Kau tidak bisa.”

“Karena justru dengan menghapus mereka…”

“…kau mengulang alasan keberadaanmu.”

Hening.

Cahaya putih di sekitar mereka berdenyut.

Savior menunduk sedikit.

“Siapa yang jahat di antara kita?”

Fil tidak langsung menjawab.

Ia memandang dunia di bawah—

kota, manusia, tawa, luka, harapan.

“Menurutmu, siapa yang jahat?”

“Kau…”

“…yang ingin menghancurkan dunia agar tidak berulang?”

“Atau aku…”

“…yang membiarkan dunia terus terluka demi kemungkinan baru?”

Savior menatapnya.

Fil tersenyum samar.

“Hitam dan putih itu milik manusia.”

“Kita hanya… memilih cara berbeda untuk takut.”

Lingkaran cahaya tiba-tiba menyala terang.

KRSHHH—

Bayangan pedang biru terangkat.

Savior memejamkan mata.

“…jadi ini saatnya lagi.”

Fil melangkah mundur.

“Pergilah.”

“Temui takdirmu.”

“Dan lihat…”

“…apakah timeline ini akan memutus lingkaran.”

Savior menghilang dalam cahaya.

Satu detik sebelum lenyap, ia berkata:

“Jika kepalaku tertebas lagi…”

“…itu bukan karena aku kalah.”

“…tapi karena dunia memilih untuk tetap bermimpi.”

Di bawah sana—

Chika berdiri di atas reruntuhan cahaya.

Pedangnya terangkat.

Langit retak seperti kaca.

SFX: SHRRRKK—!!

Satu tebasan.

Cahaya putih meledak.

Dan suara Fil bergema di kehampaan:

“Selamat datang…”

“…looping ke 8.766.123.”

Namun…

Untuk pertama kalinya—

Di antara pecahan cahaya—

terlihat bayangan kecil…

…seorang gadis berdiri di samping Chika.

Timeline ini…

tidak sepenuhnya sama.

...----------------...

Chapter Lima – Kota Shen

^^^End^^^

Hero yang terkumpul : Selena, Marianne, Beatrix, Marvin dan Xiaouman...

...11 Hero tersisa ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!