Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sementara itu, Ki Baraya yang masih berada di sekitar ladang bunga diliputi kejengkelan yang memuncak. Bocah bernama Braja itu tak juga menampakkan diri. Emosinya seakan hendak memecah ubun-ubunnya. Sepanjang perjalanan pulang ia terus mengumpat tanpa henti.
“Empat hari jadi makanan nyamuk. Empat hari dikeroyok semut. Ketemu genderuwo juga tidak. Sompret benar!”
Beruntung jalan menuju rumahnya cukup sepi. Andai ada yang melihat, mungkin ia sudah dianggap orang gila. Kebetulan pula rumah Ki Baraya memang menyendiri, agak jauh dari tetangga.
Namun ketika ia berbelok ke arah halaman rumahnya, langkahnya mendadak terhenti. Dengan mata kepala dan jidatnya sendiri, ia melihat seorang bocah berkulit kehijauan tengah memeluk seekor ular sanca besar bersama Laras di depan rumah. Laras bahkan tersenyum sumringah, mengelus kepala ular itu seolah mengelus ayam piaraannya. Tak jauh dari pendapa, Nyi Lestari duduk memperhatikan dengan wajah tenang. Sementara Jatisangkar tak tampak entah ke mana.
“Eh, Ayah sudah pulang. Kok mukanya kusut begitu?” tanya Laras polos, melihat ayahnya tertegun di halaman.
“La… La… Laras… kamu sedang apa?” suara Ki Baraya masih bergetar, antara terkejut dan tak percaya.
“Hehe… inilah bocah itu, Yah. Dia sudah menyelamatkan kami lagi. Tadi Ibu hampir saja dicaplok ular ini. Untung Braja datang dan menjinakkannya.”
“Jadi selama ini Ayah mutar-mutar seperti orang gila cari belegug ini, eh malah belegugnya ke sini?”
“Sepertinya begitu, Yah. Tapi dia bukan belegug. Bukan juga siluman. Dia baik kok. Ya, Bu?” ujar Laras membela.
Nyi Lestari mengangguk pelan.
“Kakang Baraya, benar yang dikatakan Laras. Ular ini tadi hampir merenggut nyawaku. Kalau saja bocah ini tak datang, mungkin aku sudah berada di dalam perutnya,” ucap Nyi Lestari dengan suara lirih.
Ki Baraya mengusap wajahnya. “Apa aku sedang bermimpi? Aku melihat Laras bermain dengan ular sebesar pohon kelapa…”
“Sudahlah, Kang,” ujar istrinya lembut. “Bocah yang kau cari ternyata sudah di sini. Menurutku dia bukan siluman, walau perawakannya aneh. Namun keadaan ini harus kita rahasiakan dulu dari warga dusun. Orang yang baru pertama melihat pasti mengira dia siluman. Itu berbahaya bagi Braja… dan juga bagi kita.”
Ki Baraya akhirnya duduk di samping istrinya, matanya tak lepas memperhatikan Braja yang bermain bersama Laras. Bagi dirinya, pemandangan itu adalah sebuah kejanggalan yang sulit diterima akal.
“Kau benar, Lestari. Kita tak bisa mempertontonkan keanehan ini pada orang-orang. Kau tahu sendiri, aku dikenal sebagai pemburu hantu, jin, dan siluman. Apa jadinya bila mereka tahu aku membiarkan bocah yang mirip siluman ini tinggal di sini?” ucapnya berat.
“Ayah, dia bukan siluman,” sahut Laras cepat.
“Agh… agh… agh…” Braja menyahut dengan suara parau yang tak jelas.
“Apakah dia tak bisa bicara dengan jelas?” tanya Ki Baraya.
“Bukan hanya tak jelas, Yah. Sepertinya dia memang belum memahami bahasa kita,” jawab Laras.
Ki Baraya terdiam. Keterangan itu membuat pikirannya berputar keras. Ia merasa harus membuktikan sesuatu. Tapi bukan sekarang. Mungkin nanti malam.
“Laras,” katanya akhirnya, “Ayah melihat ular ini memang sudah jinak. Tapi bukan berarti ia boleh tinggal di sini. Mungkin ia jinak kepada kita, tapi bagaimana dengan orang lain? Warga bisa curiga. Rumah ini pun bukan habitatnya. Ayah bukan hendak mengusir, tapi lebih baik ular ini dilepaskan.”
Laras menoleh pada ibunya, meminta pertimbangan.
“Turutilah kata Ayahmu, Laras,” ujar Nyi Lestari lembut. “Kau boleh bermain dengan bocah ini. Tapi ular itu tak bisa tinggal di sini. Terlalu berbahaya bagi desa. Lepaskanlah ia. Biarlah kembali ke sarangnya. Siapa tahu ada anak-anaknya yang sedang menunggu.”
Laras menunduk pelan. Ia memahami maksud kedua orang tuanya. Dengan hati yang sedikit berat, ia menoleh pada Braja, seakan meminta persetujuan dari bocah berkulit kehijauan itu.
“Kakang Braja… lepaskanlah ular ini. Beri perintah kepadanya agar kembali ke sarangnya,” pinta Laras lembut, sembari menatap bocah itu dengan penuh harap.
