" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengasuh Dadakan
Di rumah Bimo terasa sangat santai, khas tongkrongan para pria yang sudah berteman sejak lama. Ruangan itu dipenuhi aroma kopi dan cemilan yang berantakan di atas meja.
Abian tampak tidak peduli dengan sekitarnya. Ia hanya rebahan sambil memainkan hapenya, sesekali mengecek laporan pekerjaan.
Di sudut lain, Naufal tampak sangat frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya dengan lemas di sofa, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Gila, Bim... gue nggak nyangka bakal begini," gumam Naufal.
"Gue udah siapin semuanya. Buket bunga mawar merah paling bagus, niat mau minta maaf dan perbaiki hubungan. Tapi dia malah terang-terangan bilang kalau dia udah ada yang lain."
Bimo yang sedang mengunyah kacang langsung tertawa kencang. Ia tidak menunjukkan rasa empati sedikit pun, malah meledek habis-habisan.
"Hahaha! Kasihan banget si Naufal. Muka ganteng, motor keren, eh bunganya malah berakhir di tangan cewek lain. Nasib, nasib!" tawa Bimo pecah.
"Diam lu, Bimoli!" semprot Naufal ketus.
"Daripada lu, udah tunangan tapi malah ditinggal nikah. Masih mending gue, baru ditolak !"
Bimo langsung terdiam, tawa kencangnya terhenti seketika. Skakmat. Kenangan pahit ditinggal nikah itu memang selalu jadi kartu as buat membungkam Bimo.
"Beginilah nasib para bujang tua," gumam Abian datar.
"Satu ditolak, satu ditinggal nikah, yang satu lagi kerja terus."
Naufal menghela napas, mencoba menetralkan suasana. Ia melihat sekeliling ruangan yang terasa kurang lengkap.
"Si Raka di mana? Kok nggak kelihatan batang hidungnya?" tanya Naufal.
"Biasalah, di rumah sakit," ucap Abian pendek.
"Ada operasi darurat katanya. Dia kan sudah nikah sama rumah sakit."
"Ehh, si Raka katanya mau nikah ya?" tanya Bimo dengan nada gosip yang sangat kental.
Naufal yang sedang galau langsung menoleh, sementara Abian hanya menaikkan sebelah alisnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Mana ada," jawab Abian dingin. "Pacar aja dia nggak punya. Siapa yang mau dia nikahi?"
"Janda sebelah?" celetuk Naufal asal.
"Jangankan nikah, buat tidur tiga jam sehari aja dia harus berantem dulu sama jadwal piket. Mana sempat dia cari calon istri."
Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Loh, tapi kemarin gue lihat dia beli perhiasan di mall. Gue pikir buat lamaran."
"Paling itu buat nyokapnya, atau pesanan pasiennya," sahut Naufal sambil merebahkan diri lagi.
Abian tidak membalas. Ia baru saja melihat status WhatsApp Nana yang baru diunggah 5 menit yang lalu, foto buket mawar merah pemberian Naufal dengan caption."Rezeki anak sholehah di malam Senin."
Jari Abian bergerak cepat di atas layar.
Abian
"Buang bunga itu. Aromanya bisa bikin kamu alergi besok pagi."
Bimo yang melihat Abian senyum-senyum tipis sendiri langsung curiga. "Lo kenapa, Bi? Sejak kapan Lo bisa senyum depan hape? Jangan-jangan lo lagi PDKT sama janda sebelah yang dibilang Naufal tadi ya?"
"Berisik, Bimoli," jawab Abian singkat, kembali ke mode kaku andalannya.
......................
Pagi di kantor, suasana hati Abian benar-benar sedang tidak karuan. Begitu Nana masuk ke ruangannya untuk mengantarkan agenda harian, Abian langsung menatap asistennya itu dengan pandangan menyelidik.
Abian berdehem pelan, mencoba terdengar santai padahal hatinya sangat penasaran.
"Haruna," panggil Abian saat Nana hendak berbalik keluar.
"Iya, Pak?" Nana menoleh, rambut blondenya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya.
"Dari mana dapat buket bunga itu?" tanya Abian akhirnya, to the point.
Nana mengernyitkan dahi, pura-pura tidak mengerti meski dia tahu arah pembicaraan bosnya. "Buket yang mana, Pak?"
Abian terdiam sejenak. Dia baru sadar kalau dia terlalu kentara memperhatikan kehidupan pribadi Nana.
"Nggak ada, lupain," ucap Abian ketus, langsung membuang muka kembali ke layar laptopnya.
Nana melongo. Dia menatap punggung Abian dengan heran sekaligus sebal. Tadi bertanya dengan nada penuh selidik, sekarang malah disuruh melupakan.
"Dih... PMS ya, Pak?" celetuk Nana tanpa sadar.
"Pagi-pagi sudah sensitif banget, melebihi cewek lagi dapet."
Abian hampir saja menjatuhkan bolpoinnya. Ia mendongak dengan tatapan tajam. "Haruna! Mulut kamu ya. Siapa yang kamu bilang PMS?"
"Ya Bapak! Lagian aneh banget, nanya terus dibatalin. Kayak nggak punya pendirian," gerutu Nana
Baru saja Nana hendak keluar , pintu ruangan Abian tiba-tiba terbuka lebar tanpa ketukan. Nana tersentak, mengira itu klien penting, tapi ternyata yang muncul adalah Davin dan Davina, kakak kandung Abian, lengkap dengan Karel, anak mereka yang masih balita.
Wajah Davin terlihat sangat bersemangat, sementara Davina hanya tersenyum simpul di sampingnya.
"Abian! Untung kamu belum mulai rapat!" seru Davin tanpa dosa.
Abian yang sedang memegang dahi langsung berdiri tegak. "Kak Davin? Ada apa ke sini?"
Davin langsung menggendong Karel dan menyerahkannya begitu saja ke arah Abian.
"Kakak cuma bisa libur hari ini. Mau berduaan dulu sama istri Kakak. Titip Karel ya," ucap Davin.
Abian melotot, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya yang satu ini. "Kan ada Mama, Kak! Kenapa harus ke kantor?!"
"Mama lagi ke yayasan," jawab Davin santai sambil merangkul bahu Davina, bersiap untuk pergi.
"Kan kamu jadwalnya nggak terlalu padat hari ini. Lagipula ada Nana kan? Kalian berdua sudah cocok kok jadi orang tua asuh dadakan."
"Tapi Kak, aku ini mau kerja, bukan buka penitipan anak!" protes Abian.
Davin hanya melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. "Nanti sore Kakak jemput! Bye, Karel! Jangan nakal sama Om Galak ya!"
Pintu tertutup. Ruangan seketika hening, menyisakan Karel yang kini menatap Nana dengan mata bulatnya yang lucu.
Abian hanya bisa mendengus kencang. "Haruna, cepat pindahkan Karel ke sofa. Dan pastikan dia tidak menyentuh berkas-berkas penting saya!"
author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama