tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KEHENINGAN YANG MENULAR
Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan di Windermere. Elara dan Arlo tidak menunggu untuk melihat reaksi Marcus. Mereka segera meninggalkan Lake District, bergerak lebih jauh ke utara, melewati perbatasan Skotlandia menuju sebuah desa nelayan kecil yang hampir tidak ada dalam peta turis. Di sana, mereka menyewa sebuah pondok batu yang menghadap langsung ke Laut Utara yang abu-abu dan ganas.
Elara duduk di meja dapur, mencoba fokus pada laptopnya. Ia sedang mencoba membereskan sisa-sisa pekerjaannya di London, sebuah upaya untuk menutup bab lama hidupnya dengan rapi. Namun, pikirannya terus melayang pada buku catatan yang mereka berikan pada Marcus.
"Kau pikir dia sudah mencobanya?" tanya Elara, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan.
Arlo, yang sedang berdiri di dekat jendela sambil mengamati burung-burung camar yang bertarung melawan angin, mengangguk pelan. "Marcus bukan tipe pria yang suka menunda. Dia pasti langsung membawanya ke laboratorium suaranya di London. Dia ingin segera memanen hasilnya."
"Apa yang akan terjadi saat mereka memainkan frekuensi palsu itu?"
Arlo berbalik, sebuah senyum tipis yang getir muncul di wajahnya. "Secara teknis, aku memberikan mereka apa yang kusebut sebagai 'fase pembatalan'. Dalam matematika suara, jika kau menggabungkan dua gelombang yang berlawanan, kau mendapatkan kesunyian mutlak. Mereka akan mencoba menciptakan emosi euforia, tapi yang akan mereka dapatkan adalah ruang hampa. Pendengar tidak akan merasakan apa-apa. Bukan sedih, bukan senang. Hanya... kosong. Seperti ada lubang hitam di tengah-tengah lagu."
"Itu adalah hukuman yang puitis untuk orang seperti dia," gumam Elara.
Namun, hukuman itu datang dengan harga. Malam itu, berita di portal musik independen mulai meledak. Label rekaman milik Marcus, *Echo & Distortion*, merilis sebuah pernyataan pers singkat yang menyatakan bahwa mereka telah mengamankan "teknologi emosi" baru dan akan segera merilis versi remaster dari lagu-lagu Arlo. Namun, beberapa jam kemudian, muncul bocoran dari orang dalam studio yang menyatakan bahwa terjadi kekacauan teknis. Semua file audio yang diproses menggunakan metode baru itu menjadi rusak, tidak bisa diputar, dan menghapus metadata asli di sekitarnya.
Marcus tidak hanya mendapatkan formula yang tidak berguna; ia mendapatkan virus suara yang menghancurkan sistemnya.
"Dia akan murka," kata Jamie, yang baru saja kembali dari kota terdekat untuk mengambil persediaan makanan. "Aku melihat beberapa orang asing di stasiun tadi pagi. Mereka tidak terlihat seperti penduduk lokal. Marcus mungkin sadar dia ditipu lebih cepat dari yang kita duga."
Tiba-tiba, ponsel Elara bergetar. Sebuah nomor privat. Elara ragu sejenak, namun akhirnya mengangkatnya.
"Kau pikir kau sangat pintar, bukan, Elara?" suara Marcus tidak lagi terdengar tenang. Ada amarah yang dingin dan tajam di sana. "Kau memberiku sampah. Kau menghancurkan server utamaku. Kau tidak hanya mencuri masa depanku, kau menghancurkan hartaku."
"Itu bukan hartamu, Marcus. Itu adalah luka Arlo," jawab Elara dengan suara yang stabil, meski tangannya gemetar di bawah meja.
"Dengar baik-baik. Aku tidak butuh buku itu lagi. Aku menyadari sesuatu setelah sistemku hancur. Aku tidak butuh formulanya jika aku punya 'sumber'-nya. Arlo adalah anomali, tapi kau... kau adalah resonansinya. Tanpa kau, suaranya tidak memiliki kekuatan. Aku akan memastikan dunia tahu siapa kau sebenarnya. Aku sudah mengirimkan rekaman percakapan kita di Windermere ke media tabloid. Besok pagi, namamu akan ada di setiap halaman depan sebagai 'Wanita yang Menghancurkan Jenius Musik'."
Marcus memutus sambungan sebelum Elara bisa membalas.
Elara menjatuhkan ponselnya ke lantai. Arlo segera mendekat, menangkap bahu Elara. "Apa katanya?"
"Dia akan membongkar semuanya, Arlo. Dia tidak peduli lagi pada uang. Dia ingin menghancurkan reputasiku. Dia ingin membuatku tidak punya tempat untuk kembali."
Arlo terdiam. Ia menatap tangannya yang dulu pernah menciptakan keajaiban dan kehancuran. Ia menyadari bahwa selama ia masih hidup dalam persembunyian, Elara akan terus menjadi sasaran empuk. Pelarian mereka telah mencapai titik jenuh.
"Kita tidak bisa lari lagi, El," kata Arlo dengan nada suara yang baru. Bukan nada penuh ketakutan, melainkan nada penuh penerimaan. "Jika dia ingin dunia mendengar suaramu, maka kita akan memberikannya. Tapi bukan lewat tabloid. Bukan lewat syaratnya."
"Apa maksudmu?"
"Kita akan melakukan satu pertunjukan terakhir. Tanpa label, tanpa Marcus, tanpa distorsi palsu. Kita akan menyiarkannya sendiri dari sini. Kita akan menceritakan kebenarannya—tentang mercusuar, tentang kehilangan, dan tentang bagaimana industri mencoba mengubah duka menjadi senjata."
Elara menatap Arlo. Ia melihat pria itu mulai mengambil gitarnya yang selama berminggu-minggu ia abaikan. Arlo tidak lagi tampak rapuh. Ia tampak seperti seseorang yang siap untuk membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan bagi orang yang ia cintai.
"Tapi itu artinya dunia akan tahu di mana kita berada," bisik Elara.
"Biarkan mereka tahu," jawab Arlo sambil memetik satu senar gitar yang menghasilkan nada yang murni dan bersih. "Gema tidak bisa disakiti jika sumber suaranya sudah berani menampakkan diri."
Bab 13 ditutup dengan persiapan mereka di bawah cahaya lampu pondok batu yang remang-remang. Mereka tidak lagi melarikan diri. Mereka sedang menyiapkan sebuah serangan balik yang akan mengguncang setiap frekuensi yang pernah dibangun Marcus.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