NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Panjang Lintas Pulau

Pat pukul 15:10, aku memulai perjalanan panjang ini. Bus ekspres yang kutumpangi perlahan bergerak meninggalkan Terminal Ambarawa, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.

Di dalam bus, aku hanya bisa menatap keluar jendela, melihat pemandangan yang melesat cepat seiring bus memasuki jalur tol. Tak disangka, perjalanan darat ini terasa begitu singkat karena keandalan mesin busnya. Hanya dalam waktu kurang dari empat jam, aku sudah memasuki hiruk-pikuk ibu kota.

Pukul 19:00, bus berhenti sempurna di Terminal Pulo Gadung. Suasana malam Jakarta yang gerah langsung menyambut. Karena perut sudah sangat lapar, aku dan Mbak Puji memutuskan mampir ke sebuah warteg di area terminal. Di bawah temaram lampu warteg, kami menyantap nasi rames sambil melepas penat sejenak.

"Cepat juga ya, jam tujuh sudah sampai Jakarta," ucapku di sela suapan. Kami mengobrol santai, mengumpulkan energi sebelum melanjutkan estafet perjalanan ini. Setelah merasa cukup, kami segera mencari taksi untuk menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Perjalanan dengan taksi memakan waktu karena lalu lintas malam yang padat. Saat kami sampai di bandara, waktu sudah jauh melewati Maghrib. Dengan langkah terburu-buru, kami menurunkan dua koper sedang dari bagasi dan segera mengurus keperluan check-in.

Malam semakin larut saat kami akhirnya duduk di dalam kabin pesawat. Mesin jet mulai menderu, membawa kami terbang tinggi meninggalkan landasan. Aku tidak ingat pasti berapa ribu kaki ketinggian kami atau berapa jam waktu yang harus ditempuh; rasa lelah seolah sudah mengaburkan ingatan angka-angka itu.

Di dalam kabin yang lampunya mulai diredupkan, aku mencoba memejamkan mata, namun pikiranku tetap terjaga. Mataku menolak untuk terlelap meskipun tubuh terasa rontok. Mbak Puji yang duduk di sampingku menyadari hal itu.

"Tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai aku bangunin," ucap Mbak Puji dengan suara lirih yang sudah mengantuk.

Aku menggeleng pelan. "Nggak bisa tidur, Mbak aku," jawabku jujur.

Mbak Puji pun mengangguk, memahami kegelisahanku. "Ya sudah, kalau gitu aku tidur duluan ya. Nanti bangunin aku kalau sudah sampai."

Aku hanya mengiyakan dengan anggukan kecil. Di tengah kesunyian pesawat yang membelah awan, aku hanya terdiam menatap Mbak Puji yang perlahan terlelap. Karena tak bisa tidur, aku mengalihkan pandangan ke jendela kecil di sampingku.

Di luar sana, pemandangan malam hari benar-benar indah. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam. Pemandangan indah itu menemani kesendirianku di tengah perjalanan menuju Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih satu setengah jam, pilot mengumumkan bahwa kami akan segera mendarat. Aku segera menoleh ke samping dan menyentuh bahu Mbak Puji pelan.

"Mbak... Mbak Puji, bangun. Kita sudah sampai," bisikku.

Mbak Puji mengerjap-ngerjapkan matanya, tampak masih mengantuk. "Eh, sudah sampai ya?" tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk pelan sambil mulai merapikan barang bawaan.

Pesawat perlahan turun dan menyentuh landasan dengan mulus. Kami pun keluar melalui tangga yang sudah disediakan di bagian belakang pesawat. Hawa malam Pekanbaru yang berbeda langsung menyergap kulitku saat menuruni anak tangga satu per satu.

Tujuan pertama kami adalah area klaim bagasi. Kami menunggu dengan sabar sampai dua koper sedang milik kami muncul di ban berjalan. Setelah memastikan semua barang aman, kami melangkah keluar menuju pintu kedatangan. Jam di dinding bandara sudah menunjukkan pukul 22:23 malam.