Anehnya, ucapan Laras seolah benar-benar dipahami oleh Braja. Bocah berkulit kehijauan itu menoleh perlahan, matanya yang teduh memandang ular sanca yang masih melilit jinak di lehernya. Ia lalu mendesis pelan.
“Shhhh…”
Desisannya terdengar berbeda—bukan sekadar suara, melainkan seperti bisikan yang mengandung makna. Ular itu pun mengangkat kepalanya dan membalas dengan desisan panjang, seakan tengah bercakap dalam bahasa yang tak dimengerti manusia.
Sesaat keduanya saling bertatapan. Sunyi menyelimuti halaman rumah Ki Baraya. Bahkan angin pun seolah enggan berembus.
Kemudian, perlahan-lahan, ular sanca itu melepaskan lilitannya dari tubuh Braja. Kepalanya menunduk sekali lagi, seakan memberi penghormatan terakhir. Setelah itu ia merayap turun ke tanah, tubuh panjangnya bergerak tenang melintasi halaman.
Tak ada lagi kesan buas. Tak ada ancaman.
Ular itu terus merayap menuju arah pesawahan yang membentang luas di kejauhan. Tubuhnya yang besar perlahan menyatu dengan hijaunya rerumputan dan pematang sawah, hingga akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.
Hari mulai gelap. Langit berubah jingga keunguan sebelum perlahan menghitam. Lampu minyak di pendapa telah dinyalakan, namun Ki Baraya belum juga melihat batang hidung Jatisangkar.
“Kemana Jatisangkar, Nyi? Apa dia masih di luar? Hari sudah mulai gelap,” tanya Ki Baraya sambil menoleh ke arah halaman.
“Dia tidak keluar, Kang. Sejak siang dia di kamarnya, menggigil ketakutan. Kau tahu sendiri anak itu ngeri kalau melihat ular,” jawab Nyi Lestari tenang.
“Alamak… sama ular saja takut. Apa dia tak malu pada adiknya? Hmmm…”
Ki Baraya tersenyum geli. Ia lalu melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju kamar putranya. Pintu dibukanya perlahan. Dengan ilmu peringan tubuh yang dikuasainya, ia mengendap tanpa suara sedikit pun.
Di atas tempat tidur, tampak Jatisangkar meringkuk di balik selimut, hanya sebagian rambutnya yang terlihat.
Ki Baraya mendekat perlahan. Dengan hati-hati ia meraba kaki anaknya dari balik selimut, lalu mengeluarkan suara desisan panjang.
“Shhhhhh…”
Karuan saja Jatisangkar terkejut bukan main. Ia merasakan sesuatu merambat di kakinya, disusul desisan yang persis seperti ular. Seketika ia meloncat dari tempat tidur sambil berteriak sejadi-jadinya.
“Mamaaaaa…!!”
Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar seperti daun tertiup angin.
Ki Baraya pun tak kuasa menahan tawa.
“Behahaha! Dasar anak mamih! Masa sama tangan saja takut? Hihi… bagaimana kalau tadi itu ular sungguhan, hah?” ejeknya sambil memegangi perut karena tertawa.
Begitu sadar bahwa itu hanya ulah ayahnya, wajah Jatisangkar yang pucat berubah menjadi merengut kesal.
“Ayah jahat…!!” teriaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Behahaha! Makanya jadilah pria sejati! Dilatih silat saja malas-malasan. Bagaimana mau jadi anak seorang pendekar sakti mandraguna seperti ayahmu ini?” ujar Ki Baraya dengan dada dibusungkan pura-pura gagah.
Jatisangkar memenyongkan bibirnya, lalu menirukan gaya ayahnya dengan wajah cemberut.
Ki Baraya kembali terkekeh. “Hey, kau merajuk pula. Hahaha!”
“Tapi Laras sudah gila, Yah. Ular sebesar itu mau dipeliharanya. Jelas aku tak mau! Tolonglah, Yah… bunuh saja ular itu,” rengek Jatisangkar.
Ki Baraya menggeleng pelan.
“Sembarangan. Kalau itu ular biasa, mungkin sudah Ayah bunuh. Tapi kalau ternyata ia makhluk jejadian… arwahnya bisa menggentayangi rumah ini terus.”
Sekali lagi wajah Jatisangkar memucat.
“Oh jangan, Yah! Aku takut…”
“Huh, dasar anak mamih. Sudahlah, ular itu sudah pergi. Tidak akan kembali malam ini. Kau tak perlu takut lagi,” ujar Ki Baraya, kali ini dengan nada lebih lembut.
Ia menepuk pundak anaknya pelan.
“Ketakutan itu boleh, tapi jangan kau pelihara. Besok kau ikut Ayah latihan. Sedikit demi sedikit, kau harus belajar berani.”
Jatisangkar menelan ludah, lalu mengangguk pelan meski wajahnya masih menyisakan ketakutan.
Di luar kamar, malam semakin turun. Angin berdesir pelan melewati celah-celah dinding bambu. Dan entah mengapa, Ki Baraya merasa malam itu akan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar gelap.