"Wah, ternyata sudah malam banget ya, Mbak," gumamku sambil membetulkan posisi tas.

"Iya, makanya ayo kita segera keluar. Kita harus cari seseorang yang sudah menunggu," jawab Mbak Puji sambil mempercepat langkahnya.

Begitu kami melewati pintu keluar, mataku menangkap sosok seorang wanita yang berdiri mencolok di tengah kerumunan penjemput. Ia mengenakan jaket hoodie berwarna cokelat dengan bawahan rok hitam yang elegan. Rambutnya yang hitam panjang dikuncir kuda, menjuntai indah hingga menyentuh bagian belakang pinggangnya.

Wanita itu langsung tersenyum lebar dan merentangkan tangan. Begitu mereka berdekatan, ia langsung memeluk Mbak Puji dengan sangat erat. Mbak Puji pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Terlihat jelas bahwa mereka adalah kawan lama yang sudah lama tidak bersua.

Aku hanya berdiri diam di samping mereka. Karena rasa lelah yang sudah mencapai ubun-ubun, aku hanya menyalami wanita itu dengan sopan tanpa banyak bicara. Namanya Rianti. Dia adalah pemilik salon tempatku akan bekerja nanti. Rianti sengaja datang ke bandara untuk menjemput kami.

Setelah mereka selesai berpelukan melepas rindu, Rianti menoleh ke arahku dengan ramah, lalu mengajak kami menuju parkiran. "Ayo, langsung ke mobil saja. Kalian pasti capek sekali," ucapnya.

Aku mengiyakan ajakannya. Di dalam mobil yang membawa kami membelah malam kota Pekanbaru, aku akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Perjalanan ribuan kilometer ini telah berakhir, dan lembaran baru di salon milik Rianti baru saja dimulai.

Suara pintu mobil tertutup rapat, mengunci kami dari kebisingan bandara. Rianti duduk di kursi depan di samping supir, sementara aku dan Mbak Puji duduk di kursi belakang. Begitu mobil mulai bergerak membelah jalanan Pekanbaru, suasana di dalam langsung ramai oleh obrolan mereka.

"Ya ampun, Puji! Terakhir kita ketemu kapan ya? Masih kurusan kamu sekarang," celetuk Rianti sambil menoleh ke belakang dengan wajah ceria.

Mbak Puji tertawa lepas, rasa lelahnya seolah hilang setelah bertemu teman lama. "Bisa saja kamu, Ri! Aku ini efek capek perjalanan saja makanya kelihatan tirus. Kamu sendiri makin sukses ya sekarang, salonnya makin ramai dengar-dengar?"

"Alhamdulillah, Ji. Makanya aku senang banget kalian mau datang ke sini. Apalagi bawa orang buat bantu aku di salon," jawab Rianti sambil melirikku sebentar melalui spion tengah. "Nanti sampai rumah, kita makan ya. Aku sudah pesankan makanan enak buat kalian."

"Beneran ya? Wah, jangan repot-repot, Ri. Tapi kalau dipaksa ya aku nggak nolak," canda Mbak Puji yang disambut tawa oleh Rianti.

Aku hanya terdiam di pojok kursi penumpang. Kepalaku bersandar pada kaca jendela yang terasa dingin.

Suara tawa dan obrolan panjang mereka berdua perlahan-lahan terdengar semakin menjauh di telingaku.

Aku masih sempat melihat lampu-lampu jalanan kota Pekanbaru yang terang benderang, namun mataku terasa begitu berat, seolah ditarik oleh beban ribuan ton.

Tanpa sadar, kepalaku perlahan merosot ke bahu Mbak Puji. Napasku mulai teratur. Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi mengikuti pembicaraan mereka tentang masa lalu atau rencana kerja besok.

Mbak Puji yang masih asyik bercerita tentang kejadian di terminal tadi, sepertinya tidak menyadari kalau aku sudah hanyut dalam tidur yang sangat dalam di sampingnya.

Malam itu, di tengah obrolan dua sahabat yang melepas rindu, aku akhirnya menyerah pada kelelahan yang luar biasa.

Bersambung...

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!